
Eleasha berjalan keluar dari kamar, berniat untuk memasak sesuatu demi rakyat cacing diperutnya yang mulai berdemo. Dia lupa kapan terakhir kali dia menyentuh makan, karena rasa lemas dan keringat dingin juga lambung yang perih sudah seperti sirene ambulans yang memberikan warning.
Sambil meringis El menyeret langkah kearah pantry, dan kakinya langsung terhenti saat melihat sosok yang sering muncul dalam imajinasinya duduk santai di sofa minimalis yang menghadap kearah TV.
Gadis itu tersenyum miris, saking rindunya dia pada sosok itu sampai berkali-kali bayangan pria itu hadir di apartemennya ini.
El melanjutkan langkahnya memutuskan untuk kembali mencari sesuatu yang mengganjal perutnya yang sudah meneriakkan protes sejak tadi.
Dia melewati sosok itu yang kini menatapnya, Halusinasinya kali ini benar-benar parah karena entah kenapa terlihat begitu nyata dan sepertinya dia memang harus segera mengunjungi psikiater seperti saran Eduard, sebelum semua semakin terlambat.
El tidak lagi mempedulikan sosok itu, dia sibuk mencari sesuatu yang bisa dia makan, ia membuka kulkas kemudian beralih membuka lemari makanan dan harus menghembuskan nafas berat dengan rasa kecewa karena ternyata tidak ada yang bisa dia makan.
Alena, Ed dan layanan online adalah penyelamat bagi rakyat cacing dalam perutnya selama ini. Kayden juga berperan penting di detik-detik terakhir, gadis itu mencebik saat mengingat kembali masakan pria itu yang harus dia akui sangat lezat dan belum ada tandingannya. (Kecuali makanan keluarganya, tentu saja.)
Raut wajah El berubah senduh saat kembali mengingat tentang Kayden otomatis memori menyakitkan saat malam itu ikut teringat lagi membuatnya menggelengkan kepala berkali-kali supaya hal itu enyah dan tidak membuat seluruh harinya menjadi berantakan.
Tatapan El bertemu dengan tatapan sosok itu, dia mengerjab beberapa kalo untuk kembali memastikan dan didetik berikutnya gadis itu langsung berteriak histeris karena menyadari bahwa sosok itu memanglah nyata.
"Anda..... sedang apa anda disini? Bagaimana anda bisa masuk?!" Gadis itu segera memasang mode waspada, dia segera lupa dengan rasa lapar yang tadi hampir membuatnya pingsan.
Kayden menyeringai, menyayangkan mode singa yang keluar dari gadis itu saat meyadari kehadirannya. Padahal tadi dia sedang mengamati dan merekam setiap detilnya tentang semua hal dari raga gadis itu, terutama perubahan ekspresi yang sangat menggemaskan dimatanya.
Kayden berdiri mengangkat tangannya, membuat kalung di dalam genggamannya jatuh menjuntai tapi tetap masih dalam pegangan "Sudah saya bilang untuk jangan meninggalkan apapun, kamu pasti sengaja kan? Supaya kamu punya alasan untuk ketemu saya?"
El menatap pria itu tidak percaya dengan kepercayaan diri seorang Kayden Abraham sekarang. "Siapa yang mengizinkan anda masuk?"
"Saya masukin kode password"
"Saya sudah ganti door lock nya, bagaimana bisa anda dapat kode saya yang baru?"
__ADS_1
Seringaian Kayden semakin lebar, "Nomor telpon, tanggal ulang tahun, Nik KTP, plat nomor, tinggi badan, berat badan" tatapan Kayden turun kearah bagian dada El "ukuran bra, saya tahu semua, tanpa terkecuali"
El refleks memeluk tangannya, seakan ingin menghalangi pandangan pria itu. Malam ini dia hanya memakai piyama satin berwarna navy tanpa cardigan.
"Anda bisa taruh kalung itu dimeja, dan tolong segera keluar" Ucap gadis itu tegas, walau jantungnya bergemuruh hebat. Perasaannya campur aduk antara senang, sedih, takut, kecewa semua menjadi satu hanya karena kehadiran pria itu.
Kayden melangkah maju, mati-matian menahan kakinya sekuat tenaga untuk tidak berlari menuju gadis itu "Kamu jangan geer, saya sama sekali tidak terkesan dengan kamu, saya datang bukan untuk itu"
"lalu untuk apa? Bukannya anda bilang waktu itu tidak ingin melihat wajah saya lagi?"
"Saya kesini buat kasih kamu peringatan, seopen minded apapun pemikiran Eduard dia tetap seorang laki-laki, dan kalau dia tahu kita berdua pernah tidur bersama dia pasti nggak akan pernah terima sampe mati"
Eleasha mendengus, merasa sangat kesal dengan pemikiran pria itu. Sampai kapan Kayden akan menganggap dia sebagai perebut Eduard dari Elisa? Apa pria ini tahu bagaimana dia juga berusaha supaya Eduard tetap menjaga pernikahannya? Kenapa di mata pria ini El semurahan itu?
"Sebaiknya anda keluar. Keluar dari rumah saya!"
"Saya akan keluar, asalkan kamu janji untuk tidak mendekati Eduard lagi"
Tapi terkadang kenyataan tidak selalu sesuai ekspektasi, buktinya sendok tebal itu malah mendarat dengan sangat baik di kening Kayden membuat pria itu langsung meringis sambil memegang kening yang terkena lemparan sendok.
El membeku, kebingungan antara ingin mendekati pria itu atau membiarkannya saja.
"Jadi kamu suka main kasar? ok" Kayden seketika maju, mendekati gadis itu dengan langkah panjang.
El langsung berlari menghindar, sebuah bentuk penyelamatan untuk diri sendiri. gadis itu berniat masuk kedalam kamar dan bersembunyi disana tapi sekali lagi takdir seakan bermain-main dengannya, usaha melarikan diri dari Kayden membuat dia tidak sengaja menyenggol guci diatas meja membuat benda dari keramik itu jatuh menghantam lantai dan langsung pecah. Serpihannya berhamburan dilantai, El melangkah tergesah melupakan fakta kalau dia sama sekali tidak memakai sendal karena tadi begitu kelaparan. Kakinya otomatis menginjak sepihan tajam dari guci membuatnya langsung menjerit saat rasa sakit itu terasa.
Kayden dengan cepat menghampiri gadis itu, tangannya meraih tubuh El menahan gadis itu yang sedang limbung karena berdiri hanya diatas satu kaki.
Dan seperti yang sudah dia perkirakan, dengan cepat gadis itu mendorongnya menjauh, menolak bantuannya.
__ADS_1
"Kamu itu memang paling pinter melukai diri sendiri" ucapnya pelan tapi masih tetap siaga di dekat El.
Gadis itu menatapnya tajam, sebelum dengan tertatih berusaha mencapai sofa. El duduk perlahan kemudian mengangkat kakinya yang terluka, sedikit kesulitan melihat lukanya karena rasa sakit dan nyeri semakin mendominasi.
Melihat itu Kayden tidak tahan untuk menekuk sebelah kakinya didekat kaki El, tangannya meraih kaki El yang terluka mengamati secara perlahan dengan kening berkerut.
"Jangan gerak, kamu mau serpihan beling di kaki ini nggak keluar?" Ancam Kayden sambil menahan kaki El yang berusaha gadis itu tarik kembali.
"Pelan-pelan...." Pintanya.
Kayden tersenyum tipis " Kaki kamu bahkan pernah terluka lebih parah dari ini, waktu itu kamu nggak terlihat sakit apalagi protes tuh"
El menatap senewen ke arah pria yang sedang sibuk dengan luka di kakinya, mata gadis itu kemudian terhenti pada kening Kayden yang memerah dan sedikit bengkak. Untunglah sendok itu tidak mengenai mata.
Raut wajah El melunak, tangannya terulur menyentuh memar merah di kening Kayden kemudian mengelusnya pelan "Pasti sakit banget yah?"
Kayden mendongak menatap gadis itu, tangannya naik menggenggam tangan El yang masih mengelus keningnya yang memar "iya, sakit" Jawabnya pelan "Tapi yang paling sakit itu disini" Kayden membawa tangan El dalam genggaman ke bagian dadanya.
"Sakit banget disini, Ly"
Air mata lolos dari kedua mata El, tanpa bisa dia cegah. Ternyata mereka berdua terluka parah dan merasakan sakit di tempat yang sama.
Kayden mengulurkan tangannya menyeka air mata yang membasahi pipi El, pria itu kemudian mengokohkan diri disamping El dengan tubuh yang menghadap gadis itu. Menit demi menit berlalu, keheningan masih mendominasi mereka berdua hanya diam saling menatap satu sama lain.
Kayden yang lebih dulu maju perlahan memutus jarak mereka, dia mengecup pelan sudut bibir Eleasha dengan seluruh rasa yang dia punya. Berharap waktu bisa berhenti disaat ini.
...****************...
Saya senang untuk setiap komen maupun like yang kalian kasih.
__ADS_1
Terima kasih banyak...