
"Kalo bukan akong, lo, Elisa ato Alena terus siapa?"
El langsung balik badan saat melihat Kayden yang sedang tersenyum lebar sambil heboh mengangkat tangan dalam jarak beberapa meter dari tempatnya.
Pria itu sedang merakit sesuatu entah apa di taman belakang rumah ini.
"Siapapun yang kasih tahu En, beliau pasti hanya ingin memberikan kesempatan kedua buat En berjuang, terus masalahnya apa?"
Suara Eduard terdengar diujung telepon.
"Masalahnya dia itu nggak cinta gue"
El melirik kearah Kayden yang juga sedang melihat kearahnya, tanpa di duga pria itu membuat love sign diatas kepala yang langsung membuat El bergidik ngeri dan memutuskan untuk masuk saja kedalam rumah.
"Terus lo? Lo cinta dia kan? Udah lo ungkapin belum? Ingat yah tindakan itu jauh lebih lantang dari pada sekedar ungkapan cinta. Apa yang En buat sekarang apa belum cukup untuk kasih tau kalo dia cinta lo?"
"Lo boleh bilang gue konyol tapi bisa aja ini karena dia kasihan sama gue....dan gue... Akh....Kenapa anda masuk kesini?" jantung gadis itu hampir berhamburan dilantai saat tiba-tiba Kayden muncul didepannya.
Sementara Kayden mati-matian memasang wajah serius, dia tidak ingin tersenyum apalagi tertawa karena wajah El yang kaget tadi terlihat begitu lucu dan menggemaskan.
"Aku harus tanya sama kamu, kenapa kamu sembunyi dari aku?"
El mengangkat handphone ditangannya "saya lagi nelpon"
Kayden maju selangkah "dari siapa?"
"Saya nggak punya kewajiban untuk kasih tahu anda tentang riwayat telpon saya kan?"
Kayden melirik kunci mobil di meja didekat mereka, itu pasti adalah kunci yang diberikan Akong secara diam-diam karena El tidak henti memohon pada pria tua itu untuk memberikannya kendaraan untuk sementara.
"Ly jangan berpikir kalau aku nggak tahu apa yang sedang kamu pikir sekarang"
"Apa sih?"
Kayden terus maju dan Eleasha terus mundur, pria itu baru berhenti saat gadis di depannya ini berhenti karena mentok dengan meja di belakangnya.
"Anda jangan macam-macam ke saya yah?"ancam El saat Kayden mempersempit jarak diantara mereka.
Senyum Kayden merekah "apa kamu pikir aku mau macam-macam?" tanyanya dengan nada godaan kemudian sedikit membungkuk untuk mengambil kunci diatas meja di belakang El.
"Balikin nggak?" Eleasha menahan tangan Kayden saat dia menyadari apa yang dilakukan pria itu.
"Nggak, aku nggak percaya sama kamu sekarang" Kayden melangkah mundur meski masih memasang senyuman lebar.
"Itu bukan milik anda yah, cepat balikin ke saya" entah mendapat keberanian dari mana, gadis itu maju mendekat ke arah Kayden.
__ADS_1
"Memang bukan, tapi ini milik akong aku dan aku pewaris tunggalnya" jawab Kayden kalem, "aku tahu kamu mau pergi kan? Mulai sekarang kamu nggak akan kemana-mana tanpa aku"
"Anda jangan gila yah?!"
"Kamu mau ini? Ambil sendiri" Kayden memasukan kunci mobil itu kedalam kantong celananya kemudian langsung bertolak pinggang masih dengan senyuman lebar yang tidak pernah luntur sejak dia menemukan El.
Eleasha melotot tapi sedetik kemudian gadis itu maju dengan cepat meraih kantong celana Kayden, tempat kunci mobil itu berada. Sekarang gantian Kayden yang syok berat. Masa bodoh dengan apapun, yang ada dalam pikiran Eleasha saat ini hanya bisa pergi dari rumah ini, meski memang mungkin tidak bisa menjauh dari pria itu, tapi setidaknya dia tidak berada di dalam satu rumah dengan Kayden untuk sementara waktu, karena hal itu jelas tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
"Ly...Ly.. stop..Ly..." Kayden meliuk-liukkan badannya berusaha menghindari tangan Eleasha yang sangat aktif bergerak.
"Ly kamu mau lecehin saya?"
Eleasha sama sekali tidak peduli dengan semua ucapan yang keluar dari mulut laki-laki yang sekarang sedang bergerak acak untuk menghindari tangannya, El memang bisa menggunakan taxi online jika ingin pergi dari tempat ini tapi statusnya sebagai selebriti memaksanya harus menjaga privasi dengan memakai kendaraan pribadi jika ingin kemana-mana, karena itu dia sangat butuh kunci mobil itu.
"Ily kamu bisa megang yang lain lho"
"Terus kenapa?"
"Nggak apa-apa, cuma jangan disini dikamar aja gimana?" tanya Kayden sambil menaik-turunkan alisnya.
Eleasha seketika membeku saat dia akhirnya paham dengan maksud Kayden sejak tadi. "mesum!!!!" jeritnya kemudian berjalan cepat meninggalkan pria itu yang sedang cengengesan setengah mati.
...****************...
El menggigit bibirnya, dia tidak bisa menampik kalau dia sangat bahagia saat ini. Meski sebagian hatinya terus menerus bertanya-tanya apakah dia pantas bisa merasa sebahagia ini? Apakah wajar kebahagiaan ini hadir untuk dirinya?
...****************...
"Taraaaaaaa.....Gimana? Bagus kan? Kamu suka nggak? Baby suka nggak?"
Eleasha mengerjab beberapa kali melihat box bayi berwarna putih gading lengkap dengan kelambu berwarna senada. Jadi pria itu sejak tadi sibuk merakit sendiri benda ini ketimbang membeli yang sudah jadi dan tinggal di pakai.
"Ini aku desain sendiri, terus aku minta dikirim yang belum di pasang soalnya mau aku rakit sendiri juga" jelasnya dengan penuh nada kebanggaan.
"Ngapain capek-capek kalo bisa beli yang sudah jadi" gumam El pelan, bukan karena dia tidak menghargai usaha Kayden hanya saja dia sampai detik ini belum bisa percaya dengan perubahan hubungan mereka.
"Nggak bisa dong, aku mau terlibat langsung dalam semua bagian untuk bayi kita"
Eleasha menatap box bayi itu, matanya berkaca-kaca dengan perasaan yang campur aduk mungkin karena hormon saat sedang hamil.
Melihat gadis itu hanya diam, Kayden berjalan mendekat, meraih tangan El dan menggenggamnya erat "aku akan selalu ada dalam setiap moment apapun dari kalian berdua" ucapnya dengan ketulusan yang sama persis dengan sorot mata dan senyuman pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mau kemana?" tanya El sambil bersedekap di depan pintu kamar.
__ADS_1
Kayden menjulurkan kepala melewati kepala Eleasha sambil menunjuk ke arah dalam "masuk" jawabnya kalem.
"Ya... ngapain?"
"Tidurlah, ini sudah malam waktunya bobo kan?"
Gadis itu merotasikan bola mata, "kita belum sah, jadi nggak bisa tidur sekamar"
Wajah pria itu seketika berubah muram "kan tinggal di sahkan?"
"Ya, tapikan belom"
Kayden membasahi bibirnya, mulai merasa frustasi "besok kita sahkan!! Jadi boleh dong malam ini tidur bareng, cuma tidur" tekannya lagi.
El mengggeleng "nggak"
"Tapi gimana kalo kamu nggak bisa tidur?" Kayden menahan pintu yang akan di tutup El, "pu..punggung kamu kan bisa aja tiba-tiba sakit"
"Oh jadi kamu doa'in aku sakit punggung?"
"Bu....bukan, cuma jaga-jaga aja kan segala kemungkinannya bisa terjadi"
El hanya mendengus pelan kemudian kembali mencoba menutup pintu.
"Ly...Ly...wait."
"Apaaa?!" El mulai tidak sabar.
"Gimana kalo si bayi rindu papanya?" tanya Kayden lagi sambil menunjuk perut Eleasha.
"Si bayi ini pengertian kok, anda tenang aja"
"Gimana kalo aku tidur di sofa? atau di lantai aku nggak apa-apa asal masih seruangan sama kamu, sama kalian." Kayden masih berusaha keras merubah keputusan Eleasha.
"Nggak Kayden Abraham, nggak!!"
Blam...
Pintu tertutup tepat didepan wajah Kayden. Pria itu menutup mata rapat sambil menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan cepat.
Malam ini dia harus menyiapkan segala keperluan untuk membuat gadis itu sah menjadi istrinya. Apapun yang terjadi, bagaimana pun caranya dia harus cepat mengesahkan hubungan mereka. Karena demi Tuhan, Kayden tidak sanggup lagi harus tidur tanpa melihat wajah gadis itu untuk menutup hari - hari kedepannya.
"Ly kalo ada apa-apa, ato butuh apapun panggil aku yah?" sahut Kayden didepan pintu kamar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1