
Kayden segera berdiri dari kursi, berjalan menuju kamar. Kepalanya mendadak berdenyut sama seperti hatinya saat melihat penggalan video tadi. Luka yang dia buat untuk gadis itu sudah sangat banyak sampai dia lupa awal mulanya.
Pria itu terpaku saat baru saja melangkah masuk kedalam kamar, Ranjang King size itu malah mengingatkannya pada malam dimana dengan brengseknya dia merenggut hal berharga yang dijaga mati-matian oleh gadis itu selama ini, hanya karena terbakar cemburu dengan perkataan si sialan Marco.
Tidak hanya merebut sesuatu yang berharga dari Eleasha, dia juga melukai gadis itu dengan kata-kata menyakitkan. Dan lebih parahnya menginjak harga diri seorang wanita untuk sesama wanita, dengan dalih demi sebuah keadilan.
Pria itu berjalan cepat kearah ranjang, menarik selimut dan sprai baru yang terpasang disana kemudian melemparnya asal. Kayden benci dengan kenyataan bahwa memori yang tertinggal dirumah ini dari gadis itu hanyalah sesuatu yang menyakitkan hati, baik untuknya juga untuk Eleasha.
...****************...
.......
Eleasha sudah mencari ke semua tempat tapi dia sama sekali tidak menemukan keberadaan amplop cokelat yang dia bawa dari rumah Kayden.
Amplop yang dia tukar dengan keperawannya dan sekarang amplop itu hilang entah kemana.
Gadis itu duduk dengan tubuh yang terasa lemas, dia kehilangan benda yang seharusnya di simpan dengan baik entah sejak kapan.
"Nggak mungkin Alena atau Ed" El bergumam pelan "Tapi nggak mungkin juga mama kan?"
Eleasha membeku saat tiba-tiba sosok Kayden berjalan tepat didepannya dengan wajah songong ciri khas pria itu. Sambil membawa sebuah kantong yang dihafal El diluar kepala.
Kantong berisi martabak manis dan sosok Kayden waktu itu tersimpan dengan begitu manis di dalam memorinya, tapi kenapa kisah mereka sama sekali tidak bisa semanis Martabak manis?
El menatap seluruh bagian apartemen yang tidak luas ini, semua bagiannya --kecuali kamarnya-- meninggalkan memory tentang Kayden dan dia benci hal itu, karena meski sudah disakiti dan dibuat terluka parah sekalipun El tidak pernah sanggup membenci pria itu dengan sepenuh hati.
...****************...
Kayden menekan kepala botol parfume beraroma sama persis dengan milik Eleasha yang tumpah di salah satu ruang di lantai satu rumah ini.
Jerome membeli sekitar 20 botol parfume berbeda yang punya ingredients
__ADS_1
yang dominan atau paling tidak ada komposisi bunga Lilynya.
Dan Yves Rocher Comme Une Evidence Eau de Parfum adalah aroma yang paling mendekati, komposisi parfume ini memang mengandung bunga bernama lily, yaitu Lily of the valey.
Setelah kepo dengan bunga itu, Kayden akhirnya tahu kalau Lily of the valey adalah si cantik yang beracun tapi juga bermakna kesetiaan. Dia tersenyum karena makna bunga itu jelas sangat menggambarkan seorang Eleasha Halim.
Ini sudah hari keempat sejak kejadian 'penculikan' itu, dan sudah selama itu juga dia tidak bertemu El.
Melalui Jerome, si Alena memperingatkannya untuk tidak lagi mencoba mendekati atau bahkan mencari El dengan alasan apapun. Kalau di pikir-pikir banyak orang yang mulai membangkang padanya akhir-akhir ini.
Pria itu teringat sesuatu, dia menarik salah satu laci meja kerjanya ini mengeluarkan kotak beludru berwarna navy, dan dengan perlahan membuka kotak itu. Kalung dengan bandul nama panggilan Gadis itu yang diapit dengan bunga lily terlihat berkilau saat di tempah cahaya. Kayden menggenggam bandul kalung itu, menggosok nama El dengan ibu jarinya dan mendadak mempunyai ide yang cermerlang di kepala.
...****************...
Elizabeth membekap kuat mulutnya kuat, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara apapun. Dia harus keluar dari sini hidup-hidup dan tentu saja tanpa ketahuan.
Ulang tahun pernikahannya hanya tinggal menghitung hari, dan wanita ini sama sekali tidak menyangka kalau dia akan mendapatkan hadiah Anniversarry dengan cara seperti ini.
Semua berawal dari rasa ingin tahu yang sangat besar, sampai dia nekat mengikuti Marco ketempat ini dan tidak disangka pria yang berbagi ranjang dengannya itu ternyata adalah pria mengerikan, yang bahkan tidak segan membunuh orang dengan menyiksa terlebih dulu.
Ternyata hal yang dia ketahui tentang suaminya mungkin hanya seujung kuku. Wanita ini menyesali kebodohannya yang tidak meneruskan investigasi yang dulu untuk pria itu, perasaannya yang timbul perlahan untuk pria itu telah membuatnya buta dan menutup mata untuk semua berita buruk tentang pria yang berstatus sebagai suami itu.
Haruskah dia menyesalinya sekarang? Apakah belum terlambat?
Dan yang lebih menyakitkan, Marco adalah dalang dibalik kecelakaan yang dialami sang ayah. Marco juga yang memberitahu hal-hal buruk tentang El kepada ibunya sampai kesehatan sang ibu langsung drop dan langsung menyusul sang suami.
Dan pria yang sama itu juga telah merencanakan hal mengerikan untuknya. Sebuah kecelakaan yang melibatkan truk konteiner, Marco bahkan sudah menyiapkan seorang sopir untuk menjadi algojo dalam eksekusi mati untuknya.
Elizabeth menggeleng dengan mata yang sudah basah dan air mata, bagaimanapun caranya dia harus tetap hidup dan memberitahu hal ini pada Eleasha. Karena hanya putrinya itu satu-satunya harapannya, satu-satunya hal terakhir yang dia punya.
...****************...
__ADS_1
Eduard mengusap wajahnya berkali-kali, kepalanya terus mengulang perkataan Kayden tentang kehamilan Elisa. Pria itu menggeleng tapi juga tidak bisa menyangsikan, karena itu sama sekali bukan wewenangnya untuk mengatur sebuah kehidupan. Kuasa Tuhan bisa mematahkan semua logika paling sempurna sekalipun.
Tapi, hal ini juga bukan kali pertama gadis itu mengaku hamil. Elisa sering melakukannya sejak awal pernikahan mereka, dengan alibi sebagai permohonan dan doa untuk usaha mereka mendapatkan garis dua.
Sekarang pria itu bimbang, antara harus percaya tentang kehamilan Elisa atau percaya kalau ini hanya sekedar Prank semata seperti yang sering gadis itu lakukan selama ini.
...****************...
Kayden membawa mobilnya melaju membelah udara malam bergabung dengan lalu lintas padat Jakarta. Tangan kirinya masih menggenggam kalung dengan bandul inisial nama Eleasha, otaknya berperang dengan logika tapi hatinya mantap untuk menuju ke arah gadis itu.
Kayden bahkan bisa pergi ke tempat Eleasha dengan mata tertutup sekalipun.
Pria itu kembali menambah kecepatan dan sedikit membuat manuver supaya segera sampai ke tempat gadis itu berada.
Tidak butuh waktu lama untuk dia bisa sampai ke apartemen Eleasha, dengan terburu-buru Kayden segera keluar dari mobil dan melangkah cepat memasuki gedung apartemen.
Rasanya dia ingin melakukan teleportasi atau mungkin terbang supaya lekas sampai di lantai tempat El tinggal, rasanya dia ingin melenyapkan lantai-lantai yang lain yang ada di apartemen ini dan hanya menyisahkan lantai tempat unit 3091 itu berada.
Kayden terlihat gelisa saat berada di dalam lift, kepalanya terus mendongak melihat kearah layar tempat pemberitahuan posisi lantai. Floor Designator terus berganti dengan angka yang berbeda sampai bunyi yang begitu familiar terdengar, Kayden tersenyum tidak mampu menyembunyikan perasaan senang, pria itu setengah berlari menuju pintu unit bernomor 3091, ia segera menekan beberapa digit nomor di door lock dan langsung menelan kekecewaan karena ternyata gadis itu sudah merubah nomor password pintu ini.
Kayden mengeram frustasi, tangannya terkepal didepan mulut memandang door lock yang ternyata memang sudah berganti menjadi versi yang lebih baru. Kunci pintu itu bahkan sudah dilengkapi dengan sidik jari, saat pria ini sudah meruntuhkan ego besarnya untuk bertamu dengan normal tanpa menggunakan jalan pintas, keberuntungan itu menghampirinya.
Kayden tersenyum setengah saat melihat kartu kecil yang sangat dia yakini adalah salah satu akses untuk membuka pintu ini tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Pria itu membungkuk untuk memungut benda kecil itu, sekarang wajah frustasinya tersapu bersih berganti dengan raut yang kelewat berseri.
...----------------...
Makasih udah nyariin😅
Sering-sering yah?😂
Dan maaf untuk chapter kali ini, agak pendek nanti ditebus di chapter selanjutnya yah?
__ADS_1
stay safe, stay healty yah kalian💛