EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Satu hari yang tenang


__ADS_3

...****************...


El menggeliat dari tidurnya, matanya mengerjab beberapa kali sebelum terbuka sempurna. Masih dalam posisi berbaring gadis itu menatap langit-langit kamarnya dalam hati bertanya sudah berapa lama dia tertidur? Dengan gerakan pelan gadis itu bergeser mencoba mencapai nakas dimana handphonenya berada.


Waktu menunjukan jam 5 sore, itu artinya El sudah tertidur selama hampir 6 jam. Ini merupakan suatu pencapaian karena ia sudah lama tidak memiliki waktu tidur selama itu. Gadis itu meregangkan badannya sekali lagi sebelum bangun dari tidur. Perutnya mengirim signal pada otak bahwa ini waktunya untuk diisi.


El berjalan gontai keluar dari kamar, dan langsung menuju kulkas tempat dia menyetok banyak air mineral disana. Dia butuh minum sebelum memesan makanan. Gadis itu sedang asyik meminum air dari botol saat sosok itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaos dan celana olahraga yang adalah milik Eduard yang tertinggal disini.


El tersedak. Dia terbatuk-batuk parah sampai harus berpegangan di meja dapur. Melihat itu Kayden langsung menghampiri El dan menepuk pelan punggung gadis itu lembut.


"Kenapa bisa tersedak sih?" Tanya Kayden masih menepuk pelan punggung El.


Gadis itu menatapnya, menyeka bekas air disekitar mulutnya dengan tangan "Anda kenapa pake baju Ed?"


Kayden menatap pakaian yang dia pakai "ini baju Eduard? Kenapa kamu simpan?" tanyanya tidak percaya.


"Dia itu sudah seperti saudara saya, saya tidak punya alasan untuk tidak menyimpan pakaian saudara saya kan?" El berjalan menjauh dari pria itu.


Pandangan En masih tertuju pada El, rasa tidak suka yang dia rasakan bukan karena mendengar kata saudara tapi kata menyimpan. "kamu juga harus simpan baju saya kalau begitu, karena saya calon suami kamu. Kamu nggak punya alasan untuk nggak menyimpan pakaian saya"


El mendengus "masih calon kan? Pacaran 10 tahun aja putus kok, tunangan aja jadi nggak nikah. Semua masih belum pasti, masih ada yang namanya kemungkinan" Gadis itu menjawab asal, terlalu lelah untuk membantah.


"Ya sudah, kita tinggal nikah kan? Sekarang, besok atau lusa itu tinggal persetujuan dari kamu"


El berbalik menatap pria itu "Sudah saya bilang saya tidak mau mengambil apapun lagi dari keluarga Lana"


"Kalau begitu bertanggung jawab, kamu sudah mengambil kan? maka kamu harus mengganti, ganti itu dengan diri kamu"


...****************...


1 minggu kemudian.


"Star Golden Enterteiment sudah angkat bicara, mereka mengkonfirasi hubungan Eleasha dan CEOnya. Mereka juga membantah kedekatan El dengan pria lain. Mereka sengaja mengulur waktu sampai masalah ini mulai meredup dan minat masyarakat berkurang sejak berita awal di rilis" Jericho membeberkan informasi yang baru saja dia dapatkan "Dan secara tidak langsung mereka juga mengkonfirmasi berita tentang pernikahan itu"


Marco meremas kuat pena ditangannya sampai patah menjadi dua bagian, tintanya memenuhi tangan dan meja bahkan ada yang sampai muncrat ke wajahnya.


"Plan B, kita pakai plan b. Lakukan sekarang juga, cari celah dan langsung eksekusi" perintahnya dengan tatapan tajam.


Jericho undur diri, tidak lagi bisa berkata-kata. Dia sangat ingin mencegah hal bodoh yang mungkin akan terjadi, tapi apa daya dia hanyalah seorang bawahan pria itu.


Baiklah El, karena kamu tidak ingin berlari padaku seperti yang selama ini kamu lakukan saat ada masalah. Biar aku yang paksa kamu datang padaku lagi. Batin Marco dengan penuh kemantapan hati. Sama sekali tidak peduli apapun lagi.


...****************...


@NET TV building


Jl. Dr. Ide Agung Gede Agung Mega Kuningan, Kuningan Timur, Setiabudi, Jakarta Selatan.


"Kamu tunggu disini bentar yah? Aku mau ambil berkas yang ketinggalan diatas" Alena segera masuk lagi kedalam gedung salah satu stasiun tv di Indonesia ini. Mereka baru saja selesai melakukan meeting untuk projek terbaru Eleasha.


El sedang asyik memperhatikan heels dari Charles and Keith berwarna hitam yang sedang dia pakai, saat sepatu pantovel mengkilap berhenti hanya beberapa langkah didepan heelsnya. Gadis itu mendongkak dan langsung mengernyit saat dia tidak bisa mengenali siapa sosok didepannya ini.


"Anda mau ikut secara sukarela, atau saya harus memakai cara paksaan misalnya keselamatan ibu Anda?"


El tersentak, dia mengedarkan pandangan mencoba mencari batuan. Untunglah ada satpam yang sepertinya menyadari keganjilan dan segera berjalan menghampiri mereka.


"Tolong ikut saya, kalau tidak anda akan tahu apa yang akan Marco lakukan pada ibu anda"


Jantung El seperti diremas saat mendengar apa yang baru dengar dari pria asing didepannya ini.


"Anda tentu tahu bagaimana nekat dan kejamnya dia bukan? Karena anda pernah terlibat dengan menyelamatkan nyawa dari targetnya"


"Ki..kita akan kemana?" Tanya El tergagap.


"Ikut saja, saya akan menjamin keselamatan anda"

__ADS_1


El melangkah dengan rasa ragu yang besar dalam hati, dia tersenyum canggung ke arah satpam yang berjalan mendekatinya sambil bertanya apa yang terjadi. Gadis itu hanya mampu menggeleng sambil terus melangkah masuk kedalam alphard hitam dan menghilang dari pandangan saat pintu tertutup.


El berharap tidak ada sesuatu yang mengerikan yang akan menantinya.


Mobil Alphard itu bergerak keluar dari pekarangan stasiun tv, bersamaan dengan Alena yang juga keluar dari lobby gedung.


Gadis mungil itu mengedarkan pandangan mencari keberadaan El yang tidak juga dia temukan.


"Permisi, bapak lihat Eleasha nggak pak? Tadi dia nunggu disini pas saya masuk lagi untuk ngambil sesuatu"


"Mbak Artis baru aja pergi dengan Alphard itu" pak satpam menunjuk mobil hitam yang perlahan menjauh.


Kening Alena berkerut "masa sih pak sama alphard itu? Bapak yakin?"


"Iya yakin mbak, orang saya sempat bertanya ke mbak artisnya. Kayaknya sih bodyguardnya mbak, badannya kekar atas bawah soalnya"


Kening Alena mengernyit dia pun pamit sekaligus berterima kasih pada pak satpam dan segera berjalan menuju mobilnya yang terparkir. Mungkin itu adalah utusan dari Agensi, karena Alena tau dari Jerome kalau direktur mereka sedang mencari bodyguard dan beberapa staff khusus untuk Eleasha.


Gadis mungil itu nengetikkan sesuatu untuk El, sebelum masuk kedalam mobil dan tancap gas dari situ.


...****************...


Eleasha baru berancang ancang untuk membuka tas tangannya saat dering khas pertanda ada pesan masuk terdengar tapi tatapan pria yang duduk disampingnya mengintimidasi dengan sangat kuat dan jelas.


"Lebih baik anda bersikap kooperatif, karena saya bisa saja melempar tas anda keluar dari mobil"


El merenggut, tangannya langsung memeluk erat Hermes Kelly epson diamond di pangkuannya. Mencegah ancaman pria itu terealisasi.


"Kalian mau bawa saya kemana?" El akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Kesuatu tempat yang hanya ada anda dan bos kami, tanpa gangguan apapun"


"Bos? Maksudnya Marco?....wait.. kayaknya ini bukan jalan kerumah mama deh, " El mulai menyadari keanehan yang ada, dia memang tidak begitu pintar menghafal jalan apalagi menggunakan google maps. Hanya saja dia tidak terlalu bodoh untuk membedakan kalau jelas jalur yang sekarang mereka tempuh adalah menuju luar Jakarta.


"Kalian mau bawa saya kemana? ini jelas pencu....." El tidak dapat melanjutkan ucapannya saat pria kekar dengan setelan jas itu bergerak cepat kearahnya dan langsung membekap area mulut dan hidungnya dengan kain yang sudah diberi obat bius.


Pandangan gadis itu perlahan mengabur, sebuah wajah terlintas di pikirannya sebelum kegelapan itu menjemputnya.


...****************...


@Apartemen no: 3031


Kayden bolak-balik persis setrikaan, sesekali dia melirik jam Rolex ditangannya. Hari sudah berganti malam dan pemilik apartemen ini sama sekali tidak menampakkan diri, padahal dia sudah sengaja menunggu dirumah ini lebih dulu sebelum gadis itu pulang dan kesulitan masuk karena password pintu rumah ini hanya dia seorang yang tahu.


Hampir seminggu lebih metode ini dia jalankan dan hal itu cukup membuat sistem imunnya bertambah. Karena gadis itu akan menghubunginya, Harus menghubungi lebih tepatnya.


Tapi bukan El namanya kalau tidak melawan, gadis itu di awal-awal sempat pulang ke rumah yang lain tapi pada akhirnya tetap menghubunginya juga karena butuh akses masuk ke huniannya yang satu ini.


Sejak itu Kayden akan datang untuk membukakan pintu, pria itu tidak hanya sampai di membuka pintu tapi juga ikut masuk kedalam dan pulang saat gadis itu sudah masuk kedalam kamar.


Dan dia akan kembali secepat yang dia bisa jika pesan singkat gadis itu datang padanya.


Kayden bahkan sempat mempertimbangkan untuk membeli seluruh unit di lantai apartemen El, atau mungkin unit di samping kamar gadis itu supaya memudahkan dia untuk menjalankan tugas sebagai pembuka kunci. Moment ini harus benar-benar dia nikmati sebelum gadis itu mulai lelah dengan konsep mereka sekarang.


Kayden menghembuskan nafas, momen dimana Gadis itu membutuhkannya meski hal kecil sekalipun ternyata memberi dia Euphoria yang tidak pernah dia sangka sebelumnya


"kamu dimana?"


...****************...


El bisa merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


kepalanya terasa pening, merasa mual dan pandangannya kabur. Dia mencoba duduk tegak dan berusaha fokus tapi rasa pusing dan mengantuk membuatnya kembali tertidur. Lagi-lagi wajah yang sama muncul dalam pikirannya sebelum kembali hilang kesadaran.


Marco memperhatikan gadis itu, dia tersenyum dan perlahan mendekat. tangannya terulur menyentuh wajah mungil itu, dan senyuman di wajah Marco semakin lebar.

__ADS_1


"akhirnya aku bisa menyentuh kamu lagi, Sha. Kali ini aku nggak akan biarin kamu pergi, atau aku nggak akan lagi pergi ninggalin kamu"


...****************...


Alena merenggangkan tangan diatas kepala, setelah berjam-jam duduk didepan laptop sambil merevisi semua jadwal El dan segala hal yang menyangkut tentang artisnya.


karena skandal terbaru, ada banyak jadwal yang harus di cancel atau juga di reschedule. Gadis mungil ini memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya ini secepatnya tanpa harus menunggu lagi.


Dia melirik jam dinding yang tergantung di atas tv, jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Tiba-tiba dia teringat dengan handphonenya yang dia chars di ruang tamu, dia harus mengecek apa El membalas pesannya atau mungkin membutuhkan bantuannya. Mengingat seminggu ini, El bersikap aneh gadis itu jarang meminta bantuan lagi, menelpon, atau yang paling aneh adalah El melarangnya datang di apartemen debut untuk sementara waktu.


Alena setengah berlari setelah melihat handphonenya berkelap-kelip diatas meja kecil diruang tamu. Panggilan itu berakhir saat Alena sudah memegang handphone, dia terkejut saat melihat daftar misscall di notifikasinya 150 panggilan tak terjawab dari nomor yang dia save dengan nama Agensi, tapi Alena tahu kalau itu adalah nomor pribadi CEO mereka. Dia lupa mengganti mode panggilannya dari Silent, makanya gadis ini tidak menyadari apapun saat handphonenya sudah dihubungi ratusan kali.


"Hallo...."


"Eleasha ada sama kamu? Dia nggak pulang ke apartemen, maupun di rumah. Dia ada sama kamu?"


Jantung Alena hampir copot saat mendengar suara itu, gadis ini merasa seperti sedang berhadapan langsung dengan sang big bos "bu..bukannya Bapak yang menyuruh El pulang dengan Bodyguard dari bapak? El dijemput bodyguard dengan mobil Alphard, saya kira itu dari anda" Alena menjerit pada akhir kalimat saat dia menyadari kalau memang dari CEO mereka, sang big boss tidak mungkin menelponnya untuk menanyakan keadaan Eleasha.


"Bodyguard? Alphard?....." terdengar hembusan nafas berat dari seberang " Saya akan suruh Jerome jemput kamu, kita perlu bicara secepatnya"


Alena menggengam erat iphone ditangannya, dia gemetar. El kenapa? Kenapa tidak ada satu hari yang tenang dalam hidup kamu?


...****************...


@Pondok Indah, Jakarta Selatan.


"tolong jelaskan tentang arti isi dari amplop ini?"


Elisa sedikit terkejut dengan kehadiran pria ini di kamarnya, dirumah orangtuanya.


"Siapa yang kasih kamu ijin masuk kesini?"


pria itu berdiri, berjalan mendekati Elisa dengan tatapan yang tajam sampai memberi efek merinding untuk Elisa.


"Aku masih suami kamu yah," Ucapnya dengan penuh ketegasan.


"tolong jelaskan tentang foto-foto dalam amplop itu?" Ed menunjuk amplop coklat diatas ranjang.


Tatapan Elisa mengikuti arah telunjuk Ed, dia menghembuskan nafas, merasa sesak. Kenapa dia lupa menyingkirkan benda itu?.


"Aku mau kamu jelasin Lis, aku mau dengar kamu. Aku akan coba memahami sekarang" Tatapan Ed melembut, seperti janjinya pada El dia akan tetap mempertahankan pernikahannya. Dia akan memulai lembaran yang baru bersama wanita ini. Karenanya walaupun dia merasa sangat marah saat menemukan amplop itu, Ed masih mencoba tenang, dia ingin mendengar penjelasan Elisa. Dia memilih untuk mempercayai istrinya dibanding dengan praduganya sendiri.


Ego Elisa terluka mendengar perkataan pria itu. mencoba memahami? kemana dirinya selama ini?


"aku nggak perlu menjelaskan apapun sama kamu"


"Apa? Jadi kamu mau aku berpikir kalau kamu yang sebarin hal itu ke media?"


Elisa menatap Ed, jelas dia kecewa. "terserah, kamu berhak menarik kesimpulan apapun"


"Sejahat apapun El dimata kamu setidaknya...."


"Setidaknya apa hah? di foto-foto itu bahkan ada foto kalian lagi pelukan? kamu lari ke dia kan setelah aku pergi?"


"Aku sama El itu...."


"BUILSHIT!!!!"


"Elisa Jemima Pra...." Ed berhenti berucap dadanya naik turun karena emosi, saking emosi dia bahkan lupa kalau marga gadis didepannya ini sudah berganti dari Prantanto menjadi Santoso, mengikuti marganya.


Elisa menyeringai, hatinya sudah ditancap duri berkali-kali, dia sudah terluka berulang kali dan dilakukan oleh orang yang sama. "Nama kami bahkan hampir mirip, kamu memang benar-benar lihai dalam hal ini"


"Bukan itu maksud aku...."


Elisa berbalik membelakangi Ed "Aku masih menunggu surat cerai dari kamu, Kita selesai"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2