
...****************...
"Jadi gimana?" Ed langsung bertanya saat sampai didepan Alena.
Gadis itu menggeleng dengan raut wajah sedih.
"Udah coba telpon dia?"
Alena menggeleng lagi "nggak diangkat. Chat, sms nggak di respon"
Ed menjatuhkan tubuhnya dikursi, memegang kepalanya yang rasanya mau pecah. Kenapa masalah tidak pernah berakhir? Belum selesai masalahnya dengan Elisa, kini masalah baru muncul dengan Eleasha. Sahabatnya itu belum pulang atau setidaknya memberi mereka kabar tentang keberadaannya dimana.
"Perasaan gue nggak enak" Ed bergumam pelan. Mungkin karena udah bersama sejak masih kecil, ikatan antara El dan Ed tidak hanya sekedar ikatan sahabat biasa. Ikatan batin antara mereka berdua jauh lebih kuat dari pada itu, mereka berdua sudah seperti saudara kembar.
"Posisi El nggak memungkinkan untuk jadi pusat perhatian lagi, kita nggak bisa buat laporan ke kepolisian"
Ed mendongak menatap Alena "Bagaimana dengan agensi?" Eduard menyadari kesalahannya "Lupain aja, kita bergerak sendiri untuk cari El" Ralatnya kemudian segera berdiri dan berjalan keluar ruangan.
"Terus bagaimana dengan Elisa? Kamu udah jemput dia kan Ed?"
Langkah pria itu terhenti "Kita fokus ke pencarian El dulu, Na. Urusan rumah tangga gue, biar jadi urusan gue" ucapnya tanpa berbalik dan langsung melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Alena mendesah. Jujur saja dari hatinya yang terdalam dia sangat menyayangkan sikap Ed ini. Seharusnya dia sudah menjemput Elisa dan bukan menundanya lebih lama, istri mana yang mau terus menunggu tanpa kepastian? Tapi... kalau dia juga melihat dari sudut pandang Ed, apa yang dilakukan pria itu sekarang masih dalam konteks yang wajar. Yaitu, sebuah kekhawatiran seorang kakak terhadap adiknya.
Alena mendesah, semoga saja ini adalah masalah terakhir yang akan mereka hadapi.
...****************...
"Makan dulu El kamu sudah beberapa hari nggak makan lho"
Elisa tidak merespon perkataan sang ayah, gadis itu terus menerus menatap keluar jendela, tepatnya kearah gerbang rumahnya. Berharap mobil pria itu akan datang dan menjemputnya pulang kerumah mereka.
Sudah lewat sebulan lebih, dan Ed bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya kesini. Pria itu memang rutin mengirimnya pesan tapi tidak pernah menelponnya.
__ADS_1
Rutin menanyakan kabar lewat WA tapi tidak pernah sekalipun bertanya apakah Elisa tidak merindukan rumah dan seluruh isinya termasuk pria itu? Apa Ed terlalu percaya diri kalau Elisa akan terus menerus memaklumi semua sikap pria itu?
"Kamu salah Eduard, cinta boleh saja buta tapi kesabaran itu ada batasannya"
...****************...
Hatchiiiii...
El menggosok hidungnya yang tiba-tiba gatal dan membuatnya bersin. Hari sudah berganti malam, udara sudah mulai dingin. Gadis itu merapatkan jas yang tersampir dibahunya sambil terus melangkah mengikuti pria yang berjalan didepannya sambil memegang senter dari handphone.
Untunglah handphone itu memiliki kegunaan dari pada tidak sama sekali.
Pria didepannya berhenti, hal itu juga membuat El ikut mengehentikan langkahnya.
Gadis ini ingin bertanya, tapi dia ingat kalau hubungan mereka tidak sedekat itu.
"Kita istirahat disini" pria itu mengobservasi keadaan dengan cahaya yang berasal dari senter handphonenya. Setelah di rasa aman, dia langsung duduk ditanah sambil menyandarkan punggung di batang pohon besar.
"Kita bermalam disini" lanjut pria itu dengan nafas yang tidak teratur. Mereka sudah berjalan, dan mendaki selama beberapa jam tapi jalan keluar tidak kelihatan juga.
Belum lagi dengan rasa haus dan juga lapar yang mulai memanggil. Jadi pria ini memutuskan untuk beristirahat, menyimpan tenaga sampai besok.
El memperhatikan pria itu, walau hanya dengan penerangan yang berasal dari senter handphone dan juga cahaya bulan, pria itu masih saja terlihat tampan.
Rambut yang biasa di gel rapi kali ini berantakan dan jatuh menutupi dahi. Gadis ini mati-matian menahan tangannya yang entah kenapa tiba-tiba jadi begitu gatal untuk merapikan rambut itu.
"Kamu mau berdiri aja disitu sampe pagi?"
El tersentak, dia buru-buru memalingkan wajah mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, tidak ada pohon lain di sekitar mereka selain pohon yang sekarang sedang menjadi tempat berteduh sekaligus tempat menyandarkan tubuh pria itu.
"Saya nggak akan apa-apain kamu" ucap pria itu lagi, seperti bisa membaca apa yang sedang dipikirkan gadis itu.
"Tangan saya terlalu berharga untuk mencelakai seorang pembunuh secara langsung" pria itu berdehem menatap kearah lain "Waktu itu saya khilaf, dan lagi saya sudah berjanji di makam Lana, kalau saya tidak akan menjadi kriminal kayak kamu."
__ADS_1
El mengangguk meski dengan hati terluka parah, tapi bukan Eleasha kalau tidak suka dengan provokasi. Dia jadi penasaran sampai dimana letak kebenaran perkataan pria itu. El memantapkan hatinya dari rasa ragu yang tiba-tiba muncul saat dia teringat dengan kejadian di rumah Lana
Nggak apa-apa El. Gadis itu membantin. Kita lihat sampai besok pagi apa perkataan pria itu bisa dipegang.
El melangkah mantap, mendekati pria itu dan mengambil tempat tepat disamping Kayden. Dia menyandarkan punggungnya yang memang sudah sangat pegal di batang pohon besar ini, kemudian mulai menutup mata berharap segera bertemu pagi. Itupun kalau dia masih diijinkan Tuhan untuk membuka mata, mengingat saat ini dia sendiri yang sukarela masuk kedalam goa singa.
Kayden membasahi bibirnya, sama sekali tidak menyangka gadis ini akan senekat ini. Duduk disampingnya dengan lengan mereka yang saling bersentuhan.Tapi di detik berikutnya pria itu mengernyitkan kening saat tiba-tiba gadis itu menggeser tubuh sedikit menciptakan jarak.
Kayden mendengus tidak percaya.
Apa-apaan ini? Gadis ini yang tadi sengaja membuat mereka bersentuhan, dan sikapnya barusan seakan-akan bahwa dialah yang menjadi korban.
...****************...
"Jerome kasih tau aku kalau pak presdir juga nggak ada kabar sejak tadi pagi"
Ed yang baru saja kembali entah dari mana langsung menatap Alena dengan tatapan binggung "Apa hubungannya sama El? Mereka nggak mungkin......" pria itu tidak dapat melanjutkan perkataannya.
"Nggak mungkin....nggak mungkin, Na" ucapnya berkali-kali berusaha menepis skenario buruk yang terlintas dikepalanya.
"Jerome lagi on the way kesini, kita pikirkan solusinya kalau dia sudah disini"
Ed mengacak rambutnya frustasi, dia ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya kalau bisa. Pria itu tiba-tiba menatap Alena yang raut wajahnya juga sebelas dua belas dengannya, ia teringat akan sesuatu yang selama ini selalu lupa dia tanyakan saat mereka bersama.
"Lo belum cerita Na, tentang ucapan lo waktu dirumah sakit. Waktu itu lo bilang kalau Kayden bisa aja mencoba membunuh El lagi" pria itu menghembuskan nafas sebelum melanjutkan perkataannya. "Gue butuh cerita lengkapnya, itu pun kalau kalian masih menganggap gue penting"
Alena meremas tangannya yang berkeringat dingin, dia tahu cepat atau lambat dia harus menceritakan hal ini pada Ed terlepas dia suka ataupun tidak.
"Gue akan cerita semuanya sama kamu, Ed. Tapi kamu harus janji kalau hal ini hanya akan sampai di kamu"
...****************...
Terima kasih sudah mampir...
__ADS_1
Next chapther>>>>