EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Dibawah Pengaruh obat


__ADS_3

Tenaga El yang tidak banyak karena tidak makan selama 2 hari, tidak mampu mengimbangi tenaga Marco. Gadis itu sudah berusaha sekuat yang dia bisa tapi fakta kalau energinya hanya tinggal sedikit membuat El sama sekali tidak berdaya.


Marco dengan gampang mengunci kedua tangan Eleasha menjadi satu diatas kepala gadis itu.


Tangan kanannya kemudian menyingkirkan blazer hitam yang El pakai untuk menutup bagian depan tubuhnya saat tadi dia masuk ke ruangan ini.


Kini hanya tersisa kaos putih tipis dan celana jins yang tentu saja bisa dengan mudah dia singkirkan. Pria itu menyeringai menatap wajah ketakutan dan penuh air mata didepannya.


Sebenarnya Marco sangat penasaran dengan fashion style Eleasha yang akhir-akhir ini sering menutupi lehernya, lihatlah scraf yang terlingkar dileher di cuaca Indonesia yang bahkan sepanas ini saat musim kemarau ini. Dia ingin bertanya, tapi sepertinya El tidak akan mau menjawab dengan baik apalagi lembut.


"Ternyata dengan cara paksaan seperti ini, adrenalin aku naik. Kali ini kamu nggak perlu susah payah mancing aku. Kamu nggak perlu buka baju kamu, biar kali ini aku yang buka"


Marco menarik keras kaos tipis El, dan langsung membuat kain tipis itu koyak, mempertontonkan bagian dada Eleasha yang kini hanya tersisa bra berwarna merah. Hasrat pria itu semakin naik dia menundukan tubuhnya untuk mengecup bibir tipis El.


El menghindar sekuat yang dia bisa, tapi dia tidak bisa lagi memungkiri kalau energinya sudah menipis, dia mungkin bisa saja pingsan sebentar lagi. Dengan mata basah, El berdoa dalam hati semoga siapa saja supaya bisa datang menolongnya.


Bersamaan dengan kesadaran gadis itu yang mulai hilang, pintu kamar yang tadinya tertutup rapat menjeblak terbuka. Sosok tinggi itu muncul, tatapannya berubah tajam saat melihat apa yang sedang terjadi diatas ranjang. Tanpa menunggu lagi sosok itu maju untuk mendekat, ia segera menarik tubuh Marco menjauh dan langsung terbelelak saat melihat keadaan gadis itu.


"Brengsek!!" Seru Kayden emosi kemudian melayangkan pukulan diwajah Marco.


Marco yang sama sekali tidak siap langsung terhuyung dan membentur dinding kemudian merosot ke lantai.


Kayden geram, ingin menambah pukulan untuk pria brengsek itu. Tapi sebelumnya dia segera membuka jas yang dia pakai untuk menutupi tubuh El yang sudah setengah telanjang.


Gadis itu terlihat memprihatikan, mata sipit yang langkah karena berukuran besar itu terlihat pudar cahayanya. Kayden mengeram lagi, sangat jelas Eleasha pasti direcoki sesuatu oleh pria brengsek itu.


"Lo apain dia brengsek?!" Tanyanya kemudian menghampiri Marco dan melayangkan pukulan lagi.


Marco, beberapa kali menghindar dan beberapa kali juga bisa membalas pukulan Kayden. Tapi Kayden Abraham jelas lebih unggul karena kepemilikan sabuk hitam dari taekwondo dan juga karate. Pukulan sukses Marco hanya karena dia sedikit lupa dengan beberapa gerakan karena sudah puluhan tahun tidak berlatih.


"Gue bisa aja bunuh lo sekarang, mengingat lo juga pernah celakain gue. Tapi nyawa gadis itu jelas prioritas gue saat ini" Setelah memberi beberapa pukulan dan juga tendangan untuk Marco, Kayden membalikan tubuhnya, berjalan menghampiri El yang sejak tadi tidak bergerak sedikitpun.


Mata itu jelas terbuka, tapi hanya berupa tatapan kosong. Wajah cantik itu begitu datar, sama sekali tidak ada ekspresi sama sekali.


Kayden membungkuk, merengkuh tubuh kurus itu masuk kedalam pelukannya. Dia membopong tubuh El keluar dari kamar itu dan meninggalkan Marco yang babak belur dilantai dengan kekalahan.


...****************...


@President Room


Harapan Kasih Hospital


El menggeliat dalam tidurnya, dia bergerak mencari posisi nyaman. Tapi langsung membuka mata, saat dia bisa merasakan suasana yang berbeda. Tempat ini terasa familiar untuknya, dia merasa aman dan seketika sadar kalau ini bukanlah kamar penjara Marco.


Gadis ini menggigit bibir, entah kenapa dia merasa gerah yang amat sangat sekarang. Perut perih dan kepalanya juga mulai terasa pening, El mengedarkan pandangan berusaha mencari sesuatu yang bisa mengisi perutnya yang sudah kosong selama 2 hari. Baginya mencari tahu apa yang sudah terjadi adalah hal kesekian, dia harus makan terlebih dahulu.


Saat kaki gadis ini sudah menyentuh lantai, pandangannya terpaku dengan pandangan pria yang sedang bersadar di dinding dengan tangan yang dilipat didepan dada.


El menelan ludah, kenapa untuk kali ini dimatanya seorang Kayden Abraham terlihat amat sangat menggiurkan?


Pria itu menggunakan pakaian serba hitam, lengan kemejanya sudah digulung sampai siku. dua kancing sudah terbuka, rambutnya jatuh menutupi kening, dan mata monolid itu sedang menatap tajam ke arahnya.


El menelan ludah lagi, semakin merasa kegerahan lagi. Dia mengipaskan tangannya, sambil sesekali mengangkat dan menurunkan seragam pasien di bagian dada yang dia pakai. Gadis ini bahkan tidak tahu kapan dia sudah berganti dengan pakaian pasien, dia tidak lagi peduli kalau lehernya tidak ditutupi dengan kain apapun, pasti kehilangan kesadaran lumayan lama.


"Kenapa kamu natap saya begitu?" Tanya Kayden binggung, jujur saja dia senang gadis itu sudah siuman, terlihat lebih cantik karena tidak lagi memakai sesuatu untuk menutupi lehernya, tapi tatapan Eleasha sekarang jelas bukan seperti biasanya.


Gadis itu dengan tidak terduga malah melepas secara paksa jarum infus ditangannya membuat Kayden membelalak sambil berteriak protes.


"Kamu gila yah? kenapa itu dilepas? kamu lagi nggak syuting film yah ini!" teriak pria itu dongkol.

__ADS_1


Sementara itu, El tidak bisa menahan kakinya untuk melangkah mendekati pria itu, dia juga tidak bisa menahan tangannya untuk menyentuh wajah itu. Pasti ada yang salah dengan dirinya, gadis ini sama sekali tidak bisa menahan untuk melemparkan dirinya pada pria itu.


Telapak tangan El menempel erat pada dinding di dekat kepala Kayden, sekali lagi dia menelan ludah saat keinginan untuk mencium bibir pria itu semakin besar. El berjinjit sambil menutup mata dan dengan rasa desakan yang amat sangat kuat, dia mengecup bibir Kayden.


Kayden langsung terbelalak, jantungnya berdebar keras dengan cepat dia menarik kepalanya ke belakang memutus sentuhan mereka "Ka...Kamu... Kenapa?" Tanya pria itu syok.


El masih menutup mata, entah kenapa saat nafas pria itu menyentuh kulit wajahnya, hasratnya semakin naik. Secara refleks tangannya sudah berada di dada Kayden sekarang.


"Aku suka bau tubuh kamu" Ucap El dengan nada sensual yang entah dari mana datangnya.


Kayden semakin syok dengan sosok didepannya saat ini, gadis itu bahkan tidak lagi menggunakan kata formal saat bicara dengannya, kemana kata saya dan anda yang sering gadis itu ucapkan saat bicara dengannya? Bukannya Kayden tidak suka, hanya saja dia masih terlalu tidak percaya.


"Kamu terbentur yah pas diculik si brengsek itu?"


El dengan sengaja membenturkan badannya pada tubuh pria itu, tangannya dengan cepat sudah melingkar di leher En.


Entah apa yang terjadi dengan kinerja tubuh dan otaknya, yang ada gadis ini tahu dan sangat inginkan sekarang adalah bergumul panas dengan pria ini.


"Kamu gila yah? kenapa sih nih anak?" Kayden sama sekali masih belum paham dengan kelakuan gadis ini sekarang. Tapi jantungnya berdebar keras, dia jadi salah tingkah sekarang. Kayden sungguh binggung harus melakukan apa.


"Mau berdiri aja? atau diranjang?"


Bulu kuduk Kayden langsung meremang, dia menatap gadis didepannya dengan tatapan semakin syok? Sejak terlibat dan mengenal seorang Eleasha, pria ini sama sekali tidak pernah melihat sosok El yang ini. Atau memang inilah sosok El yang sebenarnya? yang tidak diketahui orag-orang?


El menggingit bibir, sebelum bicara dengan nada mendesah manja yang sama sekali bukan ciri khasnya "Mau pemanasan dulu? atau kita langsung aja?"


Kayden menepuk pipinya, sebuah usahanya untuk membuat dirinya sendiri tetap sadar.


"Cukup yah, stop yah kamu" En memperingatkan sambil menghentikan pergerakan kepala El yang semakin dekat dengan wajahnya dengan menggunakan telunjuk pria itu. Dia kemudian dengan cepat berjalan keluar dari ruangan rawat gadis itu dengan gerakan langkah kaki seribu.


Meninggalkan El yang menatapnya kecewa.


...****************...


Eleasha sangat suka martabak ini, sampai berat badannya pernah naik beberapa kilo karena dia makan sendirian selama seminggu full, El kemudian harus diet dan olehraga sebulan lebih untuk mengembalikan berat badannya ke ukuran normal.


El memang memiliki tipe tubuh yang gampang gemuk, berbeda dengan Ed yang walaupun makan banyak, berat badannya tetap akan stay di angka normal. Dan hal itu akan menjadi bahan perdebatan mereka berdua. Alena tersenyum miris, dua orang itu sekarang bahkan jarang bertemu atau sekedar menelpon saling menanyakan kabar.


Keadaan membuat mereka jauh, atau memang seharusnya mereka tidak lagi dekat demi kebaikan semua.


Alena menghembuskan nafas berat, dia mendongak dan langsung terkejut melihat sosok yang baru saja keluar dari ruangan rawat El.


Sosok itu terlihat seperti baru melihat hantu, sosok CEO yang tegas itu terlihat pucat pasi seperti sangat syok.


"Bapak kenapa? Apa terjadi sesuatu didalam?" Alena memberanikan diri untuk mendekat dan bertanya, dia khawatir jika El kenapa-napa.


Kayden tersentak, dia buru-buru berdehem. Menegakkan tubuhnya kemudian menatap gadis mungil didepannya. "Nggak. Ta..tadi itu...."


"akh... En syukur kita ketemu disini"


Kayden dan Alena memutar kepala ke asal suara, sosok tinggi dengan jas dokter berjalan mendekat kearah mereka berdua.


"Kebetulan ada manajernya juga" ucap sang dokter saat dia sudah sampai dalam jarak yang cukup dekat dengan kedua orang itu.


"Ada apa dok? apa terjadi sesuatu dengan Eleasha?" Tanya Alena khawatir


Sang dokter menatap En sekilas, kemudian tersenyum kearah Alena "Ada kandungan obat perangsang dalam tubuh Eleasha, dan kadarnya lumayan banyak"


"Pasti si Marco brengsek itu yang lakuin. Bejat banget jadi laki-laki!" Geram Alena marah.

__ADS_1


"Sampai kapan pengaruhnya, Liam?" Kayden bertanya. Sebisa mungkin terlihat biasa saja, meski jantungnya berdebar tak karuan saat mendengar fakta itu.


"Saya sudah suruh perawat untuk pasang infus, supaya bisa cepat dinetralisir. Tapi nggak menutup kemungkinan reaksinya masih akan ada paling lama 20 jam, paling cepat mungkin 5 sampai 10 jam. Kita tunggu aja" Dokter Liam menepuk pundak En pelan dan kemudian berjalan menuju pintu ruang rawat El.


Melihat itu Kayden langsung panik, dengan cepat dia menghalangi Liam dengan cara berdiri tepat didepan pintu ruang rawat Eleasha "dia lagi tidur" ucap Kayden berusaha menormalkan nafasnya yang memburu karena harus bergerak cepat tadi menghalangi Liam masuk ke ruangan El.


"saya hanya mau ngecek keadaan...."


"Nanti saja, akh... besok aja atau lusa" Potong Kayden sambil merangkul sang dokter kemudian membawanya sedikit menjauh dari ruang rawat.


Alena menatap mereka berdua binggung


"Tapi En, infusnya mungkin sekarang..."


Kayden menggeleng "Serahkan semua ke gue, lo nggak lupa kan? Gue pernah jadi adik tingkat lo beberapa tahun" Ucapnya kali ini sambil gantian menepuk pundak Liam sekarang.


Dokter Liam menghembuskan nafas, kemudian tersenyum "Yah sudah, tapi hubungi gue kalau ada apa-apa"


"iya, pasti. Akh.... tolong suruh seseorang untuk membawa keterangan do not distrub untuk di pasang di pintu ruangan ini"


Senyum Liam semakin lebar "Please, En. Ini bukan hotel, lagipula ini president Room. Jarang orang bisa akses lantai ini apalagi untuk masuk"


Kayden balas tersenyum "Tolong di usahakan yah Dok" balasnya tidak peduli.


Liam hanya mengangguk, memutuskan untuk mengalah, lagipula Kayden adalah bos rumah sakit ini. Pria tinggi itu kemudian pamit pada Alena dan segera berjalan menuju lift.


Kayden berdehem, menatap barang bawaan Alena "Kamu juga bisa pulang, biar saya yang jaga Eleasha"


"Ta..tapi pak"


"Telpon Jerome untuk jemput kamu, dan suruh dia antar sekalian kerumah. Dia pasti senang sekali dapat perintah itu" Ucap Kayden sambil mengambil tas kecil yang sedang dipegang Alena "Ini buat Eleasha kan? Biar saya yang kasih"


Alena hanya bisa pasrah melihat martabak manis itu sudah berpindah ditangan bos besarnya sekarang "itu makanan kesukaan El, pak. Tolong kontrol juga supaya dia makan nggak berlebihan. Soalnya dia suka kalap kalau sama martabak"


Kayden mengangguk sambil mempersilahkan Alena untuk menuju lift.


Manajer Eleasha itu hanya bisa menghembuskan nafas sambil segera berjalan menuji lift, Kayden terlihat sekali ingin dia pergi dari situ.


Gadis ini tiba-tiba teringat dengan obat perangsang, dia berbalik menatap Kayden yang juga sedang menatapnya.


"Apa? Kamu pikir saya mau apa-apain Eleasha? kamu pikir saya serendah itu sampe mau memanfaatkan keadaan dia yang sedang dibawah pengaruh obat?"


Alena menggeleng, nyalinya seketika langsung ciut. Bagaimana Kayden bisa sedetail itu membaca apa yang ada dalam pikiran Alena? Apa mungkin dia punya kekuatan super?


"Dia sama sekali bukan tipe saya yah! lagipula kalau saya suka, saya bisa dapat wanita manapun yang saya mau" Ucapnya sewot.


Alena mengangguk paham kemudian segera masuk lagi kedalam lift, dan menghilang saat pintu lift tertutup.


Kayden menghembuskan nafas lega, dengan cepat dia bersandar di dinding didekatnya. Pria itu memegang dadanya yang masih bergemuruh, dia kemudian menatap pintu ruangan tempat Eleasha dirawat. Ada perasaan kecewa muncul saat dia tahu, apa yang tadi dilakukan gadis itu ternyata semata-mata karena dibawah pengaruh obat perangsang.


Dia mengepalkan tangan, untunglah mereka bisa cepat menemukan El. Kalau tidak, sudah bisa dipastikan Marco sudah berhasil mendapatkan tubuh gadis itu.


"Nrengsek!!!!" Geram Kayden.


Tapi dalam hati pria ini penasaran, seberapa sulit seorang Eleasha di taklukkan, sampai mantan kekasihnya memakai cara licik seperti itu untuk mendapatkannya?


Dan bra merah, kenapa dia jadi ingat itu lagi?!


...****************...

__ADS_1


maaf yah updatenya lama😁🙏


__ADS_2