EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Topeng


__ADS_3

"Dari semua cowok yang ngedeketin lo, kenapa harus Marco?"


"Karena dari semuanya...Marco yang paling tulus"


"Tapi kok, aku nggak ngerasa ketulusan dia?"


"Ya... karena yang fall in love itu gue, Alena...."


...


"Gue nggak suka lo jadian sama Marco"


"Kenapa? Jangan bilang lo mogok bicara sama gue karena Marco?"


"Gue ngerasa dia nyembunyiin sesuatu, El. Sesuatu yang paling buruk"


"Opa kok merasa Marco itu bukan laki-laki yang baik yah?"


"opa merasa begitu karena selama 17 tahun, hanya melihat Ed mulu sih. percaya deh sama El, Marco itu pria paaaaliiiiing baik didunia ini. Tentu saja setelah opa dan Ed"


El membuka mata, dan langsung meringis di detik berikutnya. Rasa sakit dia seluruh tubuhnya membuatnya ingin kembali tidur saja.


"Ed, tolong kasih gue obat bius aja ato nggak penghilang rasa sakit gue udah nggak....." gadis itu tidak dapat melanjutkan ucapannya saat menyadari dalam ruangan ini hanya ada dirinya seorang diri. Tidak ada siapapun kecuali dirinya dan rasa sakit ini.


El menatap kedua kakinya yang terbalut perban, melirik tangannya yang penuh obat. Eduard pasti sudah memberinya obat china yang bisa membuat proses penyembuhan luka cepat kering dan tidak berbekas tapi sakit sekaligus perihnya jelas bukan main.


Gadis itu memegang dadanya, rasa sakit atau perih yang berasal dari kaki dan tangannya sama sekali tidak ada apa-apanya di bandingkan luka mengangga yang tercipta di hati.


Selama 10 tahun bersama, El sama sekali tidak menyangka sosok yang dia (pernah) cintai dengan sepenuh hati ternyata bisa setega itu, bisa segila itu dan bisa semengerikan itu.


El meremas selimut yang menutup tubuhnya, air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Dia terlalu mencintai Marco, pria itu adalah cinta pertama, kekasih pertama dan pria asing pertama selain opa dan Eduard dalam hidupannya. Pria yang dia yakini tidak akan pernah menyakitinya. Tapi kenyataanya, Marco malah melayangkan tusukkan tepat di area vital, tepat di hatinya. Tidak cukup dengan hanya menusuk, pria itu menggoyak hatinya sampai hancur bahkan sekarang pria itu menginjak-injak hati juga harga diri Eleasha.


Sebenarnya ada berapa banyak topeng yang Marco pakai selama 10 tahun berdiri disampingnya? ada berapa banyak mode yang dia gunakkan saat mereka bersama. Apa selama ini El terlalu dibutakan sehingga tidak bisa melihat sosok yang sebenarnya yang ada pada diri pria itu?


Bukan hanya 1 atau 2 orang yang pernah mengatakan kalau Marco menyembunyikan sesuatu, bahkan saat Alena memberitahu bahwa Marco beberapa kali memakai namanya untuk memudahkan pria itu berbisnis, atau beberapa kali Marco memakai credit card nya untuk keperluan pribadi pria itu, El memakluminya. Dia menutup mata.

__ADS_1


Saat pria itu memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin selama 10 tahun, El masih mencarinya. El masih meminta bahkan memohon untuk kembali. Gadis itu ingat betapa hancurnya dia saat itu, betapa depresinya dia kala itu.


Bahkan saat ini dia masih saja berharap apa yang dia dengar malam itu hanyalah sebuah mimpi buruk. Tapi, luka di sekujur tubuh yang dia dapatkan dengan rasa sakit dan perih ini adalah sebuah kenyataan. Dan itu artinya hal yang dia dengar adalah sebuah kebenaran.


...****************...


"Doa lo terkabul"


En memutar tubuh menatap Jerome yang juga sedang menatapnya dengan senyuman kelewat lebar " doa apa?" Tanyanya binggung.


"Doa supaya Eleasha cepat siuman, dia sadar tadi pagi dan meminta untuk rawat jalan"


"Memangnya sudah sembuh?"


Jerome menggeleng "dia lebih suka di rumah, katanya"


"Terus apa kata dokter Hendry?" Tanya En penasaran.


"Dengan Eduard sebagaj jaminan, dr Hendry mengiyakan"


"Apa?!"


En mengepalkan tangan, untuk gadis itu Eduard bisa memberikan jaminan. Tapi kenapa untuk pernikahannya dia seakan jadi buta?


"Bagaimana kabar Elisa?" En mengganti topik. Sesuatu yang sebenarnya juga membuatnya penasaran.


"Masih dirumah papanya,"


"Si brengsek itu nggak jemput El juga?"


Jerome berdehem "dia rutin nelpon El, rutin kasih El kabar tapi sama sekali nggak pernah datang" pria itu menahan mulutnya untuk tidak membeberkan semua perkataan Eduard tempo hari. Jerome takut, keadaan akan semakin buruk, terlebih untuk Kayden.


"Gue mau kerumah papa Morgan, tetap kasih tau gue perkembangan tentang Eleasha. Apapun" ucap En kemudian bergegas keluar ruangan.


...****************...

__ADS_1


Next day


Alena mengetuk pintu kamar El sebelum masuk, keningnya mengerut ketika tidak menemukan gadis itu di ranjang.


"El? Kamu udah bangun?" Alena bersuara mengecek kamar mandi di kamar itu yang ternyata kosong. Sang manajer kemudian segera melakukan pengecekkan di ruangan-ruangan lain di apartemen ini tapi sosok gadis itu tidak ada dimanapun


"Eleasha kamu kemana lagi?" Ucap Alena dengan nada frustasi.


...****************...


"Jadi semua ulah lo? Lo yang kasih info ke wartawan untuk standbye di makam opa sama oma supaya gue nggak bisa melayat?"


El menatap tajam pada pria yang sedang menyeka ujung mulutnya dengan napkin, meneguk air minum dengan santai seperti tidak ada yang terjadi. Seperti El hanyalah sebuah opera yang sedang dia tonton secara langsung.


Gadis itu mengepalkan tangan. Dia tidak pernah merasa semarah ini pada seseorang sebelumnya.


"Dan gue juga bisa nebak, lo pasti yang membujuk mama untuk segera melakukan upacara pemakaman tanpa menunggu gue kan?" Lanjut El lagi.


Pria itu merespon, dia meletakkan alat makan yang sedang dia pegang, mendongkak membalas tatapan gadis itu. Tatapan yang sampai detik ini masih menjadi favoritnya.


"Kamu makin nggak sopan yah sekarang Sha? Kamu selalu menolak undangan untuk datang kesini, tapi sekalinya kamu datang kamu malah bertingkah seperti anak yang nggak punya sopan santun,"


El mendengus, menatap pria itu dengan tatapan mengejek "untuk orang kayak lo, gue nggak perlu bersopan santun"


"Hargai aku sebagai papa kamu"


El tertawa terbahak-bahak. Dia sampai memegang perut karena perkataan pria itu seperti lelucon paling lucu yang pernah dia dengar.


"Lo? Papa? Papa gue udah meninggal pas gue bayi. Sekarang gue nggak punya bokap. Selamanya lo itu bukan papa gue. Nggak akan pernah!"


"Kamu begini, memakai lo-gue seperti orang asing karena aku milih nikah sama mama kamu kan? Nanti juga kamu pasti akan mengerti aku begini itu juga buat kamu" Marco tidak bisa menahan untuk memberi gadis itu spoiler tentang recananya.


"Lo gila!" Sembur El emosi, dia ingin sekali menyiramkan air es wajah itu, atau apa saja yang bisa membuat pria itu sadar, kalau hubungan mereka sudah berakhir. Wajar rasa asing itu kembali ada diantara mereka, karena sekarang dimatanya Marco adalah suami dari sang mama. Meski tidak dia anggap sebagai papa.


"Ada apa ini?" Sosok yang tak pernah terlihat tua layaknya seorang vampir itu muncul.

__ADS_1


.....


TBC


__ADS_2