EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Cepat bangun, El. Cepat sehat


__ADS_3

...****************...


Mungkin waktu sudah berlalu hampir dua jam lamanya, keadaan sudah kembali hening seperti sebelumnya hanya terdengar suara jangkrik dan hewan-hewan malam. Orang-orang suruhan itu pasti sudah pergi.


Pria itu mencoba membangunkan gadis yang sepertinya sudah terlelap dengan kepala yang diletakkan di bahunya.


Usaha pertamanya tidak ada respon, begitu juga dengan usaha kedua. Kayden pun akhirnya memutuskan untuk mengangkat kepala gadis itu dari bahunya.


"Mereka sudah pergi, kita sebaiknya mencari tempat baru"


Mata itu masih tertutup, En mencoba memanggil gadis itu sekali lagi. Tapi respon hanya berupa gumaman tidak jelas. Pria itu menajamkan penglihatannya dan akhirnya menyadari kalau gadis itu banyak berkeringat bahkan diudara malam yang dingin ini.


Kayden memegang pipi El "Eleasha" pria itu memanggil nama gadis itu dengan suara beratnya. "Ilisya" ulangnya lagi dengan pengucapan nama itu menggunakan cara baca Inggris


Tidak ada respon, pria ini mulai khawatir. Dia berusaha memikirkan segala kemungkinan dan dehidrasi adalah kesimpulannya.


Terhitung mereka sudah hampir seharian disini, dan sama sekali belum memyentuh makanan atau minuman sama sekali.


Apalagi dengan kondisi mereka yang sejak tadi sudah kehilangan banyak cairan tubuh dan tanpa ada cairan yang masuk.


Pria itu mengeraskan rahang, mengumpat dalam hati. Kalau dilihat dari kondisi gadis itu sekarang, ini jelas bukanlah gejala yang ringan. Dan bisa saja besok pagi gadis dalam pelukkannya ini sudah berubah menjadi mayat, kalau terus dibiarkan seperti ini. Tapi bukankah hal itu adalah keinginannya? Kenapa dia harus peduli?


...****************...


"Kalian tidak usah khawatir berlebihan, tim kami itu sudah yang paling handal" Jerome memecah kehehingan yang tercipta dalam perjalanan mereka menuju lokasi tempat handphone El berada.


"Dan kerahasiaannya di jamin aman, jadi kamu nggak perlu khawatir" lanjut pria itu lagi, kali ini dia menatap Alena yang sedang duduk di Jok tengah bersama dengan Ed.


Alena membalas tatapan Jerome kemudian mengangguk, entahlah dia tidak memikirkan tentang pemberitaan media lagi, yang ada dalam kepalanya adalah bagaimana keadaan El sekarang.


Gadis itu tidak terlalu kuat secara fisik, apalagi akhir-akhir ini yang adalah momen- momen beratnya. Apalagi Jam sudah menunjukkan pukul 03:00 subuh, terhitung sudah hampir 24 jam gadis itu hilang entah kemana, entah sudah makan atau minum entahlah.


"Semoga El baik-baik saja" gumam Alena pelan.


...****************...


Kayden meletakkan tubuh El di tanah yang kering, memastikan gadis itu aman kemudian segera berlari menuju air terjun kecil yang berjarak beberapa meter dari tempat El berada. Dia menangkup air sebanyak yang dia bisa di kedua tangannya kemudian segera kembali kepada gadis itu dan mencoba membuat El meminum air walau hanya seteguk.


Dia melakukannya berkali-kali dan sampai kali yang terakhir usahanya membuat gadis itu minum gagal. Air selalu saja tumpah percuma tanpa bisa di teguk El.


Pria itu memutar otak, dan tanpa berpikir panjang dia segera melakukan apa yang terlintas dalam pikirannya. Kayden mengisi mulutnya dengan air kemudian walau agak sedikit ragu di detik-detik pertama dia memutuskan untuk membuka mulut gadis itu dan memberikan air didalam mulutnya secara langsung pada El


Ini adalah kali kedua bibir mereka bertemu, kalau pada kali yang pertama itu sebuah kecelakaan, untuk kali ini sebuah pertolongan. Pria ini sepunuhnya sadar, caranya kali ini secara tidak langsung telah memberi gadis itu kehidupan.

__ADS_1


...****************...


Marco berhenti melayangkan stik golf kearah anak buahnya yang sudah sekarat akibat pukulan-pukulannya, saat Jericho sang asissten kepercayaan mendekatinya dan membisikkan sesuatu.


Pria tinggi itu menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya.


Dia menatap 3 anak buahnya yang sudah berdarah dan penuh lebam akibat perbuatannya ada yang masih sadar dan merintih kesakitan dan ada yang sudah tidak bergerak, entah pingsan atau meninggal. Pria itu melempar asal stik golf penuh darah itu kelantai, merapihkan pakainnya kemudian beranjak pergi dari situ.


"Kasih mereka perawatan dan juga bayaran mereka, dan kalau ada yang nggak bisa selamat, lo tau apa yang harus dilakukan" ucapnya sebelum meninggalkan ruangan, meninggalkan dosanya pada Jericho untuk membereskan dengan rapi seperti sebelum-sebelumnya.


...****************...


Kayden mendekap tubuh kurus yang tidak sadarkan diri, berharap kehangatannya bisa diserap tubuh itu.satu-satunya yang masih membuatnya berharap adalah detak jantung gadis itu, dan nafas pelan yang berhembus dari hidung El.


Langit sudah mulai terang, rupanya hari baru sudah datang. Dia membuka mata setelah sejak tadi menutup mata untuk mengikuti rasa kantuk yang menyerangnya, hanya dalam hitungan detik memang, tapi En sudah merasa sedikit punya kekuatan untuk mencari jalan pulang. Gadis dalam pelukkannya ini memerlukan penangan serius.


"Tolong bertahan, sebentar lagi tim keamanan saya pasti menemukan kita, pasti" bisik pria itu kemudian berancang-ancang berdiri, tapi sial tubuhnya ternyata tidak se prima yang dia pikir. En oleng, bersama dengan gadis dalam pelukannya. Saat En bahkan sudah pasrah akan menghantam tanah, sebuah tangan menahannya membuatnnya tetap berpijak pada bumi.


Mata monolid itu membelalak saat seseorang yang sudah menolongnya itu, meraih gadis dalam pelukannya tanpa basa-basi dan langsung berjalan pergi begitu saja.


"Anda baik-baik saja Pak? maaf kami terlambat menemukan anda" suara yang sudah dia hafal di luar kepala itu terdengar, menyadarkan En dari keterpanaannya dia mengangguk kemudian menatap pria tinggi itu dan langsung mendapat ide dari sana.


"Jordan.."


"Kamu sudah menikah?"


Pria tinggi itu mengangguk kuat "Ya pak!" Jawabnya penuh ketegasan.


"Kamu cinta mati dengan istrimu?"


Walau dengan kening yang berkerut, pria tinggi dengan nama Jordan itu mengangguk "Ya,pak. Saya bahkan rela mati demi dia"


En mengangguk-angguk sambil menepuk pelan bahu Jordan "mulai besok kamu bertugas menjadi bodyguard pribadi Eleasha Halim. Mulai besok keselamatan gadis itu jadi tanggung jawab kamu" katanya kemudian menyusul pria yang menggedong Eleasha dibantu oleh tim keselamatan milik Kay group.


...****************...


"Kita harus bawa El kerumah sakit terdekat. Gue sebisa mungkin akan lakukan pertolongan pertama di ambulance" Ed memberi interuksi saat dia sampai di tempat Alena dan beberapa tim dari Kay group berada untuk memantau tim yang turun langsung ke lapangan.


Untunglah dia mengikuti instingnya untuk tetap turun ke lokasi, mengandalkan logika dan segala kepekaan yang dia miliki untuk seorang Eleasha ternyata membuahkan hasil, dia langsung menemukan mereka di dekat sungai, hanya dalam waktu cukup singkat.


"Eleasha akan dirawat di rumah sakit pribadi milik Kay group" En yang baru muncul bersama Jordan dan tim yang lain langsung bersuara.


Ed menatap pria itu berang "cukup yah, En. Cukup lo nyiksa El. Lo pikir ini main-main? El sekarat brengsek!!!!"

__ADS_1


En terdiam seperti tertampar dengan kenyataan, dia sudah bisa memprediksi keadaan gadis itu saat mereka terjebak dalam kegelapan, tapi saat melihat kondisi El dengan pencahayaan yang lebih baik, prediksinya hanya 10% dari kenyataan. Gadis itu terluka parah. Wajah cantik itu, tangan mulusnya dan kaki yang hancur entah sudah berapa kali tertusuk atau tergores benda tajam.


"Cukup perdebatannya!" Jerome menengahi " Gue udah cek Rumah sakit terdekat dan ada yang hanya berjarak 2 kilo meter dari sini, sebaiknya kita bawa Eleasha dulu kesana, untuk mendapat pertolongan pertama"


Tanpa menunggu persetujuan siapapun Eduard berjalan masuk ke arah ambulance pribadi yang sudah dipersiapkan Jerome sebelumnya setelah mendapat saran dari Ed. Dan untunglah pria itu mengambil keputusan yang tepat.


"Ngapain dia masuk kesana?" En berteriak protes


Jerome memutar bola mata "dia itu dokter, kalo lo lupa"


"Ya.. tapi kan.."


"Udahh... akh... lo itu juga perlu di obati, masuk mobil sana kita kerumah sakit juga. dr.Liam udah on the way kesini buat meriksa keadaan lo"


En terdiam matanya menatap ambulance dengan lampu berkelap-kelip, gadis itu terbaring di atas ranjang dorong tidak sadarkan diri. Terlihat Eduard dengan sigap mengeluarkan beberapa alat untuk pertolongan pertama, Alena sang manajer terlihat siaga disamping El. Dia membantu sebisanya sesuai intruksi Ed.


Dan untuk pertama kalinya Kayden tidak marah dengan kedekatan mereka.


...****************...


"Semuanya aman, kita tinggal tunggu dia siuman" Ed memberitahu Alena yang menunggu diluar ruangan.


Gadis itu mengangguk dan mengucap syukur saat mendengar hal itu.


"Luka di kaki dan lecet di kedua tangannya sudah diobati, tapi yang terpenting saat ini adalah El bisa bangun"


Alena mendekat kearah pintu, menatap aktris kesayangannya yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Kali ini agak parah, El harus memakai tabung oxygen karena dehidrasi berat membuat dia kesulitan bernafas dengan paru-paru miliknya. Tapi untunglah semua bisa terlewati dengan baik, menunggu gadis itu sadar adalah yabg harus mereka lakukan sekarang.


"Aku nggak mau mengakui ini, tapi kita harus berterima kasih pada En karena sepertinya dia sudah membuat El mendapatkan cairan di saat yang tepat."


Alena menatap wajah tampan yang walau sedang coba di tutupi tetap saja terlihat kesal. Ini pasti adalah kali pertama Ed tidak menjadi pahlawan untuk Eleasha(nya). Lahir di hari dan tahun yang sama, tumbuh besar bersama, rasanya wajar kalau ada perasaan kesal untuk orang lain karena ketidakberdayaan diri sendiri,tentu jelas rasa kesal sebagai seorang kakak laki-laki.


"Dia akan repotin kamu lagi, karena untuk beberapa minggu kedepan dia harus tahap pemulihan"


Alena tersenyum sambil mengangkat bahu "justru gue takut kalo dia nggak ngerepotin, karena jelas itu bukan dia banget"


Senyum Ed mengembang, pria itu mengangguk setuju sambil menatap gadis yang terbaring di ranjang rumah sakit. Cepat bangun El, cepat sehat. Batinnya.


****


TBC


Kangen yah? 🤣🤣🤣 maaf baru bisa upload sekarangšŸ™

__ADS_1


__ADS_2