EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Tanda


__ADS_3

@Kay Group Building


Jakarta Pusat.


Kayden tersenyum mematikan layar handphonenya, kemudian menatap langit biru melalui dinding kaca dari dalam kantor presdirnya.


Harus dia akui, pandangan dan perasaannya sudah berubah. Sosok Eleasha terlihat berbeda dimatanya sekarang.


Dia tidak bisa lagi menatap gadis itu dengan tatapan benci, dia tidak bisa lagi tenang jika tidak melihat gadis itu dalam sehari.


Sekarang dia bahkan sedang memutar otak untuk mencari alasan supaya bisa cepat pulang seperti yang sudah-sudah dan mengunjungi gadis itu diapartemennya.


Mendadak dia kehilangan kemampuan untuk membenci El, mendadak dia lupa untuk membalas dendam pada gadis itu.


"Widih...Senyum-senyum kayak orang sinting, lagi kerasukan setan apa?" Tanya Jerome yang entah sejak kapan sudah berada tepat di sampingnya.


"Lo nggak ngetuk pintu?"


Jerome menunjukan buku tangannya yang berwarna merah "Menurut lo? Ini merah karena gue main slime gitu?"


Kayden menghembuskan nafas, kemudian berjalan menuju kursi kebesarannya "Kayaknya gue perlu istirahat deh" Pria itu memijit lehernya sambil di gerakan ke kiri dan ke kanan "Badan gue pegal" katanya lagi.


Jerome berdecih "Alasan aja lo, bisa-bisa orang tua yang lagi menghabiskan masa tua di Potugal sana langsung terbang balik kesini karena kerja lo yang nggak becus. Dikit-dikit ijin pulang padahal masih jam kerja"


Kayden menatap Jerome sinis "Gue masih manusia yah, bukan robot yang nggak bisa merasa pegal" belanya


"Gue bakal telpon dr.Liam buat reservasi buat lo, mau istirahat berapa lama? sehari, seminggu? atau sekalian aja sebulan biar lo puas"


"ng..gak perlu di rumah sakit, gue cukup istirahat dirumah. Tolong Atur jadwal cuti gue"


Jerome mengangguk sambil menahan senyuman, seumur-umur Kayden tidak akan pernah mau cuti demi apapun juga. dia itu workaholic sejati bahkan saat masih bersama Lana.


"Mau berapa lama? Lo mau ambil jatah kayak karyawan, atau mau ambil jatah bos?"


"Seminggu aja, gue mau istirahat total. Tolong semuanya lo handle dulu. Jangan ganggu gue apapun yang terjadi"


Jerome mengiyakan. Hitung-hitung ini adalah permintaan cuti pertama Kayden selama dia mengabdikan diri sebagai presiden direktur Kayden Group.


"Dan juga kirim gue jadwal Eleasha, seminggu kedepan" Ucap Kayden kemudian pura-pura membolak-balikan berkas didepannya.


"Buat apaan? Jangan bilang elo mau buat El cuti juga?"


Kayden mendongkak, menatap Jerome dengan tatapan serius "Lo ini anak Indigo? Kemampuan lo perlu diasah yah? Soalnya ketepatannya nggak selalu benar, cuma di saat-saat tertentu doang"


Jerome membelalak "Jadi benar?"


"Setelah semua hal yang terjadi, dia juga perlu untuk cuti sementara"


"Tapi nggak harus bersamaan dengan jadwal cuti lo juga kali"


"Suka-suka gue, yang bos itu gue"Jawab Kayden kalem dengan rasio kemenangan 1000%


Jerome hanya bisa mendengus karena kalah telak.


...............


@Apartemen Debut


No 3091


"Sumpah gue malu banget, gue nggak tahu apa aja yang gue perbuat sama si bang Kay sampe dia kirimin gue beginian"


Alena menatap bingkisan berisi underwear yang berserakan di lantai kamar El. Kemudian menatap gadis itu prihatin, mengingat El saat itu sedang dalam pengaruh obat perangsang bisa jadi yang menjadi korban adalah pak CEO mereka itu.


"Memangnya kamu sama sekali nggak ingat , El?"


El menjerit frustasi "Gue... najis banget pasti saat itu, soalnya samar-samar gue bisa ingat gimana gue mencoba merayu dia, Na!"


Seharusnya gue nggak pulang, El. Maaf. Alena membatin.


"Dan dia nolak gue, itu pasti. Tapi...."


"Tapi apa?" Tanya Alena.


El menggeleng, sebaiknya dia merahasiakan bagian tanda merah di dadanya. Karena mungkin masalah akan semakin panjang dan melebar jika Alena tahu. Lebih baik dia simpan hal ini sendiri, sambil pura-pura lupa ingatan.


"Tapi apa El?" Alena masih mencoba bertanya lagi, dia penasaran.


"Masa sih dia nggak tertarik sama gue?" Wajah El tiba-tiba berubah senduh "iya pasti, karena gue penyebab dia kehilangan calon istrinya. Bisa-bisanya gue lupa dengan fakta itu"

__ADS_1


Alena menepuk pundak El lembut, dia sama sekali tidak tahu harus berkata apa selain "it's ok, El. Nggak usah dipikirin terus"


El membalas dengan anggukan plus hati yang berantakan. Saat kenyataan itu menamparnya untuk kembali sadar.


"Terus bagaimana dengan Marco? Dia perlu di kasih pelajaran lho"


El menatap Alena tiba-tiba teringat sesuatu "Tadi mama nelpon gue, katanya dia perlu bicara. Dia minta waktu buat ketemu"


"Kamu sebaiknya bilang semua hal yang udah Marco perbuat sama kamu. Jangan buat si brengsek itu sembunyi di belakang punggung nyokab kamu terus. Dia perlu dibuat jera"


El menganguk, walau tidak yakin bisa melakukannya. Baginya menyakiti hati sang mama adalah hal yang harus dia hindari di dunia ini, meski dengan harus membiarkan hatinya sendiri yang terluka parah sekalipun.


...****************...


@Rumah sakit Medistra


(Ruang Istirahat dokter)


Eduard mengusap wajah, menatap kertas ditangannya kemudian dengan berat hati menarikan pena di salah satu bagian di kertas itu.


Sebuah keputusan terberat dalam hidup, tapi harus tetap dia lakukan karena hal terakhir yang dia berhasil dia temukan membuat pria ini tidak bisa lagi mentolelir apapun.


Selama ini mungkin masih bisa dia tahan, karena Ed mengerti kalau dia turut andil dalam rasa benci yang dirasakan Elisa istrinya untuk Eleasha yang sudah dia anggap seperti saudari kembarnya sendiri.


Karenanya Ed cukup tahu diri dengan cara menghindar Eleasha akhir-akhir ini. Tidak lagi melakukan kebiasaannya menelpon El menanyakan kabar gadis itu. Benar-benar memutuskan tali sulahturahmi dengan Eleasha. Berusaha memantaskan diri untuk Elisa dengan segala cara.


Tapi setiap usahanya malah membuat Ed menjadi tahu hal-hal yang seharusnya dia tidak tahu. Entah dia harus senang atau sedih dengan hal itu.


"PT. Surya Harapan, Itu perusahaan milik papa. Dan kamu pasti punya wewenang yang besar dalam pemberian ijin menggunakan perumahan terbengkalai untuk dipakai si brengsek itu, Lis. Dan dia sekap El disana" gumam Ed pedih.


"Ini bukan yang pertama kamu bekerja sama dengan si brengsek itu, Lisa."


...****************...


@Apartemen Debut


No: 30**91**


.......


"Apa cuti seminggu? Kok bisa?" El bertanya pada Alena yang baru saja membacakan jadwal hariannya yang mendadak kosong selama seminggu ke depan, dan berlaku mulai hari ini.


"Kok perasaan gue jadi nggak enak, yah?" El menatap ke arah luar, ini jelas baru terjadi selama kepemimpinan seorang Kayden Abraham. Gadis itu kemudian menatap pintu utama saat mendengar suara bel dari sana.


"Na... udah yah, kayaknya makanan gue udah datang. Iya....gue akan kabarin kalau ada apa-apa"


El mengakhiri sambungan telponnya dengan sang manajer, kemudian beranjak ke pintu utama untuk membukanya.


Dan gadis itu seharusnya terkejut saat melihat siapa yang datang, tapi itu seorang Kayden Abraham yang suka berlaku seenaknya. Rasanya hanya akan membuang waktu percuma jika mengeluarkan energi untuk terkejut.


Pria itu mendorong pintu semakin lebar, membuat El otomatis harus menyingkir ke dinding dan Kayden melenggang masuk dengan wajah datar tanpa ekspresi sama sekali.


El melihat kantong martabak manis dalam genggaman pria itu, membuat dia menghembuskan nafas berat karena jadi teringat kejadian itu secara samar.


"Udah makan?"


El menggingit bibir sebelum menjawab "Lagi nunggu Goo-food" Jawabnya pelan.


"Mesen makanan apa?"


Eleasha menghembuskan nafas berat lagi, ok percakapan mereka mulai seperti pasangan sekarang, bibir gadis itu mendadak menjadi kelu. Dalam hatinya menimbang-nimbang apakah dia pantas mendapatkan percakapan harmonis seperti ini dengan pria itu? Setelah melewati sejarah buruk yang tercipta diantara mereka berdua?


Kayden menunggu jawaban gadis itu, dia akhirnya memutar badan untuk menatap Eleasha saat suara gadis itu tidak juga terdengar. Dan rasa kecewa seketika muncul dalam hatinya saat mendapati ada keraguan dalam sepasang mata itu.


Sangat berbeda dengan mata yang dia temui saat dirumah sakit tempo hari. Sosok Eleasha yang dirumah sakit dan Eleasha yang berdiri didepannya hari ini, seperti dua orang yang berbeda.


Kayden tahu sosok yang dia temui di rumah sakit itu adalah sosok ciptaan dari obat perangsang yang diberikan si brengsek Marco, tapi pria ini tidak bisa memungkiri sebagian hatinya menyukai sosok buatan itu.


Eleasha yang itu menatapnya dengan berani, menatapnya dengan damba dan tidak punya memori apapun tentang masa lalu mereka.


Sedangkan Eleasha yang ada diruangan ini sekarang, terlihat jelas penuh dengan rasa bersalah padanya. Lihat saja, dengan leher gadis itu yang mulai tertutup lagi dengan turtleneck. Gadis itu kembali membuat jarak dengannya.


Kali ini gantian Kayden yang menghembuskan nafas, dia sekarang mau dengan senang hati membantu El yang ini untuk mengingat kembali perbuatan gadis itu kepadanya saat di rumah sakit.


"Makan ini dulu, kamu suka makanan ini kan? Nggak usah takut belepotan cokelat, karena ada aku buat bersihin itu"


"Ha..ha..ha" El tertawa sumbang "saya sudah stok tisu basah, dan westafel disini airnya lancar"


Mata Kayden berkilat saat gadis itu kembali mengunakan kata saya. Apa hubungan mereka masih bisa bersikap formal begini?

__ADS_1


Pria itu menyeringai, mendadak terlintas ide di kepalanya.


Dia meletakan kotak martabak diatas meja, berbalik menatap Eleasha, memasang senyuman kemudian mulai membuka jasnya meletakan pakaian itu di sofa, dan lanjut membuka satu persatu kancing kemejanya sambil melangkah sangat pelan menuju gadis itu.


"A...anda mau ap..a?" Tanya gadis itu dengan suara gagap, refleks dia melangkah mundur menciptakan jarak.


Kayden semakin maju, kancing kemejanya sudah terbuka semua. Membuat El bisa melihat perut kotak-kotak pria itu dan langsung membuang muka kemana saja asal tidak ke pahatan ilahi itu.


"Berhenti disitu" El menjerit karena jarak mereka semakin dekat.


Kayden tersenyum, membuka lebar sebelah kemejanya menunjukan bekas kemerahan diarea dada menuju leher pria itu.


El menelan ludah yang mendadak terasa seperti batu. Mendadak kilasan tentang memory itu terlintas di kepalanya, tentang bagaimana dia mencumbu pria itu dan meninggalkan jejak tubuh seorang Kayden Abraham.


"Kamu itu kayak kucing yah, suka tandai- tanda'in teritorial. Kalau kucing pake pipis, kamu pake kiss mark di tubuh aku"


Rasa panas langsung menjalar cepat memenuhi wajah El, gadis itu bahkan memerlukan bantuan kedua tangan untuk mengipasi wajahnya sambil menutup mata rapat-rapat.


Tapi saat dia membuka mata, ekspresinya berubah menjadi datar, memang tersisa sedikit rona merah diwajahnya tapi mampu tertutupi dengan akting tidak terjadi apa-apa dari sang aktris. Hanya dalam waktu tergolong singkat.


"Nggak ada bukti kalau kiss mark itu hasil perbuatan saya" Jawab El kalem. Berusaha tenang.


Seringaian Kayden semakin lebar, fakta tentang gadis itu yang tertulis di google ternyata benar. Bakat akting seorang Eleasha Halim memang luar biasa. Tapi bukan Kayden namanya, kalau dia akan menyerah secepat ini.


"Bukti yah?" Pria itu maju membuat gadis itu otomatis melangkah mundur sampai El terpaksa harus berhenti mundur karena punggungnya membentur pintu masuk apartemen ini.


"Aku pikir, aku sudah tandain kamu juga disini" Kayden berkata sambil menunjuk area dadanya sendiri. Mereka sudah berhadapan dengan jarak dekat sekarang.


El mencoba terlihat biasa-bisa saja, tetap membalas tatapan Kayden dengan tatapan datar walau sebenarnya dia sudah berkeringat dingin dengan tangan yang terkepal kuat di kedua sisi tubuh.


Hal itu tentu tidak lolos dari radar Kayden, pria itu mengulurkan tangan menarik pelan turtleneck yang menutupi leher cantik El.


trauma gadis itu hasil dari perbuatannya.


Tangan Kayden yang lain menyusul untuk membantu tangan yang sudah lebih dulu memegang kain coklat itu. Merobek kain itu hanya dalam sekali tarikan.


Pria itu tersenyum manis, mengelus lembut pipi El yang masih merona tapi sekarang ekspresi gadis itu sudah berubah menjadi terkejut dan mungkin sedikit syok karena perbuatannya.


Tidak hanyq berhenti disitu, Kayden meletakan kedua tangannya di leher El, seperti gaya orang mencekik tapi minus tenaga.


Sebenarnya sudah sejak lama dia ingin melakukan ini, membuat gadis itu kembali normal tanpa mengingat kejadian pencekikan itu, membuat Eleasha tidak perlu takut lagi menunjukkan bagian lehernya.


Kayden bisa melihat ada ketakutan dimata itu dan memang itulah yang dia inginkan, dia kemudian membungkuk untuk mengecup leher El saat tangannya sudah berpindah di bahu.


Gadis itu berjengit saat mendapat sentuhan itu, Kayden tidak hanya mengecup sekali tapi berkali-kali di tempat yang berbeda-beda meski masih dalam area leher.


"Aku nggak akan meninggalkan jejak disini, seperti di area lain" Kayden menghindu nafas di lengkungan leher El "Tapi aku akan lakuin hal ini terus kalau kamu masih memakai kain sialan ini untuk nutupin leher kamu," Pria itu menegakkan tubuhnya, menatap mata itu dengan tatapan lembut.


"Jadi jangan tutup leher kamu lagi, bekas cekikan waktu itu tolong lupakan. Ingat saja ciuman hari ini"


Kayden pun maju lagi memutus jarak antara mereka dengan sebuah ciuman lembut yang berpotensi menjadi lebih panas.


...****************...


@Perumahan Pondok Indah. Jakarta Selatan.


Elisa mencengkram erat secarik kertas yang baru dia baca, itu adalah surat gugutan yang ditujukan Eduard padanya. Hal yang sempat dia minta pada lelaki itu dulu yang sekarang amat sangat dia sesali.


Air mata sudah berproduksi tanpa dia sadari.


Elisa benci pada kenyataan kalau ternyata dia masih mencintai Eduard meski sudah disakiti berkali-kali.


"Bodoh..." Gadis itu bergumam pelan sambil menyeka air matanya yang terus menetes, membasahi wajahnya.


Dengan tangan yang bergetar Elisa meraih pena diatas meja kemudian membubuhkan tanda tangannya di tempat yang diminta.


Dia akan berikan perpisahan yang Eduard inginkan, tapi tentu saja tidak untuk kebahagiaan mereka berdua.


Eduard dan Eleasha tidak akan pernah bersatu, dia akan memastikan hal itu.


Dia tidak akan mau membayar harga seorang diri, mereka juga harus membayar lebih dari dia.


...****************...


Hallo, I hope you are always healthy.


Maaf updatenya lama, karena ada beberapa hal yang terjadi sampe buat minat menulis saya jadi hilang.


Tapi bukan berarti saya akan menyerah dan berhenti untuk kisah ini. Tetap akan ada garis Finish untuk El dan En, karena itu, sampai jumpa di garis itu yah?😁

__ADS_1


__ADS_2