EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Mulai bergeser


__ADS_3

"Apa kalian bilang? Masuk jurang?"


"Eleasha menolong target kita, dan mereka masuk jurang bersama"


Marco meremas cek kosong dalam tangannya. Hatinya panas mendengar informasi yang baru saja dia dengar. Dia terlalu mengenal Eleasha, dan dia terlalu tahu kalau gadis itu tidak akan pernah bertindak nekat apalagi jika menyangkut dengan nyawa. Sialan! Kenapa gadis itu harus terlibat, bukankah akan lebih baik kalau El bertingkah seperti sebelum-sebelumnya? mengasingkan diri, tanpa terlibat atau membangun relasi dengan orang baru.


Mendengar sikap heroik gadis itu membuat pria ini tersenyum sinis. Sejak kapan gadis itu menjadi penuh belas kasih kepada orang lain? Selama sepuluh tahun mereka bersama dia sudah berusaha dengan segala cara, dengan mati-matian untuk membuat gadis itu nyaman dalam zonanya sendiri, tidak membutuhkan orang baru, tidak merasa nyaman dengan suasana baru, dan tidak usah mencoba hal baru.


Dia menuntun El menjadi pribadi yang sesuai dengan keinginannya, dan hal itu telah berhasil bisa dilihat dengan para staffnya yang bahkan tidak sampai 6 orang sejak dulu, sejak mereka masih bersama. Tidak termasuk Eduard tentu saja.


"Sudah ada kabar?"


Pria berjas rapi yang bisa ditebak adalah asisten pribadi Marco terlihat menggeleng.


Marco menggebrak meja "Dan kalian biarin begitu aja?! Sudah jam berapa ini?! Sudah berapa lama dia jatuh? Kalau terjadi sesuatu dengan Eleasha kalian mau tanggung jawab?!" Ucap pria itu berang. Membayangkan gadis itu berada di jurang saat hari sudah berganti malam, membuat pria itu merasa bersalah dan sangat khawatir disaat yang sama.


Apakah dia terlalu gegabah, sehingga membahayakan gadis itu? Tapi kenapa El, kenapa kamu harus melibatkan diri?


"Mereka menunggu instruksi anda, pak"


"Saya nggak mau tahu, kalian cari Eleasha sekarang juga, bawa dia kesini dalam keadaan selamat tanpa ada luka sekecilpun."


Pria tinggi itu menatap anak buahnya itu satu per satu "kalau Eleasha sampai ada luka, sekecil apapun itu, kalian akan tahu akibatnya"


...----------------...


"Kita akan coba lacak handphonenya Eleasha, masih aktifkan?" Jerome bertanya pada Alena yang langsung dijawab dengan anggukkan kepala dari gadis mungil itu.


"Tim IT kita udah mulai bergerak sekarang, akan lebih baik tim kalian juga, Kalian punya juga kan tim multimedia?" Jerome memberikan instruksinya, kembali bertanya pada Alena.

__ADS_1


Alena mengangguk, dia menepuk jidat. Kenapa hal ini tidak terpikir sejak tadi. Dengan cepat Alena mengeluarkan handphonenya kemudian segera melakukan panggilan kepada Veron yang menjadi ketua dalam Tim multimedia mereka.


"Kalau titik lokasi handphonenya sudah ditemukan, aku akan kirim tim pencarian kita untuk kesana....dan...."


"Aku juga akan kesana"


Jerome dan Alena memutar kelapa menatap pria yang sedang duduk di sofa tidak jauh dari tempat mereka berdua duduk. Pria yang sejak tadi hanya diam dan hanya mengamati.


"Kamu sebaiknya mikirin Elisa deh, jemput dia udah sebulan lebih dia dirumah papanya"


Ed menggeleng "belum saatnya. Belum saatnya gue dipihak Elisa"


Jerome terlihat emosi mendengar ucapan Eduard "Kalo gitu jangan nikahin dia, brengsek! Bejat banget lo jadi laki-laki"


Alena baru ingin menengahi, tapi Eduard sudah lebih dulu bersuara


"Tapi lo tetap aja udah nikah, Eduard. Istri lo itu bukan boneka yang nggak punya hati. Lo pikir dia nggak sakit lo giniin?"


"Justru karena kami sudah terikat dalam pernikahan makanya gue bisa sepercaya diri ini biarin dia pulang rumah papa untuk sementara, karena setelah gue bisa memastikan ada yang bisa mengambil tanggung jawab atas Eleasha menggantikan gue, itu adalah waktu yang tepat untuk gue jemput dia kembali kerumah kami"


Jerome hanya bisa mengusap wajahnya saat mendengar ucapan Eduard. Kalau dirinya itu Kayden sudah bisa dipastikan sebuah tinju sudah melayang ke arah wajah tampan seorang Eduard.


"Terserah lo aja, tapi jangan salahin Elisa kalau nanti dia berubah. Hati manusia nggak ada yang tahu. Sekarang dia boleh-boleh aja mampu bertahan dengan semua perlakuan lo, tapi kita nggak bisa tau atau memastikan kalau hal itu apakah akan bisa berlaku selamanya"


Perkataan Jerome seperti sebuah tamparan keras untuk seorang Eduard. Pria ini bukan tidak tahu akan hal itu, tapi dia hanya mencoba percaya kalau sama seperti dia yang mencintai Elisa, gadis itu pun mencintainya. Dan hal itu lebih dari cukup. Untuknya, untuk saat ini.


...----------------...


El menarik dirinya, menjauhkan diri dari En, hal itu justru membuat dia hampir terjungkal kebelakang kalau saja pria itu tidak menahan pinggangnya.

__ADS_1


Tubuh El otomatis jadi maju ke depan, menabrak tubuh pria itu. Tanpa sengaja mereka seperti orang berpelukkan. Gadis itu meringgis saat luka ditangan dan kakinya kembali terasa, dia tidak bisa membayangkan sudah seperti apa bentuk kakinya sekarang. El memutuskan untuk duduk di tanah, mengesampingkan perasaan risih karena jarak yang dekat dan juga tatapan pria itu.


En yang melihat reaksi gadis itu, mencari tahu letak pemicunya. Dan dia langsung menyadari kalau kaki El terluka saat bisa melihat noda darah di rerumputan kering yang banyak menempel di kaki itu.


"Kamu terluka?" En meraih kaki El, yang membuat gadis itu berteriak protes diiringi dengan ringisan kesakitan.


"Ini nggak bisa dipakai berjalan lagi" pria itu memberikan kesimpulan "kalau dipaksa, kamu bisa saja kehilangan kaki kamu"lanjutnya.


Mendengar hal itu El menatap pria itu dengan raut wajah ngeri, tapi raut wajahnya langsung kembali seperti semula.


"tapi Ed pasti bisa....." Gadis itu refleks menutup mulutnya saat En dengan cepat mengangkat wajah menatapnya tajam.


"Dokter didunia ini bukan hanya dia"


El mengangguk membenarkan hal itu, tapi sayangnya dokter yang memahami dirinya tanpa perlu banyak bicara hanyalah seorang Eduard.


"Kamu membantah ucapan saya?"


Gadis itu menggeleng "kapan?" Tanyanya dengan raut wajah binggung. Walau hatinya membenarkan pertanyaan itu.


"Baru saja, dalam pikiran kamu"


El mengembungkan pipi memilih untuk menunduk, dia bersyukur kegelapan ini bisa menutupi wajah merahnya karena ucapan pria itu sangat amat tepat.


Ini bukan debaran karena kasmaran, bukan rona merah karena salah tingkah, ini jelas murni sebuah rasa malu. Batin El mengingatkan dirinya.


En menatap gadis yang menunduk itu, tampak kedinginan dan rapuh disaat yang sama. Pria ini sejak tadi mencoba menahan keinginan memeluk tubuh itu, karena saat jarak mereka begitu dekat, En bisa mendengar suara gemeletuk gigi dari gadis itu.


Ini hanya perasaan belas kasihan, tidak lebih. Tidak mungkin akan lebih.Ucap En dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2