EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
World meet baby Kai


__ADS_3

"Pastikan semua yang terlibat saat persalinan istriku semua wanita!" Kayden mengeram dengan tatapan tajam.


Jerome yang mendapat titah hanya bisa geleng-geleng kepala, mereka sedang tidak berada di Jakarta dan di sini, di Bali mereka tidak punya rumah sakit pribadi. Tuntutan Kayden mungkin akan terdengar sedikit sinting bagi segelintir orang.


"Oh ayohlah En, mereka juga sudah di sumpah untuk...."


"Gue nggak peduli Jerome Aldelard Mainaky. Gue nggak peduli!!!" tegasnya lagi.


"Gue akan usahain tapi gue....." Jerome menelan ludah saat mendapati mata laser Kayden yang serasa bisa melobangi kepalanya "baiklah sesuai dengan perintah lo, puas?"


Kayden mengangguk dan dengan gerakan tangan mengusirnya pergi. Sepupu kurang ajarnya itu memang tidak punya hati.


Mungkin banyak yang bertanya silsilah keluarga mereka, dan dia akan dengan senang hati menjelaskannya.


Haoran Abraham memiliki 3 anak, yang sulung adalah ibunda Jerome. Itulah kenapa pria itu tidak memiliki marga yang sama dengan Kayden. Anak yang kedua adalah mama dari Elisa yang menikah dengan papa Morgan Prantanto dan yang bungsu dan sulit didapatkan adalah ayah Kayden yang membuat dia secara tidak langsung menjadi cucu kesayangan karena selain membawa marga Abraham, Kayden juga adalah anak dari putra kesayangan Hao.


Bukan berarti Haoran tidak menyayangi kedua putrinya, hanya saja dalam tradisi keluarga mereka memang ada beberapa hal spesial hanya akan di terima oleh anak laki-laki. Leluhur mereka juga punya pemikiran kalau anak laki-laki harus di buat mapan karena akan menjadi tulang punggung dalam keluarga nantinya.


Tapi tentu saja kasih sayang tulus berlimpah untuk anak perempuan walau pembagian secara materi akan ada perbedaan sedikit banyak.


Dan tibalah hari ini yang adalah jadwal operasi caesar Eleasha, tadinya wanita itu bersikeras untuk bisa melahirkan normal tapi tekanan darahnya tidak juga normal dan cenderung tinggi sampai pada pemeriksaan terakhir. Karenanya, dokter memutuskan untuk mengambil tindakan caesar demi keselamatan ibu dan bayi.


Melahirkan di Bali memang memberi banyak keuntungan apalagi untuk Jerome yang selalu mendapat titah tidak wajar dari Kayden.


Karena di Bali mereka bisa menghindari banyak media karena tempat ini bukan ibu kota, dan Bali sangat menjunjung privasi seseorang. Memang ada beberapa wartawan yang masih berusaha meliput tentang kehamilan dan proses melahirkan El tapi Jerome bisa mengatasinya dengan baik.


"Lo mau mendampingi Eleasha?"


Kayden terlihat menutup mata sejenak sebelum menjawab "tidak"


Jerome hanya bisa menganga tapi tidak terkejut dengan hal itu, karena Kayden memang memiliki trauma dengan ruang operasi. Ibunya meninggal disana, begitu juga dengan nenek mereka.


"Alena mungkin bisa berada di samping El" Jerome memberi advis yang tidak di respon Kayden.


"Atau Eduard?"


"NGGAK BOLEH ADA PRIA TERMASUK EDUARD" katanya menggelegar.


"Iya...iya posesip amat lo jadi laki"


...****************...


Eleasha mengigit bibirnya saat dia sudah berada dalam ruang operasi yang terasa dingin sampai menembus tulang.

__ADS_1


Sebentar lagi mereka mungkin akan melakukan proses anastesi, dan gadis itu masih berharap Kayden akan berada disampingnya untuk memegang tangannya.


El tahu hal itu tidak akan mungkin terjadi, dia tahu trauma apa yang dimiliki Kayden tentang ruangan ini dan dia tidak bisa menyalahkan suaminya atas hal itu.


Kayden juga sudah berkali-kali memohon maaf atas kelemahannya itu, dan El memaklumi.


Tapi meskipun begitu dia tetap berharap bisa melihat wajah tampan suaminya, sebelum operasi dimulai.


"Rileks El, semua akan baik-baik saja. Dokter Wayan adalah dokter yang sangat berpengalaman"


El menatap Eduard kemudian tersenyum pada sahabat sekaligus sepupu iparnya itu, dia sedikit merasa lega setidaknya di detik-detik sebelum proses operasi dia bisa melihat seseorang yang di kenal dengan baik.


"Gue nggak bisa lama-lama, laki lo udah buat ancaman ke pihak rumah sakit kalau semua yang terlibat sama persalinan lo harus perempuan" Eduard mengadu yang langsung melahirkan kekehan dari mulut Eleasha.


Itu memang Bang Kai nya.


"Sampai ketemu nanti setelah semuanya selesai, jangan khawatirin apapun atau mikir yang nggak-nggak" Eduard mengelus puncak kepala El penuh sayang "gue keluar dulu"


El mengangguk sambil mengiringi kepergian Eduard sampai pria itu menghilang dari pandangannya.


Kesepian kembali menghampiri El, gadis itu bahkan sudah meneteskan air mata dia tidak bisa memungkiri dia punya sisi ketakutan dan kekhawatiran yang besar sekarang, tapi demi apapun dia harus bisa mengatasinya bukan? Dia akan segera bertemu dengan bayi mereka, buah cintanya dengan Kayden Abraham.


Penantiannya.


Eleasha mengigit bibir kuat, dulu dia pernah dijahit tanpa obat bius demi menyelamatkan bayi ini, dan sekarang rasa sakit karena obat bius tidak akan ada apa-apanya.


Wanita itu meringgis pelan saat jarum suntik menusuk permukaan kulitnya, meski sudah diperingatkan tapi tetap saja ternyata dia tidak siap dengan rasa sakit itu.


El menutup mata kuat, air mata tanpa sadar sudah keluar lewat sudut mata dan demi apapun dia harus berusaha kuat untuk saat ini, demi bayi mereka.


Sebuah tangan hangat tiba-tiba menggenggam tangannya erat. Mata wanita itu terbuka dan langsung melebar sempurna saat melihat seseorang yang seharusnya tidak ada disini.


"Kenapa kesini?" tanya El pelan sambil berusaha menahan rasa nyeri dan sakit yang sudah bercampur menjadi satu.


Kayden tersenyum lembut, sambil mengelus wajah istrinya dengan tangannya yang bebas "aku nggak bisa biarin kamu berjuang sendiri untuk bayi kita"


"Tapi trauma kamu? Bukannya...." El tidak dapat melanjutkan ucapannya saat Kayden mengecup singkat bibirnya, kemudian menempelkan kedua kening mereka, sebuah kebiasaan favoritnya sejak mereka resmi menikah.


"Itu semua nggak ada apa-apanya sayang, aku pikir sejak awal kamu sudah berjuang sendiri untuk bayi ini. Masa di saat terakhir aku masih biarin kamu sendiri juga? "


"Makasih...." El tidak bisa melanjutkan ucapannya karena wanita itu sudah meringis karena merasa sakit di tulang belakangnya. Untuk kali ini dia sama sekali tidak bisa menahannya.


Kayden bangkit berniat untuk memperingatkan dokter yang sudah membuat istrinya kesakitan, tepat disaat yang sama seragam scrub yang dia pakai di tarik oleh seseorang yang seperti memiliki tenaga kuda.

__ADS_1


Pria itu terseret menjauh dari ranjang operasi, otomatis pegangannya pada Eleasha terlepas. Dan El yang sudah mulai terbius tidak dapat bergerak atau bersuara lebih, dia terlalu lemah dan merasa sedikit mengantuk sekarang.


"Lepasin saya! Saya peringatkan anda untuk melepaskan saya!" Kayden hampir berteriak kalau saja dia tidak ingat ini dimana sekarang.


Perawat senior yang berusaha menyeret Kayden sampai keluar ruangan akhirnya melepas pegangannya. Wanita tua itu menatap Kayden sebal "Anda sebaiknya keluar sekarang, tempat ini tidak boleh ada manusia berjenis kelamin laki-laki"


Kayden menatap perawat senior itu dengan tatapan tidak percaya "saya itu...."


"Sudah...sudah anda keluar saja, suami pasien ini cemburuan. Dia sepertinya pria tua mengerikan yang tidak mau istrinya dilihat atau dirawat lawan jenis" perawat senior itu mengangguk-angguk dengan khidmat sambil mendorong punggung Kayden keluar.


Dan Kayden sudah hampir frustasi saat perawat senior dengan tenaga kuda itu hampir membuatnya keluar dari ruangan, akhirnya dengan sekuat tenaga pria itu bertahan dan berhasil berucap cukup keras, sampai membuat beberapa orang di dalam ruangan ini termasuk Eleasha menatap kearahnya.


"SAYA SUAMINYA!! SAYA SUAMI POSESIF ITU. ITU SAYA!!!"


Eleasha tersenyum lebar seketika lupa dengan rasa sakit yang dia rasa saat proses anestesi tadi.


Itu baru Bang Kai-nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seluruh rasa sakit yang wanita itu rasakan di sepanjang hidupnya langsung menghilang tanpa sisa saat mendengar suara tangis bayi itu, El tersenyum haru jantungnya berdebar dengan perasaan yang sama sekali tidak bisa dia jabarkan.


Kayden yang sejak tadi berada di sampingnya dan terus memegang tangannya kini sudah memeluk istrinya dengan erat. Pria itu terus menerus membisikan terima kasih dan kata cinta yang tidak ada habisnya untuk wanita ini.


Seorang perawat kemudian membawa sang bayi untuk di letakkan di dalam dekapan ibunya "Selamat anda melahirkan putra yang sehat dan tampan"


Eleasha bisa merasakan kecupan di keningnya dari sang suami, dan tubuh kecil yang hangat di dalam dekapannya. Baginya tidak ada lagi yang sesempurna ini. Sekarang dia telah memiliki segalanya yang dia impikan dalam hidup dan Eleasha tidak membutuhkan apapun lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Eleasha Halim atau sekarang telah menjadi nyonya Abraham, sudah melahirkan putra pertamanya semalam yang dengan segala kebanggaan di sematkan nama Erick Kai Abraham" Alena menutup confrensi pers yang diadakan di lobby rumah sakit tempat El melakukan persalinan secara secar.


Alena memang sengaja tidak banyak bicara karena memang permintaan dari El sendiri.


Dia mewakili pihak keluarga sekaligus sebagai manajer sang aktris yang sejak detik itu juga sudah mengungumkan berita kemunduran diri dari dunia hiburan dan akan fokus pada profesi barunya sebagai seorang istri dan juga ibu bagi keluarga kecilnya.


"Terima kasih untuk seluruh cinta yang selama ini diberikan kepada El, sejak dia debut sebagai aktris diusia 11 tahun hingga saat ini."


Alena berdiri, sedikit membungkuk untuk awak media yang masih melontarkan pertanyaan dan juga kilatan blits kamera yang selamanya gadis ini tidak pernah bisa terbiasa dengan hal ini, tapi demi El yang masih dalam tahap pemulihan dia bisa membuat pengecualian.


Jerome menyambutnya dengan senyuman lebar, membawa gadis mungil itu masuk dalam dekapannya sebentar karena pria itu ingin menunjukkan betapa dia sangat bangga dengan Alena-nya ini.


Dekapan itu kemudian berganti dengan rangkulan hangat sambil menuntun Alena kembali ke ruangan rawat Eleasha.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2