EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Satu langkah lebih dekat (jauh)


__ADS_3

...****************...


Kayden menatap pintu rumahnya dengan gelisah, dia sudah bolak-balik persis setrika sejak setengah jam yang lalu.


Tangannya terus berpindah dari kening, mulut dan sampai ke pinggang. Perasaannya menjadi tidak tenang karena ulahnya sendiri.


Dia akui dia terbakar cemburu saat membayangkan apa yang di dongengkan oleh si brengsek Marco. Perasaan kesal dan benci telah membaur membuatnya hilang kontrol dan dengan sengaja mengatakan hal yang sebenarnya tidak dia inginkan.


Kayden menatap pintu sekali lagi dan sekali lagi memohon dalam hati supaya gadis itu tidak datang padanya malam ini, atau dalam waktu dekat.


...****************...


Eleasha menyeka jejak air mata yang tersisa di sudut mata, tangannya masih gemetar dan hal ini mulai dia alami sejak penganiayaan beberapa waktu yang lalu.


Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin kemudian tersenyum miris, karena dia telah sengaja memakai dress dengan banyak kancing untuk memudahkannya saat bertemu pria itu, dan memberikan apa yang laki-laki itu inginkan.


Tangannya yang gemetar itu naik memegang bagian dada, mencengkram drees yang dia pakai "kapan lo bisa bangun dari mimpi buruk ini El? Kapan rasa sakit ini akan berhenti?" tanya gadis itu pelan pada pantulan dirinya.


Setelah menangis selama beberapa jam, kini air matanya bahkan enggan untuk keluar lagi. Entah apakah dia masih punya stok air mata setelah semua hal yang dia lewati beberapa waktu terakhir membuatnya terus menerus menangis.


El melangkah pelan, meraih tas diatas ranjang kemudian berjalan keluar dari apartemen debutnya ini.


Karena secara tiba-tiba masih sering terserang panik dan gemetar pasca penganiayaan yang dia alami, gadis itu tidak diijinkan Alena untuk menyetir sendiri karenanya malam ini dia harus menggunakan taksi untuk kerumah pria itu.


El merapihkan kembali letak masker dan topi, sebelum berjalan keluar dari rumah.


...****************...


Elisa mengulurkan tangan untuk mengelus perutnya yang masih rata, didalam sana ada buah cintanya dengan Eduard, calon bayi mereka berdua yang seharusnya tidak menjadi korban atas keegoisan orang tuanya.


Gadis itu mengingat kembali awal mula pertemuan mereka, saat itu hanya butuh 3 detik untuk Eduard membuat Elisa jatuh cinta pada pandangan pertama.


Dimata Elisa, pria itu adalah definisi pangeran tampan yang keluar dari buku dongeng yang sering dibacakan sang mama saat dia masih kecil.


Sosok Eduard mampu menghipnotis Elisa hanya dalam sekali pandang, gadis ini bahkan menyimpan wajah itu baik-baik dalam batok kepalanya berharap mereka akan kembali bertemu suatu saat, dan jika hal itu terjadi dia akan maju lebih dulu untuk berkenalan sekaligus meminta kontak yang bisa di hubungi.


Tuhan seakan merestui, pertemuan mereka yang kedua, ketiga terus terjadi dan tidak butuh waktu yang lama untuknya bisa mendengar ajakan menikah dari pria itu, sebuah hubungan yang tergolong cepat memang tapi meski akhirnya sering dia sesali hatinya tetap saja dimiliki pria itu seutuhnya, sampai sekarang.


"Mama kangen papa kamu, nak. Kangen banget" ucap Elisa pelan dengan air mata yang mengalir deras di pipi.


Morgan yang melihat betapa menderita Elisa ikut luruh dalam tangis, andaikan dulu dia menolak satu saja permintaan putri kesayangannya itu mungkin saja cerita hari ini bisa berbeda.


...****************...


"Neng udah sampe....."


El tersadar dari lamunan saat suara pak sopir taksi yang dia naiki terdengar. Dia buru-buru minta maaf dan langsung mengeluarkan uang beberapa lembar sebelum turun dari mobil


"Masya Allah, neng ini kebanyakan."


El menggeleng "Kembaliannya buat bapak"


"Alhamdullilah....terima kasih kalau begitu neng, semoga Allah balas kebaikan neng."


Gadis itu mengangguk dan segera turun dari taksi setelah mobil itu pergi El kembali merasa kalut, dia menatap pagar berwarna hitam yang menjulang didepannya sedikit bimbang apakah harus maju atau mundur.


"Mata harus dibayar mata, begitu juga dengan nyawa. Tolong bilang ini pada putri anda, dosa yang dia perbuat harus dibayar dengan harga diri dan martabat. Itu baru harga yang setimpal"

__ADS_1


El mengepalkan tangannya yang gemetar, perkataan pria itu menyakitinya melebihi rasa sakit akibat cekikan dilehernya dulu.


"Bodoh..." gumamnya pelan, kenapa dia bisa lupa kalau Kayden memang ingin membuatnya hancur, pria itu sudah beberapa kali mengutarakan hal itu baik secara perkataan maupun tindakan.


Ed juga beberapa kali memperingatkannya, tapi dengan bodohnya dia malah merasa nyaman saat bersama Kayden


"Memangnya apa yang lo harapin El? Cinta?" Gadis itu tersenyum miris, ternyata dialah yang mencari jalan untuk terluka.


El kemudian mengangguk "Ayo kita akhiri semuanya malam ini" Ucapnya sambil berjalan memasuki gerbang rumah besar Kayden sambil membuka masker dan topi yang dia pakai kemudian memasukannya ke dalam tas.


...****************...


Kayden bisa merasakan kehadiran gadis itu, suara heels yang menapaki lantai mulai terdengar jelas. Pria ini menutup mata, mencoba tenang dan terlihat biasa saja.


Dia harus menyembunyikan semua rasa yang berkecamuk dalam dirinya. Dia harus memasang wajah datar yang terkesan dingin dan menyebalkan ciri khasnya.


Kayden berbalik dan langsung mendapati gadis itu berdiri beberapa meter didepannya, menatapnya lurus tanpa ekspresi.


Pria ini sudah memutuskan kalau Eleasha datang padanya untuk meminta maaf atas kecelaan itu, lalu mengaku bersalah maka dia akan langsung memaafkan dan menganggap masalah itu clear.


Tapi jika Eleasha datang padanya untuk menyerahkan diri, maka dia tidak akan pernah memaafkan gadis itu untuk kebodohan dan betapa murahnya seorang Eleasha menghargai tubuhnya sendiri.


Dia akan menganggap kesempatan untuk mereka bersama sudah tertutup rapat.


Sekarang semua tergantung dari jawaban gadis itu.


"Jawab aku, Apa kamu kesini karena kesepakatan aku dan mama kamu?"


El menatap pria itu "kalau malam ini saya tidur dengan anda, apakah anda benar-benar akan mengakhiri semua?" dia balik bertanya.


El mengepalkan kedua tangannya yang kembali gemetar sebelum dia menjawab "kalau begitu saya akan tidur dengan anda" Jawabnya tanpa ragu.


Mata Kayden berkilat, gadis itu sedang mencoba mematik api pada hati Kayden yang sudah tersiram bahan bakar.


Gadis itu jelas kembali membuat jarak dengan berbicara menggunakan bahasa formal, memperlakukannya seperti orang asing. Pria itu menyeringai jelas kecewa dengan jawaban yang dia dapatkan malam ini, apakah ekspektasinya terlalu besar pada Eleasha? Tapi Eleasha yang dia kenal selama ini jelas punya pendirian yang kuat.


"Selain berakting ternyata kamu juga ahli dalam hal seperti ini? Sudah berapa banyak pria yang dengan gampangnya dapatin tubuh kamu? akh..... apa kamu juga termasuk dalam daftar artis yang terlibat prostitusi?" tanya Kayden dengan senyuman merendahkan.


El mengingit bibir, menahan semua gejolak perasaan yang memuncah di dada "ya... saya memang sering melakukannya, makanya saya ahli dengan hal seperti ini." gadis itu maju tanpa memutuskan pandangan pada Kayden "dimana kita akan melakukannya?"


Kayden ingin sekali memukul apa saja sekarang, dia marah melihat betapa alaminya Eleasha menjawab. Jadi tanpa obat perangsang pun gadis ini akan tetap liar seperti insiden di rumah sakit itu.


"Disini, saat ini. Apa kamu bisa?" tantang Kayden.


El sudah hampir menangis, seumur hidup tidak pernah merasa sehina ini. Tapi bukankah semakin cepat akan semakin baik?


Tanpa menunggu El membuang asal tas yang dia bawa ke lantai kemudian langsung meraih kancing paling atas dress yang dia pakai, membuka dengan tergesa sambil terus menatap Kayden kali ini dengan tatapan terluka.


"Stop! "


Tangan El yang sudah sampai di kancing ketiga terhenti.


"Cukup. Ini nggak perlu di lanjutkan, karena sekarang saya sudah cukup tahu kalau kamu akan melakukan apapun termasuk menukar kehormatan untuk keselamatan kamu sendiri"


"Tapi bukankah ini syarat yang anda mau? Ini kesepakatannya kan?"


"Saya nggak ingin melanjutkan lagi!!" Teriak Kayden kemudian menendang tas Eleasha yang tergeletak di lantai didekat mereka membuat isi didalam tas kecil itu berhamburan keluar menyebar di lantai.

__ADS_1


"Kamu pulang sekarang, karena kesepakatan ini sudah berakhir"


El menatap nanar benda-benda miliknya yang berhamburan dilantai, tatapannya kemudian kembali pada Kayden "bagaimana bisa saya percaya kata-kata dari anda?"


"Kata-kataku bisa kamu pegang, Aku bisa dipercaya"


Gadis itu menggeleng "dimata saya anda hanya laki-laki yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan keadilan bagi wanita yang ada cintai. Karena itu lebih baik akhiri semuanya disini sekarang, supaya hutang diantara kita berdua selesai!"


El kembali membuka kancing yang tersisa, raut wajahnya mungkin terlihat datar tapi hatinya seperti mendapat sebuah sayatan tajam tiap kali kancing itu terbuka.


Mungkin dulu saat bersama dengan Marco dia juga pernah melucuti pakaiannya seperti ini tapi waktu itu dia benar-benar dibutakan oleh cinta, dia melakukannya karena ingin dan bukan terpaksa seperti ini dihadapan seorang pria yang masih abu-abu untuknya.


El menggigit bibir kuat sampai terasa perih saat kancing terakhir yang terletak dibagian perut terbuka, dengan berat hati dia akhirnya melucuti dress berwarna baby Yellow itu untuk lepas dari tubuhnya dan sekarang hanya menyisahkan underwear.


Kayden mengeram merasa tidak pernah sefrustasi sekarang, pria itu membuang muka mencoba tenang dan sebisa mungkin menghindari godaan didepannya ini. Walau hal itu sangat amat sulit karena dia seorang laki-laki normal, dan insiden obat perangsang waktu itu juga sempat membuat hidupnya sengsara lahir batin karena wanita ini.


El bersiap membuka kaitan bra, saat Kayden menahan tangannya dengan tatapan tajam yang seakan bisa melobangi batok kepala dan dengan nafas yang cepat seperti habis lari marathon.


"Aku bilang cukup!!"


"Kenapa? Anda takut sekarang?"


Kayden mengernyit, dia mendorong pelan tubuh El kemudian kembali mundur lalu membuang muka. "kenapa aku harus takut pada wanita yang bahkan tidak punya harga diri seperti kamu?"


El tersenyum tipis, reaksi dan efek yang terjadi pada pria itu sudah begitu jelas baginya "anda takut jatuh cinta pada saya kan? Anda takut goyah. Awalnya anda ingin balas dendam tapi pada kenyataannya anda mulai jatuh cinta, anda mulai melindungi saya"


Kayden akhirnya membalas tatapan Eleasha, pria itu maju perlahan sehingga membuat gadis itu melangkah mundur.


"Justru kamu yang sudah jatuh cinta, kamu mulai merasa nyaman kan? Sebenarnya kalau bukan karena kejujuran Eduard yang mengakui siapa pembunuh Lana yang sebenarnya, sedikit lagi kamu pasti akan mengakui dengan sendirinya bukan? Karena kamu jatuh cinta sama aku"


El berdecih "secara nggak langsung anda sudah mengakui kalau anda mendekati saya karena ingin membuat saya masuk penjara"


Kayden benci dengan situasi ini, sekarang dia terjebak diantara garis yang memisahkan rasa ingin melindungi gadis itu atau terus mengulurkan pedang untuk membuat gadis itu semakin terluka.


Dan kemungkinan lainnya kalau El juga berani berbuat begini untuk melindungi Marco dari jeratan hukuman, seketika membuat hati dan pikiran Kayden menjadi gelap.


"Iya, bukannya aku sudah pernah bilang kalau aku ingin kamu membayar semua yang sudah kamu perbuat?" ucap Kayden termakan emosi dengan apa yang dia pikirkan sendiri.


Melihat apa yang sudah El lakukan malam ini datang padanya tanpa rasa takut, kemudian melucuti pakaiannya satu per satu untuk ditukar dengan kebebasan dan (mungkin juga) untuk Marco membuat Kayden menjadi tidak lagi segan untuk melukai gadis itu sebisa mungkin.


"Kamu ingat insiden kiss mark ditubuh kamu? kamu ingat sepanas apapun kita berciuman kita tidak pernah sampai di tahap selanjutnya karena apa? Karena aku deketin kamu bukan karena nafsu"


Kayden menatap gadis itu, terbersit rasa ingin berhenti tapi emosi sudah terlanjur menguasai Kayden saat ini,"satu-satunya alasan aku deketin kamu adalah demi mendapatkan keadilan untuk Lana, kalau pun malam ini aku sentuh kamu itu untuk membalas dendam atas nama Lana"


El mulai merasa matanya panas, gadis itu menelan ludah dengan susah payah mati-matian bertahan untuk tidak menangis. Entah apakah dia harus bersyukur dengan fakta kalau dia sampai detik ini belum juga mendapat serangan panik atau gemetar sejak berhadapan dengan pria ini.


"Bukankah aku sudah pernah bilang sebelumnya, hukum di negeri ini mungkin tidak bisa menjerat kamu. Tapi aku pasti akan memakai hukum karma untuk menyakiti kamu. Aku akan buat kamu menderita, merasa rendah tidak berharga dan membuat kamu hidup seperti di neraka"


Setelah mendengar hal itu, El maju mencengkram kerah baju pria itu dengan mata yang sudah basah


"Kalau begitu tunggu apalagi? Sentuh saya sekarang! cium saya, tiduri saya, rendahin saya untuk wanita yang anda cin....."


El tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Kayden sudah menarik tengkuk gadis itu menutup aksesnya bicara dengan sebuah yang ciuman panas.


...****************...


Sampai jumpa minggu depan😁

__ADS_1


__ADS_2