EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Tanggung jawab


__ADS_3

"En? En? Kaydem Abraham!!! Lo kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa lo bisa disini dan bukan di kursi roda hah?"


Tubuh El menegang saat mendengar nama itu, gadis itu melepas pelukannya pada Eduard dan kemudian mencari sumber suara yang dia kenali.


El tidak dapat menyembunyikan perasaan senangnya saat melihat mata monolid yang khas itu akhirnya terbuka, senyumannya mengembang terlalu lebar saat melihat pria dengan wajah jutek yang meski duduk diatas rumput dengan rambut berantakan dan wajah yang mulai tumbuh rambut karena belum bercukur, masih tetap saja terlihat tampan dengan seragam pasien yang sama dengan yang sedang gadis itu pakai.


El melangkah terlalu cepat, sampai dia lupa fakta kalau hubungan diantara mereka berdua bukan hubungan yang sehat.


Senyuman di wajah gadis itu mendadak luntur tak bersisa, langkah kakinya perlahan berhenti saat mendapat balasan tatapan tajam yang sangat merendahkan dari seorang Kayden Abraham.


El bergidik, dia tidak suka dengan tatapan pria itu sekarang.


"Bawa gue pergi dari sini, Jer. Udara disini tercemar. Gue nggak bisa menghirup udara yang kotor disini" Ucap Kayden dengan emosi yang berusaha dia tahan, sampai membuat wajahnya memerah.


Jerome mengerutkan kening "Masa sih udara disini kotor? Bukannya disini yang paling asri dari semua tempat di rumah sakit ini?"


"GUE BILANG BAWA GUE PERGI!!!!" Teriak Kayden menggelegar, membuat Jerome langsung memapahnya dan membawa pria itu kembali ke kursi roda.


Dan segera pergi dari situ sebelum Kayden mendapat penyakit baru yaitu hipertensi.


Ed menyusul El dan mengokohkan diri di samping gadis yang sangat jelas terlihat kecewa dengan apa yang baru saja terjadi,


Mata Eleasha bahkan masih menatap sosok Kayden yang berjalan menjauh, membuat Eduard menghembuskan nafas berat, sambil memgikuti arah pandangan Eleasha.


"Dia kenapa? Kayak ngehindarin kita nggak sih?"


Eleasha menggeleng pelan "Dia nggak mau ngeliat gue, dan memang seharusnya kayak gitu"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dari mana aja?"


Elisa mendekat kearah Kayden dan Jerome yang baru saja masuk kedalam ruang rawatnya.


Gadis itu bisa menebak kalau ada sesuatu yang sudah terjadi tadi, bisa dilihat dari wajah dua orang itu yang sama-sama kesal.


"Titip dia dulu yah, El. Gue kayaknya perlu menghirup udara segar. Panas banget disini "Jerome melepas pegangannya pada kursi roda Kayden kemudian segera berjalan keluar belum mau berlama-lama dengan Kayden dulu.


Elisa mengambil alih tempat yang ditinggalkan Jerome, mendorong kursi roda itu kearah sofa dan gadis itu mengokohkan diri disana.


"Kalian kenapa? Berantem? Tumben banget"


Kayden menghembuskan nafas, menatap Elisa dengan tatapan lurus. Sehingga membuat gadis itu mengerutkan kening, binggung dengan tatapan sarat makna dari kakak sepupunya itu.

__ADS_1


"Lo kenapa sih? Mikirin apa?"


Kayden memutar tempat duduk berjalannya itu untuk bisa semakin dekat dengan Elisa, dia kemudian mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi gadis itu penuh sayang.


Tatapannya kemudian turun pada perut Elisa "Kenapa lo bisa nyerah secepat itu, disaat bayi di perut lo pasti memerlukan sosok papa"


Elisa yang sempat tersenyum dengan apa yang dilakukan Kayden tadi mendadak muram, gadis itu memundurkan badan sehingga tangan Kayden terlepas dari pipi Elisa.


Gadis itu kemudian menatap Kayden dengan tatapan terluka "Gue lebih milih bayi ini nggak kenal papanya sama sekali, dari pada dia harus berbagi sosok papa dengan bayi lain"


Kayden menatap Elisa dengan raut wajah binggung, dan kaget tentu saja. "El..isa....Maksud lo apa?"


Elisa langsung maju, masuk ke dalam pelukan hangat Kayden. Berlutut di dekat kursi pria itu dan menangis disana,


"Eleasha hamil, dia sekarang lagi mengandung anak Eduard" ucap gadis itu diiringi dengan isak tangis.


Seperti ada petir yang menyambar diatas kepala Kayden, pria itu refleks mengepalkan tangannya kuat sampai buku-buku tangannya memutih.


Banyak rasa berkecamuk dalam dadanya, ada amarah, ada benci yang memang sudah ada sejak lama di hati pria itu. Tapi untuk kali ini, ada rasa tidak percaya dan rasa penasaran yang membuat dia mati-matian menahan diri untuk tidak menemui gadis itu sekarang dan membuatnya mengaku atau menyangkal hal itu.


"Gue nggak bisa En, Gue nggak bisa berbagi"


Kayden yang masih syok dengan kabar itu, memilih untuk segera sadar dan memeluk gadis yang sedang menangis dipangkuannya. Tangannya terangkat untuk menepuk lembut kepala Elisa penuh sayang.


...****************...


"Eleasha Jemira Halim"


langkah kaki El terhenti saat mendengar namanya disebut sangat lengkap oleh Eduard, sebuah pertanda keseriusan dari pria itu.


"Nggak usah pura-pura lagi, karena gue tahu semua yang lo alami"


El menggigit bibir bawahnya, mendadak dihinggapi perasaan takut.


Eduard menatap intens punggung kurus gadis yang hanya terpisah beberapa langkah darinya itu.


"Sekarang lo lagi hamil kan? Dan si brengsek En adalah ayah dari bayi itu?"


El berbalik menatap Eduard, percuma jika dia menyangkal atau berakting untuk menutupi semuanya, hal itu hanya akan buang-buang tenaga.


Eduard tahu semua yang ada dipikirannya meski tanpa berucap satu kata pun, pria itu terlalu mengenalnya dengan sangat baik bahkan melebihi dirinya sendiri.


"Jangan paksa gue untuk kasih tahu hal ini ke orangnya" cicit El hampir tidak terdengar.

__ADS_1


Eduard berjalan mendekat "Jangan egois"


"Bilang hal itu juga ke diri lo sendiri!!"


"Sebagai pria dia harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya,"


Eduard hampir berteriak, merasa frustasi dengan kekeras-kepalaan gadis didepannya ini.


Tangan Eleasha mengepal di kedua sisi tubuhnya,


"Gue satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas hal ini, dan kalo lo memang sayang gue, Ed. Lo pasti nggak akan bilang satu kata pun ke Kayden tentang hal ini"


El berjalan melewati pria itu, dia tidak bisa lagi berlama-lama disini


"Lo sayang dia kan? Kenapa nggak coba mulai semuanya dari awal, El? Dan bayi ini juga berhak tahu siapa ayahnya"


"Tapi dia nggak sayang gue, di mata dia gue ini pembunuh calon istrinya. Gimana gue mau bersikap egois dengan mengikat dia pake bayi ini?"


Gadis itu memeluk perutnya, sebuah bentuk pertahanan diri di saat dia merasa terancam dengan keamanannya. Mata gadis itu sudah memerah dan berkaca, hanya butuh satu kedipan ringan dan kristal bening itu akan menjelma menjadi air mata.


Ed menatap El dengan tatapan sedih, dia sama sekali tidak bisa rela gadis ini harus menderita sendiri setelah semua hal yang terjadi dan menimpahnya.


"Tapi dia tetap harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakuin, ini bisa hancurin karir yang selama ini lo bangun dengan susah payah"


"Persetan dengan karir!! Gue bisa urus ini sendiri"


"Tapi bayi itu butuh ayahnya!!"


El berjalan kembali ke arah Eduard, kemudian berhenti tepat di depan pria itu.


"Gue peringatin sekali lagi ke lo, jangan kasih tau siapapun tentang hal ini. Karena kalo sampe Kayden tahu, gue nggak takut untuk lari dengan anak ini, dan kalian nggak akan bisa liat kami seumur hidup"


"Eleasha!!!"


El mundur berniat untuk pergi, tapi tangan Eduard lebih dulu menahan tangannya.


"Gue harap lo nggak lupa, kalo gue sejak lahir juga nggak punya papa" Ucap El sambil menghentakan tangannya, dan membuat cekalan Eduard terlepas karena pria itu melemah saat mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Eleasha.


Pria itu tertegun, tapi dia segera berlari menyusul El kemudian memeluk gadis itu dari belakang. Gadis yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri. Kembarannya.


"Kalo gitu lo harus kasih tanggung jawab itu ke gue, lo nggak boleh sendirian hadapi ini, El" Bisik Eduard pelan dan dengan hati yang bersungguh- sungguh.


...****************...

__ADS_1


Like dan komennya di tunggu yah😁


__ADS_2