EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Ketakutan


__ADS_3

"Rupanya kalian berniat menguras harta saya" Haoran berdiri didepan dua pasangan yang saat ini sedang menunduk sengaja menghindari tatapannya.


"Demi cicit papa, nggak apa-apa lah" Morgan menimpali membuatnya mendapat pelototan dari pria tua yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.


"Kan jadi hemat kalo sekaligus" timpal Kayden dan langsung mendapat pelototan mata dari akong plus cubitan di pinggang dari El.


"Jadi cuma foto martenity? Tanpa ada resepsi? Yakin?" Haoran bertanya lagi yang langsung dijawab 'iya' yang serempak dari Eleasha dan Elisa.


Ternyata bukan hanya wajah yang terkesan mirip, pemikiran dua gadis itu juga hanya beda-beda tipis.


Lihatlah bagaimana dua wanita itu bisa menjawab dengan lugas dan begitu yakin saat suami-suami mereka memberikan protes atas keputusan mereka yang terkesan begitu sederhana.


"Aku nggak butuh resepsi mewah, cukup sah aja secara agama dan hukum, terus kita foto maternity itu udah sempurna" El menjawab Kayden yang sedang membujuknya untuk melakukan resepsi meski hanya sederhana, sepertinya pemikiran pria itu berubah karena menghabiskan waktu bersama Eduard.


Kayden terus menerus memberi pemahaman tentang momen-momen di resepsi pernikahan yang hanya akan terjadi sekali seumur hidup, seperti pemotongan kue pengantin atau ciuman diatas panggung.


"Ly, kita harus punya dekumenternya kan? Buat ditunjukkin ke anak cucu kita nanti" Kayden masih setia mengekori Eleasha kemanapun gadis itu bergerak.


Sementara itu dalam jarak yang tidak jauh dari pasangan El dan En, Si dokter Eduard juga sedang mengupayakan hal yang sama.


"Memangnya kamu mau anak kita lihat, kalo kita itu nikah dua kali?" Elisa nampak kesal dengan permintaan Eduard. "memangnya kamu mau anak kita tahu kita pernah bercerai?"


Eduard terdiam.


"Cukup foto maternity aja, dan acara kecil-kecilan. Kita bukan pasangan belia yang gila dengan perayaan Eduard" ucap Elisa dengan nada final.


Haoran hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, sementara Morgan sudah sibuk dengan hal yang entah apa karena baginya pemandangan itu sudah hal yang biasa terhitung anak dan menantunya itu memutuskan untuk kembali bersama.


"Ajak Jerome juga" kata pria tua itu tiba-tiba membuat kedua pasangan itu menatap kearahnya.


"Buat foto maternity juga?" tanya Kayden yang sedetik kemudian dia sudah menjerit karena sekali lagi mendapat serangan di daerah perut.


"Jerome tuh belum nikah, bang Kai!!" ucap El gemas.


"Ya nggak apa-apa tinggal nikah bareng kita kan?" Ed kali ini yang bersuara, dia kemudian saling tos bareng Kayden. Hal ini jelas sesuatu yang perlu di rayakan karena mereka berdua awalnya tidak seakrab itu.


"Jangan ngajak-ngajak orang lain supaya berakhir kayak kita deh" balas Elisa sambil melototi kedua laki-laki itu.


"Iya, Jerome pantas dapetin pernikahan yang mewah karena dia nggak pernah bikin salah sama pasangannya" sambung El tidak kalah nyelekit dari pelototan Elisa.


Kali ini Kayden yang terdiam.


Hal itu jelas membuat Haoran merasa puas, sepertinya dia harus segera menyiapkan penerbangan ke Bali secepatnya.

__ADS_1


Villa mereka di daerah Ubud sepertinya harus dipersiapkan untuk di tinggali selama beberapa waktu kedepan.


Cucu perempuan dan cucu mantu perempuannya ngidam udara di Bali, sebagai kakek yang baik dia tidak bisa untuk pura-pura tidak peduli kan?


"Hubungi Jerome untuk ikut, ajak juga kekasihnya" ucap Haoran pada Kayden yang sedang asyik memijat punggung El.


"Dan kamu Elisa apa nggak apa-apa ke Bali dengan perut besar?"


Elisa menggeleng terlalu bersemangat "udah konsul ke dokter kok, sampe udah di rekomendasi'in juga sama dokternya tempat bersalin yang bagus di Bali"


"Kita berangkat besok kalo begitu, kalian sebaiknya beristirahat" ucapnya kemudian meninggalkan dua pasangan kasmaran itu di ruang tamu.


...****************...


Eleasha memutuskan untuk membaca di taman belakang sampai waktu makan malam, baru saja Eduard mendapat panggilan kerumah sakit karena ada sesuatu yang urgent, sahabatnya itu mengambil jatah demi bisa cuti ke Bali besok.


Kayden tidak terlihat dimanapun mungkin sedang bersama Elisa di suatu tempat di rumah ini yang sangat besar nan luas.


Membayangkan besok akan menghirup udara Bali sudah membuat suasana hatinya senang setengah mati, gadis itu berjalan pelan sambil mengelus perutya dengan tangan yang tidak memegang novel.


Saat semakin dekat dengan gazebo indera pendengarannya bisa menangkap suara rintihan kesakitan, El mengedarkan pandangan untuk mencari dimana suara itu berasal. Matanya melebar sempurna saat mendapati Elisa sedang tergeletak di atas rumput sambil merintih kesakitan bagian bawah tubuhnya sudah basah dan Eleasha tahu itu pasti adalah air ketuban.


"Bang Kai!!!! Siapa aja tolong kami, tolong Elisaaaa!!" El berteriak sekencang-kencangnya, dia lalu menghampiri Elisa dan membawa kepala gadis itu diatas pangkuannya sambil meminta Elisa untuk bertahan.


Kayden muncul beberapa detik kemudian dengan napas yang memburu dan keringat yang membasahi tubuh.


"Pak Sur tolong siapin mobil, kita on the way ke rumah sakit terdekat" teriaknya kemudian.


"Aku ikut" El mengekori Kayden dari belakang.


"Nggak kamu tetap disini"


"Aku mau ikut!!" ucap gadis itu masih keras kepala.


Kayden menghembuskan nafas berat, "tapi janji kamu harus hati-hati. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita"


Eleasha mengangguk, dibalas dengan senyuman tipis suaminya yang kemudian sudah kembali berjalan cepat menuju mobil yang sudah disiapkan pak Surya diikuti El dari belakang.


...****************...


Kayden melangkah cepat untuk membawa wanita yang sedang berdiri gelisah didepan ruang persalinan itu kedalam pelukannya. Perasaannya campur aduk menjadi satu tapi begitu melihat gadis ini dia bisa merasa tenang.


"Apa Elisa akan baik-baik saja?"

__ADS_1


Pria itu mengeratkan pelukannya, tapi dengan sangat hati-hati supaya tidak menyakiti El maupun bayi mereka.


"Kita bawa Elisa tepat waktu, dia pasti akan baik-baik saja" jawab Kayden sambil mengusap lembut punggung istrinya berharap usapan itu bisa membuat El merasa tenang.


"Ba..bayinya, Elisa dan bayinya akan baik-baik saja kan?"


"Ly, jangan khawatir mereka akan baik-baik saja" Kayden melepaskan pelukannya lalu menuntun Eleasha untuk duduk di tempat duduk didekat mereka.


Eduard datang beberapa saat kemudian masih lengkap dengan baju perangnya di meja operasi.


"El....istri..... dan anak gue...." dia berhenti bicara sejenak untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen yang terasa kosong karena sejak tadi dia sibuk berlari.


El berdiri menghampiri Eduard mengulurkan tangan untuk menepuk pelan punggung Eduard, hal itu langsung membuat Kayden segera berdiri menyingkirkan tangan El pelan dan menggantinya dengan tangannya sendiri.


"Ly kamu duduk aja, biar aku aja"


Eleasha yang melihat itu tidak punya pilihan lain selain mengikuti perkataan Kayden, dia bisa melihat perubahan wajah itu dan El sama sekali tidak ingin membuat kekacauan dalam suasana ini.


"Elisa ada diruang persalinan" Kayden memberi informasi dengan sukarela, tangannya juga masih menepuk punggung Eduard meski pria itu sudah bernafas dengan normal sekarang.


"Gue seharusnya ada di samping dia, gue seharusnya nggak tinggalin dia sendiri" ada sesal dalam nada bicara Eduard, wajah pria itu juga menunjukkan hal yang sama.


Pintu ruangan persalinan terbuka, seorang perawat muncul dan langsung menghampiri mereka.


"Pasien melahirkan dengan selamat. Ibu dan bayinya sehat..."


"Apa saya bisa bertemu dengan istri saya suster?"


Sang perawat terlihat mengamati Eduard dari atas sampai bawah.


"Saya tadi baru selesai operasi dan langsung kesini"


"ikut saya pak, anda harus membersihkan diri dulu sebelum bertemu dengan istri dan bayi anda"


Eduard mengangguk kemudian segera berjalan mengikuti perawat untuk masuk kedalam ruang bersalin, tapi sebelum itu dia menyempatkan diri menghampiri El untuk menepuk puncak kepala wanita itu sambil mengucapkan terima kasih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Eleasha menahan tangan Kayden yang sejak tadi menepuk dan mengelus kepalanya, terhitung setelah Eduard masuk kedalam ruang bersalin.


"Ngapain sih?"


Kayden tanpa diduga malah memeluk istrinya itu, dia tidak mungkin mengatakan tentang perasaan kekanakan yang tadi sempat merasukinya kan?

__ADS_1


"Pengen aja" jawab pria itu pelan.


Eleasha mendengus, dia tahu apa yang Kayden lakukan tapi wanita ini sedang tidak ingin membahas hal itu karena yang menjadi ketakutannya saat ini adalah hari itu, saat dia juga akan masuk kedalam ruangan yang sama dengan Elisa saat ini dan itu membuatnya tidak tenang, takut dan perasaan tidak menyenangkan yang lain.


__ADS_2