EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Lebih buruk


__ADS_3

"Kalo ada kata yang lebih buruk dari brengsek, gue nggak akan segan buat pake itu buat lo!!"


Marco tertawa sambil memegang perutnya, dia meletakan pistol dan berkas kembali kedalam lemari sebelum berjalan mendekati Eleasha.


"Selamat datang" ucapnya dengan senyuman lebar. Tidak peduli dengan aura penuh amarah dari gadis didepannya.


Eleasha menahan diri untuk tidak meludah wajah brengsek pria itu sekarang.


"Kamu harusnya bangga sama aku, karena sekarang rumah ini dan seluruh aset mama kamu sudah jadi milik aku."


Marco mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut hitam Eleasha yang langsung ditepis kasar oleh gadis itu.


"Kamu tahu artinya apa? Semua milik aku juga milik kamu" lanjutnya masih dengan senyuman lebar yang sama


Eleasha menghampiri mamanya yang hanya diam di kursi roda, tanpa ada reaksi apapun atas keributan ini.


Gadis itu hampir mencapai pegangan kursi yang sedang di duduki sang mama, tapi tangan Marco sudah menariknya kembali menjauh.


"Lepasin gue!!" El berteriak protes tapi sama sekali tidak didengarkan pria itu.


Marco menarik El keluar dari ruangan itu menuju ke ruangan lain di rumah megah ini.


"Percuma teriak, Sha. semua karyawan aku liburin hari ini, kecuali satpam di gerbang depan"


El masih berteriak tanpa mau peduli dengan perkataan pria itu, juga masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman Marco.


"Kamu keras kepala yah sekarang, Sha? Dimana gadis penurut itu pergi?"


"Dia nggak kemana-mana, dia cuma udah sadar dengan sosok monster yang lo sembunyiin selama ini!"


Marco menarik Eleasha masuk kedalam kamar besar dirumah ini, kamar yang sudah dia persiapkan jauh-jauh hari untuk jadi kamarnya dengan Eleasha nanti, saat mereka menikah. Tentu saja saat semua sudah selesai sesuai dengan recananya.

__ADS_1


Pria itu mendudukan tubuh Eleasha diatas ranjang King Size bernuansa emas yang terlihat sangat mewah, ia tersenyum setengah sambil membuka jas yang dia pakai.


El langsung waspada, gadis itu mencoba bangkit tapi usahanya seketika dipatahkan oleh Marco dengan menarik kaki El untuk mendekat padanya.


"Jangan sentuh gue, atau gue bunuh lo" Ancam El sambil menendang ke segala arah, supaya kakinya terlepas dari cengkraman Marco.


Marco tertawa keras mendengar ancaman itu "kenapa? kamu berharap si brengsek Kayden Abraham itu datang kesini buat nolong kamu kayak waktu itu?"


Marco menarik kaki El kuat sehingga gadis itu mendekat padanya "buat berjalan aja dia susah, kalaupun bisa jalan dia butuh tongkat, Sha."


Marco mencekram kuat rambut Eleasha, membuat gadis itu meringgis sambil menatapnya tajam, meski tidak setajam sebelumnya.


Sekarang Marco bisa mendapati sedikit ketakutan di mata itu.


"Udahlah, apa bagusnya sih dia? Kaya? Gue juga kaya raya sekarang. Tampan? Kamu tahu kalo wajah ini diatas rata-rata. Akh.... apa kepuasan di ranjang?"


Wajah penuh senyuman Marco menghilang, aura pria itu menggelap membuat Eleasha menjadi merinding.


Cengkraman itu mengendur, tangan Marco menyentuh pipi El yang sekarang tidak se cubby saat masih bersamanya.


"Hal itu yang bisa buat aku mentolelir semua itu, meski sakit banget disini"


El mendorong tubuh Marco supaya menjauh darinya, dia menatap pria yang juga sedang menatapnya dengan kesedihan yang tidak bisa disembunyikan.


"Bukan buat lo tapi buat mama karena dia nggak mau suaminya membusuk di penjara!!"


Eleasha bisa melihat pupil pria itu membesar, mungkin Marco adalah pria yang paling baik yang dia miliki selama ini, Marco mengutamakannya dalam segala hal. Tapi justru hal itu kemudian berubah menjadi sebuah obsesi mengerikan.


Mungkin obsesi itu tercipta karena Marco memang menjaganya dengan baik saat mereka masih bersama, dia tidak pernah melebihi batas meski El yang sering memancing sisi monster pria itu terbangun.


Keselahan terbesar Marco hanya satu yang menjadi awal mulai semua kemalangan ini terjadi, pria itu menjual jiwanya pada uang dan membuat semuanya menjadi hitam pekat sampai bagian putih hati pria itu ikut kehilangan sisi baik dalam warna dirinya.

__ADS_1


"mama cinta lo, seharusnya lo tahu! Gue tahu lo udah salah langkah, tapi seharusnya dibenerin lagi bukannya semakin menikmati kesalahan itu"


Marco yang mendengar pengakuan Eleasha tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, dia sama sekali tidak menyangkah kalau wanita yang dia nikahi hanya karena uang dan dia sentuh setiap malam karena hasratnya yang tidak pernah tersampaikan pada Eleasha ternyata menggunakan hati selama ini.


"Lo pikir mama mau buat gue menderita dengan nikah sama lo kan? Mungkin itu awalnya tapi dia sebenarnya udah jatuh cinta sama lo"


Marco menatap El entah kenapa dimatanya, gadis itu sedang menyemburkan sebuah kebohongan. Dia tahu Elizabeth begitu membeci Eleasha karena banyak hal dan itu tidak mungkin berubah hanya karena menikah dengannya dan jatuh cinta padanya kan?


Eleasha sekarang hanya sedang malu mengakui kalau dia menyerahkan diri pada si brengsek Kayden demi menyelamatkannya, dia sengaja menggunakan nama sang mama untuk menutupi kebohohongan itu.


"Gue hamil, 4 minggu lebih. Lo tahu pasti anak siapa. Kalo lo mikir gue menyerahkan diri karena lo, itu salah karena gue memang jatuh cinta"


El berucap dengan nada dan ekspresi tenang, mungkin ada beberapa hal yang masuk kedalam kebohongan, hanya saja pada bagian jatuh cinta dia mengatakan hal yang sebenarnya.


Dia tidak akan menyangkal lagi, kalau dia memang sudah jatuh cinta. Pada Kayden Abraham, pria yang seharusnya tidak sepantasnya dia menjatuhkan hati.


"Kamu? Nggak mungkin....Aku bahkan nggak pernah bisa gantiin kamu dengan wanita manapun"


"Dulu disini memang ada nama kamu, hanya ada nama kamu. Tapi semua berubah sejak lo juga berubah. Ingat Marco, yang duluan mengkhianati hubungan kita itu lo, bukan gue"


El berdiri dengan keadaan yang berantakan karena usaha perlindungan dirinya, dari pria yang saat ini masih membeku di tempatnya.


"Gue akan bawa mama balik ke Kemang, dan gue juga akan ambil lagi berkas tante Sonia" gadis itu berhenti sejenak di depan Marco kemudian berucap, "Sisanya lo bisa ambil semuanya. Gue nggak permasalahin apapun lagi"


El kemudian bergegas pergi, dia sudah tidak sabar untuk keluar dari ruangan ini dan bertemu dengan mamanya. Tapi gadis itu tidak bisa mencapai pintu karena Marco dengan cepat menggotong tubuh Eleasha diatas pundaknya kemudian menghempaskannya di atas ranjang.


Pria itu kemudian naik keatas ranjang sambil membuka satu persatu kancing kemejanya, hati dan pikiran sudah berubah gelap, tidak ada lagi tersisa tempat untuk warna lain.


Sama seperti hasratnya yang tidak lagi peduli dengan apapun selain merusak Eleasha sampai hancur.


Karena gadis itu sudah menghancurkan hatinya tanpa sisa, artinya dia juga harus melakukan hal yang sama, dengan kehancuran yang sama persis.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2