EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
kenyataan menyakitkan


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Leo menatap pintu apartemen yang tertutup, tatapannya kemudian beralih pada makanan yang dia bawa, makanan buatan sang mama yang khawatir karena El sudah jarang bertamu beberapa bulan terakhir.


Leo yang baru pulang dari Aussie karena sedang musim liburan terus menurus diteror sang mama untuk bisa menemui El atau paling tidak mencari tahu keadaan gadis itu.


Eleasha memang masih sering wara-wiri di tv dengan beberapa iklannya tapi itu tidak sebanding dengan mencari tahu keadaannya yang sebenarnya kan?


Leo mendapat alamat ini dari temannya yang memiliki kenalan wartawan, dia agak tidak yakin sebenarnya tapi tidak ada salahnya juga untuk mencoba.


Pria itu sekali lagi menekan bel, karena tidak kunjung ada jawaban Leo kemudian memutuskan menelepon Jerome. Sepupu sekaligus tangan kanan dari Kayden Abraham itu pasti tahu, dimana Eleasha berada. Pria itu banyak sekali koneksi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Layar monitor berubah gelap, tamu itu sepertinya sudah pergi dia bisa bernafas lega sekarang. Armon kembali masuk kedalam kamar mandi berniat untuk melanjutkan membersihkan luka dikepala yang tercipta karena dihantam guci sialan itu.


Kepalanya robek tapi masih bisa dia atasi.


Setelah ini dia berencana menelpon Marco, pria yang sebenarnya telah sangat berjasa atas pembebasan bersyaratnya. Mengingat kondisi El yang seperti itu, dia perlu bantuan untuk membawa Eleasha keluar dari sini tanpa di curigai dan di ketahui siapapun


Ting Tong


Suara Bel rumah ini kembali berbunyi, anak laki-laki yang masih berusia 16 tahun lebih itu mengeram kesal dia sangat benci gangguan.


Dengan ogah-ogahan Armon menyeret langkah kakinya menuju ke layar monitor dia langsung berdecak kesal saat kembali melihat wajah pria tadi kembali menghiasi layar.


"Maunya apa sih ini orang?" Gumamnya kesal.


"El? Gue tahu lo lagi didalam, gue cuma mau kasih ini dan akan langsung pulang begitu lo terima, gue janji nggak akan lama"


Armon menyeringai mendengar suara yang muncul dari spiker di layar monitor


"Modus aja lu, lagian siapa yang mau ketemu lu? Ka El itu milik gue, nggak akan gue ijinin ketemu siapapun" Armon bersiul sambil melangkah kembali menuju kamar mandi, ingin melanjutkan aktifitasnya membersihkan luka yang di ciptakan wanita kesayangannya.


"Ok kalo lo nggak mau buka pintu, gue akan minta bagian penanggung jawab apartemen ini untuk buka pintunya"


Armon kembali melangkah dengan langkah panjang kearah monitor, menatap layar segiempat berukuran kecil itu dengan murka.


"Gue tahu lo didalam El, karena Kalung ini jelas milik lo, pasti jatuh saat lo masuk kedalam kan?"


Armon mengeram kesal saat melihat kalung berbandul bunga Lily dengan inisial nama El yang sedang ditunjukan pria asing itu ke layar monitor. Laki-laki ini memutar otak, apa yang seharusnya dia lakukan sekarang?


"Ok gue akan ke bagian penanggung jawab sekarang, dengan beralasan lo nggak ada kabar dan mungkin sakit didalam sana bisa jadi alasan yang kuat untuk mereka bukain pintu ini"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Leo menghentikan langkah kakinya saat mendengar bunyi khas yang berasal dari pintu, sebelum akhirnya pintu yang terlihat mahal itu terbuka. Sosok laki-laki bertopi yang terlihat muda dan familiar berdiri diantara daun pintu yang hanya terbuka setengah.


"Kamu siapa?" Tanya Leo sedikit kaget dan juga binggung.


Sosok itu tersenyum meremehkan"itu seharusnya pertanyaan saya, anda siapa sampai berani memaksa untuk dibukakan pintu?"


Armon menelusuri penampilan pria kurus didepannya, sepertinya dia bisa menghadapi pria ini, tinggi mereka hanya berbeda sedikit dia bisa hanya dengan sekali pukulan untuk tubuh kurus itu.


Sementara Leo tanpa sadar mencengkram kuat tas yang ada di genggamannya, dia jelas mengenal senyuman meremehkan itu karena hal itu tentu tidak bisa dia lupakan seumur hidup meskipun sangat ingin.


Leo kembali menajamkan mata, mengamati lebih detail lagi pria asing yang sekarang berdiri di depan pintu, mata Leo berkilat saat dia bisa menangkap noda yang langsung dia kenali sebagai cimpratan darah di beberapa bagian kemeja yang dikenakan pria asing ini.


"Saya ingin bertemu El" Leo memutuskan untuk maju dan mencoba masuk kedalam apartemen El, kalau firasatnya benar gadis itu pasti sedang dalam bahaya.


"Wow...Wow.... kami tidak menerima tamu apalagi orang asing" Armon menahan pundak Leo yang mencoba masuk kedalam apartemen, meskipun belum genap berusia 17 tahun dia memang di anugerahi tinggi yang tidak sesuai dengan umurnya.


Makanya banyak yang sering kali salah mengira kalau dia orang yang sudah dewasa.


"Saya atau anda yang orang asing?" tanya Leo sarkastis.


Armon bersiap menutup pintu, tapi Leo bergerak lebih cepat untuk menahannya. Pria ini bersyukur karena dulu dia pernah mengikuti pelatihan taekwondo meski hanya sampai sabuk biru.


Dengan kekuatan kaki yang menjadi ciri khas bela diri itu, Leo dengan mudah menaklukan pria asing ini.


"Cukup basa-basinya. Gue kenal lo, bagaimana bisa gue lupa dengan terdakwa yang menewaskan nyawa orang yang gue sayang?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kayden menginjak pedal gas mobilnya, tepat setelah selesai menerima telepon dari Jerome dia langsung memacu mobilnya gila-gilaan, sama sekali tidak peduli dengan keselamatannya karena yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bisa sampai secepat mungkin ke apartemen Eleasha.


"Gue nggak bisa jelasin sekarang, tapi kayaknya lo harus bergegas ke apartnya Eleasha karena dia dalam bahaya"

__ADS_1


"Bahaya gimana?"


"Eleasha sejak kemarin nggak ada kabar, Gue lacak handphonenya dan titiknya ada di apart itu." Jerome terdengar begitu gelisa, sangat berbeda dengan yang Kayden kenal selama ini


"Ini semua salah gue karena menunda kasih tau elo kalau si fans fanatik Eleasha itu bersembunyi diam-diam di apart itu"


Saat mendengar hal itu, tanpa menunggu lagi Kayden langsung tancap gas kesana. Berharap El baik-baik saja.


"Kamu harus tunggu, apapun yang terjadi jangan coba-coba menyerah tanpa sepertujuan dari aku, Eleasha" Gumamnya kemudian semakin menginjak pedal gas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alena mengernyit menatap Jerome yang tiba-tiba menghadang jalannya, wajah lelaki dengan kulit eksotis yang seksi itu terlihat muram tidak seperti biasanya.


Sangat bertolak belakang dengan Jerome yang biasa yang seperti kelinci hiperaktif yang tidak pernah kekurangan energi.


"Gue lagi buru-buru, kerjaan gue banyak akhir-akhir ini" dumel Alena


Tanpa di duga Jerome malah mendekatinya dan langsung merengkuh Alena masuk kedalam pelukannya.


Alena sempat membeku beberapa detik sebelum dia tersadar dan langsung berusaha melepaskan diri.


"Apa-apaan sih, ini lagi di kantor tahu"


Jerome mempererat pelukannya, dia meletakan kepala di puncak kepala gadis mungil itu "Maaf" ucapnya lirih.


Alena mencoba melonggarkan pelukan mereka, ia bermaksud melihat wajah Jerome. Tapi pria itu sama sekali tidak memberinya kelonggaran "Kamu kenapa sih Jerome?"


Jerome mendongkak, rasa bersalah itu memenuhi hatinya " Eleasha dalam bahaya dan itu semua gara-gara aku"


Dengan sekuat tenaga Alena mendorong dada Jerome, pelukan itu sedikit melonggar kali ini Alena bisa melihat wajah sendu dan sinar kekecawaan yang terpancar dari mata pria itu.


"Maksud kamu apa?"


"Fans fanatik Eleasha sudah bebas, kamu ingat insiden Apertemen yang di masuki orang asing?"


Alena mengangguk walau belum sepenuhnya paham dengan arah pembicaraan Jerome.


"Orang asing itu adalah Armon, dan selama Eleasha nggak tinggal disana pria itu bersembunyi disana"


"Dia pinter Na, dan begitu terobsesi sama El. Belum lagi dia punya Marco yang menjamin kebutuhan bocah itu"


Alena terdiam, otaknya sedang mencerna baik-baik perkataan Jerome "Ja...di Marco dan anak itu...."


"Iya... mereka sudah jadi sekutu entah sejak sidang atau sejak mereka sepakat untuk menutupi siapa yang menjadi tersangka atas kecelakaan yang menewaskan Lana"


Alena mendongkak menatap Jerome "Dan kamu tahu semuanya tapi cuma diam?"


"Itu karena aku lagi cari waktu yang tepat untuk bilang ke kamu maupun En. Posisi aku serba salah, Na. di sisi lain aku pengen bilang tapi disisi lain juga aku takut informasi itu bisa jadi bom untuk En maupun El"


Tidak menunggu lama Alena segera melangkah pergi meninggalkan Jerome, dalam pikirannya saat ini adalah keselamatan Eleasha.


"Kamu mau kemana?"


Alena tidak menggubris, dia terus berjalan.


"Disana itu bahaya, Aku sudah suruh tim keamanan kita untuk kesana. lebih baik tunggu....."


Alena membalikan badan menatap Jerome "Eleasha itu masih tanggung jawab aku. Bagaimana bisa aku hanya diam menunggu sedangkan dia mungkin sedang dalam bahaya?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Leo setengah berlari menghampiri tubuh El yang tergeletak dilantai, terlihat amat sangat mengerikan dengan luka dan lebam di seantero tubuhnya.


Pria itu meringis saat melihat sebelah mata El yang membengkak dan sudah berubah warna menjadi merah kebiruan.


"El?" Leo memanggil gadis itu tapi tidak ada respon dia meletakan tangannya di dekat hidung dan langsung merasa lega karena bisa merasakan nafas gadis itu walau terasa tidak seperti normalnya.


"El tolong bertahan, ambulans akan segera datang"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Armon berteriak frustasi saat melihat pria itu keluar sambil menggendong El yang tidak sadarkan diri keluar dari kamar. Dia mencoba berontak dan mati-matian berusaha melepaskan diri dari tali yang mengikatnya di kursi makan yang terbuat dari marmer mahal membuat pergerakan laki-laki itu susah.


"Lo mau bawa cinta gue kemana?"


Langkah Leo terhenti saat mendengar hal itu " Cinta? halu lo semakin parah, seharusnya setelah bebas dari penjara mereka bawa lo ke psikiater karena lo kayaknya gila"

__ADS_1


"Sialan jangan sentuh kak El, dia milik gue. dia cuma boleh buat gue"


Leo mencibir "psikopat"


"gue bisa lakuin apapun termasuk gantiin dia masuk penjara, menanggung semua kesalahan dia, di cap pembunuh demi dia gue siap" Armon mulai menangis, terlihat begitu frustasi saat melihat El dan pria itu sudah hampir mencapai pintu.


Leo mengeratkan pegangannya ditubuh El, hatinya seakan tersayat mendengar perkataan anak laki-laki itu. Dia sudah tahu fakta itu sejak lama dan meskipun sudah melepaskan pengampunan tapi jika hal itu kembali diungkit rasanya seperti ada yang membuat luka lamanya kembali berdarah.


"Gue suka ka El, gue sayang dia. Gue sudah banyak ngeluarin duit untuk dia. Beli tiket bioskop, beli hadiah, beli semua menchandise dan setelah semua pengorbanan itu ka El nggak boleh tolak cinta gue kan?"


Leo tercengang dia seperti berkaca, karena dia juga pernah menjadi seorang Elluv. Tapi dia sama sekali tidak pernah menuntut akan ada balasan atas semua hal yang sudah dia berikan atau korbankan untuk El.


"Lo bilang lo sayang El? Kalo lo sayang dia, lo nggak akan mungkin buat dia sekarat begini. Lo Elluv? Seharusnya lo tahu konsekuensi menjadi penggemar. Yang lo punya Itu bukan cinta tapi obsesi" Leo memperbaiki posisi gendongannya dengan sangat pelan dan hati-hati menatap wajah babak belur El , kemudian melangkah mantap keluar dari ruangan ini.


Meninggalkan Armon yang mungkin sementara mencerna ucapan Leo yang terakhir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


@Harapan Kasih Hospital


Kayden memperhatikan semua upaya para medis untuk memberikan pertolongan lewat jendela kaca pada gadis yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit, entah ini sudah kali keberapa gadis itu berakhir dirawat di rumah sakit.


Pria itu mengepalkan tangan saat melihat keadaan gadis itu yang memprihatinkan. Seluruh tubuhnya penuh lebam bahkan mata sebelah kanan El bengkak dengan lebam kebiruan yang mengerikan.


Wajah cantik itu terluka di hampir semua bagian, Kayden tidak dapat membayangkan penderitaan yang El alami saat itu. Pasti sangat menyakitkan di siksa tanpa ampun oleh seseorang yang juga pernah meninggalkan kenangan buruk untuk gadis itu, sama sekali bukan hal yang mudah.


Pria itu mengepalkan tangan, kembali dikuasai amarah dia tidak tahu harus marah kepada siapa? pantaskah dia marah? pantaskah dia tidak rela jika gadis itu menderita, pantaskah dia?


Sebuah tepukan lembut terasa di pundaknya, pria itu menoleh dan langsung terbelalak melihat siapa yang ada disampingnya saat ini.


"Ma...."


Tante Sonia tersenyum lembut, kemudian meraih Kayden untuk dia peluk.


"Nggak apa-apa, En. Kamu bisa mengeluarkan semua unek-unek yang kamu rasa, kamu mau marah? Silahkan.


Kamu mau sedih juga silahkan.Tidak ada yang melarang" Ucap wanita yang sudah mencapai usia di awal 60 tahun itu lembut.


"Ta..pi.. dia..."


Tante Sonia terlihat menghembuskan nafas melepas pelukannya dan mengganti dengan usapan lembut di pipi pria tampan itu "El hanya menjadi perantara, Umur Lana memang sudah ditentukan hanya sampai disitu. Itulah yang dinamakan takdir, sekuat apapun kita menolak kepergian Lana hal itu nggak akan buat dia kembali"


Tatapan Kayden kembali kedalam ruangan dimana El sedang berjuang untuk tetap bertahan.


"Kita yang ditinggalkan harus tetap melanjutkan hidup, En"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alena menangis menatap keadaan El yang koma, dan belum juga siuman sejak kemarin. Tampilan Gadis itu amat sangat mengerikan, sebelah matanya sedang di perban dokter mengatakan syukurlah pukulan itu tidak sampai merusak kornea matanya.


Sehingga tidak ada yang perlu di khawatirkan mengenai hal itu.


Luka di kepala akibat benturan juga bukan sesuatu yang harus di khawatirkan, meskipun dokter tetap menyarankan untuk pemeriksaan keseluruhan nanti saat El sudah sadar.


El juga sudah melewati masa kritisnya, hanya tinggal menunggu dia siuman.


Alena menyeka air matanya merasa gagal menjadi manajer yang selama puluhan tahun menemani dan menjaga El.


"El..... jangan lama-lama tidurnya" Bisik Alena pelan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


@KayGroup Building


Jerome terhuyung menabrak lemari kaca diruangan kerja pria itu, dia tidak melawan dia memang pantas menerima ini semua.


"Lo kenapa nggak kasih tau gue, Jer? Kalau aja lo lapor ke gue, hal ini mungkin nggak akan terjadi"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai.....


Enjoy


maaf karena ini bertebaran typo


Harap maklum💛

__ADS_1


__ADS_2