
...****************...
"Mbak El nggak ulang tahun kok, Pak. Dan dia juga nggak lagi dalam keadaan menang award untuk dapat hadiah selamat"
Kayden menyipitkan matanya "tapi kamu bilang ada beberapa hadiah yang datang di kantor Agensi buat Eleasha"
"Iya pak, ini fotonya. Lumayan banyak pak. Makanya kami agak binggung juga"
"Penggemar mungkin" kata Kayden sambil memperhatikan foto di layar handphone yang diperlihatkan Septian padanya. Hari ini tepat 1 minggu sejak kejadian dirumah sakit itu, dan hari ini adalah hari pertama Eleasha kembali kerutinitas keartisannya.
"Bisa jadi sih pak, tapi mbak El udah melarang fans-fansnya buat kasih dia hadiah dalam bentuk apapun, katanya dia udah bisa beli hadiah pake duitnya pribadi, jadi dia menyuruh Elluv beli hadiah untuk diri mereka sendiri karena........" Septian berhenti bicara dan mengutak-atik handphonenya saat sebuah nada yang menunjukkan sebuah pesan masuk di aplikasi hijau bergambar telpon miliknya berbunyi.
"Kenapa?" Tanya Kayden.
Septian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, terlihat menimbang-nimbang apakah harus bilang atau tidak.
Kayden mengerti bahasa tubuh dan tatapan mata itu "I'ts oke. Ngomong aja" lanjutnya
"Pengirim hadiah-hadiah itu ternyata mantan tunangannya mbak El, pak. Yang sekarang statusnya udah jadi ayah tirinya mbak El"
"Apa?"
"Rumit sih pak emang, makanya kami tuh kasian sama mbak El, diterpa terus ujian dari gusti Allah. Jadi sebulan sebelum kejadian tabrakan gara-gara penggemar fanatik itu, tunangannya mbak El nikah bukan sama dia tapi sama mamanya sendiri"
"Siapa nama ayah tiri Eleasha?" Tanya Kayden, masih tidak yakin dengan apa yang dia pikirkan saat ini.
"Marco Dariel Salamo"
Kayden tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Dia tahu mantan tunangan gadis itu bernama Marco yang menjadi dalang dari insiden mereka jatuh di jurang tapi dia sama sekali tidak tahu, mantan tunangan gadis itu adalah ayah tiri El. Sampai detik ini.
"Termasuk setia lho dia, gosipnya El yang biayain mantannya kuliah di luar negeri. Beliin macem-macem buat si mantan yang terakhir katanya rumah sebelum kabar mantannya itu nikah sama......"
__ADS_1
Percakapan para wartawan dirumah abu waktu itu terlintas di ingatan Kayden. Waktu itu para wartawan membahas tentang mantan tunangan Eleasha yang memanfaatkan gadis itu, tapi percakapan tersebut tidak selesai karena insiden jatuhnya vas bunga dan menimbulkan bunyi keras di rumah abu yang sepi sehingga para wartawan itu lari ketakutan.
"Dia terobesi dengan si aktris itu, bahkan sampe kasih akses para wartawan masuk kepemakaman pribadi keluarga, bocorin info supaya wartawan stand bye di pemakaman"
Percakapan para penjahat itu juga tiba-tiba singgah diingatan Kayden, dia ingat sekarang waktu itu para wartawan sempat bilang kalau mereka mendapat akses masuk ke area VIP pemakaman karena mendapat izin langsung oleh pihak pengelolah yang dalam hal ini adalah ayah tiri Eleasha
"bapak tirinya baik banget yah? kita yang pake name tag pers diijinin masuk ngeliput langsung disini sampe sekarang"
Kayden terdiam. Mendadak kehilangan kemampuan untuk bicara. Semua ternyata begitu jelas, andai saja dia mau peka. Kalau saja setelah insiden di jurang itu, dia mencari tahu lebih lanjut tentang gadis itu, fakta ini seharusnya tidak membuatnya sekaget ini.
...****************...
"Lo kok nggak pernah ngomong ke gue kalo si Eleasha itu tunangannya nikah sama mamanya?" Kayden langsung menodong Jerome yang baru melangkah masuk kedalam ruangan pria itu dengan pertanyaan dan tatapan kesal.
Jerome membalas tatapan itu "Gue pikir lo nggak tertarik dengan kehidupan pribadi Eleasha"
"Berapa lama hubungan mereka?"
"Gue mau yang sedetail-detailnya. Gue tunggu"
Jerome mengangguk, walau dalam hati dia punya rencana untuk mengulur waktu menjadi lebih lama. Supaya rasa penasarannya akan perubahan Kayden bisa terlihat semakin jelas.
"Mau kemana? Ini masih jam kantor woii..." Jerome berteriak protes saat Kayden sudah berdiri dari kursi kebesaran, meraih jas dan mulai berjalan melewatinya. Lagi.
"Ini hari pertama dia syuting lagi, tentu aja gue mau kasih dia tekanan"
Jerome mendengus kemudian bergumam " kasih tekanan, atau emang lo pengen liat dia?"
...****************...
"Tolong bilang sama suami mama untuk berhenti bertindak konyol" El hampir berteriak kalau saja ini bukan dilokasi syuting.
__ADS_1
"Bermaksud baik apanya? Aku nggak mau nerima apapun dari dia. Apapun!!!" El menekan kalimat apapun. Berharap apa yang dia lakukan ini bisa didengarkan sang mama.
gadis itu menutup panggilan telpon. Kemudian Menutup mata rapat sambil berusaha menormalkan aliran darah yang terasa mulai mendidih.
"Andai mama tau apa yang suami mama lakuin sama aku...." El tiba-tiba tersenyum getir "kalau mama tau pun, nggak ada yang jamin mama bakalan di pihak aku kan? Sejak dulu juga selalu begitu" gadis itu berucap sambil menyeka air mata yang lolos dari pertahanannya. Dia kemudian menarik nafas dan menghembuskannya beberapa kali, memastikan kembali tampilannya lewat kamera handphone.
Setelah merasa semuanya baik-baik saja, gadis itu berjalan pergi kembali ke lokasi syuting.
Sebuah sepatu pantofel mengkilap melangkah keluar dari sudut gelap. Menatap kearah punggung kurus yang perlahan menjauh. Tangannya mengepal kuat di kedua sisi tubuh, dengan begitu banyak pertanyaan kenapa yang memenuhi otak.
...****************...
"Alena lagi istirahat pasca kecelakaan, gue juga abis ini ada kerjaan El. Mau Makeup'in teh Ocha buat pesta pernikahan saudaranya. Gimana dong?" Alda bertanya khawatir.
"Gue bisa naik taksi kok, Da. Nggak apa-apa"
"Beneran yah? Telpon gue kalo udah sampe rumah. Ato telpon aja sih Ed gimana?"
El tertawa saat mendengar nama Ed disebutkan "gila lo, suami orang itu. Bisa-bisa gue di cap pelakor" El menggeleng, mengingat kejadian dirumah Elisa, membuat dia sengaja menjaga jarak dari Ed. Lagipula, Ed juga sepertinya sudah mulai menempatkan diri sebagimana mestinya.
"Elo sih, udah tau ada Ed yang setia sama elo sejak kecil. Eh malah kepicut sama si matre. Nyeselkan lo sekarang ditinggal nikah sama kembar siam lo? Si Ed juga kenapa nikahnya sama orang yang nggak kita kenal sih? Kan jadinya ribet, atmosfirnya kan jadi horor"
"Udahhh sana pergi, gue tinggal cari taksi." Usir El sebelum mulut Alda semakin menjadi jadi.
"Ya iyalah lo harus naik taksi. Lo kan nggak boleh nyetir dulu. Masih lemah, letih, lesu, lunglai, terus leher lo juga baru lepas penopangnya"
"Iya bawelll.... gue bakalan naik taksi. Udahh sana pergi"
El melambaikan tangan ke arah Alda yang sudah masuk kedalam mobilnya. Sesuai anjuran dokter, dia memang belum dibolehkan menyetir mobil sendiri. Alena sudah beberapa kali menawarkan untuk memakai jasa sopir pribadi. Tapi El bukanlah tipe orang yang suka membuka diri untuk orang baru. Butuh waktu lama untuknya mengakrabkan diri dengan orang. Karenanya, walaupun mungkin akan kesulitan dengan perubahan zaman yang semakin hari semakin berubah tapi dia tetap akan bertahan dengan orang orang yang sudah ada di sisinya sejak lama.
"Katanya kamu nggak boleh nyetir sendiri dulu? Alena sama Alda juga nggak ada. Pulang bareng aku aja yah?"
__ADS_1
...****************...