EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Sosok yang dirindukan


__ADS_3

El tersadar dari lamunan panjangnya saat sebuah buket bunga Lily muncul tepat didepan wajahnya. Sebuah suara tiba-tiba terdengar membuat senyum seketika mengembang di wajah cantiknya.


"Sekuntum lily cantik untuk si cantik dan baby di dalam perut" Arthur meletakkan buket bunga itu pada meja kecil di depan El, kemudian mengulurkan tangan untuk mengelus lembut pipi El yang mulai tembem.


"Udah makan?"


Eleasha mengangguk membuat poni gadis itu bergerak mengikuti gerakan sang pemillik.


"Nggak ngidam apa gitu? Nanti aku beliin dimana pun itu"


El kali ini menggeleng pelan "makasih Ar, tapi beneran nggak ada"


Pria itu terlihat menghembuskan nafas pelan, dia menekuk sebelah kakinya kemudian mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna hitam dari saku jas yang dia pakai.


Tangannya kemudian membuka kotak yang pasti semua wanita di dunia ini tahu persis itu apa. El mencengkram kuat pinggiran kursi yang sedang dia duduki, nafasnya sempat tertahan saat sebuah cincin emas putih dengan berlian ditengahnya tertangkap indera penglihatannya.


Arthur tidak pernah seyakin ini dalam hidupnya, lagipula sosok bayi dalam perut El butuh seorang ayah bukan hanya untuk pribadi tapi juga secara umum, karena meskipun El sudah tidak lagi muncul di dunia enterteiment tetap saja dia adalah seorang aktris dengan nama yang cukup besar di dunia hiburan tanah air ini.


Publik pasti butuh kejelasan tentang siapa pendamping sang aktris, sedangkan untuk fakta dari siapa ayah anak yang dikandung Eleasha, itu bukanlah sesuatu hal yang besar untuknya karena dia tidak peduli, dia mencintai gadis ini dan siap menerima apapun termasuk bayi yang ada dalam kandungan Eleasha.


"Eleasha Jemira Halim, marry me please"


...****************...


Kayden menatap makanan yang tersaji didepannya, dia sama sekali tidak berselera. Nafsu makannya hilang entah kemana, bersama rasa kantuknya juga membuat pria ini hampir seperti mayat hidup sekarang.


Pandangannya teralih pada tangan kanannya yang terbungkus perban, pria ini bahkan tidak bisa merasa sakit sekarang semuanya terasa kebas dan kosong untuknya.


"Kau sepertinya akan segera mati sebelum bertemu dengan anak dan istrimu"


Kayden mendongak dan mata monolidnya bertemu dengan mata yang sama dengan miliknya hanya saja mata yang satu itu penuh keriput di ujung mata. Dan Kayden tidak mau ambil pusing dengan apapun termasuk dengan cara bagaimana bisa orang tua itu bisa berada tepat didepannya sekarang.


"Menyedihkan En, ini sangat menyedihkan" lirih pria tua itu.


"Akong selamat datang, selamat istirahat" Kayden beranjak berdiri berniat untuk pergi, karena dia tidak ingin menambah masalah sekarang.


Pria tua itu menggeleng prihatin melihat keadaan cucu kesayangannya ini, Kayden sama persis seperti ayahnya bahkan kisah cintanya pun sangat mirip.


Dan apakah karena kemiripan itu kali ini juga dia harus turun tangan?


"Jerome sudah cerita semuanya, om kamu juga. Dan Akong mendukung keputusan Eleasha karena perbuatan kamu itu bukan menunjukkan perbuatan seorang laki-laki"


Perkataan itu menghentikan langkah Kayden, pria tua itu kembali melanjutkan "cinta yang mendewasa itu menjaga, merawat dan bukan menghancurkan seperti yang kamu lakukan padanya"


"KARENA ITU AKU INGIN MENEBUSNYA!!!" suara Kayden menggelegar memenuhi ruangan, disetiap detiknya dia ingin memperbaiki semua perbuatannya pada El tapi gadis itu tidak memberinya kesempatan untuk melakukannya.

__ADS_1


"Dia baik-baik saja, begitu juga dengan bayi kalian"


Mata Kayden membelalak, dia memutar badan dengan cepat menatap kakeknya dengan tatapan butuh penjelasan. "bagaimana bisa akong tahu? Aku sudah melakukan banyak cara, segala yang aku bisa tapi tidak ada yang berhasil....."


"Diatas langit masih ada langit En,"


"Kalau begitu kasih tahu aku lokasi mereka"


Pria tua itu menggeleng "akong sudah berjanji pada El untuk tidak kasih tahu ke kamu apapun yang terjadi, karena dia menjadikan cucu akong sebagai jaminan"


Kayden mengeram frustasi, "aku janji nggak akan memaksa untuk kami bersama, aku hanya ingin lihat dia meski hanya dari jauh, aku mohon kong, aku mohon" ucapnya sambil berlutut, menurunkan semua ego diri yang tidak pernah dia lakukan selama hidup apalagi didepan pria tua ini.


Pria tua itu mendesah, sedikit membungkuk untuk menepuk pundak Kayden."kamu akan dapat jawabannya besok, karena jawabannya ada pada mama Lana. Kalau kamu beruntung kamu bisa bertemu mereka"


Haoran beranjak pergi, meninggalkan Kayden yang masih berlutut dengan air mata yang pasti sudah membasahi pipi dan mungkin keramik rumah ini. Cucu kesayangannya itu perlu waktu untuk dirinya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ar..aku...."


Arthur tersenyum lembut sambil mengusap pelan rambut El "nggak usah mikirin apapun dulu, kamu fokus aja untuk pulih yah? Kasian dedek bayinya juga"


Eleasha mengangguk, dalam hati terus bertanya kenapa dia tidak bisa merubah haluan hatinya? Setelah hampir 2 bulan lebih bersama Arthur dan keluarga pria itu, kenapa El bahkan tidak bisa berdebar dengan semua sentuhan pria itu untuknya. Seharusnya dia bisa dengan begitu mudahnya jatuh cinta pada pria sebaik Arthur Xavier ini.


Arthur menjadikannya seperti ratu, membuatnya merasa tidak perlu mengkhawatirkan apapun saat berada disamping pria itu. Bahkan menemaninya ke puskesmas di daerah ini sebagai 'suami' dan melakukan apa saja untuk kenyamanannya.


Dan seakan bayi dalam kandungannya mengerti, momen lamaran Arthur kemarin berakhir dengan El yang mual dan muntah hebat sampai harus dilarikan kerumah sakit karena sudah lemas belum lagi dengan rasa sakit di punggung yang mulai menganggu gadis itu akhir-akhir ini.


"Maaf.. kare..."


Arthur menggeleng pelan "kamu nggak perlu minta maaf El, karena aku juga nggak akan menyerah sama kamu"


Eleasha membeku, dia mengigit bibir dalamnya karena hatinya terasa nyeri. Andai hati bisa gampang di bolak-balikan dia akan dengan senang hati membalikkannya untuk pria ini. Tapi kenyataannya sosok itu masih begitu mendominasi, memenuhi semua ruang dalam hati tanpa cela satupun, entah dengan luka, maupun suka semuanya jelas masih saja terpatri.


Aku juga nggak akan nyerah untuk dedek bayi" Athur mengelus lembut perut Eleasha, keduanya kemudian saling bertatapan saat sebuah pergerakan terasa di perut El dan di permukaan tangan Arthur yang menempel disana, "dia gerak El, dedek bayinya bergerak" Arthur terlihat begitu antusias, jika ada orang yang melihat hal ini mereka pasti akan menyangka kalau pria itu adalah ayah dari bayi yang sedang dikandungnya.


"Kamu merespon sentuhan aku yah? Salam kenal, ini uncle Arthur..." pria itu menggeleng dan kembali menyentuh perut El dengan sangat hati-hati "bukan....bukan. Ini calon papa kamu, nak" tegasnya penuh keyakinan di depan perut Eleasha yang masih di sentuhnya.


Sementara itu Eleasha yang melihat hal itu, mati-matian menahan tangis. Setelah semua derita yang dia dapatkan apakah Arthur adalah jawaban kebahagiaan yang selama ini dia minta kepada Tuhan dalam setiap doanya? Tapi kenapa Tuhan belum juga membolak-balikan hatinya? Kenapa perasaan kosong di dada masih saja terasa?


Gadis itu tiba-tiba meringgis saat rasa nyeri di punggungnya semakin menjadi, Arthur menatapnya khawatir. "punggungnya sakit lagi?"


El menjawab dengan anggukan kepala pelan, "aku panggil dokter yah? Supaya bisa lihat keadaan kamu" tanya Arthur dengan wajah khawatir.


"Nggak perlu, Ar. Bentar lagi pasti ilang kok"

__ADS_1


"Nggak El, aku tahu sakit itu yang bikin kamu jadi susah tidur kan? Tunggu disini aku panggil dokter supaya kita punya solusinya"


El menghembuskan nafas berat saat melihat sosok Arthur menghilang di balik pintu ruangan rawatnya, dia sedih dengan fakta kalau solusinya cuma satu, yaitu sosok itu.


...****************...


Kayden menatap lurus kearah pusara bertuliskan Elizabeth Halim dengan tinta mas yang berdekatan juga dengan dua pusara yang lain yaitu oma dan opa dari Eleasha.


Ini adalah kali kesekian bagi Kayden berkunjung kesini setelah kepergian Eleasha, datang kesini seperti sebuah keharusan untuknya.


"Maaf karena sudah menyakiti putri kesayangan kalian, maaf karena langsung memutuskan bahwa dia bersalah dan menghukum dia dengan aturan saya sendiri"


Kayden maju beberapa langkah, mendekat ke arah makam "dan meski El sudah berusaha menebus semuanya dengan kebaikan yang dia punya, saya tetap gelap mata dan tetap menginginkan kehancurannya seperti dia menghancurkan hidup saya"


Pria itu berlutut didepan makam bisu yang tidak bisa memberinya jawaban, air mata pria itu kembali jatuh ke rerumputan. Betapa akhir-akhir ini dia menjadi begitu cengeng seperti seorang anak kecil.


"Saya menyesal... tolong maafkan saya atas semua perbuatan yang sudah saya lakukan" lirihnya sendu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sonia mengulurkan tangan untuk menarik Kayden yang sedang berlutut didepannya untuk segera bangun.


"Harus berapa kali mama bilang kalau kamu nggak salah, En"


"Tapi aku sudah mengkhianati Lana, dan dengan brengseknya aku jatuh cinta pada gadis yang sudah aku sakiti karena ingin membalas dendam untuk Lana"


"Tidak ada yang mengkhianati dan dikhianati, En."


Kayden mendongak dan matanya bertemu dengan tatapan mama Sonia, "jatuh cinta itu bukan kehendak yang bisa kamu atur, Tuhan-lah yang punya kuasa atas hati manusia. Kalau saat ini kamu jatuh cinta pada El, itu pasti juga kehendak Tuhan dan mama sama sekali tidak punya hak untuk melarang kamu jatuh cinta pada siapa pun"


Sonia mensejajarkan tubuhnya dengan Kayden, anak laki-laki yang sudah dia anggap sebagai putranya sendiri terlepas dari fakta kalau dulu Kayden menjalin hubungan serius dengan putri sulungnya.


"Dan untuk El, kamu harus meminta maaf secara langsung padanya"


Kayden tersenyum miris "itu pasti nggak mudah, dia nggak akan maafin aku untuk semua yang aku lakukan padanya, ma. Aku bahkan tidak bisa menyebut diriku laki-laki karena semua perbuatan itu amat sangat buruk"


Sonia tersenyum sambil menepuk pundak Kayden lembut "meski sulit tapi setidaknya kamu harus tetap mencoba, El itu tipe yang tidak bisa jujur dengan perasaannya sendiri. Dia akan mengatakan tidak meski hatinya berkata iya"


Sonia berdiri mengambil sebuah kotak sedang diatas meja dan memberikannya pada Kayden "El rutin mengirim mama surat selama dia pergi, tapi beberapa hari yang lalu dia memberikan hadiah berupa hasil karyanya sendiri"


Dengan tangan yang gemetar Kayden mencoba membuka kotak berwarna biru ditangannya, dan sebuah syal rajut berwarna cokelat tertangkap indera penglihatannya, pria itu langsung berdebar dengan disertai rasa nyeri di bagian hati saat aroma lily yang sangat dia kenal menguar dari kotak yang dia buka itu.


"Di kotak itu ada alamat pengirimnya, anggap saja kamu yang menemukan hadiah ini lebih dulu dari mama" ucap Sonia sambil mengedipkan sebelah mata.


Kayden menatap Sonia penuh rasa terima kasih, jika bukan wanita ini dia pasti belum bisa bertemu Eleasha dan dia pasti tidak akan pernah direstui untuk mencintai Eleasha.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2