
"Aku kangen banget lho sama kakak, kalo Kakak kangen aku juga nggak?"
El mengingit bibirnya kuat, gadis itu gemetar ketakutan. Dia bahkan hampir menangis sekarang.
"Nggak yah? Ka El nggak kangen aku karena selama aku di penjara kakak nggak pernah tuh, jenguk aku. Padahal aku nungguin lho"
Air mata El sudah jatuh membasahi pipi, rasa takut dan benci juga kejadian mengerikan waktu itu membaur menjadi satu. El terisak hatinya begitu kelabu, ia sama sekali tidak bisa menentukan mana yang lebih mendominasi sekarang
"Wahhhh.... Ka El nangis pas lihat aku? kenapa? Aku nggak apa-apa meski nggak di jenguk kok, aku nggak apa-apa harus masuk penjara buat gantiin posisi kak El." Pria itu tersenyum tapi sedetik kemudian senyuman itu hilang. Wajahnya berubah datar.
Lelaki itu dengan cepat berjalan mendekat kearah El, dia kemudian berjongkok mengulurkan tangan untuk meraih wajah cantik itu yang langsung dengan cepat ditepis oleh El.
"Aku juga nggak apa-apa kak El tolak seperti ini.....tapi aku sama sekali nggak suka kalau kak El dekat dengan pria lain" Tangannya dengan cepat mencekram rambut Eleasha, membuat gadis itu menjerit kesakitan.
"Aku udah bilang kan? ka El itu segalanya buat aku"
El menutup mata menahan rasa sakit yang tercipta dari cengkraman pria itu di rambutnya. Kenapa dalam hidupnya dia dikelilingi pria-pria mengerikan seperti ini?
belum sebulan kejadian penculikan yang dilakukan Marco, dan hari ini dia terjebak dengan fans gila yang bahkan tidak lagi segan menyakitinya.
"Dan lucunya pacar kakak itu calon suami dari korban tabrakan itu yah? Kok bisa sih? Apa kakak deketin dia karena rasa bersalah?" Armon melepas cengkramannya saat melihat El mulai menangis. Air mata gadis itu adalah kelemahannya.
Armon berdiri tidak lupa membawa El untuk ikut berdiri. Ia tahu El gemetar tidak sanggup untuk berdiri lama, karenanya Armon membantu gadis itu untuk berjalan menuju ranjang dan memastikan gadis itu duduk dengan aman.
El berusaha tenang, memutuskan untuk mengikuti permainan pria gila ini. Tidak ada cara lain selain bertindak kooperatif sementara otaknya berpikir bagaimana bisa lepas dan keluar dari sini dengan selamat.
Armon tersenyum saat melihat gadis didepannya ini mulai tenang, bahkan saat dia mengulurkan tangan untuk menyeka air mata di pipi gadis itu tidak menepis tangannya atau mencoba menghindar.
"Aku kangen banget sama ka El, rasanya waktu di penjara pengen kabur tapi untung aja aku ternyata cepat keluar"
El diam-diam melirik guci berukuran sedang diatas nakas tempat tidurnya, guci dari keramik asal Yogjakarta itu menjadi satu-satunya yang mungkin bisa membantunya melarikan diri dari situasi ini.
"m..aaf..." El berucap pelan dan bergetar, dia merutuki dirinya yang entah kenapa kesulitan berakting baik-baik saja sekarang.
Armon tersenyum senang, perasaan bahagia itu menjalar begitu cepat. Pria itu menunduk sambil tersenyum lebar dia sama sekali tidak menyangka wanita yang digilainya setengah mati ini akan mengucapkan satu kata tanpa dibumbui dengan emosi, tidak percuma perjuangannya selama ini menunggu gadis itu di apartemen kosong ini. Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang kalau jodoh itu nggak akan kemana, jodoh itu akan datang dengan sendirinya asalkan kalian mau lebih sabar menunggu.
prang!!!!
"Ma..af" Eleasha tergagap, tangannya yang baru saja menghantamkan guci keramik di kepala Armon bergetar hebat tapi gadis itu memaksa dirinya untuk segera pulih. Tanpa menunggu lagi El segera berlari kearah pintu, dengan sekuat tenaga berusaha mencapai pintu apartemen utama yang entah kenapa sekarang terasa begitu jauh meski dia sudah mengerakan seluruh tenaganya untuk berlari.
El hampir mencapai pintu saat tangan Armon mencengkram rambutnya kuat kemudian menariknya kembali masuk kedalam kamar.
...****************...
Kayden mengusap wajahnya berkali-kali. Tanpa sadar dia sudah membawa mobilnya berhenti di parkiran apartemen debut Eleasha. Pikirannya terus menerus membantah kalau dia merindukan gadis itu, tapi justru alam bawah sadarnya yang mengambil alih tindakannya.
Pria itu menengadah menatap gedung apartemen itu lewat kaca depan mobilnya, pria itu teringat lagi hari-hari yang dia lewati bersama El, bukan rentang waktu yang panjang tapi entah kenapa dia ingin kembali di masa itu.
Elisa benar, nampaknya dia sudah diguna-guna. Kayden menghembuskan nafas, bukankah dia harus menemui gadis itu? Untuk bertanya guna-guna apa yang dia pakai, dan bagaimana cara melepaskan diri dari hal itu.
Kayden tersenyum setengah, itu tentu sebuah alasan yang kuat karena jelas hal itu berbahaya untuk dirinya dan tidak bisa dibiarkan.
Ia bergerak turun dari mobil saat sebuah dorongan kuat dari luar membuat pintu mobil yang baru saja dia buka tertutup kembali.
Kayden dengan cepat memutar kepala mencari tahu siapa manusia kurang ajar yang berani semena-mena pada mobil mahalnya ini.
__ADS_1
Eduard menatap tajam ke arah pria yang berada di dalam mobil yang juga sedang menatapnya sama tajamnya.
rasanya ingin sekali menendang mobil ini kalau saja dia punya seperempat kekayaan seperti pria itu, untunglah akal sehatnya masih berfungsi dengan baik sehingga dia tidak perlu mengganti rugi kerusakan sebuah L**amborghini.
Pintu mobil itu kembali terbuka, Kayden keluar dari sana dan segera mengokohkan diri didepan pria yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan sepupu iparnya.
"Nggak ada kerjaan banget seorang dokter bedah nomor satu malah asik keluyuran begini"
Ed tersenyum "Lebih nggak ada kerjaan mana, seorang CEO yang punya banyak anak perusahaan tapi kayak anak ayam kehilangan induk di jalanan, kesasar di tempat yang nggak seharusnya dia datangi"
Kayden mendengus "memang ada hukumnya tempat ini nggak boleh gue datangi?"
Mata Ed berkilat dia maju, mempersempit jarak keduanya "Jangan coba-coba deketin El lagi, gue nggak akan biarin lo dekatin dia seinchipun"
Kayden terbahak, mendorong pria itu menjauh darinya " Status lo aja masih laki orang dan dengan nggak tahu malunya lo ngelarang gue buat dekat dengan cewek yang bukan siapa-siapanya elo.... Ini lucu banget"
"Cewek yang lo bilang bukan siapa-siapanya gue itu, lahir dihari yang sama, tumbuh besar bersama bahkan dipercayakan untuk gue jaga"
Rahang Kayden mengeras, entah kenapa dia benci dengan fakta itu, ia kemudian berdecih menunjukan wajah songong ciri khasnya "Kalo untuk lo jaga, ya kenapa lo malah nikah sama orang lain BRENGSEK!!!!" kata terakhir Kayden menggelegar diiringi dengan tatapan marah dari sepasang monolid itu.
Eduard balas menatap dengan tatapan yang tidak kalah tajamnya " Karena itu cara gue jaga dia, Brengsek!!! Karena dengan begitu hubungan kami nggak akan pernah ada kata berakhir"
Kayden menyeringai, dia sudah tidak tahan lagi dengan omong kosong pria brengsek ini. Sebuah pukulan dia layangkan ke wajah Eduard, pukulan kedua menyusul beberapa saat kemudian membuat Eduard tersungkur di lantai beton parkiran bagian luar gedung apartemen.
Kayden sama sekali tidak ingin berhenti, dia mendekat meraih kerah baju Eduard, melayangkan sebuah pukulan lagi. Dia sangat marah membayangkan Eduard dengan sadar memutuskan menikahi Elisa sepupunya, lalu membiarkan Eleasha tanpa sadar terus mencari pria itu karena Ed ternyata memang dengan sengaja membuat dirinya menjadi tempat untuk gadis itu pulang, menjadi sosok yang selalu El andalkan sejak dulu.
"Lo bukan laki, lo banci.Lo nggak berani ambil resiko. Jangan coba membenarkan alasan yang lo buat itu, karena dengan lo ambil keputusan menikah itu artinya lo dengan sadar dan tau kalau akan ada dua orang yang terluka. Eleasha dan Elisa!!"
Kayden mendorong tubuh Ed kembali ke lantai beton parkiran, dia mati-matian menahan diri untuk tidak melayangkan pukulan lagi. Wajah Eduard sudah babak belur karena pria itu sama sekali tidak melakukan perlawanan terhadapnya.
Amarah Kayden masih menguasai seluruh aliran darahnya, membayangkan laki-laki yang dulu meminta ijin menikahi sepupu kesayangannya itu ternyata dengan sadar mengambil keputusan tersebut dan secara sadar juga tidak mau melepaskan pegangan dari gadis lain yang dalam hal ini, adalah Eleasha yang mulai merebut perhatiannya akhir-akhir ini.
"Brengsek!!" Teriaknya tapi dengan posisi yang membelakangi Eduard, demi Tuhan dia benci melihat wajah pria itu sekarang, kalau bukan karena Elisa dan Eleasha yang menganggap Eduard adalah hal penting dalam hidup mereka, sudah sejak tadi dia ingin menabrak pria itu dengan Lamborghini miliknya.
Eduard menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya yang pecah, dia meludah beberapa kali karena rasa karat yang memenuhi mulut.
Bukan hanya bagian wajah atau tubuhnya yang sakit, hatinya juga.
dia mendongkak menatap punggung Kayden, ia sama sekali tidak memungkiri semua hal yang diteriakan En padanya, semuanya benar. Dia memang brengsek.
Dia yang mengikat Elisa tanpa pernah melepaskan pegangan pada Eleasha.
Jika ada kata yang lebih buruk dari brengsek, maka itu sangat pantas ditujukan untuknya. Eduard mengepalkan tangan, merasa kalah dan pengecut tapi dia sama sekali tidak bisa rela jika El bersama pria itu dan harus berpura-pura seumur hidup.
Karenanya tanpa banyak berpikir, lagi Ed langsung berucap cepat saat Kayden berancang-ancang masuk kedalam gedung.
"Kecelakaan waktu itu, yang menewaskan Lana...."
Langkah kaki Kayden langsung terhenti.
Eduard menelan ludah yang terasa seperti batu " Yang dibalik kemudi saat itu adalah El, dan bukan si bocah gila itu"
Kayden dengan cepat berbalik, kembali menyerang Eduard yang memang sudah pasrah jika akan dihabisi.
"Lo bilang apa brengsek?!"
__ADS_1
"El yang bawa mobil, El yang sebenarnya nabrak Lana walau nggak disengaja karena si bocah gila itu coba lecehin dia setelah berhasil masuk diam-diam di mobilnya"
Seperti ada petir yang menyambar diatas kepala Kayden, cengkraman kuat pria itu di kerah baju Ed terlepas tatapan penuh amarahnya berubah menjadi kosong. Kenapa disaat hati dan pikirannya sudah menerima gadis itu, fakta ini harus datang padanya? Dan kenapa dia harus sekaget ini? bukankah ini yang dia ingin dengar sejak dulu? Karena inilah keyakinanya selama ini, tentu saja sebelum menjadi lebih dekat dengan Eleasha.
"Marco menaruh obat tidur di minuman El, hal itu juga yang menjadi penyebab El kehilangan fokus dan ditambah lagi dengan gangguan dari Armon.....Kecelakaan itu nggak bisa dihindari"
Kayden meremas kedua tangannya kuat "Ceritain semua yang lo tahu, atau gue bunuh lo sekarang juga!!!" Ancamnya dengan mata yang sudah kembali dipenuhi amarah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
El membuka mata perlahan, seluruh tubuhnya terasa remuk. Kepalanya luar biasa sakit dan mata kanannya sulit dibuka lebar.
Gadis itu ingin sekali bangun tapi dia tidak punya kekuatan sama sekali. Bahkan untuk terisak, dia tidak lagi sanggup karena semuanya terasa menyakitkan.
Armon memukulnya secara membabi buta. Tidak hanya memukul, anak laki-laki yang mungkin belum berusia 17 tahun itu beberapa kali menendangnya, membenturkannya ke dinding, bahkan tidak segan mencekik lehernya walau tidak sekuat Kayden dulu.
Anak itu bahkan menarik rambut El sekuat tenaga, sampai El merasa rambutnya akan tercabut semua. Air mata mengalir keluar dari kedua mata, membasahi lantai marmer kamarnya yang dingin dan terdapat beberapa noda darah yang bisa dipastikan berasal darinya dan mungkin dari Armon. Karena pukulan El dengan guci keramik di kepala anak itu merobek bagian kepalanya.
El sekarat, tapi entah kenapa sekarang dia menolak untuk mati. Jelas ini berbeda dari dirinya yang dulu. Dia yang patah karena kenyataan telah merebut nyawa seseorang, dia yang hancur karena kehilangan dua orang tersayangnya sekaligus. Waktu itu dia pernah berpikir untuk mati.
El tersenyum miris saat dalam bayangannya terlintas wajah dari sosok yang beberapa waktu terakhir ini selalu memenuhi pikirannya. Ia ingin menepisnya tapi seakan seluruh oran tubuhnya berkonspirasi menolak karena kenyataannya dia memang merindukan sosok itu, hatinya sangat berharap sosok itu akan menyelamatkannya kali ini seperti saat dia menyelamatkan El saat diculik Marco.
"Tolong datang juga kali ini" bisik gadis itu ditengah rasa sakit yang mendera tubuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Armon menampar wajahnya sendiri, dia lalu memukul dirinya sendiri berkali-kali.
menatap cermin dan kembali memukul dirinya lagi.
"Bego...Bego" ucapnya di tengah-tengah kegiatannya memukul diri sendiri.
Rasa bersalahnya muncul saat melihat Eleasha sudah tergeletak tak sadarkan diri dilantai karena sudah dia buat babak belur.
Wajah cantik itu penuh lebam, seluruh tubuhnya juga. Dan yang membuat pria ini sakit hati adalah mata favoritnya itu tidak bisa terbuka karena dia meninju salah satu bagian mata El.
lucu karena dia sakit hati atas hasil perbautannya sendiri.
"Gue harus bawa ka El ke dokter, ta...tapi nanti gue ketangkap polisi..., tapi gue nggak mau ka El mati"
Ting Tong
Armon berhenti sejenak dari pertentangan batinnya, dia kemudian segera keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju monitor di dekat pintu masuk. Dia mengernyit karena tidak bisa mengenali siapa yang sekarang wajahnya terpampang di layar persegi itu.
Ting Tong...
"El? Ini gue Leo. Gue cuma mau anterin ini, masakan mama buat lo."
layar monitor itu mengeluarkan suara dari orang asing yang saat ini berdiri didepan pintu, Armon semakin mengernyit binggung. Dia tidak mengenal pria ini, siapa dia? kenapa terdengar akrab dengan El sampai membawa makanan buatan mamanya untuk El?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**Hai......
.
__ADS_1
.
I hope u like it**