
Kayden tiba-tiba berdiri menyebabkan minuman di meja tumpah membasahi layar tab yang menampilkan artikel tentang Eleasha dan foto gadis itu basah.
Pria itu mengusap layar tab lembut, sangat berharap gadis itu dalam keadaan yang baik-baik saja saat ini.
Handphone dalam saku celananya berbunyi, setelah berhasil mengeluarkan dari sakunya kening pria itu langsung mengernyit saat melihat nama yang tertera di layar handphone.
Ini merupakan sebuah sejarah, karena seorang Eduard sangat jarang bahkan hampir tidak pernah menelponnya.
"Hallo..."
"Cepetan ke Medistra sekarang El kecelakaan saat pemotretan. Lo harus kesana karena kalo nggak....."
Suara Eduard tiba-tiba hilang, Kayden bahkan sampai melihat layar handphonenya memastikan apakah panggilan telepon itu sudah terputus atau belum.
"Hallo...."
"En?"
Kayden mengerutkan kening "Elisa? Kenapa lo bisa.."
"Eleasha sedang hamil anak lo, dan bukan anak Eduard seperti yang selama ini kita duga"
Jantung Kayden berdetak cepat saat mendengar hal itu, "apa lo bilang?"
"Kalo lo anggap dia penting buat lo, dan lo nggak mau kehilangan dia dan anak lo, lo tahu kemana harus pergi sekarang En"
Tut....tut....tut...
Panggilan terputus begitu saja, seperti kesetanan Kayden menekan layar berusaha menghubungi Eduard kembali tapi nomor pria itu sudah tidak lagi aktif.
Sialan. Makinya kemudian segera bergerak cepat keluar dari rumah.
Saat sampai didepan pintu Kayden hampir Jerome yang baru saja masuk karena tadi keluar untuk menerima telpon dari seseorang.
"Lo nggak pake tongkat?" tanya Jerome takjub
"Antar gue ke Medistra sekarang"
"iya, tapi kaki lo baik-baik aja kan?" Jerome masih belum percaya dengan apa yang baru dilihatnya "lo bahkan lari, En"
__ADS_1
"ANTAR GUE KE MEDISTRA SEKARANG JER!" teriak Kayden menggelegar dengan tatapan tajam yang kalau di animasi pasti sudah mengeluarkan api.
Jerome mengelus dada "iya iya darting amat lo jadi orang" sunggut pria itu kemudian berjalan keluar rumah diikuti Kayden di belakangnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Untuk saat ini pihak kami tidak akan memberikan pernyataan apapun, mohon kiranya teman-teman wartawan mau menunggu konfernsi pers resmi kami dalam waktu dekat"
Alena menjawab dengan tenang, meski dalam hati gadis mungil itu lumayan khawatir dan takut dengan kondisi yang ada. Tapi sekuat tenaga Alena menyembunyikan semua yang mengganjal hatinya didepan publik.
Saat ini dia didampingi oleh Arya Satya sedang memberi pernyataan sementara untuk para wartawan yang sudah berkumpul didepan rumah sakit, entah siapa yang sudah membocorkannya pada awak media.
"Alena apakah benar El sekarang sedang hamil?" seorang wartawan wanita dari salah satu stasiun televisi swasta terbesar di negeri ini bertanya.
Alena refleks mencekram jeans yang dia pakai saat mendengar pertanyaan tersebut.
"Apa benar ayah dari bayi yang di kandung El adalah dokter Eduard Santoso?" tanya wartawan yang lain.
"Apa benar El adalah orang ketiga dari rumah tangga dokter Eduard, sehingga menyebabkan perceraian?"
"El pelakor dong Na"
Suara seperti kerumunan lebah seketika memenuhi pelataran depan rumah sakit, Arya Satya memberi kode kepada Alena untuk mengakhiri sesi ini dan segera masuk kedalam.
Gadis mungil itu segera berjalan masuk kedalam lobby rumah sakit di dampingi Arya Satya, yang membantunya membelah kerumunan wartawan.
Bersamaan dengan itu Eleasha yang sudah siuman, di dorong keluar dari ruang rawat darurat untuk menuju ruang perawatan VVIP di lantai 4.
Saat hampir mencapai lift, seorang wartawan berhasil menotice hal itu dan langsung menyuarakan pada yang lainnya sehingga tidak sampai hitungan ke 3 para pemburu berita sudah berkerumun di sekitar ranjang Eleasha, tidak peduli dengan Alena dan Arya Satya yang meneriaki mereka dengan berbagai ancaman.
"El tolong beri kami beberapa kata"
"El apa bayimu baik-baik saja..."
"El....."
"Hamil diluar nikah, apakah ini alasan kamu mundur dari enterteiment?"
Eleasha berusaha menutup wajahnya dengan tangan, saat kamera dan alat-alat para pemburu berita itu di condongkan padanya.
__ADS_1
Gadis itu merasa begitu terpojok, seperti sedang dihakimi oleh seluruh dunia secara live.
Tidak ada satupun wanita di dunia ini yang menginginkan kehamilan diluar nikah, pasti semua wanita sejak kecil sudah memiliki imajinasi tentang pernikahan impian, memiliki pasangan hidup yang saling mencintai dan anak yang hadir dalam ikatan cinta itu.
Dan meskipun ada kesalahan yang terjadi diluar itu semua, yang dibutuhkan seorang wanita bukanlah sebuah penghakiman tapi telinga untuk mendengarkan dan pelukan untuk menenangkan.
Karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.
"Sudah saya bilang, kami tidak akan memberi pernyataan apapun sekarang!!!" Alena hampir berteriak karena frustasi melihat keadaan El saat ini.
Dia dan Arya Satya bahkan tidak bisa melindungi El karena jumlah mereka tidak sebanding, itu pun sudah ditambah dengan pihak keamanan dan beberapa staff dari rumah sakit.
"El apakah dokter Eduard adalah ayah bayi yang kamu kandung?"
"Bukan. El dan Eduard sudah seperti saudara kandung bagaimana bisa mereka punya anak? Kalian jangan ngadi-ngadi "Alena menepis kamera yang sedang menyorot wajah pucat Eleasha.
"Kalo bukan terus El mengandung anak siapa dong?"
"Iya El, siapa ayah dari bayi kamu kalau begitu?"
Kebisingan itu semakin menjadi, mereka semakin tidak berperasaan melontarkan pertanyaan dan asumsi yang menyudutkan Eleasha.
Hal ini jelas sudah melanggar kode etik tapi siapa yang akan mundur jika sumber beritanya sudah didepan mata?
"Saya ayah dari bayi yang di kandung Eleasha" suara berat yang khas itu terdengar kuat dan jelas bersamaan dengan sosoknya yang mucul dari arah koridor pintu darurat.
Sosok itu langsung membelah kerumunan, lalu berdiri disamping ranjang Eleasha kemudian sedikit membungkuk untuk menghalangi gadis yang sedang terbelalak kaget itu dari sorotan kamera.
"Saya peringatkan kalian semua, jika ada yang mengambil foto atau gambar Eleasha tanpa izin akan saya tuntut dan pastikan kalian mendapat hukuman atas itu"
Kayden menatap El yang juga sedang menatapnya, pria itu tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya untuk menutup telinga gadis itu.
"Satu-satunya berita yang bisa kalian rilis adalah berita kalau El tidak terlibat dengan laki-laki manapun apalagi yang sudah menikah"
Kayden menunduk, menatap Eleasha sekali lagi dan untuk kali ini dia benar-benar tidak ingin peduli dengan apapun.
Dia memang tidak tahu kapan semua telah berubah, kapan semua fokusnya tertuju pada Eleasha seorang, tapi yang jelas mencintai gadis ini adalah sebuah fakta "Karena ini saya.....saya adalah satu-satunya pria yang dia punya"
Eleasha menatap pria itu tidak percaya, gadis ini bahkan mengerjab beberapa kali karena tidak yakin dengan pendengarannya.
__ADS_1
El terus berusaha keras mencari kebohongan di sepasang monolid itu, tapi seberapa keras pun dia berusaha mencari, mata itu hanya memancarkan sebuah kebenaran.
...****************...