EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya


__ADS_3

"Hasil pemeriksaanya sudah keluar dan syukurlah tidak ada yang perlu di khawatirkan. Memar di bagian tubuhnya mungkin ada yang akan hilang lebih lama dari memar yang lain, tapi so far semuanya baik-baik saja"


Kayden mengangguk saat mendengar ucapan dokter Liam.


"Tapi seperti saran saya sebelumnya, Eleasha perlu konsultasi dengan psikiater. Fisiknya mungkin baik-baik saja tapi kita nggak tahu dengan mental kan?"


Kayden mengangguk lagi, membuat Liam tersenyum kemudian menepuk pundaknya pelan "kata suster yang jagain El dia sering sebut kata bangkai saat tidur , Well kita tahu itu sebuah kata yang negative kan?"


Kayden terpana "Bang Kai?"


Liam mengangguk "Itu semacam..... Jasad..."


"Gue pergi dulu, mendadak ada urusan" kata Kayden buru-buru tanpa menunggu respon Liam. Kakinya bergerak cepat menuju tempat yang sejak beberapa hari ini ingin sekali dia datangi, tapi selama ini hati dan pikirannya selalu berperang dan akan berakhir dengan akal yang selalu menang telak.


Kali ini dia tidak bisa menahannya lagi, dia rindu dengan senyuman itu, juga dengan mata yang akan membentuk bulan sabit saat tersenyum.


Kayden tersenyum sambil berlari menuju parkiran tempat mobilnya berada, sejak gadis itu diijinkan pulang dari rumah sakit dia terus menerus mencari alasan untuk menemui El, tapi berujung pada kata buntu karena sejak kontrak Management dan sang aktris selesai dia kehilangan alasan menemui gadis itu dengan dalih sebagai CEO yang baik dan berbudi pekerti yang luhur.


Tapi sekarang dia punya alasan kuat untuk menemui Eleasha, karena satu kata itu....


Bang Kai...


...****************...


Eleasha seharusnya sudah mempersiapkan diri, karena meski mereka sudah tidak lagi dalam satu naungan yang sama, kemungkinan akan bertemu itu sangatlah besar seperti sekarang. El menelan ludah saat pria itu menghampirinya dengan langkah cepat kemudian berhenti tepat didepannya.


"Kamu sering mengigau panggil nama aku yah?"


El mengerutkan kening, selama beberapa minggu tidak bertemu, pria ini datang padanya dan hanya menanyakan hal itu? Sesuatu yang El juga sebenarnya tidak sadar saat melakukannya.


Kayden mengangguk "ok. Raut wajah kamu sudah menjawab semuanya" Pria itu balik badan tanpa kata lagi.


El mengepalkan tangan. Hanya begitu saja? Rasa kecewa membuat gadis itu hampir saja berteriak, "kamu sudah tahu kenyataannya tapi kenapa masih kesini untuk bertanya hal bodoh? Kenapa nggak langsung bertanya hal yang seharusnya kamu tanyain?"


Langkah kaki Kayden terhenti, pria itu menghembuskan nafas sebelum berbalik menatap gadis itu "karena aku nggak tahu harus benci, marah atau harus bagaimana lagi" Jawabnya jujur dengan sorot mata penuh luka.


El membeku ditempat. Haruskah dia senang atau harus sedih dengan semua ini?


...****************...


Next day...


Pria itu sudah hampir mencapai mobil saat handphone dalam saku berdering, keningnya berkerut saat melihat nama Elisa terpampang di layar. Setelah beberapa detik bimbang antara menjawab atau mengacuhkan panggilan itu, Kayden akhirnya memutuskan untuk menerima.


"Ya, Elisa...."


"Gue hamil, En"


Kayden baru saja ingin mengucapkan selamat, tapi mendadak bibirnya kelu saat sepupunya itu bersuara lagi.

__ADS_1


"Dan gue sama Eduard sudah resmi bercerai..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kayaknya ada yang pengen lo omongin ke gue." El menatap pria didepannya itu yang sedari tadi menunjukan gelagat aneh, dan dia paham dengan hal itu meski tidak dijelaskan sekalipun.


Pria itu berdehem, memperbaiki posisi duduknya yang sebenarnya sudah bagus. Eduard melirik kearah El yang sedang menunggu. "apa bagian itu masih sakit?" tanyanya sambil menunjuk bagian mata.


El memutar bola mata "punya kita sama cuma beda posisinya aja"


Eduard tersenyum canggung "iya benar juga"


"Jadi apa?" El mulai tidak sabar.


Eduard menipiskan bibir, tangannya menepuk paha berulang kali. Dia mengangkat wajah menatap El lurus "Gue sama Lisa udah selesai, kami cerai"


"APA?"


"Gue nggak bisa bertahan dengan wanita yang nyembunyiin banyak rahasia dibelakang gue"


"Ya.... tapi"


"Selama ini gue berusaha memaklumi, pura-pura nggak tahu tapi makin lama semuanya makin nggak bisa dikendalikan lagi" Eduard menghembuskan nafas lelah.


"Tapi lo juga salah Ed, seharusnya bukan perpisahan jalan akhirnya"


Eduard mengangguk paham, dia tahu El sangat membenci perceraian. Dia juga. Hanya saja, kesalahan Elisa yang terakhir adalah yang paling fatal dan tidak bisa dia tolelir lagi dengan rasa cinta yang dia punya.


Karena apa jadinya Eduard kalau oma dan opa tidak merawatnya saat dia lahir.


Tapi demi rasa cinta pada Elisa dan rasa sayangnya untuk Eleasha, dia akan menyimpan fakta itu sampai dia mati.


"Lo egois Ed"


"Terima kasih"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Elisa gimana ?"


Morgan menggeleng, raut wajah kesedihan sangat jelas tercetak di wajah pria diawal usia 60an itu. "Eduard yang menggugat Elisa"


Kayden mengepalkan tangan. Brengsek. umpatnya dalam hati.


"Beberapa hari ini kondisi El memang sempat drop , papa pikir itu hanya karena faktor kecape'an saja" pria tua itu mengusap wajahnya "jujur saja papa binggung En"


"Eduard tahu kalau Elisa hamil?"


Morgan menggeleng "komunikasi mereka sudah tidak baik sejak Eduard keluar dari rumah, waktu itu mereka bertengkar hebat. El yang selalu minta di ceraikan, tapi itu karena dia selalu merasa diduakan dengan si aktris itu"

__ADS_1


"berapa usia kehamilan Elisa?"


"masuk 6 minggu dan kita baru mengetahuinya sekarang disaat semua sudah berakhir"


Kayden menghembuskan nafas "aku yang akan bawa Eduard pulang, dia pasti nggak akan menolak darah dagingnya sendiri"


"Papa serahkan sama kamu saja, jujur saja papa juga serba salah sekarang"


...****************...


Kayden baru saja keluar dari mobil dan begitu surprise dengan tamu tidak diundang yang menunggunya di depan halaman rumahnya ini.


"Siapa yang suruh lo masuk?"


"Gerbangnya kebetulan nggak di kunci"


Kayden menyeringai "Sekaya apapun lo sekarang tetap saja lo nggak bisa beli sopan santun ternyata"


"Apa lo bilang? Dasar brengsek!!"


"Lebih brengsek mana dengan yang menculik sang mantan, memberi obat perangsang secara diam-diam, dan mencoba memperkosa sang mantan?"


Marco menatap Kayden nyalang, dia maju mencengkram kerah kemeja Kayden. Pria itu jelas menang dari segi tinggi badan, Marco memiliki tinggi badan 187 cm sedangkan pria yang sedang dia cengram kuat itu mungkin hanya memiliki tinggi 180 saja.


"Memperkosa? Lo pikir hubungan gue sama El yang hampir 11 tahun kita berdua nggak pernah ngapa-ngapain?" Marco melepaskan cekalannya, saat umpan yang dia lempar berhasil di makan. Pupil mata Kayden membesar, artinya pria itu terkejut dengan pernyataannya barusan.


Di dunia sekarang mana ada pasangan yang pacaran selama itu dan tidak kecolongan? 8 dari 10 pasangan pasti sudah masuk ke fase pernah berhubungan intim, dan sialnya Marco adalah salah satu dari 2 orang yang tidak melakukan *** sebelum menikah, sebuah keputusan terbodoh yang selalu dia sesali di setiap detiknya.


"Lo tahu? El bahkan pernah striptis di depan gue. Dia tanpa di minta akan buka bajunya buat gue. Semuanya!"


Bug....


Kayden sudah melayangkan pukulan keras di wajah pria itu. Tubuhnya bergerak sendiri tanpa dia duga.


Marco memegang sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah "memangnya apa yang lo harap dari El? Dia begitu karena buat balas gue. Dia deketin lo supaya lo nggak terlalu kesepian ditinggal calon istri lo yang mati karena El nyetir sambil mabok"


Pria jangkung itu terbahak saat mendapati wajah syok bercampur tidak percaya dari pria didepannya yang tadi begitu percaya diri menyerang.


"Malam itu kita berdua minum-minum di club langganan, El cari gue mohon-mohon untuk balik ke dia meski gue sudah berstatus suami dari mamanya. Lo bisa nebak dong setelah itu kita berdua ngapain?"


"Karena gue nggak mau cerai dari mamanya, El marah memutuskan pulang sendiri meski masih teler dan....." Marco membenturkan dua tangannya yang membentuk tinju "Boom.... dia nabrak calon bini lo"


"Dia nggak mabuk tapi lo racunin dengan obat tidur, lalu bocah yang lo jamin kebebasannya dan buat Eleasha babak belur beberapa minggu yang lalu itu juga punya peran penting"


Marco bertepuk tangan dengan khidmat, dia tertawa lagi "Wah.... wah....Luar biasa, lo ternyata sudah masuk dalam perangkap. El memang luar biasa, diatas ranjang atau dimana pun"


Marco maju berjalan mendekat, menepuk pundak Kayden sambil menyeringai "gue kasih tau lo sebuah rahasia, sebenarnya dua wanita bermarga Halim itu sama-sama licik. Mama El mendadak kaya raya setelah ditinggal mati suami, nggak menutup kemungkinan anaknya juga akan begitu kan? Ingat pepatah Bro, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya"


...****************...

__ADS_1


Hai... Ada pesan untuk Marco?😁


__ADS_2