EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Seutuhnya, sesungguhnya, dan sebenar-benarnya


__ADS_3

...****************...


Dengan mata basah El menelusuri sudut demi sudut ruangan kamar tempat dia di kurung, berkali-kali dia mencoba membuka pintu tapi percuma, Jendela di kamar ini juga dipasang terali besi, ruang ventilasi kamar mandinya juga sangat kecil.


Marco benar-benar sudah menyusun rencana dengan begitu matang, sampai sekecil pun cela tidak terlihat sama sekali.


El menyeka air mata dengan punggung tangan, dalam pikirannya terlintas lagi wajah pria itu. Sosok bang Kai.


"tolong gue, tolong mama juga..." mohon Eleasha lirih.


...****************...


"Penjagaannya ketat, kayaknya kita perlu lapor polisi supaya dapat ijin untuk menggeledah" Jerome memberi pendapat.


"Memangnya nggak boleh diterobos aja?" Alena menimpali, dia jadi parno saat mendengar kata polisi. Dia sama sekali tidak ingin El semakin jadi bahan pembicaraan satu Indonesia lagi.


"Nggak bisa Na, semua ada prosedurnya. Bisa kena pasal nanti kita"


"Cari tau Developer perumahan ini"


Kayden yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan bersuara.


"Sekarang?"


"Nggak lucu kan kalo tahun depan? ya sekarang lha Jerome! Lo kok jadi makin lalod akhir-akhir ini" ucap Kayden dongkol.


Jerome berdecih "iya bawel" ucapnya kemudian mulai mengutak atik benda saktinya.


Sekarang mereka berada beberapa kilo meter dari pos masuk perumahan, tempat ini sudah menjadi semi hutan karena sudah terbiar. Tapi anehnya pos keamanan tetap diberi petugas jaga.


"Pak satpamnya kayaknya cuma berdua, sedangkan kita ada 3 mobil" Alena bergumam, dia melihat lagi 2 mobil berwarna hitam yang terparkir tepat dibelakang dan depan mobil mereka.


"Hanya dua mobil yang akan masuk, kamu tetap disini. Demi keamanan" Jerome berucap ditengah kesibukannya mencari tahu tentang pengelolah dari perumahan kosong yang akan segera mereka geledah itu.


"Tapi kan......"


"PT. Surya utama, kayak familiar nggak sih?"


Kayden menyeringai "terobos aja, itu salah satu PT milik papa Morgan. akh... kalian berdua disini aja, biar gue sama yang lain yang masuk" pria itu berancang-ancang keluar dari mobil dan bermaksud untuk pindah kesalah satu mobil yang terparkir dekat dengan mobil ini.


"Lo yakin En? Mau terjun langsung nyelamatin? Serahin ke tim juga bakalan beres"


"Jurang terjal aja gue bisa, masa begini doang nggak?"


Tenggorokan Jerome langsung tercekat mendengar balasan Kayden, membuat Alena harus menepuk-nepuk punggungnya supaya bisa kembali normal.


"Sombong amat Lo!" Teriak Jerome pada Kayden yang sudah pindah ke dalam mobil hitam didepan mobil mereka.

__ADS_1


...****************...


"Lepasin gue brengsek!" El berteriak saat Marco menahan tubuhnya, kemudian dengan gerakkan cepat mengikat tangan kiri gadis itu di kepala ranjang. Sedangkan tangan yang di infus dia biarkan bebas.


Pria itu kemudian berjalan mengambil sebuah cairan infus yang baru untuk mengganti yang sementara terpasang karena tinggal sedikit.


"Ini suplai makanan untuk kamu, karena aku terlalu tau kamu nggak akan makan meski aku paksa"


El membuang muka malas untuk menatap wajah itu. Marco bukan orang awam di dunia medis, mengingat dia pernah kuliah kedokteran tapi berhenti di tengah jalan.


Jangan ditanya dana siapa yang dipakai, karena Eleasha sama sekali tidak mau mengingat lagi semua hal tentang Marco.


Pria itu melirik Eleasha, dalam hati tersenyum. Malam ini ceritanya mungkin akan sedikit berbeda. Pandangan Marco kini beralih pada cairan infus didepannya, malam ini El sendiri yang akan menyerahkan diri padanya tanpa perlu dia paksa atau buang tenaga untuk berbuat kekerasan.


Dengan senyum yang semakin lebar, Marco mengetuk pelan selang infus didepannya. Sebenarnya dia bisa saja mengambil cara cepat dengan menyuntik atau meminumkan secara langsung, tapi hal itu akan membuat dirinya semakin rendah dimata Eleasha, karenanya dia memakai cara licik yang tidak akan disadari El.


"Aku tinggal dulu, tapi aku akan kembali secepatnya. Kalau kamu perlu sesuatu..." Marco naik diatas ranjang, mendekati El untuk mencium gadis itu tapi sesuai dengan perkiraannya El terus menghindar sekuat yang gadis itu bisa meski kesulitan karena tangannya sedang terikat.


Marco menghembuskan nafas pelan, mengajak hatinya yang lagi-lagi terluka karena reaksi gadis itu untuk bersabar. Hanya perlu beberapa jam lagi, dengan sendirinya Eleasha yang akan berlari masuk kedalam pelukannya tanpa di minta.


Pria itu meletakan Handy talky yang dikaitkan di ikat pinggangnya keatas ranjang kemudian memutar ke sisi ranjang yang lain untuk membuka ikatan pada tangan El.


El dengan cepat menarik tangannya dan langsung bergeser menjauh dari Marco, tubuhnya mulai terasa lemah karena efek mogok makan yang sudah berjalan dua hari ini. Tapi tentu saja dia harus menutupi kelemahan itu dengan bakat akting yang dia punya.


"Makanan sudah diganti dengan yang baru, kamu bisa berubah pikiran kapanpun" setelah mengucapkan kalimat itu Marco berjalan keluar, tidak lupa mengunci pintunya dari luar.


Gadis itu melirik makanan yang tersaji di meja tidak jauh dari ranjang, dia otomatis menelan ludah saat aroma dari makanan itu menggoda indra penciumannya. El menutup mata, tidak dia sama sekali tidak boleh tergoda. Jika dia makan sedikit saja, itu sama halnya dengan memberi Marco kemenangan.


...****************...


"Rumahnya ada 80 unit pak, dan sepatu ini di temukan di unit no 20 tapi saat kami geledah, tidak ada siapapun disana" Lapor salah satu tim keamanan Kayden.


Kayden mengeraskan rahang. Dasar psikopat gila! Batin pria itu marah. Dia kemudian memutuskan menelpon Jerome, untuk meminta denah perumahan terbengkalai ini.


"Kita bagi menjadi 2 kelompok. Masing-masing kelompok ada 6 orang, tapi 1 kelompok menjadi 7 orang karena ketambahan saya" Kayden memberi intruksi. "Pastikan alat komunikasi kalian tetap aktif, laporkan semua hal yang mencurigakan tanpa terkecuali"


Kayden memperhatikan denah perumahan yang tampil di layar handphonenya. Sekarang ia mengambil keputusan berdasarkan kata hati.


"Kita ambil jalur ini" Kayden menunjuk area bagian belakang perumahan, yang sudah bisa dipastikan menyatu dengan hutan sekarang mengingat perumahan ini sudah terbiar selama hampir 7 tahun. Feeling pria itu berkata Eleasha pasti ada di salah satu unit itu.


"Pastikan Eleasha kembali pada saya, dengan tidak ada yang kurang suatu apapun"


"Baik, pak!" Seru para anggota tim kompak, kemudian langsung membagi diri sebagai kelompok seperti yang di intruksikan sang bos.


...****************...


El menatap tajam pria yang baru masuk kedalam kamar yang pria itu jadikan penjara untuknya.

__ADS_1


Pria itu kini sudah membalas tatapannya, dengan tatapan yang begitu intens sampai membuat risih.


"Kamu nggak kegerahan disini?" Marco buka suara.


El menatapnya dengan kening berkerut "menurut lo?"


Pria itu menghembuskan nafas "Kamu beneran pacaran sama CEO itu?" Marco mengganti topik pembicaraan.


"Bukan urusan lo"


Emosi Marco terpancing, bagaimana bisa ini tidak jadi urusannya saat semua yang dia lakukan adalah demi gadis itu.


"itu semua nggak benar kan? itu bohong kan? kamu itu terlalu cinta aku, Sha. Dan itu nggak akan berubah"


Eleasha mendengus mendengar ucapan Marco, gadis itu merotasikan matanya.


"Kamu begitu terpuruk saat aku tinggal, Sha. Kamu bahkan masih cari aku sebelum aku nikah sama mama kamu. Kamu jadi suka mabuk-mabukan saat aku tinggal dulu. Jadi nggak mungkin kamu berubah secepat itu"


Tawa Eleasha pecah "lo pikir setelah semua luka yang lo kasih, gue masih akan tetap cinta mati sama lo? Kayaknya gue nggak sebego itu deh"


"Tapi aku ngelakuin ini ...."


"Lo mau bilang semua itu demi gue? Nikahin mama supaya hartanya nggak kemana-mana terus berniat nyelakain mama, lo bilang itu buat gue? Lo gila!"


Marco berjalan mendekat, dengan cepat dia mencengkram rahang gadis itu, gadis yang masih dia cintai sampai detik ini. Yang baru saja melabelinya dengan sebutan gila.


"Aku gila? Segila apapun aku tetap jaga kamu meski kamu pernah setengah telanjang di depan aku"


Eleasha tidak bisa memungkiri hal itu, sebejat-bejatnya Marco dia tidak pernah sampai melewati batas terhadap El.


10 tahun bersama, mereka sudah memiliki banyak gaya dalam hal berciuman, berpelukan bahkan sering tidur bersebelahan walau hal yang terakhir mereka jarang melakukan berdua karena selalu ada Alena atau Ed diantara mereka.


Dan tentang kejadian setengah telanjang itu, El memang pernah melepas 1 per satu pakaiannya saat dia begitu putus asa untuk meminta Marco kembali padanya.


Jujur saat kembali mengingatnya sekarang dia amat sangat malu pada dirinya sendiri. Gadis ini mempertanyakan dimana letak harga dirinya pada saat itu.


"Setelah 10 tahun aku jaga kamu, terus kamu pikir aku bisa relain kamu ke pria lain?"


Pria itu semakin maju, mempersempit jarak mereka berdua tanpa melepas cengkramannya di wajah Eleasha.


Hal itu memberi tekanan kuat, sehingga El meringis kesakitan.


"Lepas...in gu..e.." ucap El terbata.


Marco menyeringai, persetan dengan obat yang belum bereaksi, persetan dengan penilaian El tentangnya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah segera memiliki Eleasha seutuhnya, sesungguhnya, dan sebenar-benarnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2