
"Titiknya sudah ketemu, dan ini jelas menunjukkan sebuah jurang" Jerome menunjukkan layar tab pada Alena dan Eduard.
"Gimana bisa?" Alena hampir menjerit, segala pemikiran negative menyerbu otak, membuatnya langsung terduduk lemas di kursi.
"Tolong tetap berpikir positif, bisa saja mereka sedang ada disuatu tempat yang lebih aman. Mereka kehilangan handphone dan...."
Ed meraih tab ditangan Jerome, merekam segala hal dalam ingatannya, dia juga mengirimkan link tersebut di Whatsappnya tanpa permisi. Pria itu kemudian menatap Alena "tolong tetap kasih gue info terbaru, Na"
Jerome menahan kepergian Ed dengan memegang bahunya kuat "lo mau kemana?" Pria itu melirik kearah jam besar di dinding "ini jam sudah 11 malam, jurang itu sudah termasuk kategori hutan lo mau kesana sendirian buat apa?"
"Minggir" Desis En pelan tapi sarat amarah.
"Tim pencarian kita udah kesana, lo tahu seberapa kompetennya semua tim dari Kay group kan? Jadi tolong jangan menambah beban dengan sok jagoan"
"Gue nggak akan bisa tenang sebelum memastikan sendiri"
Jerome mencibir, benar-benar ingin meninju pria ini sekarang "lo minta di gampar yah?"
Alena berjalan mendekat kearah dua pria jangkung itu, dia memang masih syok dengan kabar El tapi dia juga tidak bisa diam saja melihat apa yang sedang terjadi didepan matanya.
"Ed, apa yang pak Jerome bilang benar. Kita lebih baik menunggu. Kalau kamu kesana terus malah nyasar masalah akan semakin runyam"
"Gue nggak bisa, perasaan gue benar-benar nggak tenang, El pasti nggak baik-baik aja sekarang"ucap pria itu masih saja keukeuh
Jerome tidak bisa lagi menahan lebih lama untuk tidak melayangkan sebuah pukulan di wajah itu. Tapi saat baru saja berancang-ancang, Sosok mungil yang manis dengan rambut hitam panjang itu menengahi membuat amarah yang sejak tadi menumpuk seketika menghilang entah kemana.
"Ya udah kita kesana" putus Alena.
Jerome melotot, tadinya dia berpikir gadis mungil itu akan berada dipihaknya.
"Kalian jangan gila yah? Buat apa kesana kalau pengalaman tentang alam aja hanya sebatas ikut kegiatan pramuka pas SD."
"Kita akan kesana, tapi tidak akan turun lapangan. Hanya akan memantau dari jauh" Alena menatap Eduard yang walau terlihat enggan tapi perlahan mengangguk setuju, kini gadis itu menatap pria dengan kulit kecoklatan yang juga sedang menatapnya dengan tatapan tidak percaya dan juga kesal yang sangat kentara.
Jerome menarik nafas dan dengan kasar membuanngnya.
"Kalian harus janji untuk tidak kemana-mana, kita hanya akan memantau dari mobil" ucap Jerome akhirnya dengan nada final.
...----------------...
"Jadi apa yang buat kamu menolong saya? Sudah berapa kali? Dua? Atau tiga?" Tanya En kemudian setelah melewati keheningan yang cukup lama.
El diam, bukan tidak bisa menjawab. Tapi dia memang tidak ingin.
__ADS_1
"Saya akan membayar semuanya, saya tidak ingin berhutang"
Mendengar hal itu, El tidak bisa memungkiri hatinya kecewa. Dia sama sekali tidak memiliki modus apapun saat menolong pria itu. Tidak bisakah sekali saja, Kayden melihat ketulusannya dan bukan mencampur adukan dengan dosa yang dia telah dia lakukan pada pria itu?
"Saat pulang nanti, saya akan membalasnya. Mungkin dimulai dengan mendapatkan kembali job-job kamu yang sempat hilang"
El tersenyum kemudian dengan susah payah dan menahan rasa sakit diseluruh tubuhnya gadis itu berdiri "terima kasih atas perhatian bapak, tapi saya rasa hal itu tidak perlu"
En mendongkak menatap gadis yang sedang berdiri itu " apa maksudnya?"
"Saya rasa kita memang tidak bisa bekerja sama, apa bapak tidak merasa selalu mendapat kesialan saat bersama saya?" El merapatkan jas pria itu ditubuhnya "saya memutuskan untuk keluar dari agensi. Saya akan membayar biaya pinalti" ucap gadis itu dengan nada yang sangat meyakinkan. El merasa dia tidak bisa lagi terlibat dengan pria itu setelah apa yang terjadi selama ini. Mulai sekarang dia ingin menjadi realistis dan bukannya hanya berdiam dalam emosi saja.
"Apa?" Kilatan tidak suka terpancar dari mata monolid itu. Gadis ini sedang mencoba melepaskan diri darinya, dan dia tidak suka. El sama sekali tidak berhak memutuskan tanpa seijinnya.
"Saya bilang akan kel..." El tidak bisa melanjutkan ucapannya saat pria itu memberi isyarat dengan jari telunjuk menempel di bibir. Lagi lagi bibir itu, bibir yang bisa membuatnya lagi dan lagi meneguk salivanya sendiri.
"Ada yang datang" bisik pria itu pelan.
El merinding, dia memang pernah beberapa kali syuting film horor dan berada di hutan juga bukan kali yang pertama untuknya. Tapi tersesat dan hanya berdua saja dengan orang yang masih tergolong asing baginya, jelaslah kali yang pertama.
El menelan ludah kali ini bukan karena melihat bibir En tapi karena memikirkan hal yang sejak hari berganti malam berusaha dia singkirkan jauh-jauh.
"Kamu percaya saya?"
Pria itu mengulurkan tangan "pegang tangan saya kalau kamu percaya"
El menatap tangan yang terulur itu, menimbang-nimbang apa harus di sambut atau tidak. Sedetik kemudian gadis itu terkejut karena tangan itu sudah menggengam tangannya tanpa persetujuan lebih dulu darinya.
Pria itu berdiri, tanpa diduga menggendong gadis itu ala bridal style.
"Saya nggak perlu digendong" El mengeluarkan protes, hal seperti ini dalam dunia kerjanya jelas adalah hal yang biasa, dia bahkan pernah beradengan lebih dari ini dalam beberapa judul film dan sinetron. Tapi entah kenapa kali ini dia begitu gugup, dia takut jika pria itu bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdebar dalam ritme disko.
"Kita akan lompat kesana, di bawah sana ada semacam goa kecil kita bisa bersembunyi" pria itu tidak mengindahkan perkataan El, dia kemudian memutar kepala menatap El yang hanya diam tapi entah kenapa gadis itu malah menarik kepalanya menjauh.
"Saya sepertinya lupa memberitahu kamu, penglihatan saya jauh lebih tajam dari orang-orang pada umumnya"
El belum sempat mencerna dengan baik perkataan pria itu saat dengan sigap dia sudah melompat turun dan menapaki tanah yang lebih rendah dibanding tempat mereka berdiri tadi.
Pria itu membawa El masuk ke goa kecil yang terbuat dari akar pohon besar, dia kemudian duduk masih dengan memangku gadis itu, punggungnya bersandar pada dinding goa. El yang merasa risih dengan posisi mereka mulai bergerak-gerak mencoba turun dari pangkuan pria itu.
En merapatkan bibirnya, mati-matian menahan hasrat yang tidak tahu diri ini muncul dan mengalahkan rasa benci yang mendominasi.
Gadis itu masih bergerak dengan gaya acak, membuat perasaannya jadi berantakkan. Tangan kiri En memegang pinggang kecil itu dan tangan kanannya menarik tengkuk itu mendekat.
__ADS_1
Jarak mereka begitu dekat, hanya tinggal beberapa senti untuk memutuskanya. Nafas mereka berdua saling menerpa kulit masing-masing. En bisa melihat mata itu terbelalak, gadis itu sedang berusaha menciptakan jarak lebih diantara mereka.
Saat tangan pria itu berada di lehernya, El ternyata belum sepenuhnya pulih dari trauma itu. Jantungnya memacu kuat dan kilasan kejadian malam itu terlintas di pikirannya.
"Saya ingin...." El terdiam saat pria itu maju, dan membisikkan sesuatu di telinganya, yang justru memberikan efek lain ada gadis itu.
"Mereka datang" bisik En pelan. Dan masih mempertahankan posisi itu.
...----------------...
"Nggak ada boss"
"Kalian sudah cari baik-baik?"
"Iya boss, nggak ada siapa-siapa. Kita hanya menemukan iphone ini dengan keadaan senter yang menyalah"
"Kalau begitu mereka masih disekitar sini, atau tadi baru saja dari sini. Kita coba cari lagi"
"Tapi boss..."
"Kalian jangan protes, kalian memang mau mampus di tangan Marco? Gue kenal dia udah lama, dan dia itu laki-laki psikopat mengerikan yang gue kenal. Dia selama 10 tahun berakting sebagai pria baik-baik di depan si aktris itu, bukan hanya karena mau porotin hartanya doang. Tapi memang sudah cinta mati"
"Dia terobesi dengan si aktris itu, bahkan sampe kasih akses para wartawan masuk kepemakaman pribadi keluarga, bocorin info supaya wartawan stand bye di pemakaman"
"Lo pada tau supaya apa? Supaya si aktris itu datang nemuin dia, minta tolong ke dia sama kayak waktu mereka masih bersama. Memang benar-benar sinting tuh orang"
"Terus nasib kita gimana ini boss? Lagian kenapa tuh cewek nekat banget sih, kan kalo dia nggak terlibat, masalah sudah selesai pas target tertabrak mobil"
"Pokoknya kita cari sampai ketemu, fokus ke si aktris,kalo si pria langsung bunuh aja pas ketemu"
.....
El meremas kemeja pria itu yang ada di bagian bahu. Gadis itu sudah terdiam sejak En memberi isyarat untuk diam. Tubuhnya gemetar dan hampir menangis kalau saja dia tidak sedang berada di pangkuan pria ini.
En bisa merasakannya, saat nama seseorang terdengar tubuh gadis ini langsung menegang. Saat fakta itu terucap tubuh dalam pangkuannya ini bergetar, rupanya info yang di dapatkan secara tidak sengaja ini seperti sebuah pukulan keras untuknya.
El tahu apa yang akan dia lakukan adalah tindakan paling tidak tahu diri yang mungkin pernah ada, mungkin saja pria itu akan mendorong tubuhnya dalam sekejab, tapi dia tidak peduli karena saat ini dia benar-benar membutuhkannya. Dia butuh sebuah bahu untuk meletakkan kepalanya yang terasa berat dan seakan ingin meledak.
El meletakkan kepalanya di bahu itu tanpa permisi, dia mencoba mengambil nafas saat kepalanya sudah bersandar dengan nyaman disana. Ada sebuah lobang mengaga dalam hatinya, dan hari ini lobang itu kembali bertambah dengan cara paling menyakitkan. Kenapa hal ini tidak terkubur saja selamanya? Kenapa dia harus mengetahuinya disaat dia bahkan sudah hampir setengah jalan menata hati.
Kayden terdiam, dia tidak memungkiri jantungnya berdebar lebih dari seharusnya sejak tadi, akh.... lebih tepatnya sejak kecelakaan di kamar Lana terjadi. Pria itu tersenyum miris saat teringat pada Lana, bagaimana ini Lana? Entah kenapa dia sepertinya ingin melindungi gadis ini, memastikannya aman. Bagaimana ini ? Apakah ini sebuah dosa karena faktanya gadis ini adalah orang yang merebut Lana darinya.
...........
__ADS_1