
@Lana's Home
"Ma....."
"Kamu sebaiknya menikah, kamu pantas bahagia"
Kayden melongoh mendengar ucapan wanita paruh baya didepannya. Apa mama Sonia memiliki indra keenam sehingga bisa membaca pikirannya? Padahal maksud kedatangannya kesini adalah mencari tahu apakah wanita ini tidak apa-apa jika dia akhirnya menikah? Menjadi suami dari wanita yang bukanlah anaknya. Ucapan mama Sonia tadi, membuatnya sangat terkejut.
"Mama nggak mau egois dengan masa depan kamu, En. Kamu butuh pendamping, juga penerus untuk keluarga kamu. Ingat kamu itu penerus satu-satunya di keluarga" Tante Sonia menepuk punggung tangan Kayden, menatap pria itu dengan tatapan sayang yang tulus.
"Mama bersyukur kalau kamu nanti bisa punya pasangan yang bisa bahagia'in kamu. Sekarang sudah saatnya mencari En.
"Tapi Lana baru pergi setahun lebih ma, apa nggak keterlaluan? Apa ini nggak terlalu cepat?" Kayden masih mencoba mencari tahu.
Tante Sonia menghembuskan nafas "mau setahun atau lebih semua hanya masalah waktu, Lana sudah menjadi kenangan. Mau menunggu selama apapun, dia tidak akan pernah kembali. Jadi mama berharap Lana bisa menjadi kenangan manis di hati kamu"
"Nggak ada yang bisa menggantikan Lana"
"Mama tahu, putri mama memang tidak akan bisa terganti. Tapi life must go on. Kita yang di tinggalkan tetap harus melanjutkan hidup. Mama nggak mau kamu terus-menerus hidup di masa lalu"
Kayden berdehem, memajukan badannya dan meraih kedua tangan wanita itu "Kalau nanti wanita yang akan aku nikahi, pernah menyakiti Lana, apa mama akan tetap merestui kami?"
Tante Sonia menatap kedalam mata beriris coklat itu, kemudian tersenyum " Yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan kamu, En. Siapapun itu, apapun itu kamu harus bahagia dulu"
Wanita itu memegang pipi Kayden, menepuknya pelan " mama nggak mau egois, Lana pasti nggak akan suka. Kamu paling tahu kan bagaimana dia?"
Kayden mengangguk mengiyakan " Dia nggak akan pernah suka hal-hal yang bernagu negative, ma. Lana terlalu baik bahkan cenderung jahat pada dirinya sendiri"
"Itulah pesona keluarga kami"
Kayden tersenyum, menggenggam tangan itu lebih erat " kalau aku pilih Eleasha untuk aku nikahi, apa pendapat mama?"
Tante Sonia jelas tahu fakta itu, pemberitaan tentang pernikahan sang aktris jelas menggemparkan seantero negeri. Bagaimana mungkin dia tidak tahu?
"Tanya sama diri kamu sendiri, semua keputusan itu ada ditangan kamu. Kalau mau jujur mama nggak setuju, bukan karena faktor kecelakaan itu. Kamu tahu mama sudah melepaskan pengampunan untuk El. Mama justru takut, kamu menikahi El untuk kelanjutan balas dendam kamu"
Kayden terdiam.
...****************...
"Mau menikah dengan Eleasha? Lo lupa dia itu yang bunuh Lana En"
Kayden terus melanjutkan ritual tidurnya, pria ini jadi mempertimbangkan untuk kembali memperkerjakan asisten rumah tangga dan juga satpam, untuk berjaga-jaga apalagi saat dia sudah menikah nanti. Insiden seperti ini, Elisa masuk kamar sembarangan jelas tidak boleh terjadi.
Semua pekerja di dalam rumah ini mendadak dia berhentikan karena kejadian kecelakaan Lana, saat itu masa-masa terberat dan dia sama sekali tidak ingin bertemu orang atau berusaha beramah tamah dengan orang. Lagipula pria itu memang lebih nyaman tinggal sendiri, Bibi Sum akan datang seminggu 3 kali untuk membersihkan rumah dan kegiatan bersih-bersih lainnya.
Tapi untuk apa juga, lagipula dia menikah tanpa cinta. Sudah bisa dipastikan mereka berdua pasti akan tidur terpisah nanti.
"Kayden!!! Lo dengar gue nggak sih?"
Kayden menggeliat menyahut sekedarnya.
"Lo mulai nggak waras yah? Bisa-bisanya mau nikah sama pembunuh calon tunangan lo sendiri"
Pria itu membuka mata, walau posisinya masih tetap sama. "Justru gue buat begitu juga buat lo, El. Masa lo nggak ngerti?"
"Buat gue gimana?"
Kayden bangkit, mengokohkan dirinya diatas ranjang sambil bersandar di kepala tempat tidur "dengan menikahi dia gue bisa dapat banyak hal, dan imbasnya juga di elo"
"Gue bisa berbuat sesuka hati gue nanti, dan dengan begitu laki lo juga nggak akan bisa dekat-dekat dia lagi, karena gue yang akan pegang kendali nanti"
__ADS_1
Elisa menatap pria itu, dia bisa melihat kesungguhan dari mata itu dan entah kenapa dia tidak jadi protes lagi.
...****************...
"Berita yang menyebar ini mau di bantah? Apa perlu aku siapin konfrensi presnya?"
El mendongkak, dan langsung tersenyum lebar saat melihat Alena sudah kembali dalam keadaaan sehat walafiat, tanpa gips atau penyanggah lagi
"Tangan lo udah sembuh, Na?" Tanya El, salah fokus.
"El, aku tanya pemberitaan medianya gimana?"
"Biarin aja deh, Na. Nanti juga berhenti sendiri. Widihh... canggih lho. Cepat baget sembuhnya" Eleasha masih salah fokus.
"Yakin? Ceritanya semua akun gosip udah spil tanggalnya lho. Dan itu bulan depan. Kamu yakin nggak akan bantah ini?"
"Itu pasti kerjaanya si Bang Kay. Udahlah biarin aja"
Kening Alena berkerut "Bangkai? Jasad? Hewan? Apasih maksudnya?"
El tertawa, respon natural Alena sangat lucu.
"Kayden Abraham, aku manggilnya Bang Kay. Hahahaha.... responnya bagus banget lho, Na."
"Sejak kapan kamu punya nama paggilan untuk pak direktur?"
El terpaku, dia juga binggung harus menjawab apa.
"Utang penjelasan kamu makin banyak nih sepertinya" sindir Alena, yang hanya di balas dengan senyuman getir dari El.
...****************...
Xgwerdt:
Yuleeta09 :
Cogan semua dong, tapi El laki orang jangan di babat juga kali.
Romgie77 :
Kayaknya udah kagak Virgin lagi nih cewek dah
Susane membalas :
Ya kali masih Virgin, orang dia udah hamil terus di gugurin. Lihat aja foto2 pertama. Itu sampe nyewa dokter ke rumah.
Bonita :
Rumput cari kuda ini namanya, Slide ke 3 kelihatan El yang nyamperin Arthur duluan, main langsung ke rumah dong. Ngapain aja kira-kira hayo?
Susane membalas :
lagi akting mama-papa dong
Gisa :
tapi sebelum itu ciuman dulu di mobil sama pria lain? Ada yang bisa tebak siapa tuh cowok di slide ke3 nggak? Yang di mobil pas siang. Soalnya pas malam juga ada dalam mobil juga tapi sama Arthur.
Momoma :
apa yang fans2nya idolakan sihh dari cewek murahan begini?
__ADS_1
Suryamatahari :
pensiun aje lu, El. Udah 27 taon juga udah tua.
bininyaLiam :
Lu pada udah kayak yang paling suci aja dah, itu kan urusan si aktris kenapa kalian yang sewot. ibarat dia yang merasa gatal tapi lu pada yang pengen garuk kan nggak lucu.
Handphone ditangan El tiba-tiba direbut, gadis itu sempat terbelalak dengan siapa pelakunya. Dia ingin heran tapi mengingat sosok itu adalah Kayden Abraham, rasanya hanya akan buang energi percuma untuk hal itu.
El seakan tidak bisa heran lagi dengan menanyakan kenapa pria itu bisa berada di rumahnya saat ini, mengingat kunci pintu rumahnya sekarang hanya pria itu yang tahu.
"Nggak usah baca komen dulu, hp kamu saya sita" Kayden memasukkan handphone El kedalam saku celananya, kemudian berjalan menuju dapur yang hanya berjarak beberapa meter dari ruang tamu.
El menatap sosok tinggi itu, kemudian menghembuskan nafas. Kalau pria itu menyita handphone demi untuk menjaga perasaannya, hal itu tidak perlu. Karena selama 12 tahun berkarir didunia ini, El sudah terlatih dengan segala macam komentar.
Pria itu membuka kulkas dan langsung berdecak di detik pertama saat pintu lemari pendingin itu terbuka, dia kemudian lanjut memeriksa lemari tempat penyimpanan El dan langsung membuang nafas berat. Tidak ada yang bisa dimasak sama sekali, bahkan bumbu wajib seperti garam tidak tersedia disini.
Kayden membalikkan badan, menatap gadis yang juga sedang menatapnya dengan kening berkerut " kamu nggak pernah masak?"
El menggeleng.
"Sama sekali?"
El kali ini mengangguk.
"Jadi selama ini kamu makan....."
"Belum pernah dengar yang namanya Go-food? Ato Grab-food? Banyak resto-resto yang punya layanan antar, jangan bilang anda nggak tau?" El memotong ucapan Kayden.
"Nggak ada yang bisa menandingi masakkan rumah"
El membuang muka, mengindari tatapan pria itu. Ia sama sekali tidak ingin raut wajah sedihnya di lihat oleh Kayden.
Masakan rumah? Tentu saja tidak akan ada yang bisa menandingi masakan rumah, tapi El sudah kehilangan momen itu. Kedua orang yang selalu membuatkannya makanan sudah pergi dan tidak akan pernah kembali, sekangen apapun dia.
Kayden memperhatikan gadis itu yang langsung membuang muka secara tiba-tiba. Pria ini bertanya dalam hati, apakah ucapannya salah?
Sampai reaksi El seperti itu?
"Mau makan apa? Biar ...."
"Sekarang saya mau makan diluar sama Alena" El berdiri, menyambar tas boy Chanel handbagnya yang kembaran dengan Jennie Blackpink sampai di muat oleh beberapa media gosip, ia kemudian bersiap keluar dari apartemen debutnya ini.
Saat bersama dengan Alena maupun Eduard disini, apartemen yang memang tidak besar ini masih terasa luas. Tapi entah kenapa saat bersama pria ini, tempat ini malah terasa penggap sampai membuatnya kesulitan untuk bernafas atau bergerak bebas. Apa mungkin karena Kayden terlalu mendominasi?
"Kamu itu memang kurang peka atau pura-pura bego aja?"
Langkah kaki El terhenti, dia berbalik menatap Kayden dengan tatapan kesal "maksud anda apa yah? Saya salah gitu, kalau mau makan diluar sama manajer saya?"
"Jelas salah kalau kamu menganggu waktu dia yang mungkin sekarang lagi pusing menghandle scandal terbaru kamu"
El terdiam perkataan pria ini benar, hari ini dan hari-hari kedepannya Alena pasti akan sibuk dengan segala ***** bengek tentang karirnya. Gadis ini mendesah, apa mungkin dia memang sudah seharusnya pensiun saja? Sesuai dengan komentar-komentar yang bertebaran di dunia maya? Tapi... dia mencintai akting, suasana syuting dan tentu saja kebebasan menjadi sosok yang berbeda di setiap karakter. Goalsnya untuk go internasional bahkan belum terpenuhi, walau ada beberapa projek dalam kanca Asia tapi tujuannya jelas skala internesional.
"Lagipula kamu bukan seseorang yang bisa berkeliaran bebas dengan semua hal yang sementara terjadi. Kamu lagi jadi sorotan sekarang"
Gadis itu langsung memutar arah berjalan masuk kedalam kamar, tempat dia setidaknya bisa terbebas dari intimidasi pria itu.
Kayden menatap pintu yang tertutup didepannya. Menahan kakinya untuk tidak menendang benda itu sampai rusak supaya bisa kembali melihat gadis itu.
"Tahan Kayden, tahan. Ini belum saatnya" gumam pria itu pelan.
__ADS_1
...****************...