
"Operasi berhasil, pasien juga sudah melewati masa kritisnya. Kita tinggal tunggu pasien sadar untuk bisa melihat perkembangannya"
Dokter yang menangani operasi Kayden buka suara sehabis selesai melakukan tugasnya selama hampir 3 jam lebih.
Jantung Kayden beberapa kali berhenti berdetak, tapi setelah dilakukan penanganan oleh tim medis dengan memakai defribrilator, jantung pria itu bisa kembali pada irama normal.
Tapi akibat kecelakaan itu, Kayden dinyatakan akan mengalami kelumpuhan meski dokter belum bisa memastikan apakah itu sebuah kelumpuhan yang bersifat permanen atau hanya sementara.
Perlu dilakukan observasi mendalam lagi, dan perlu menunggu sampai pasien sadar kembali.
"Kecelakaan itu menyebabkan tulang punggung pasien terkilir dan menekan sum-sum tulang belakang." Sang dokter menghembuskan nafas berat sebelum melanjutkan ucapannya,
"Kita perlu berdoa semoga ada keajaiban, karena jika berdasarkan ilmu kedokteran, saat pasien bangun nanti dia tidak akan bisa menggerakan tubuhnya seperti sebelumnya"
Liam yang merupakan dokter pribadi keluarga, menepuk pundak Jerome yang terlihat begitu syok saat mendengar penjelasan dokter tadi.
"Kita harus siap dengan kemungkinan terburuknya, Jer. Tapi masih ada harapan. Karena mujizat itu selalu ada"
Jerome mengangguk, meski hatinya tidak bisa menerima kenyataan itu. Andai dia terus mengekori Kayden, kejadian ini pasti bisa dihindari.
Andai surat itu tidak pernah Kayden terima, kemungkinan sepupunya itu baik-baik saja saat ini.
Tapi sebagai orang yang mengenal pria itu sejak lama, dia juga tidak yakin kalau Kayden akan mau memutar waktu untuk menghindari hal ini.
Sementara itu Alena hanya mampu berdiam di sudut koridor, perasaan serba salah melingkupinya. Gadis itu tidak tahu harus melakukan apa atau berkata apa sekarang.
Alena cukup tahu diri untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat kedua belah pihak terluka lagi, karena sejujurnya dia disini mewakili El yang sekarang pasti sedang disalahkan oleh keluarga besar Kayden.
"Bagaimana keadaan En? Dia baik-baik aja kan, Rom? En nggak kenapa-napa kan? Dia nggak kritis kan?"
Elisa tiba-tiba datang dan langsung menghampiri Jerome dan Liam yang masih bediri di depan pintu ruang operasi.
"El, ingat lo lagi hamil. Jangan terlalu dipikirin yah? En pasti bisa lewatin ini" Jerome menepuk pelan puncak kepala Elisa penuh sayang.
"Makanya bilang ke gue kalo dia baik-baik aja kan? Dia nggak akan kenapa-napa kan?"
Jerome mangangguk meski dengan tatapan sedih dan raut wajah tidak yakin, tapi dia tetap harus meyakinkan Elisa kalau Kayden dalam keadaan baik-baik saja sekarang. Meski hak itu bukanlah kebenarannya.
Melihat anggukan kepala Jerome, Elisa mulai sedikit tenang. Sepupunya itu kemudian langsung merangkul Elisa dan membawanya duduk di tempat yang disediakan pihak rumah sakit.
__ADS_1
"Doa'in dia cepat sadar, dan beraktifitas lagi seperti sedia kala yah?" Bisik Jerome pelan, dan langsung di balas dengan anggukan kepala dari Elisa.
Alena yang melihat itu hanya bisa ikut berdoa, semoga terjadi keajaiban untuk sang Direktur maupun juga untuk tante Elizabeth.
Semoga.
...****************...
Eleasha terbangun dan langsung merasakan pening yang luar biasa di kepalanya. Gadis itu mengeryit saat merasakan sengatan kecil di punggung tangannya.
Dia membuka mata lebih lebar dan mendapati sekarang dia sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan infus di tangan kanannya.
Eleasha tidak lagi merasa heran kenapa dia berada disini sekarang, justru akan terasa aneh jika dia tidak dirawat setelah hantaman demi hantaman yang dia dapatkan akhir-akhir ini.
Seorang dokter wanita dengan senyum meneduhkan dan kacamata yang terlihat begitu pas pada wajah kecilnya berjalan masuk, kemudian berdiri tepat disamping ranjang Eleasha.
"Nggak usah bangun, kamu berbaring aja dengan nyaman"
Eleasha yang mendengar ucapan sang dokter langsung membatalkan upaya untuk bangun dari tidurnya.
"Nama saya Ruby, saya dokter spesialis kandungan. Saya mau mengucapkan selamat untuk kehamilan anda yang sudah memasuki usia kandungan 4 minggu"
Eleasha mengerjab beberapa kali, dia kembali meminta dokter untuk mengulang perkataannya tadi sekali lagi.
"Anda sedang hamil, usia kandungan anda sekarang memasuki minggu ke 4. Saya juga ingin anda beristirahat total mulai sekarang, jangan terlalu lelah dan melakukan pekerjaan berat"
Eleasha hanya bisa mengangguk, meski belum sepenuhnya menerima semua yang dia dengar. Memang dalam beberapa waktu terakhir ini dia mulai merasa aneh dengan kondisi tubuhnya.
Tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau kecelakaan itu akan membuahkan hasil.
"Saya sudah meresepkan vitamin untuk anda, mohon untuk diminum sesuai jadwal"
Sambil menelan ludah dengan susah payah Eleasha kembali mengangguk. Dia masih terlalu syok, sehingga kesulitan merangkai kata.
"Kalau begitu saya pamit dulu, anda sebaiknya kembali beristirahat. Anda memerlukannya sekarang"
Dokter Ruby pamit undur diri, tapi sebelum mencapai pintu Eleasha kembali memanggil nama sang dokter sehingga membuat langkah dokter cantik itu terhenti.
"Saya minta tolong untuk merahasiakan hal ini dulu"
__ADS_1
"Tentu saja, hal itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai dokter untuk menjaga kerahasiaan data pasien. Anda tidak perlu khawatir soal itu"
Eleasha menghembuskan nafas berat setelah pintu ruangannya tertutup, kini hanya dia seorang diri di ruangan yang luas ini. Gadis itu menyentuh perutnya yang masih rata. Tangannya bergetar hebat, air matanya jatuh tanpa peringatan. Eleasha binggung harus bahagia atau juga bersedih dengan kenyataan ini.
Bagaimana bisa dia mengandung bayi pria yang telah dia rebut kebahagiaannya? Pria yang calon istrinya harus kehilangan nyawa karenanya, bagaimana bisa takdir sebercanda ini?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Eduard membuka pintu ruang rawat gadis itu, sedikit merasa lega saat melihat Eleasha sedang duduk diatas ranjang sambil melihat ke arah luar jendela.
Pria itu memutuskan untuk masuk dan berjalan mendekat ke arah gadis itu. Saat sampai tepat di samping ranjang, mata Eduard menangkap sesuatu yang seharusnya tidak wajar berada disana.
Sebagai seorang dokter meski bukan dokter SpOG, dia tentu tahu jenis-jenis obat dan vitamin beserta dengan kegunaannya.
Dan dia sangat tahu apa fungsi dari obat dengan kandungan asam folat.
"El" panggil pria itu lembut, membuat Eleasha yang sedang menatap ke arah luar jendela beralih menatapnya.
Eleasha tersenyum tipis, lalu kembali menatap kearah lain. Suatu upayanya untuk menghindari tatapan Eduard, karena pria itu pasti akan langsung tahu jawaban hanya dengan menatap mata Eleasha.
Gadis itu terlihat memiliki banyak beban pikiran dimata Eduard sekarang.
"Dokter bilang apa? Katanya kamu sakit apa?"
"Cuma kecapekan aja, gue di suruh untuk istirahat"
Ed mengangguk pelan, "Gue udah berkonsultasi dengan dokter yang menangani mama Beth. Lo tenang aja, itu biar jadi urusan gue"
Kepala gadis itu berputar kembali menatap ke arah Eduard, kali ini matanya sudah berkaca-kaca. Hanya perlu satu kedipan, dan kristal bening itu akan langsung menjelma menjadi butiran air mata.
"Kata dokter kita perlu sebuah keajaiban untuk kesembuhan mama, kata dokter pendarahan mama sudah sangat fatal sehingga buat dia koma sampe jangka waktu yang nggak diketahui"
Ed maju, meraih gadis itu kedalam pelukannya. Dia tahu ini merupakan hal yang berat untuk seorang Eleasha, seburuk apapun kelakuan mamanya El, gadis itu tidak akan mungkin akan tega jika harus melihat kondisi mamanya seperti itu.
Karena bagi Eleasha sang mama tetaplah seseorang yang memberinya kehidupan, yang sudah berkorban terlalu banyak untuknya. Dan akan selalu menjadi seseorang yang dia sayangi lebih dari apapaun
"Jangan takut El, semua akan segera membaik" Bisik Eduard pelan.
"Tapi gimana kalau mama nggak bisa bangun lagi? dokter bilang....."
__ADS_1
Ed mengeratkan pelukannya "Lo harus ingat El, dokter itu hanya manusia biasa yang penuh keterbatasan. Sang pencipta jelas punya kekuatan merubah situasi apalagi merubah hati"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...