EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Siuman


__ADS_3

Eleasha sedang melamun, saat Alena masuk dengan tergesa-gesa ke dalam ruangannya.


Gadis mungil itu berusaha menormalkan nafas juga detak jantungnya saat dia sudah berada tepat di samping ranjang Eleasha.


"Kenapa, Na?"


"Tan...te, tante Elizabeth siuman. Gue baru aja di kasih tahu."


El bangkit dari kegiatan berbaringnya, menatap Alena dengan tatapan tidak percaya.


"Sekarang lagi di periksa kondisinya, kata dokter ini keajaiban, El. Karena pendarahan tante Elizabeth sudah masuk kategori parah, tapi melihat dia siuman hanya dalam waktu beberapa minggu. Dokter bilang itu sebuah keajaiban"


El meneteskan air mata bahagia mendengar penuturan Alena, dia memang tidak henti mengirimkan doa kesembuhan untuk sang mama. Dia memang walau setengah berharap tetap mendoakan sang mama bisa membuka mata lagi.


Dan saat doanya terkabulkan, El tidak bisa untuk tidak menangis terharu dan menyukuri hal itu.


"Selesai pemeriksaan kamu pasti diijinkan untuk menjenguk, karena itu cepat sehat supaya kita bisa pulang bareng kerumah"


El mengangguk sambil tersenyum, meski dengan pipi yang basah karena air mata.


...----------------...


Sonia baru bisa datang untuk menjengguk Kayden hari ini, karena ada banyak urusan yang tidak bisa dia tinggalkan.


Saat mengetahui kecelakaan yang menimpah Kayden, wanita diawal 60an itu begitu syok sampai pingsan karena melihat pemberitaan media yang memberitakan anak yang sudah dia anggap sebagai anak kandungnya itu kritis dan harus menjalani operasi berat.


Dan sudah hampir sebulan Kayden belum juga sadarkan diri, semakin menambah perasaan khawatirnya sebagai seorang ibu.


Langkah wanita ini terhenti saat dia melihat didepan pintu ruangan rawat Kayden, berdiri kaku dengan mata yang seakan bisa menembus kaca yang ada dipintu itu, seorang gadis yang memakai seragam pasien menatap senduh kedalam ruangan.


Gadis itu terlihat menunduk dan mengelus perutnya kemudian kembali mengangkat wajah untuk melihat lagi kedalam ruangan lewat kaca kecil di pintu.


Eleasha Halim.


Si cantik penuh talenta sekaligus penuh luka. Saat pertama kali melihat gadis itu, ada rasa amarah dan benci yang memuncah di dada. Instingnya sebagai seorang ibu mengatakan kalau pelaku yang menabrak putrinya adalah gadis itu.


Tapi seiring berjalannya waktu, melihat betapa gigih Eleasha datang meminta maaf padanya dan keluarga. Hati Sonia perlahan mulai luluh, Entah hati apa yang Tuhan beri padanya sampai dia mau mengampuni gadis yang mengambil bagian penting dalam kematian Vio Lana Wijaya, putri sulung terkasihnya.


Tapi El memang mengundang untuk di sayang, luka hati gadis itu yang coba dia tutupi dengan akting luar biasanya, nyatanya begitu terpampang jelas dimata segelintir orang, termasuk Sonia.


Dan kali ini kedua mata itu memancarkan kesedihan dan kerinduan yang sangat jelas. Sebagai seorang wanita, Sonia tahu dan tidak menutup mata pada chemistry yang muncul antara Kayden dan Eleasha.


Dia tidak marah, lebih tepatnya tidak punya hak untuk itu. Takdir semua orang jelas berbeda-beda, dan kalau memang akhirnya Eleasha ada garis finish yang di tentukan oleh sang pencipta untuk Kayden, dia bisa apa, selain memberikan restu untuk mereka berdua.

__ADS_1


...****************...


"Mama, gimana kabarnya hari ini?" Eleasha tersenyum sambil mengokohkan diri di kursi yang ada disamping ranjang Elizabeth.


"El baru dari ke ruangan Kayden, dia belum bangun tapi kata dokter kondisinya terus membaik"


Gadis itu meraih tangan mamanya yang mulai terasa hangat dibandingkan saat mamanya koma beberapa waktu yang lalu.


"Mama juga semakin membaik kan? Wajah mama mulai ada ronanya"


Seseorang yang dia ajak bicara itu hanya diam, tidak merespon sama sekali. Pandangannya kosong dan seakan tidak ada nyawa di dalam tubuh.


Elizabeth memang sudah bagun dari koma, dokter pun sudah memeriksa kondisinya dan tidak menemukan sesuatu kejanggalan. Malah ini merupakan sebuah keajaiban dari Tuhan mengingat betapa parah pendarahan yang wanita itu alami sehabis kecelakaan.


Eleasha mengeratkan genggamannya ditangan sang mama, masih dengan senyuman gadis itu berkata "Cepat pulih yah ma? Nanti kita bicara banyak hal lagi saat mama sudah benar-benar pulih"


...****************...


"Sialan!!!!" Marco menggebrak meja saat kabar terbaru tentang Elizabeth dibisikan ke telinganya.


"Kenapa wanita itu nggak jadi mati?" Geramnya dengan diiringi bunyi gemertak gigi.


"Dan orang yang bertugas buat mengeksekusi terakhir nggak bisa berbuat apa-apa karena kamar perempuan itu dijaga bodyguard?"


"Tapi saya punya bocoran kalau Nyonya tidak bisa bicara apalagi merespon, dia seperti mayat hidup"


Marco menyeringai "Lalu Kayden? Apa dia sudah mati?"


Jericho tetlihat menelan ludah sebelum menjawab pertanyaan bosnya "Pria itu baru saja membuka mata beberapa jam yang lalu, sehabis kunjungan dari ibu Lana"


Marco kembali mengeram kesal, semua rencananya tidak ada satu pun yang berhasil.


"Wanita tua itu cari gara-gara sepertinya, Jer lo tahu kan apa yang harus lo lakukan pada orang yang menganggu rencana kita?"


Jericho mengangguk paham kemudian undur diri.


Meninggalkan Marco yang sedang berpikir keras, tentang bagaimana rencana selanjutnya.


...****************...


El sedang memakan buah yang Alena kupas saat Eduard tiba-tiba masuk dengan wajah sumingrah tidak biasa dari sosoknya.


"Tebak apa yang baru aja terjadi?"

__ADS_1


El dan Alena sama-sama menatap laki-laki itu binggung.


"En baru aja siuman"


"Beneran? Gimana kabarnya?" Tanya El penasaran.


Gadis itu sampai memutar tubuhnya untuk menatap Ed dengan raut wajah yang menanti informasi lebih banyak.


"Kondisi otaknya tidak ada masalah, cuma....."


"Cuma apa?"


Ed maju untuk menepuk puncak kepala Eleasha "Dia nggak bisa jalan untuk sementara, tapi bisa di terapi oleh ahlinya. Jadi hal itu seharusnya nggak jadi masalah"


El sedikit merasa lega.


"Lo mau nemuin dia?" Tanya Eduard.


Gadis itu kembali menyandarkan punggungnya ke ranjang yang sedang di setel menjadi tempat duduk. El menggeleng dengan raut wajah sedih yang tidak bisa ditutupi.


"Gue nggak berani ketemu dia"


Alena menatap Ed kemudian tatapannya kembali pada El "Kenapa El?"


El menggingit bibir dalamnya "Gue yang jadi penyebab dia mengalami rentetan kesialan ini, jadi gimana gue masih punya muka buat hadapin dia?"


"El..."


"Sekarang pasti dia lagi nyalahin gue, karena sudah buat dia menjadi seperti itu"


Gadis itu tersenyum kecut "Hanya dengan tahu kalau dia sudah aman, itu sudah cukup, kok. Lebih dari cukup"


...****************...


"Kaki gue nggak bisa digerakin Jer"


Jerome mengangguk "Hanya untuk sementara, kita tunggu sampai gipsnya lepas dan kaki lo bisa di terapi berjalan"


Kayden terdiam, mencoba mencerna semuanya.


"Memang akan butuh waktu lumayan lama untuk mengembalikan fungsi kaki lo, tapi bukan berarti nggak akan bisa kembali normal" Jerome menepuk pundak sepupunya itu pelan.


"Lo nggak boleh menyerah, bro"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2