EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Can’t erase


__ADS_3

Pria itu berbaring dengan tangan yang menutup mata, tidak ada yang baik-baik saja sejak kejadian di pemakaman itu. Bahkan ini sudah lewat beberapa hari tapi wajah sedih dan fakta menyakitkan tentang gadis itu terus menerus mengusiknya siang dan malam tanpa berhenti.


Dia menyingkirkan tangannya, tanpa sengaja menatap ruang kosong di ranjang ini yang beberapa waktu yang lalu sempat diisi oleh seseorang.


Seseorang yang menyerahkan sesuatu yang berharga, dan tidak dia anggap. Yang dia anggap murahan tapi nyatanya tidak ternilai. Ternyata kenikmatan yang dia cecap saat itu adalah kesakitan untuk gadis itu.


Kayden mengulurkan tangan menyentuh sisi kosong dirajangnya, ia menggenggam erat sprai putih yang terpasang, tidak bisa lagi memungkiri kalau dia rindu.


"Eleasha mengandung bayi Eduard"


Bayangan Eleasha dan Eduard berpelukan di taman rumah sakit kemudian membuyarkan puzzel rindu yang sudah pria itu susun.


Kayden melepas secara kasar sprai yang dia genggam, ia membalikan badan menghadap ke arah sisi yang berlawanan.


"El, Terkadang kita memang membenci apa yang kita cintai, dan mencintai apa yang kita benci"


Perkataan Jerome tempo hari pada Elisa kembali terngiang dikepalanya.


"Gue benci, Eduard tapi lucunya gue nggak bisa keluarin dia dari batok kepala gue"


"Gue lebih milih bayi gue nggak pernah tahu papanya, dari pada dia harus berbagi sosok papa dengan bayi lain"


Kayden bergerak gelisah, hati dan pikirannya terbelah menjadi dua kubu yang berbeda, mereka tidak lagi sepaham. Perkataan Elisa tempo hari membuatnya semakin membenci gadis itu karena sudah menyakiti adik sepupunya tapi disaat yang sama dia juga tidak bisa mengeluarkan Eleasha sedikitpun dari batok kepalanya. Dia tidak bisa.


...****************...


"Jadi El sekarang tinggal dirumah tante Sonia? Aw...aw..."


Jerome menahan rasa sakit di kakinya karena diinjak dengan sangat keras oleh Alena.


Pria itu ingin sekali menjerit tapi dia ingat ini adalah kantor agensi, jadi si pria hitam manis ini mengurungkan niatnya.


"Dasar Ember!!!" Alena merebut berkas ditangan pria itu, kemudian pergi dengan hati dan ekspresi dongkol.


Jerome menatap punggung Alena sampai menghilang di belokan koridor, pria itu kemudian mengalihkan pandangan pada layar handphonenya yang masih menyala, dengan nama Kayden disana.


Dan memang dia masih dalam panggilan telepon dengan pria itu. Entah itu baik atau buruk.


"Halo...."


"Eleasha dirumah mama Sonia? Kenapa bisa?"


Jerome menghembuskan nafas saat mendengar pertanyaan Kayden dari seberang telepon "ya..dalam proses healing, maybe? Gue nggak tahu,"

__ADS_1


Hening...


"En? Kayden? heiii lo lagi nggak mikir mau kesana kan sekarang?" Teriak Jerome di telepon dengan nada panik.


"Lo belum bisa nyetir, dan....."


tut


tut


tut....


Panggilan terputus.


Jerome segera berlari keluar ruangan, menuju parkiran gedung agensi untuk mencegah Kayden melakukan hal yang mungkin akan dia sesali nanti.


...****************...


Eleasha tersenyum saat melihat Eduard yang sedang asyik dengan koleksi tanaman tante Sonia.


Hari ini pun, pria itu datang mengunjunginya dengan membawa Yasmin yang sedang serius mendengar pelajaran gratis dari si dokter tampan.


Mereka berdua sedang asyik menyiram tanaman dan Eduard membuka sesi pelajaran tentang tanaman obat-obatan, manfaat sayuran dan lain sebagainya.


"Udah cocok banget jadi papa" bisik El pelan saat dia berdiri tepat disamping pria itu.


Eduard menatap El sekilas, kemudian kembali sibuk menjelaskan tentang tanaman bayam.


"Lo nggak kangen Elisa?"


Kali ini perhatian Eduard tersedot sepenuhnya pada gadis disampingnya "dia nyatanya nggak pernah cariin gue sejak insiden di rumah lo dulu" Jawab Ed pelan saat dia sudah selesai menjelaskan dan menyuruh anak-anak itu bermain.


"Gantian lah, lagi pula cewek itu kodratnya menunggu. Lo dong sebagai cowok yang maju, tunjukin dong sisi gentelman lo"


Eduard tertawa garing menanggapi ucapan Eleasha, pria itu menatap perut El kemudian menatap wajah gadis itu "terus lo? Sampai kapan mau menunggu? Dia nggak akan tahu kalo lo tetap diam"


Eleasha menatap anak-anak yang mulai saling berperang dengan air, suara tawa dan cekikan khas anak-anak seketika menghangatkan suasana yang tadi sempat dingin.


"Lebih baik dia nggak tahu"


"Tapi El..."


"Lo akan gue usir kalo masih aja bahas hal ini"

__ADS_1


Ancaman itu tidak serius, tapi Eduard langsung bersikap kooperatif. Dia bisa merasakan ada luka di setiap kata yang keluar dari mulut gadis itu, meski dengan senyuman lebar di wajah.


"Kak El, kak dokter ayok gabung. Kita lagi kekurangan member nih" Yasmin sedikit berteriak sambil melambai-lambaikan tangan.


Eleasha dan Eduard saling bertatapan, lalu muncul lah senyuman jahil di wajah keduanya. Memori masa kecil mereka memanggil mereka untuk melupakan sejenak kedewasaan yang dipenuhi beban dan tanggung jawab dan kembali menjadi anak kecil yang tidak harus memikirkan masalah berat, meski hanya melalui permainan.


"Gue mau ambil ember sama loyang dulu di dalam" El berucap sambil berjalan mundur, tersenyum lebar senang pada anak-anak itu.


Saat dia akan berbalik betapa terkejutnya gadis itu karena persis didepannya sosok yang ingin dia hindari berdiri menjulang, menahan tubuhnya yang sedikit oleng agar tidak jatuh mengikuti hukum gravitasi bumi.


Senyuman diwajah Eleasha menghilang tanpa jejak, berganti dengan wajah datar yang di sepersekian detik pertama sempat ada raut terkejut dan tidak percaya.


Sentuhan yang terjadi serasa menyetrum dengan tegangan rendah, mata keduanya bertemu seakan menghentikan waktu disekitar mereka.


Eleasha tersadar lebih dulu dan memilih melangkah mundur membuat topangan di tubuhnya terlepas. Gadis itu akhirnya kehilangan sentuhan dengan sensasi volt rendah itu.


"Kalian terlihat sedang bersenan - senang"


Eduard yang melihat itu maju, mengokohkan diri disamping Eleasha "kenapa lo nggak gabung sama kita?" tanyanya sambil meletakan tangan di bahu Eleasha, memberi gadis itu dukungan karena dia sangat tahu apa yang El rasakan saat berada didekat pria itu. Pasti tidak mudah.


Melihat itu Kayden mengeratkan cengkramannya di pegangan tongkat yang akhir-akhir ini telah menjadi bagian dirinya. Rasa panas seketika serasa membakar dadanya.


Kedua matanya masih menelusuri dengan sangat detail wajah cantik didepannya, berharap bisa menemukan rasa rindu atau apa saja dari sana yang ditujukkan untuknya.


Tapi wajah cantik itu begitu datar, tatapan mata itu tidak ada emosi sama sekali. Reaksi gadis itu yang langsung melepaskan diri darinya semakin membuatnya terbakar habis didalam.


Apakah dia tidak punya arti sama sekali untuk gadis itu?


"Silahkan saja kalian bersenang-senang, itu tidak menarik sama sekali" ucap pria itu dengan tatapan yang masih tertuju pada tangan Eduard di pundak Eleasha, dia kemudian mundur, memutar tubuh dan berjalan menuju ke rumah keluarga Lana.


Eduard menatap punggung Kayden, memperhatikan langkah pria itu yang sepenuhnya bertumpuh pada tokat siku. Dia bukannya tidak tahu kalau pria itu mendapat keajaiban karena sudah bisa berjalan dalam kurun waktu yang sangat cepat untuk seseorang yang baru saja kecelakaan besar dan di nyatakan lumpuh.


Tatapannya kemudian beralih pada gadis disampingnya yang sejak tadi tidak berhenti menatap punggung pria bertongkat yang perlahan menjauh dan kemudian menghilang dibalik pintu rumah.


Eduard tersenyum, menyadari sesuatu yang membuatnya mendapat sebuah ide di kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai, jadi ada sesuatu yang terjadi dengan aplikasi ini di hempong jadul saya. 2 chapter sebelum ini entah kenapa bisa double update.


Saya mohon maaf untuk itu, dan mau say thank's juga karena kalian tetap baca bahkan ada yang kasih like juga di dua chapter tersebut


MAKASIH BANYAK GAIS💛🥰

__ADS_1


Dan tetap jaga kesehatan yahh semua.


__ADS_2