
...****************...
"Saya mohon jangan lapor polisi"
Kayden menatap Alena tajam, baginya jelas itu hal paling egois yang dia dengar sekarang.
Jerome yang bisa melihat perubahan wajah Kayden langsung berdehem, Alena harus dia lindungi dari aura mencekam pria yang sedang emosi tingkat dewa itu.
"Alena benar, En. lebih baik kita bergerak sendiri. melapor pada pihak yang berwajib hanya akan membuat masalah semakin rumit. Media akan terlibat dan El akan semakin jadi sorotan"
Kayden tanpa sadar sudah mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. "menurut kalian siapa yang ada dibalik ini semua?"
Alena menggigit bibir, menatap Jerome takut-takut. Tapi saat melihat Pria hitam manis itu tersenyum sambil mengangguk padanya, keberanian perlahan muncul "ada satu nama yang saya curigai"
"Siapa? Eduard? atau si aktor Thailand itu?"
Alena menggeleng "Bukan, pasti bukan mereka berdua"
"Lalu siapa? Jangan bilang Eleasha punya laki-laki lain lagi?" Kayden menendang sofa didekatnya "ada berapa banyak laki-laki di sekitar dia?"
"dia itu aktris kalo lo lupa" Jerome menengahi "wajar banyak yang dekatin"
Kayden menatap Jerome sewot.
Alena menghembuskan nafas "Bisa jadi ini perbuatannya Marco, mantan tunangan El. yang sekarang statusnya sudah berubah jadi ayah tiri El."
Kayden dalam hati juga membenarkan hal itu. Dia kemudian mengangguk "Kita kerumah mamanya El, kita beberkan semuanya"
"Jangan pak..."
"Kamu kenapa sih?...."
Alena membasahi bibirnya sebelum menjawab "El sayang banget mamanya, tapi masalahnya mamanya nggak sesayang itu sama El"
Kayden terperangah, dasar gadis menyedihkan. Batin pria itu kesal bercampur marah.
Jerome melihat kekesalan Kayden, dia merasa perlu mengambil alih "kita mulai dengan melacak handphone Eleasha dulu, gue akan menghubungi tim IT kita. lo harus kasih mereka bonus. akhir-akhir ini mereka banyak lembur"
Kayden menatap Handphone ditangannya, dia juga pernah menyetel aplikasi tracker dihandphone El yang terhubung pada handphonenya. Pria itu dengan cepat membuka aplikasi itu dan langsung sangsi saat melihat lokasi yang muncul dilayar handphonenya.
"Depok... tapi nggak mungkin"
Jerome mendekat, menatap layar handphone Kayden "gue akan suruh tim kita kesana, feeling lo emang dimana?"
"Dia masih di area Jakarta" Kayden menatap Alena "ootd yang dipakai Ily hari ini...."
Jerome dan Alena langsung saling pandang "Ili?" tanya mereka berdua bersamaan.
Kayden menghembuskan nafas "Eleasha ejaan bahasa inggrisnya itu Ilisya, kalo kalian nggak tau"
Alena dan Jerome langsung manggut-manggut sambil berkata 'oh' secara bersamaan.
"apa ootdnya hari ini?" Pria itu melirik Rolexnya "kemarin, karena ini sudah jam 2 subuh, akh... sepatu. Sepatu apa yang dia pakai hari ini?" Tanya Kayden lagi
__ADS_1
"Heels hitam dari Charles and Keith, saya punya foto El Kemarin" Alena mengutak-atik handphone di tangannya beberapa saat sebelum menunjukkan hasil temuannya pada Kayden.
(Anggap aja, El lagi pake scraf yah gaiss....buat nutupin bagian lehernya)
Kayden tersenyum, perasaannya tiba-tiba lega karena hari ini gadis itu memakai sesuatu yang tertutup. Celana jins yang El gunakan entah kenapa membuat dia merasa tenang. Walau dia sebenarnya sedikit binggung dengan fungsi scraf di leher gadis itu.
"Jadi maksudnya gimana tuh..." Jerome menginterupsi.
Membuat fokus Kayden pada wajah mungil di layar handphone milik Alena buyar. Pria itu berdehem. " telpon Iqbal sekarang. Suruh dia lacak alat yang dia kasih ke gue seminggu yang lalu"
"alat?" Jerome melongoh "lo pake alat pelacak? udah kayak FBI aja lo?"
Kayden memutar bola mata "memang pasarannya nanti kesitu kan? alat itu lagi sementara di kembangin. Lo amnesia yah? atau lagi salting aja sekarang?" balas Kayden.
Jerome hanya mendengus kemudian memilih berjalan menjauh untuk menghubungi Iqbal, salah satu manusia jenius yang dimiliki Kay Group. Dari pada semakin memancing mulut lemas si Kayden, nanti bisa berabe.
...****************...
El membuka mata, dan langsung meringis karena sakit kepala yang luar biasa. Gadis ini merasa mual dan sakit di seantero tubuh dia mencoba bangun dari ranjang dan berusaha mengenali keadaan sekitar.
"Udah bangun? Ini minum air putih dulu"
Gadis itu mendongak, menatap pria tinggi yang sedang tersenyum manis padanya. Dua tahun yang lalu mungkin saja senyuman itu akan membuat hati Eleasha berdebar tapi tidak untuk saat ini.
Marco berjalan mendekati El, mengulurkan segelas air putih ditangannya, berancang-ancang untuk membantu gadis itu untuk minum.Dia tahu, El masih dibawah pengaruh obat bius. Gadis itu masih terlihat sedikit linglung sekarang.
El menatap gelas bening di depannya kemudian tatapannya pindah ke wajah pria tinggi itu "gimana aku percaya kalau air ini nggak ada apa-apanya?" tanyanya sambil mencoba berakting baik-baik saja.
Pria itu tersenyum "maaf'in tindakan staff aku, mereka hanya takut gagal bawa kamu kesini. Makanya mereka memilih cara untuk nenangin kamu, tapi kamu nggak perlu khawatir diantara staff aku ada yang dokter, dia udah periksa keadaan kamu. kamu udah di infus juga"
Kepala Eleasha beralih kearah tangannya yang ternyata memang di infus, saking kuatnya pengaruh bius itu dia bahkan tidak merasa sedang di infus padahal El sudah sadar sejak tadi.
"Kamu ingat? nggak lupa sesuatu?" Marco mencoba memastikan, karena menurut staffnya yang adalah seorang dokter, efek samping dari obat bius salah satunya adalah lupa ingatan tentang kejadian yang baru saja terjadi. Tapi memang perkiraannya hanya 3:7 dari semua riwayat yang ada.
"Lo berharap banget kayaknya gue lupa" Kata El ketus
Marco menghembuskan nafas "minum dulu deh, tengggorokan kamu pasti kering benget kan?" pria itu menyodorkan kembali gelas kepada El.
Dan dengan gerakan tidak terduga, El malah mendorong gelas itu sampai jatuh dan membentur lantai. Gelas itu pecah, menimbulkan bunyi dan juga serpihan kaca yang berserakan di lantai.
Marco menatap air yang sudah tumpah membasahi lantai, dia kemudian menatap El dengan tatapan kecewa.
"Gue mau pulang"
"Nggak. Kamu tetap di sini sampai rencana aku berhasil"
"lo gila yah?"
"Iya, aku gila karena kamu" jawab Marco tegas.'
El mendengus, membuang muka. Malas menatap wajah pria itu.
__ADS_1
Melihat reaksi El, Marco perlahan melunak, dia duduk disamping ranjang didekat El. menatap gadis itu lembut. Akhirnya mereka bisa kembali sedekat ini, setelah setahun lebih berpisah.
pria itu mengulurkan tangan untuk mengusap puncak kepala Eleasha, tapi justru gadis itu bergerak mundur terlihat sengaja menghindar.
"Apa kamu nggak bisa kayak dulu Sha? Apa kita nggak bisa kayak dulu?"
"Lo masih nanya, setelah semua udah terjadi?" El bertanya dengan nada tidak percaya. "Lo yang pergi duluan Marco, Lo yang ninggalin gue"
"makanya sekarang aku kembali Sha. Aku kembali ke kamu!"
El menggeleng "Sudah terlambat Marco, kisah kita udah selesai. Kita sudah tutup buku"
"Aku ngelakuin ini semua buat kamu, kenapa kamu nggak bisa ngerti?!"
"Ninggalin gue trus nikah sama mama gue, lo bilang itu buat gue? Sumpah gue benar-benar pengen nampar lo sekarang" El semakin emosi.
"Aku nikah sama mama kamu, itu demi kamu. Biar apa? supaya harta mama kamu yang banyak itu nggak kemana-mana, tetap akhirnya akan jatuh ke kita, ke kamu ke anak-anak kita..ke.."
Marco tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena untuk pertama kalinya sejak mereka bersama, gadis itu menamparnya.
"Lo itu laki-laki paling menjijikkan yang pernah gue kenal"
Marco terhenyak, ini adalah pertama kalinya El menyentuhnya dengan kekerasan. Tatapan itu penuh amarah dan benci, pria ini tidak lagi menemukan cinta seperti dulu dimata favoritnya itu.
"Aku begini demi kamu!!! Jadi menjijikkan atau rendahan sekalipun untuk kamu!!!" Marco memegang pundak El, mengguncang tubuh kurus itu mencoba untuk merebut kembali fokus gadis itu.
El mendorong pria itu untuk menjauh, dia amat sangat merasa jijik dengan Marco yang sekarang "jangan sentuh gue" Jerit El.
"Elo bilang buat gue? Nggak Marco itu buat diri lo sendiri, lo egois! lo brengsek! gue nggak bisa maafin lo untuk semua yang sudah lo lakuin, apalagi menyangkut mama"
Marco tertawa, kembali mendekati gadis itu "mama? dia bahkan nggak pernah sekalipun mikirin kamu sayang, dia juga wanita egois yang hanya memikirkan diri sendiri dan kepuasan diatas ranjang, dia beda sama kamu Sha."
El terdiam. Matanya panas mendengar bagaimana laki-laki ini membicarakan mamanya. "cukup! Jangan bicara lagi"
Marco mengulurkan tangan berusaha memegang wajah El walau gadis itu berupaya menghindar "kamu makanya tetap disini, Sha. Supaya rencana yang sudah aku susun berjalan lancar. Setelah aku buat mama kamu meninggal karena kecelakaan, kita akan kembali bersama tentu saja setelah semua hartanya dipindahkan atas nama aku"
pria itu berdiri, memaksa mendaratkan ciuman di pipi gadis itu dan memutuskan segera pergi saat mulutnya hanya bisa mengecup rambut dan telinga El. Sepertinya dia memang harus segera menjalankan rencana akhirnya secepatnya.
...****************...
"Lokasinya di Jakarta Timur, ini lokasi perumahan mewah yang pailit, dan sudah 6 tahun terbiar"
Jerome membaca pesan yang dikirimkan Iqbal padanya. Alat pelacak yang masih dalam tahap pengembangan oleh tim mereka ternyata dipasang sang boss pada beberapa sepatu milik Eleasha.
Dan ternyata hal itu adalah sebuah keuntungan dalam keadaan seperti ini.
"Lokasi yang keluar lewat aplikasi tracker yang menunjukkan Depok, memang benar. Tas Eleasha ditemukan di sana, tepatnya di salah satu rumah kosong" Lanjut Jerome.
Kayden mengepalkan tangan, mereka sepertinya sedang bermain-main dengannya. Pria bernama Marco itu sepertinya tidak tahu siapa yang sedang dia tantang.
"Kerahkan semua tim kita, bawa pulang Eleasha kerumah"
...****************...
__ADS_1