EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Pulang ke rumah


__ADS_3

Eleasha berlari menghampiri tante Sonia yang diusir dari rumahnya sendiri, hanya ada satu buah tas berisi baju dan beberapa barang yang dia bawah dari dalam rumah.


Hal yang terpikir pertama kali oleh gadis ini adalah mengunjungi keluarga Lana, saat dia pulang dari rumah sakit karena rasanya sudah lama sekali El tidak berkunjung kesana.


Dan untunglah dia tetap melakukan kunjungan sesuai janji itu, karena kalau tidak gadis ini mungkin tidak akan bisa bertemu tante Sonia lagi.


"Tante kenapa?"


Sonia menatap El dengan mata merah dan basah karena habis menangis,wanita itu kemudian memeluk Eleasha sambil menceritakan kronologi kejadian yang baru saja dia alami.


Tentang betapa bodohnya dia percaya pada orang yang ternyata sudah memiliki niat busuk sejak awal, meski masih masuk kedalam ruang lingkup keluarga sekalipun.


"Ya udah, tinggal sama aku aja dulu yah?"


Sonia ingin menolak, tapi Eleasha lebih dulu bersuara.


"Akan aku usahain dengan segala cara supaya rumah ini bisa kembali ke tante lagi, tapi untuk sementara ini lebih baik tante tinggal sama aku"


Eleasha tersenyum lega, saat sebuah anggukan menjadi jawaban dari apa yang dia sarankan.


"Nanti kita telpon Leo, supaya dia nggak khawatir"


Sonia mengangguk sekali lagi dengan hati penuh syukur.


...****************...


Marco tersenyum licik saat mendapat laporan kalau rumah keluarga Lana sudah di balik nama, dan sudah sah menjadi miliknya.


Jangan tanya cara yang dia pakai, karena sejak dulu dia memang tidak pernah memakai cara bersih dalam semua aksinya.


Mulai dari mendekati Eleasha, menjauhkan Eduard dari El dengan cara mempertemukan sang dokter dengan gadis yang sedikit banyak memiliki kesamaan wajah dengan Eleasha.


Lalu kemudian Marco terpikir cara untuk memastikan keturunannya dan Eleasha makmur sampai turun temurun adalah dengan menikahi ibunda El yang pada waktu itu sudah menjadi janda kaya raya karena ditinggal mati sang suami.


Pria ini berpikir kekayaan yang dimiliki Elizabeth ----ibunya Eleasha---- lebih baik jatuh ketangan mereka dari pada jatuh ke tangan orang lain. Karena meski sudah berada dalam usia awal 40an, Elizabeth masih begitu cantik dan masih punya peluang besar untuk membuat lawan jenis tertarik.


Dia harus menyelamatkan kekayaan yang menjadi hak Eleasha.


Jadi Marco memutuskan berkorban dengan versi dia sendiri, untuk Eleasha dan demi masa depan keturunan mereka.


Awalnya semua berhasil dia kontrol, El yang memang sudah dia bentuk karakter dan pembawaannya selama mereka pacaran untuk tidak dekat atau mempunyai banyak teman baru, masih saja datang padanya sambil memohon untuk kembali.


Kontrolnya masih begitu kuat, sampai kecelakaan yang merenggut nyawa Lana terjadi.


Saat itu tali kekang itu perlahan melonggar, dan pada akhirnya putus tidak bisa lagi disambung dengan cara apapun.


Pria itu lupa, kalau di dunia ini tidak ada tali kekang yang abadi untuk sebuah hati.

__ADS_1


...****************...


Elizabeth hanya diam dengan pandangan lurus kedepan saat putri tunggalnya, memperkenalkan seorang wanita tua yang akan terlihat seperti ibu kandung Eleasha, karena cara wanita itu bertutur dan memperlakukan El terlihat begitu tulus dan tanpa paksaan.


"Sekarang tante tahu, dari mana asal kecantikan wajah kamu, El." Ujar Sonia kemudian tersenyum hangat ke arah Elizabeth yang masih tidak bereaksi apa-apa.


"Saya harap anda bisa cepat pulih"


El merangkul manja tangan wanita tua itu, sambil menatap mamanya "Mamah pasti akan segera pulih, tan. Aku yakin. Kita sama-sama berjuang yah, ma"


Kebahagiaan dan keceriaan suasana itu tiba-tiba tercemar dengan kedatangan sosok tidak di undang apalagi di harapkan oleh keluarga ini.


Arya Satya terlihat kewalahan menghadapi sosok itu bersama antek-anteknya.


Mereka bahkan membuat Yasmin menangis histeris, dan pak Udin bahkan didorong sampai tersungkur dilantai karena mencoba menghalangi mereka masuk.


El menatap tajam sosok yang saat ini sedang tersenyum manis kearahnya, sosok yang kemudian sudah melangkah maju melewatinya dan menunduk untuk mendaratkan sebuah kecupan pada kening sang mama yang tidak ada reaksi apapun.


"Lo mau apa kesini?"


Marco berdecak masih dengan senyuman iblis yang tercetak di wajahnya, "nggak sopan banget sih, anak gadis cantik papa ini" ucapnya masih dengan senyuman.


Eleasha mengepalkan tangan kuat, merasa ingin sekali mengeluarkan isi perutnya saat mendengar perkataan pria iblis itu.


El maju mendorong tubuh pria itu menjauh dari sang mama, Arya Satya kemudian mengambil posisi tepat di samping Eleasha.


Melihat perlawanan yang mengharukan itu, Marco bertepuk tangan dengan khidmat sambil berjalan mondar mandir dengan langkah pelan di depan Eleasha.


Anak buahnya yang ada sekitar 8 orang ikut bertepuk tangan, membuat suasana menjadi bising karena mereka juga berteriak seperti suporter bola.


"Gue tanya sekali lagi, ngapain lo kesini?"


Marco menatap Eleasha, dia maju tapi langsung dihalangi oleh Arya Satya sehingga langkahnya seketika berhenti.


Pria itu berdecih saat menatap Bodyguard sialan didepannya.


Tapi kemudian pria itu tersenyum lagi saat fokus matanya kembali pada Eleasha, "Yang sopan dong kalo ngomong sama papa"


"Lo bukan papa gue"


"Tapi aku masih suami sah dari mama kamu, itu artinya kamu itu anak aku"


Marco berjalan mendekat kearah wanita yang duduk diam tanpa ada gerakan apapun sejak tadi, wanita yang keras kepalanya menurun ke Eleasha.


Eleasha pasti mendapatkan sifat keras kepala dan pembangkang dari wanita itu, lihat saja meski sudah dihancurkan sampai remuk Elizabeth tetap bertahan meski harus hidup seperti mayat hidup.


Sayang sekali.

__ADS_1


Seharusnya dia mati saat ada kesempatan untuk itu, daripada tetap hidup tapi seperti orang mati.


"Papa mau bawa mama kembali kerumah kami"


Mata El membelalak "Nggak!!" Serunya sambil kembali menghalangi Marco.


"Kamu juga bisa ikut tingal bersama kami kalo kamu mau"


"Gue nggak sudi!!"


Tawa Marco pecah melihat El yang sudah seperti orang kehilangan harapan tapi masih tetap mau terus berjuang.


"Eleasha Jemira Salamo, ini istri saya dan masih tanggung jawab saya"


El bergidik ngeri, saat Marco menyematkan marga pria itu pada namanya, El amat sangat tahu kalau si brengsek itu pasti sangat senang melakukannya dan pasti memang dia sengaja.


Karena memang sudah sejak lama Marco ingin menyematkan marganya untuk Eleasha, tapi karena harus berkorban demi masa depan keturunan mereka, pria ini harus rela menunggu lebih lama untuk hal itu.


Dan saat kesempatan itu datang, meskipun secara tidak resmi dia tidak bisa untuk tidak menyematkannya.


"Lo jangan gila yah? Selama ini lo kemana aja pas mama koma? Kenapa datang saat mama sudah jauh lebih baik, dan dengan nggak tahu dirinya lo bilang mau bawa mama"


Rasanya pria itu ingin sekali membungkam mulut Eleasha, mungkin dengan satu ciuman panas kalau saja dia tidak dikelilingi oleh orang-orangnya. Termasuk ibu dari Vio Lana Wijaya, yang langsung bergerak cepat sesuai dengan prediksinya dan pertimbangannya.


Gotcha...


Pria itu menatap wanita tua yang juga sedang menatapnya dengan tatapan tajam, sejak tadi dia hanya diam sambil terus memegang kursi roda yang diduduki Elizabeth.


Sebenarnya keluarga Lana adalah prediksinya yang salah, Marco sangat berharap wanita tua ini akan membenci El sampai mati, seperti sinetron di TV atau logika manusia.


Tapi siapa sangka yang terjadi justru keluarga korban ini mau memaafkan bahkan membangun hubungan baik dengan si penyebab kematian putri dan kakak mereka.


Terdengar sangat lucu dan tidak mungkin, tapi itulah kenyataannya.


Karena tidak ada satupun manusia di dunia ini yang bisa memprediksikan hati seseorang.


"Ah anda pasti ibunya Lana bukan? Kebetulan kita bertemu disini, saya baru saja menjadi pemilik kediaman anda" Katanya lembut dan senyuman lebar.


Marco menatap El yang terlihat akan memakannya hidup-hidup, tapi setajam apapun tatapan gadis itu atau seberapa banyak rasa benci yang coba gadis itu tunjukan untuknya tetap saja semua hal yang dilakukan Eleasha terlihat menggemaskan dimatanya.


"Putri cantik papa, kamu juga bisa ajak ibu Lana ini kalau kamu mau. Pintu rumah kami terbuka lebar untuknya"


Pria itu kemudian berjongkok didepan Elizabeth, mengulurkan tangan untuk mengelus lembut pipi tirus wanita itu. Sambil tersenyum dia berkata,


"Sayang ayo kita pulang kerumah"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2