EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Bayaran untuk nyawa


__ADS_3

...****************...


Plak


Elizabeth menatap penuh amarah ke arah putri satu-satunya yang sampai detik ini masih selalu menjadi penyesalan terbesarnya.


Anak yang dilahirkan saat dia berusia 15 tahun, anak yang telah merebut semua yang dia punya mulai dari masa remaja, posisi dia sebagai anak di mata orang tua, kasih sayang orangtuanya, dan yang paling membuat dia benci adalah Elizabeth harus kehilangan kedua orang tuanya karena anak ini.


"Kamu belum puas sudah merebut semua dari saya?"


Elizabeth melayangkan tamparan lagi, membuat El terhuyung sampai harus perpegangan di meja tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Amarah menguasai wanita yang berusia diawal 40 tahun itu, sehingga dia tidak peduli dengan wajah El yang masih tersisa lebam juga tentang pemberitaan media tentang kasus anaknya yang cukup menggemparkan di seantero negeri.


El mendongak menatap mamanya nanar, meski sudah mengalami hal ini seumur hidup tetap saja dia tidak pernah terbiasa dengan perlakuan sang mama, meski sudah memperingatkan hati dan berlatih tegar berkali-kali tetap saja El akan menangis meski tidak ada suara dan dia benci hal itu.


"Kamu itu Aib keluarga, bisa tidak jauh-jauh dari milik saya? Marco culik kamu? Yang ada kamu yang rayu dia kan?"


"Ma..."


"Untuk sekarang jangan panggil saya mama, karena sejak awal kamu itu hanya sebuah kesalahan. Seharusnya kamu tahu diri, El. Marco mati-matian bantu kamu supaya nggak masuk penjara, seharusnya pas bocah gila itu sekap kamu, buat kamu babak belur kamu nggak usah bertahan untuk hidup. Lihat akibatnya sekarang? Marco harus terseret dalam kasus ini."


Elizabeth mendekat mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah cantik Eleasha, hasil dari gen keluarga mereka. "calon suami kamu ancam mama akan penjarain Marco, sebagai anak yang berbakti kamu seharusnya tahu apa yang harus kamu lakukan"


"Kami nggak ada hubungan apa-apa" Jawab El dengan suara serak akibat usahanya sejak tadi menahan tangis.


"Saya nggak peduli kamu harus buat dia berhenti targetin Marco. Lakukan apa saja El, kalo perlu dengan tubuh kamu"


Elizabeth tersenyum menepuk lembut pipi putrinya yang memerah karena bekas dari tamparannya "kamu sudah ambil semua dari saya, anggaplah ini balasan untuk itu. Mengerti kan sayang?"


...****************...


Sialan. Sialan. Sialan.


Kayden mengusap wajahnya beberapa kali, menatap pantulan dirinya di cermin. Perkataan si brengsek Marco ternyata menancap kuat di dalam otak dan mempengaruhi semua aktifitasnya.


Perkataan Marco membuat dia terus menerus membayangkan dan berakhir terbakar hebat.


"Hampir 11 tahun...." pria itu bergumam dengan tangan yang terkepal kuat.


"Striptis?.." Kayden melayangkan pukulan kearah cermin tapi dia mampu menahan pergerakan pukulannya sehingga berhenti tepat di jarak 1 cm di depan benda yang memantulkan refleksi dirinya.


Pikiran Kayden mulai kacau saat dia membayangkan bagaimana Marco menghabiskan malam yang panas dengan Eleasha. Hatinya terus bertanya sudah berapa banyak kali pria itu mencumbu El, mengecup sekujur tubuh gadis itu dengan ciuman basah.


"Sialan!!!!!"


Dia memang sama sekali tidak percaya dengan perkataan Marco tentang El yang seperti mamanya, apalagi untuk menambah pundi-pundi uang?


Karirnya sudah bersinar sejak awal, terjerat banyak scandal pun gadis itu masih tetap menerima penghasilan Endrose produk lewat sosial media. Belum lagi dengan beberapa bisnis yang dia punya, rasanya amat sangat tidak mungkin gadis itu matre atau penghisap uang pria kaya.


Yang bisa dia percaya dari perkataan si sialan Marco adalah....


"Kasihan karena gue harus kehilangan Lana akibat perbuatan kamu? atau murni Sengaja mempermainkan gue? Kamu yang mana Eleasha?"


...****************...

__ADS_1


Eleasha menatap hanpdhone di meja yang masih menampilkan layar pesan chat dari mamanya.


"Mungkin hubungan kita bisa membaik setelah ini, seperti hubungan ibu dan anak"


Seumur hidup berusaha mati-matian memenangkan hati sang mama siapa sangkah kunci untuk membuka hati itu adalah Marco? Selama ini apakah mamanya memang sudah menaruh hati pada mantan kekasihnya itu?


Seandainya sejak awal dia dan Marco tidak pernah bertemu atau menjalin hubungan Apakah dia bisa kendapatkan kunci ke hati sang mama lebih awal?


Dengan begitu dia tidak akan membuang waktu percuma untuk hubungan hampir 11 tahun itu yang ujung perjalanannya hanya ada kata pisah kan?


Tapi Marco bukan pria baik, dia merencanakan kecelakaan untuk sang mama dan itu yang paling fatal dari semua yang pernah dia lakukan untuk El.


Gadis itu memijit kepalanya yang serasa ingin meledak, sekarang apa yang harus dia lakukan? Selama ini dia mencoba menjaga jarak aman dengan Kayden karena perasaan bersalahnya, karena dia cukup tahu diri untuk tidak menaruh perasaan pada lelaki dari wanita yang sudah dia renggut nyawanya.


Meski pada akhirnya hati dan seluruh bagian tubuhnya berkhianat karena ternyata dia dengan tidak tahu malu mendambakan pria itu. Menyukai setiap sentuhan mereka dan setiap momen yang mereka lalui berdua, meski hanya sesaat.


...****************...


"Jadi gimana? Masih mau tetap dilanjutin? Bocah itu udah dapat hukuman kurungan yang setimpal menurut gue plus dengan larangan mendekati Eleasha seumur hidup."


Kayden diam dengan seribu pikiran diotaknya, kedatangan Marco sialan itu benar-benar menjungkir balikan poros hidup sang CEO yang tadinya baik-baik saja.


"Lo mau tetap lanjutin kasus ini nggak? Niatan lo kan mau pejarain si Marco itu, mumpung bukti dan saksi banyak nih." Jerome mulai tidak sabar, dia menjadi begitu bersemangat dengan hal ini hitung-hitung sebagai bentuk rasa bersalahnya karena selama ini sudah menyimpan informasi penting, yang berakhir pada penyekapan dan penganiayaan terhadap Eleasha beberapa saat yang lalu


"Kita tunggu dulu"


"APA?" Jerome hampir berteriak saat mendengar keputusan yang dibuat Kayden. Tadinya dia sudah begitu percaya diri kalau Sepupunya itu tidak akan mau menunggu untuk memenjarakan otak dari rentetan kejahatan yang menimpa Eleasha.


"Keburu mereka hilangin bukti, En. Lo kenapa sih?"


Kayden menghembuskan nafas "Kita tunggu" Ulangnya tegas.


"Terserah lo aja" Kata Jerome kemudian berjalan keluar ruangan, meninggalkan Kayden yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


Kayden menatap berkas yang diletakan Jerome diatas meja tepat didepannya, entah kenapa di detik-detik terakhir dia malah berubah pikiran, menunggu entah apa.


Pintu ruangannya menjeblak terbuka, pria itu mendongkak mendapati wanita yang harus dia akui memiliki paras cantik dan sudah pasti yang menurunkan kecantikan itu pada gadis yang saat ini sukses mengganggu pikirannya.


Wanita diawal 40 tahun itu masuk begitu saja tidak peduli dengan sekertaris Kayden yang tergopoh-ngopoh dibelakangnya meminta wanita itu untuk menunggu diluar sebelum mendapat persetujuan bertemu.


Tatapan keduanya bertemu, Kayden kemudian memberi isyarat pada Jola untuk membiarkan sekaligus memberi mereka privasi.


Elizabeth sempat melirik berkas diatas meja yang dia yakini adalah kumpulan bukti atau apa saja yang memberatkan Marco. Wanita itu menunggu sampai suara pintu tertutup berbunyi kemudian dia maju mendekat ke arah pria yang pernah mengklaim diri sendiri sebagai calon suami dari Eleasha.


Pria yang pernah mengirim surat, membeberkan kejahatan sang suami terhadap anaknya dan tidak lupa dengan kalimat ancaman.


Elizabeth kembali menatap pria itu kemudian tersenyum tipis "saya kesini untuk membuat perjanjian, lepaskan tangan anda dari keluarga saya. Gantinya saya bisa korbankan apapun untuk itu. Lagipula diantara anda dan juga El tidak ada cinta, jadi untuk apa tetap dilanjutkan?"


Kayden masih mencoba membaca raut wajah itu, mencoba memecahkan teka-teki dari sana tapi ternyata sulit, seperti anaknya wanita ini juga memiliki poker face.


"Ijinkan El untuk menjalani kehidupannya dengan normal, dia akan segera berhenti dari dunia entertainment jadi setidaknya berikan dia belas kasihan untuk bisa hidup normal setelah ini. Dan mengenai suami saya, kami sudah menyelesaikan semua secara kekeluargaan jadi semua masalah sudah selesai"


Mata Kayden berkilat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Elizabeth, menyelesaikan secara kekeluargaan? Apakah artinya memang tidak pernah ada penculikan? Gadis itu dan Marco, mereka semua hanya menjebaknya saja.


Wanita itu mengeluarkan secarik kertas yang langsung bisa dikenali Kayden hanya dengan sekali lihat " saya sudah berikan cek kosong ini pada keluarga dari korban yang meninggal, lalu untuk keluarga dari korban yang terluka karena kecelakaan itu sudah saya berikan konpensasi yang setimpal. Saya dan suami saya akan melakukan apapun untuk putri kami"

__ADS_1


Emosi Kayden mulai terpancing, memberikan secarik cek kosong pada keluarga Lana? Bukankah itu sudah sangat keterlaluan? Lagi-lagi mereka menghargai nyawa manusia hanya dengan uang. Apakah dengan uang Lana bisa kembali? Apakah uang bisa mengganti kekosongan yang tercipta karena kehilangan seseorang yang sangat berarti?


Pria itu menggeleng kepala sama sekali tidak percaya dengan apa baru saja dia dengar, dengan cepat Kayden meraih cek kosong itu dan segera merobeknya dengan gaya dramatis.


Mata Elizabeth melebar melihat cek yang dia berikan malah berakhir hancur menjadi bagian-bagian kecil, pria itu melempar serpihan kertas kearah Elizabeth meski tidak sampai mengenai tubuh wanita itu karena terhambat dengan udara.


"Anda pikir saya kekurangan uang? Saya bahkan bisa membeli semua aset anda jika saya mau." ucap Kayden dengan tatapan meremehkan "Anda pikir nominal bisa mengganti nyawa Lana? Sejak kapan nyawa seseorang punya harga hah?!!" bentaknya sambil memukul meja menimbulkan bunyi yang lumayan membuat telinga tidak nyaman.


Elizabeth tersentak, sedikit gentar tapi gengsi membuat dia tetap memasang wajah datar "terus anda maunya apa? Anda mau saya berlutut dan memohon?"


Kayden memasang seringaian seperti setan "tubuh Eleasha, " ucapnya tanpa berpikir lagi.


Hatinya mendadak menjadi gelap, yang dia inginkan saat ini adalah membalas dengan setimpal untuk semua perlakuan mereka, bukan hanya padanya tapi juga pada keluarga Lana.


Dia ingin membuat wanita didepanya ini mengerti dengan arti bayaran untuk sebuah nyawa.


"Apa?"


"Mata harus dibayar mata, begitu juga dengan nyawa. Tolong bilang ini pada putri anda, dosa yang dia perbuat harus dibayar dengan harga diri dan martabat. Itu baru harga yang setimpal" Kayden tersenyum mengejek "walau mungkin saya hanya akan mendapat sisa dari itu semua" lanjutnya dengan hati yang kembali panas karena perkataan Marco kembali terlintas di kepalanya.


"Sama seperti pria lain yang dengan mudahnya membuat dia menanggalkan pakaiannya satu per satu, lakukan itu juga untuk saya, saya tunggu"


"Sinting!!!!" Elizabeth berteriak marah, kemudian segera memutar tubuh berjalan keluar dari ruangan ini, dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah sumringah.


"Kamu dengar sekarang El? Dia hanya menginginkan tubuh kamu" Bisiknya kemudian segera menyentuh Earphone yang terpasang di telinga sejak tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


El membeku, tangannya mendadak tidak bertenaga sehingga handphone yang sedang dia tempelkan di telinga meluncur jatuh kelantai.


Alena segera menghampiri gadis itu, bertanya apa yang terjadi sambil melirik layar telepon El yang hampir mati, layar persegi panjang itu sempat menampilkan panggilan terakhir dari ibu Eleasha yang langsung membuat Alena sedikit paham dengan situasi saat ini.


Wanita itu memang paling ahli membuat Eleasha terluka,"El? Kamu nggak apa-apa?"


El menatap Alena dengan air mata yang mulai banyak menetes membasahi pipinya "Na? Apa gue kena kutukan karena sudah menjadi penyebab ketidakbahagiaan mama? Atau apakah ini karma karena sudah dengan tidak tahu dirinya gue jatuh cinta dengan laki-laki dari wanita yang gue bunuh? Apa gue bisa bahagia nanti? Atau semua akan berakhir dengan nyakitin gue lagi?"


Tenggorokan Alena tercekat, lidahnya mendadak kelu. Gadis mungil ini kehilangan kemampuan untuk bicara padahal selama ini dia ahlinya dalam memberikan kata-kata penghiburan atau pun semangat untuk Eleasha.


"Gue nggak pantas bahagia yah? Nggak pantas juga dicintai sama siapapun"


El menangis, lagi-lagi tanpa suara.


...****************...


"Tadi Alena telepon gue, dia sempat keceplosan tentang El yang menangis sehabis terima telepon dari mamanya."


Kayden diam. Sama sekali tidak bereaksi


"Kayaknya dia diomeli habis-habisan karena langsung drop abis itu. Gila yah anak baru aja selamat dari maut eh malah di buat syok lagi. Hebatnya si Eleasha dia masih belum gila setelah semua kejadian yang menimpah dia selama ini"


Tangan Kayden terkepal tanpa dia sadari, jika firasatnya benar maka gadis itu akan datang padanya, secepatnya dengan membawa apa yang dia minta.


"Jangan datang, tolong jangan datang Eleasha" Bisiknya pelan dengan hati yang berantakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Haiiii....


Saya harap kalian selalu bahagia dan diberkati disetiap waktu💛


__ADS_2