EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Dress berwarna soft lilac


__ADS_3

...----------------...


"Lo bilang apa? Cerai?"


Elisa mengangguk dengan mata basah, entah sudah berapa kali dia menangis hari ini. Hari ketiga sejak hari Eduard datang padanya, kemudian dengan tidak berperasaannya meninggalkannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan atau membela diri.


"Kenapa bisa El?" Kayden menghampiri adik sepupunya itu kemudian memeluknya erat. Rasanya baru kemarin Kayden melihat adiknya ini tersenyum bahagia saat memberitahu pada En dan Jerome kalau dia akan segera menikah dengan kekasihnya. Rasanya baru kemarin melihat gadis itu merona malo saat mendeskripsikan pria yang merebut hatinya itu.


"Dia udah kasih gue jawaban, dan pada akhirnya dia nggak milih gue" air mata gadis itu kembali membasahi pipinya. "Gue benci mereka En, gue benci!!" Elisa terisak dipelukkan Kayden. Kata 'mereka' yang diucapkan Elisa sudah lebih dari cukup untuk mengetahui siapa saja yang dimaksud oleh adik sepupunya ini.


Pria itu menatap Jerome yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk. Jerome hanya menggeleng pelan. Sama sekali tidak tau kalau hal ini akan terjadi.


Kayden kembali fokus pada Elisa, dia mengusap punggung gadis kesayangannya itu lembut "Gue tau ini sebuah kesalahan tapi kalau memang ini yang dia mau, jangan coba untuk tetap bertahan El. Suatu hubungan nggak akan pernah berjalan kalau hanya melibatkan satu pihak saja"


...----------------...


Kayden memasuki halaman rumah asri yang begitu familiar untuknya. Tempat dia banyak mengabiskan waktu, tempat yang sudah dia anggap sebagai rumah untuk pulang.


Bertahun-tahun menghabiskan waktu disini, membuatnya bisa menghafal diluar kepala setiap sudut rumah ini. Setiap bagian yang ada di tempat ini.


Saat hendak masuk kedalam rumah, perhatian Kayden teralihkan pada bagian pintu kecil di samping rumah yang terbuka, hal itu jelas bukanlah hal yang biasa karena selama ini pintu kecil disamping rumah ini tidak pernah dibiarkan terbuka. Rasa penasaran Kayden membawanya berjalan masuk ke sana, pada pintu yang akan terhubung dengan halaman belakang.


Kayden menikmati setiap langkah, sambil kembali mengenang memori yang terekam di kepala tentang tempat yang sedang dia telusuri ini.


Sebuah lorong dengan lebar tidak lebih dari 1 meter, di samping kanan menjulang tinggi pagar rumah yang juga dihiasi dengan beberapa macam bunga koleksi mama Sonia. Di samping kiri ada bagunan rumah dengan dinding berwarna gelap.


Panjang lorong ini sekitar dari 5-6 meter, diujung nanti sudah menanti halaman belakang rumah yang lumayan luas, dipenuhi dengan rumput Jepang. En bisa mengingat dengan begitu detail, karena dia dan Lana biasanya menghabiskan waktu membaca buku, atau tiduran di tikar yang di gelar diatas rumput sambil menikmati keindahan sang cakrawala di waktu malam hari. Walaupun beberapa tahun terakhir, menemukan pemandangan jernih lautan bintang di langit Jakarta mulai terasa sulit.


Sepatu fantovel mengkilap pria ini akhirnya menginjak rerumputan. En mengedarkan pandangan, semuanya masih sama kecuali tali jemuran yang penuh dengan beberapa pakaian dan juga kain-kain besar seperti sprei dan taplak meja. Kening En berkerut sejak kapan tali jemuran itu ada disana?


Pria itu memutuskan untuk berjalan mendekat ke arah jemuran, jantungnya berdebar cepat saat matanya bisa melihat siluet tubuh diantara gantungan kain. Hatinya entah kenapa menghangat saat dia bisa mengenali dress itu.


"Lana?" Panggil En, dia bisa mengenali sosok tunangannya hanya dalam sekali lihat. Dia sangat ahli dalam hal itu. Apalagi dress pemberiannya memang selalu pas membalut tubuh Lana.

__ADS_1


Pria itu menyibakkan kain yang tergantung pada tali jemuran, En maju berjalan mendekat. Seketika kehilangan akal sehat, entah kenapa dalam sekejab dia melupakkan fakta kalau Lana sudah tidak ada lagi.


"La..." ucapan pria ini tertelan kembali, dia tidak dapat melanjutkan saat menyadari siapa yang sedang berdiri didepannya.


Pria itu mengerjab. Berharap penglihatannya salah. Tapi berapa kalipun dia menutup mata, saat dia membukanya kembali sosok didepannya saat ini bukanlah Lana.


"Ngapain kamu disini? Dan kenapa..." pria itu kesulitan untuk bicara, darahnya tiba-tiba mendidih. Amarah yang akhir-akhir ini bisa dia tahan mendadak tak bisa lagi di kendalikan. Dinding yang berhasil dia bangun untuk meredam, runtuh sudah. Gadis ini sudah melewati batas.


"Ini...saya tadi..."


"Psikopat!"


El tersentak, dia menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya.


"Mau rebut apa lagi dari Lana?!! Nggak puas sudah rebut hidupnya? Sudah rebut perhatian keluarganya? Masih menginginkan barang-barang dia juga?" Tanya pria itu dengan nada membentak.


El mengerjab, matanya tiba-tiba terasa panas. Gadis itu menarik nafas kemudian menghembuskannya, mencoba membuat ruang untuk dadanya yang terasa sesak.


El kemudian memutuskan untuk tetap melanjutkan kegiatannya menjemur pakaian yang hanya tinggal beberapa potong lagi. Tidak ada gunanya mencoba menjelaskan, pria itu tidak akan pernah mencoba mengerti.


"Apa kamu pikir ini lelucon? Kamu senang memakai barang orang yang kamu bunuh? Kamu pikir saya senang melihat kamu memakai pakaian Lana, dirumah Lana dan melakukan apa yang Lana lakukan?!"


El menggingit bibir, mati-matian menahan diri, mati-matian mengingatkan hati dan pikirannya untuk pasrah dengan semua hal menyakitkan yang keluar dari mulut pria itu.


Gadis itu sama sekali tidak bergeming, hanya diam di posisinya yang membelakangi pria itu.


"Setelah berhasil merebut Lana dari saya, kamu juga merebut Eduard dari Elisa. Belum puas dengan itu kamu sekarang mau bertingkah seperti Lana? Supaya apa? Apa kamu sebegitu terobsesinya dengan tunangan saya? Hah?!"


Kayden menatap gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dress berwarna soft lilac itu adalah hadiah anniversary hubungan mereka 2 tahun lalu. Lana yang waktu itu sedang tergila-gila dengan drakor, yang setiap curhatannya mengandung unsur alur drama yang sedang dia tonton, membuat En menghadiahi gadis itu dengan selusin dress Korea yang dibeli langsung dari sana.


Lana memang sempat memprotes, tapi di kencan mereka selanjutnya gadis itu tetap memakai dress pemberiannya, dress model baby doll berwarna soft lilac yang membalut sempurna tubuh Lana. Dress itu menampilkan dengan sangat baik lengkungan pinggang proposional milik Lana, terlihat begitu pas ditubuh tunangannya seakan dress itu memang di rancang untuk gadis itu.


Dan entah kenapa En semakin terbakar amarah karena dress cantik itu tidak membalut sempurna seperti saat dipakai Lana. Kali ini dress itu begitu longgar ditubuh El. Sangat terlihat dipaksakan.

__ADS_1


"Buka bajunya!" Perintah En dengan suara keras.


El menutup mata, baju setengah kering dalam genggamannya jatuh di rerumputan. Gadis itu refleks mencengkram bagian depan gaun yang saat ini dia pakai. Merasa menyesal karena sudah menerima tawaran dari tante Sonia. Seharusnya dia memang lebih peka dengan perasaan keluarga Lana. Biar bagaimanapun dia adalah penyebab Lana pergi, seharusnya dia lebih tahu diri.


Melihat gadis itu tidak juga bereaksi dengan ucapannya, ego pria ini tersayat. Dengan cepat dia berjalan mendekati El, menarik kain bagian lengan dress itu, awalnya hanya ingin memberikan gertakkan biasa tapi yang terjadi nyatanya diluar ekspetasi.


Gaun itu robek, terbelah lumayan besar sehingga menampilkan bagian dada gadis itu. En terpana. Membeku sepersekian detik dan kemudian dengan cepat membuang muka.


Sementara El refleks menyilangkan tangannya di depan dada. Tidak tahu harus melakukan apa. Dia ingin sekali menampar pria itu tapi bagian dadanya yang sekarang sebagian terbuka dan mengekspose bra merah yang dia pakai karena kerusakan pada dress milik Lana ini membuatnya memilih untuk tetap diam.


Gadis itu gemetaran menahan rasa marah, malu dan terhina.


Keheningan mendominasi sampai sebuah sprai tiba-tiba membungkus tubuh El, seprai yang masih setengah kering ini pasti diambil dari keranjang tempat cucian yang belum di gantung.


"Mas En ini kenapa sih?" Leo berdiri tepat di belakang El, sengaja menghalangi gadis itu dari pria didepannya. "Ini sudah keterlaluan"


Kayden menatap Leo tajam. Pria ini ingin meneriakkan pada adik tunangannya itu kalau mereka yang sudah keterlaluan karena membela pembunuh Lana. Tapi pada akhirnya dia menelan semua yang ingin dia teriakkan. Dan memilih membuang muka tanpa satu kata pun.


"Bukan El yang mau pakai baju mbak Lana, tadinya dia mau pakai kaos aku. Tapi mama nggak ngijinin" Leo membeo, mengeluarkan semua informasi yang Kayden tidak tahu.


Setelah selesai dengan informasi itu, Leo menuntun El yang masih syok masuk kedalam rumah. Meninggalkan En sendiri dengan perasaan yang campur aduk.


...----------------...


haiiiiii...... maaf Upnya lama😅


padahal sudah janji untuk sering upload.


Saya lagi berusaha membagi waktu dengan dunia nyata, dan ternyata nggak segampang yang dibayangkan.


maaf sudah membuat menunggu, dan mau bilang terima kasih karena masih menunggu


with Love💛

__ADS_1


Rhans


__ADS_2