
...****************...
"En? En lo dengar nggak?!"
Kayden mengerjab, dia menatap Elisa yang juga sedang menatapnya dengan tatapan kesal.
"Lo lagi mikirin apa sih? Eleasha yah?"
En berdehem, mengatur posisi duduknya "Menangis tanpa suara itu pasti sakitnya luar biasa" gumam pria itu seperti untuk dirinya sendiri
Elisa mendengus, tersenyum sinis "Lo lupa dia penyebab Lana meninggal?! Dia yang merebut calon istri lo, walaupun bukan dia yang menyetir tapi fakta kalau anak yang menyetir itu adalah fans beratnya, secara nggak langsung Eleasha juga adalah pembunuh Lana"
Kayden terdiam, kenyataan itu lagi-lagi menamparnya keras. Pria itu tanpa sadar sudah mengepalkan tangan dengan erat. Fakta kalau (mungkin) Eleasha yang juga sebenarnya dibalik kemudi pada saat itu kemudian menggoyak hatinya.
Elisa yang baru mengecek handphonenya mendengus kesal, " Dia ini hobby banget masuk rumah sakit, dan mirisnya suami gue selalu saja ada disana untuk dia"
Kayden menatap sepupu kesayangannya itu, raut wajah Elisa saat ini sangat jauh berbeda dengan raut wajah beberapa waktu yang lalu. Dulu Kayden akan menemukan banyak kesedihan, kesakitan di sana tapi sekarang? Raut wajah Elisa terlihat biasa- biasa saja. Seperti sudah terbiasa dengan ini semua. Dan hal itu jelas saja sangat meresahkan.
"Gue jadi pengen tau gimana kalau dia menghilang selamanya dari dunia ini, apa suami gue juga akan ikutan menghilang juga?"
En menatap Elisa "apa maksudnya? Lo...."
Elisa tersenyum membalas tatapan En "Gue ingin dia menghilang dari hidup gue. Gue benci dia karena sejak awal dengan jahatnya dia buat gue jadi serep. Dia buat gue jadi bayang-bayang, dia buat gue terus menunggu untuk sesuatu hal yang seharusnya gue miliki"
Kayden mengerjab, tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan. Entah kenapa dia seperti sedang berkaca saat ini. Pancaran kebencian itu, aura pekat itu dan pikiran negativ itu. Semuanya ada padanya juga dulu dan semua hal itu ditujukan pada Eleasha Halim seorang. Dan apakah ini sebuah hal yang berbahaya? Semoga saja tidak.
...----------------...
"Lo bandel banget, terlambat dikit aja say good bye to iklan atau BA yang melibatkan kaki" Ed meletakkan kembali peralatan medisnya di atas meja instrumen. Menatap kesal kearah gadis yang sejak tadi hanya diam tanpa suara sedikitpun. Dan En tahu kalau gadis itu pasti sedang tidak baik-baik saja.
Pria itu menghembuskan nafas, mengusap lembut puncak kepala El penuh sayang. Dia ingin meminta gadis itu untuk menceritakan segala yang menghimpit di dada, segala hal yang merebut sukacitanya. Walau sebagian besar sudah dia ketahui tapi El tetap membutuhkan pelepasan, membutuhkan telinga untuk mendengar segala unek-uneknya. Dan sepertinya Ed harus bersabar, dia tidak boleh memaksakan kehendaknya.
"Istirahat dulu disini dua atau tiga hari. Nggak usah mikirin apa yang nggak perlu." Ucap Ed kemudian berjalan keluar ruangan.
"Gimana Elisa? Lo udah jemput dia?"
Langkah Eduard terhenti, tanpa sadar pria itu sudah mengepalkan tangan. Kenapa dari begitu banyak pertanyaan yang ada, harus hal itu yang keluar dari mulut Eleasha pertama kali?
__ADS_1
"Udah" Jawab Ed singkat tanpa membalikkan badan
"Bohong"
Ed menghembuskan nafas, kemudian berbalik menatap gadis yang sedang terbaring diatas ranjang rumah sakit.
"Gue memang yang minta dia tinggal di rumah papa untuk sementara"
"Kenapa? Karena gue?"
Eleasha memang satu-satunya manusia didunia ini yang bisa membaca dengan jelas apa yang sedang dia pikir ataupun simpan rapat sendiri. Tapi El biasanya tidak sepenasaran ini.
"Kata siapa karena lo?" Ed memutuskan untuk tidak menjawab dan memilih untuk melontarkan pertanyaan balik.
"Ya... gue nggak buta Ed, biar gimana pun Elo itu udah nikah. Dan karena gue, karena semua masalah gue... lo terpaksa menomor duakan keluarga"
Ed ingin mengeluarkan sebuah penyanggahan tapi perkataan El langsung membuatnya bungkam.
"Elisa itu perempuan sama kayak gue. Dia juga bisa sakit karena merasa diduakan karena kedekatan kita"
"Kedekatan kita kan karena....jangan maksa untuk bangun, lo perlu istirahat!!" Ed berteriak protes saat dia melihat El berancang-ancang untuk bangun.
"Selama ini gue udah bersikap egois dengan melibatkan lo pada semua hal dalam hidup gue, walaupun gue tau lo udah nikah gue tetap lari ke lo tiap kali ada masalah"
Gadis itu menunduk sambil meremas tangannya, ada sesuatu dihatinya yang terasa sakit dan nyeri, tadinya dia ingin tetap masa bodoh, dia ingin terus berada di zona nyaman dengan adanya Ed didalamnya. Tapi sejak kepulangannya dari rumah sang mama, dia sudah memikirkan semuanya dan meski terasa berat dia akhirnya mengambil keputusan untuk melepaskan peganggan Ed dari hidupnya.
"Eduard Erasmus Santoso" El mendongkak kembali menatap Ed dengan mata berkaca-kaca "Sekarang lo bebas dari semua tanggung jawab atas gue, sekarang waktunya lo untuk kehidupan lo sendiri, untuk keluarga lo"
Gadis itu mencoba tersenyum walaupun terasa berat, "Maaf karena sudah membuat lo mengambil tanggung jawab yang seharusnya nggak lo pikul"
"El....."
"Jangan datang terlalu cepat saat gue minta lo datang, jangan kasih gue semua waktu yang lo punya saat gue minta. Dan Jangan menomor satukan gue lagi Ed"
...----------------...
"Bisa-bisanya mereka opname di sana dan bukan di sini" Kayden meremas berkas ditangannya.
__ADS_1
Jerome hanya bisa menutup rapat mulutnya, sama sekali tidak ingin berkomentar.
"Keterlaluan" geram En. Tangannya benar-benar sudah gatal untuk melayangkan pukulan pada wajah Eduard.
"Siapin mobil," pria itu tiba-tiba menggeleng "nggak. Biar gue aja. Lo bisa naik taxi online, atau telepon pak Suryo kalo mau balik" ucapnya sambil mengangkat tangan tepat di depan wajah Jerome.
Pria berkacamata itu mendengus kemudian segera mengeluarkan kunci mobil dari dalam saku Jasnya. "Jangan bilang lo mau ke Medistra yah?"
En hanya menyeringai "Menjenguk aktris yang berada di bawah naungan Agensi, adalah sesuatu yang seharusnya kan?" Jawabnya kemudian berlalu pergi, meninggalkan Jerome yang hanya bisa memutar mata dengan perasaan dongkol.
"Akh....telpon Jordan, minta dia nyusul gue di Medistra" Titah sang CEO sebelum menghilang di belokkan koridor.
Ngapain panggil Jordan? Dia mau main keroyokkan di rumah sakit orang? Batin Jerome, tapi dengan sigap dia sudah mengeluarkan handphone dan melakukan sesuai perintah sang boss.
...----------------...
Ed membenturkan kepalanya beberapa kali di setir, rasanya seperti akan meledak kepalanya dan juga hatinya. Pria ini memang akan sudah berencana menjemput istrinya, tapi dia sama sekali tidak menyangka akan di dorong keluar secara paksa oleh gadis yang juga disayanginya.
Selayaknya seorang kakak, Ed hanya ingin melihat Eleasha bahagia. Bertemu orang yang tepat, yang akan bertanggung jawab pada hidup gadis itu sampai nanti, sampai mati.
Tapi apa mungkin dia memang sudah begitu keterlaluan? Apa keinginan untuk mencari yang terbaik itu malah membuatnya seperti terobsesi sampai seperti yang dikatakan El, kalau dia telah menomorduakan keluarganya, dalam hal ini adalah Elisa Santoso, istrinya.
Ed mengangkat wajahnya dari setir, duduk bersadar di sandaran Jok mobil, mata itu menatap rumah besar didepannya. Rumah tempat Elisa, istrinya selama ini mengasingkan diri. Pria itu menghembuskan nafas beberapa kali sebelum memutuskan untuk keluar dari mobil dan segera menemui istrinya.
...----------------...
El tersenyum miris, menatap layar ponsel ditangannya. Gadis itu menekan layar saat telpon pintar itu meminta sebuah persetujuan.
Ada yang kosong di hatinya, dan dia sangat tahu hal apa itu.
Dia dengan kesadaran penuh dan dengan kedua tangannya sendiri sudah mendorong seseorang yang paling berharga dalam hidupnya keluar, seseorang yang paling tau, paling dekat, paling mengerti dan satu-satunya yang tersisa dan dari masa kecilnya.
Gadis itu mengerjab, membuat air mata yang menumpuk dipelupuk mata jatuh membasahi layar handphone, yang menunjukkan permintaan untuk mengisi nomor panggilan cepat 1. Dia baru saja menghapus no panggilan cepat 1 yang tadinya di isi dengan nomor telpon Ed, membiarkannya kosong karena gadis ini juga tidak yakin akan ada yang bisa menggantikan posisi Ed di setiap bagian dalam hidupnya.
...----------------...
Terima kasih sudah menunggu
__ADS_1
TBC