EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Tatapan mereka bertemu


__ADS_3

Eleasha menahan jeritan dan rasa terkejutnya dalam hati saat membuka pintu dan langsung mendapati wajah Kayden dengan senyuman lebar didepan pintu.


"Good morning" sapanya riang gembira.


El mencoba tidak menanggapi kemudian melewatinya.


"Mamanya anak aku udah mandi belum?"


"Nggak lihat rambut aku masih basah?" pada akhirnya El menyahut pertanyaan Kayden yang langsung gadis itu sesali di detik berikutnya.


Kayden menyusul Eleasha, mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu "mau papanya anak kamu bantuin kering'in nggak?" tanyanya menawarkan diri sambil mengeluarkan hairdry dari belakang punggungnya.


Eleasha mendengus sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Bagaimana bisa pria itu bahkan sudah menyiapkan pengering rambut di hari yang sepagi ini? Apa itu sebuah telepati?


Kayden langsung menarik Eleasha kembali masuk kedalam kamar dan mendudukannya di kursi didepan meja rias.


Dengan cekatan dan penuh kelemah lembutan---hasil bergurunya di youtube---Kayden mengeringkan rambut panjang Eleasha, mengambil sedikit demi sedikit untuk diuapi dengan uap hangat dari hairdry.


"Kira-kira anak kita laki-laki atau perempuan?" tanya Kayden sambil menatap El lewat kaca didepan mereka.


Gadis itu hanya mengangkat bahu sebagai jawaban, sambil memasang wajah datar padahal hati sedang bermekaran bunga.


"Aku sih nggak masalah dengan gendernya, selama dia terlihat seperti aku. Kamu bisa bayangin kalau dia cowok pasti tampannya seperti aku, dan kalau dia perempuan pasti manisnya juga kayak aku, papanya." kata Kayden sambil terbahak.


Pria itu kemudian mematikan alat pengering dan meletakannya diatas meja kecil disamping El. "selesai. Kamu cantik."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


El menahan nafas sejenak, dan debaran jantungnya langsung menggila saat dengan begitu tiba-tiba Kayden meletakkan kepala di pangkuannya.


Eleasha yang tadinya sedang asik membaca novel diatas gazebo taman belakang tidak dapat berbuat apa-apa saat melihat pria itu sudah memejamkan mata dengan nyaman dan membuat pangkuannya sebagai bantal.


"Anda nggak kerja? Santai banget akhir-akhir ini,"


Tidak ada Jawaban, pria itu masih menutup mata dengan wajah damai. Sama sekali tidak terusik dengan kalimat penuh singgungan dari Eleasha.


Gerakkan tiba-tiba Kayden hampir saja membuat jantung El lepas dari tempatnya, tanpa diduga pria itu memutar sedikit kepalanya dan mengecup lembut perut Eleasha.


"Anggaplah ini simulasi saat nanti kita hidup bersama. Kalau kamu suka, bagaimana kalau hari ini kita menikah Ly?"


Eleasha tersenyum kecut saat mendengar ucapan pria itu. Kalimat yang keluar dari mulut Kayden malah ajakan menikah.


"Aku ingin kita bersama, aku nggak mau buang-buang waktu untuk omong kosong lagi, ayo menikah"

__ADS_1


...****************...


"Ly ayo menikah"


"Kita nikah yah, Ly ?"


"Menikah besok yah...yah..yah?"


"menikah yuk Ly?"


Pria yang beberapa hari ini terus menerus memborbadir Eleasha dengan ajakan menikah, kini sedang duduk disampingnya sambil meniup sop buatan tangannya sendiri lalu kemudian menyuapkannya pada El yang awalnya sempat menolak.


Tapi Kayden jelas punya seribu seratus macam cara untuk membuat sendok berisi sop ini masuk dalam mulut Eleasha.


"Gimana sayang enak kan buatan papa?" kini Kayden mensejajarkan wajahnya dengan perut Eleasha, dia kemudian menempelkan telinganya secara tiba-tiba disana.


"Apa? kamu pengen nambah lagi? Ok sayang, papa akan suapin mama lagi yah?"


Kayden dengan cepat meraih mangkok yang tadi dia letakan di sampingnya, menyendok lagi sup buatannya dan setelah meniup sebentar dia langsung menyuapkannya pada Eleasha.


"Anak kita mau lagi Ly, jadi kamu jangan bandel." katanya dengan wajah serius dan seketika langsung merasa lega saat El membuka mulut untuk menerima suapannya.


Dia tahu sedikit dari Arthur tentang betapa tersiksanya El selama pelariannya karena tidak bisa makan dengan baik selama waktu itu, El terus menerus merasa mual dan akan berujung muntah sehingga tidak ada makanan yang bisa masuk atau bertahan lama dalam lambungnya.


"Mau nambah lagi yah? Ok papa akan suapin mama lagi sampe kamu kenyang yah?"


...****************...


"Makanya kalau emosi itu jangan membuat keputusan, lihat sendiri akibatnya" Haoran menatap cucu perempuan satu-satunya dan mantan cucu menantunya yang hari ini datang untuk meminta restu lagi.


"Kalian pikir pernikahan itu mainan? Janji setia itu cuma bualan?"


"Kami minta maaf kong" suara Eduard terdengar meski pelan.


"Jangan minta maaf ke saya, tapi Ke Tuhan yang sudah kalian permainkan janji dan komitmen kalian"


Haoran berdiri, pria tua itu sedikit melirik kearah perut Elisa, dalam hati dia tersenyum karena sebentar lagi hidupnya pasti akan penuh dengan warna dan juga teriakan bayi. Itu pasti.


...****************...


"Jadi gimana?"


Kayden menatap sepupu kesayangannya itu yang mulai terlihat bengkak karena kehamilannya yang sudah memasuki bulan ke 8. Pria itu bisa membayangkan bagaimana lucunya Eleasha saat di fase itu nanti.

__ADS_1


"En? Lo dengar gue nggak sih?"


Kayden tersadar, kemudian tersenyum lebar sambil menjawab "dia masih nolak nikah sama gue"


Elisa tidak bisa menahan mulutnya untuk menganga, bagaimana bisa laki-laki itu menjawab dengan senyuman lebar untuk sesuatu hal yang jelas sangat menyakitkan begitu?


"Elo yakin nggak kebentur tadi?" Elisa benar-benar khawatir sekarang dengan keadaan Kayden. "atau sekarang lo udah gila karena terus ditolak?"


Kayden tersenyum lagi "nggak Elisa, nggak."


"Terus?"


"Ya... gue nggak akan nyerah sama dia, sama anak kita juga"


...****************...


"Jadi gimana? Kapan kabar baiknya?" Eduard bertanya sambil menatap Eleasha yang duduk di sampingnya. Mereka berdua ada di gazebo taman belakang, sedangkan pasangan mereka entah ada di mana sekarang.


"Kalo kalian gimana?" El malah balik bertanya.


Eduard menghembuskan nafas, "kita kesini mau minta restu lagi sama Akong, dan akong memang suka judes orangnya tapi sebenarnya baik kok"


El mengangguk membenarkan hal itu.


"Tapi gue serius, jadi gimana El?"


Gadis itu membasahi bibir kemudian membalas tatapan Eduard "gue butuh waktu sedikit lagi, gue masih butuh kepastian sedikit lagi"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Lagi ngapain?"


El memutar kepala kearah Kayden yang sudah mengokohkan diri disampingnya.


Dan sekarang sedang mencuri lihat pada layar handphone ditangannya. Mereka akhirnya bisa berduaan saat Elisa dan Eduard pulang.


"Lagi chatingan sama siapa sih?" Kayden keukeh melihat layar handphone ditangan El yang sedang berusaha di tutupi gadis itu.


"Kenapa sih kepo amat?" El mendelik ke arah Kayden dan pria itu malah membalasnya dengan tersenyum.


Dan tanpa diduga pria itu dengan begitu enteng mengangkat tubuh Eleasha yang sedang mengandung kemudian mendudukannya diatas pangkuan.


Tentu saja Eleasha langsung mencoba berdiri, tapi tangan Kayden dengan cepat melingkar di perutnya tanpa tekanan. Sebuah usapan lembut di perutnya dari pria itu entah kenapa bisa menghipnotis El untuk tidak beranjak dari posisi ini dan kehilangan sentuhan yang selalu menenangkan dari pria itu.

__ADS_1


"Ingat nggak simulasi nanti saat kita hidup bersama? Hal ini akan selalu aku lakukan sama kamu kalau misalnya kamu mulai asyik sendiri dan lupain kehadiran aku"


Tatapan mereka bertemu dan untuk pertama kalinya El membalas senyuman Kayden dengan ketulusan yang sama dengan pria itu.


__ADS_2