EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Lepaskan atau tidak?


__ADS_3

...****************...


El menatap layar handphonenya yang menampilkan selfie yang dia ambil buru-buru di lokasi syuting MV pada waktu itu.



Dia mengerutkan kening, menatap penampilannya dalam foto, apa memang dia terlihat se seksi itu? Gadis itu bahkan masih setia dengan turtle neck-- gaya favoritnya. Bawahannya saat itu juga sebuah rok plisket panjang berwarna senada dengan warna atasan yang dia pakai. Masa hanya karena lengannya dan bagian kecil di dada yang terbuka lalu pria itu sudah mencap dirinya sebagai bom sex?


"Menurut lo gue di sini sexy nggak,Na?"


Alena melirik layar handphone El "Biasa aja, memangnya sejak kapan kamu punya image seksi? Biarpun udah berusaha tampil seksi dimata orang-orang kamu itu malah terlihat imut sih, kalo menurutku"


"Lha terus kenapa dia bilang gue sengaja pengen umbar badan kalo begitu? Makin nggak jelas ini orang lama-lama"


Alena tersenyum tipis "nggak usah di ladenin, dia kan memang cuma cari -cari kesalahan kamu, makanya udah paling benar kontraknya nggak di terusin."


El mengangguk tapi sedetik kemudian gadis itu memutar badan menatap Alena yang duduk dibalik kemudi "tapi elo gimana?"


"Aku? Kenapa aku?"


El merotasikan bola mata "Lo kan bagian dari agensi, Na? Lo lupa yah?"


Alena menginjak rem mendadak, diikuti dengan bunyi dentuman keras, dan benturan yang tidak kalah keras dari arah belakang, air bag's langsung bereaksi kedua gadis itu juga terselamatkan karena memakai seat belt.


...****************...


"Jadi gimana solusinya?"


Jerome menatap Kayden yang sedang memijit-mijit kepalanya sejak masuk keruangan ini, ruang kebesarannya.


"Ya.... pihak kita nggak bisa apa-apa, lain cerita kalau dia melanggar kontrak, tapi ini kan memang masa kontraknya yang sudah habis."


"Masa sih kita nggak punya power buat dia tetap stay disini?"


Siapa suruh power yang lo punya digunakan di situasi yang salah? Batin Jerome, yang akhir-akhir ini punya hobby baru yaitu membantah perkataan Kayden dalam hati.


"Jangka waktunya masih berapa lama?"


"Sebulan lebih"


"Apa? Kok lo nggak bilang?"


"Udah yah udah, sampe Alena juga udah di panggil pihak HRD" Jerome memberikan pembelaan.


Tiba-tiba Kayden seperti mendapat sebuah pencerahan saat mendengar nama itu "Alena Laurel, dia bagian perusahaan ini kan?"


Jerome tersenyum jengah. Rencana busuk apalagi yang tercipta di otak En kali ini.


"Kalo ini termasuk dalam misi balas dendam lo, please....jangan bawa-bawa Alena deh, dia nggak ada sangkut pautnya sama sekali, dan lagi selama ini dia sudah bekerja keras sebagai Manajer merangkap semuanya untuk Eleasha"


Kayden seperti tersadar sehabis mendengar ucapan Jerome, dia menatap jemari tangannya. Cincin itu masih disana, melingkar indah di jari manisnya, sebuah usaha yang dia buat supaya tidak melupakan Lana, supaya jika dia sudah mulai terbiasa tanpa gadis itu, cincin ini akan selalu menjadi pengingat untuknya.


Jerome menyesali mulut lancangnya, dari sekian banyak hal kenapa juga dia harus menyinggung soal itu? Pria itu merinding, saat aura kelam itu kini mulai muncul di balik punggung Kayden lagi.


Tok tok...

__ADS_1


Suara ketukkan membuyarkan keheningan yang tercipta diruangan sang presdir, Jerome mempersilahkan masuk.


Jola sekertaris Kayden masuk dengan wajah khawatir, menghampiri dua pria itu


"Kenapa Jol?" Jerome buka suara.


"Ekhm... begini pak, ini ada kabar dari kantor agensi kalau beberapa saat yang lalu aktris Eleasha Halim bersama manajernya, mengalami kecelakaan"


Entah mendapat dorongan kuat dari mana, saat mendengar berita itu. En tidak dapat menghentikan kakinya untuk segera berdiri, kemudian berlari keluar ruangan tanpa peduli dengan hal apapun lagi, yang ada dipikirannya saat ini adalah bagaimana keadaan gadis itu sekarang, dia harus melihatnya secara langsung untuk bisa merasa tenang.


"Woii En, lo mau kemana? Dengerin dulu wooooiii...." Jerome menyusul Kayden setelah menginterupsi Jola tentang apa yang harus dia lakukan selama mereka tidak ada di sini.


...****************...


"Sorry El, demi Tuhan aku nggak sengaja" Alena sudah menangis setelah melihat keadaan El.


Gadis yang ditangisi malah cengengesan, salahkan air bags mereka yang terlalu reaktif sampai kondisi mereka malah jadi babak belur begini.


El bahkan harus memakai cervical collar karena kejadian ini, dan Alena tangannya harus di gips karena patah dan untunglah selebihnya mereka baik-baik saja.


"Lo yang lebih parah, Na. Bisa-bisanya lo nangis"


'"Tapi semuanya karena aku yang ngerem mendadak" Ucap Alena dengan nada penuh penyesalan.


El tesenyum walau agak sulit dengan penyanggah leher ini. Dia memaklumi kenapa sampai Alena melakukan hal itu, karena saking lamanya mereka bersama, mereka menjadi lupa dengan fakta kalau mereka ternyata bernaung di satu perusahaan yang sama, yang membuatnya berbeda adalah El seorang talent dan Alena adalah seorang staff dari agensi itu.


"Nggak apa-apa, Na..."


"Kamu kena scandal lagi karena aku, masuk lambe lagi karena aku"


"Nggak apa-apa kok, lo fokus dulu sama kesembuhan tangan lo yah?"


Suara deheman menginterupsi percakapan dua gadis itu, Alena membalikkan badan dan seketika langsung pasang badan, sengaja berdiri menghalangi tubuh El yang sedang duduk diatas ranjang.


Sosok itu berjalan masuk dengan aura kelam yang membuat orang bisa merinding hanya dengan melihatnya dari jarak jauh sekalipun.


Dibelakang sosok itu pria yang lebih tinggi beberapa centimeter menyusul masuk dan langsung mendekat ke arah Alena, Jerome mengamati gadis mungil itu dari kepala sampai ke kaki kemudian kembali pandangannya terfokus pada tangan Alena yang di gips dan memakai arm sling.


"Ngapain pasien di kamar rawat pasien lain?" Protes pria itu kemudian segera merangkul Alena dengan hati-hati lalu menuntunnya keluar ruangan, untuk kembali ke ruang inapnya sendiri.


Alena yang kena syok dengan Aura kelam sosok itu, dan perhatian tidak biasa dari Jerome entah kenapa langsung bersikap kooperatif, dia sadar kalau telah melakukan kesalahan fatal karena hampir mencelakai artisnya.


Sosok itu berjalan mendekat kearah ranjang, saat Jerome dan Alena sudah keluar dari ruangan ini. Dia berdiri tepat di ujung ranjang, tepat berhadapan dengan gadis itu.


"Saya nggak tahu kalau kamu punya banyak sekali cadangan nyawa"


El menatap sosok yang sekarang sedang menyeringai ke arahnya. Gadis itu memperingatkan dirinya untuk tidak terpancing dengan semua profokasi pria itu.


"Maaf sudah buat anda kecewa, karena saya masih bisa hidup sampai detik ini"


Mata Kayden berkilat dia benci jawaban gadis itu, tapi sebagian dirinya juga menyadari dia tidak seharusnya menaruh iba.


"Justru saya akan lebih kecewa jika kamu mati tanpa pernah mengakui dosa yang sudah kamu lakukan"


El mengangguk, tersenyum miris. Menertawai dirinya sendiri karena sempat menyukai setiap sentuhan , merasa nyaman dan bahkan pernah berdebar untuk pria ini. Memangnya apa yang dia harapkan? Masa depan untuk hubungan mereka memang sama sekali tidak ada, tidak akan pernah ada. Itulah kenyataannya.

__ADS_1


"Saya minta maaf karena mungkin anda akan merasa kecewa seumur hidup anda, karena saya memang bukan pembunuh Lana."


Bohong. El jelas berbohong, diingatannya masih sangat jelas bagaimana kejadian hari itu, dalam ingatannya masih sangat segar, bagaimana tubuh gadis dengan gaun pengantin itu melayang dan menyambar kaca tepat didepannya. El terpaksa harus mengatakan kebohongan ini, karena kalau tidak dia akan terus menerus terlibat dengan Kayden.


Tatapan Kayden menajam, ini pertama kalinya dia mendengar gadis itu mengeluarkan kalimat pembelaan untuk dirinya sendiri. Selama ini didepannya gadis itu tidak pernah sekalipun mencoba membela diri, Eleasha tidak pernah sekalipun menyangkal atau mengiyakan hal itu.


El mengerjab, berusaha terlihat kuat karena dia ahlinya dalam berakting. Dia memutuskan untuk menjalani kesempatan hidupnya kali ini dengan sebaik mungkin, termasuk menyingkirkan rasa takut dan rasa bersalah akan kejadian itu. Tapi tetap akan terus mengingatnya, karena sejak kecelakaan itu dia sudah punya tanggung jawab untuk para korban dan keluarganya.


El tetap akan menjalani hukuman atas kejadian itu tapi dalam keheningan. Tanpa pernah terungkap, karena itulah yang paling terbaik untuknya, untuk semuanya. Seperti kata sang mama dulu.


"Saya mengerti kalau anda akan tetap membenci saya, anda akan terus menganggap saya yang salah. Itu hak anda. Tapi menjadi hak saya juga untuk terus menjalani hidup tanpa harus terbebani dengan sesuatu yang tidak seharusnya saya pikul"


Kayden diam bukan karena dia tidak ingin menyela perkataan gadis itu, tapi dia ingin tahu sampai dimana arah pembicaraan ini berujung.


"Karena itu saya ingin kita tidak terlibat lagi satu sama lain, anda pernah bilang saat kita jatuh di jurang kalau anda pasti akan membalas kebaikan saya kan? Apa boleh balasannya adalah dengan membiarkan saya lepas dari anda?"


...****************...


Lepaskan atau tidak? Kayden menatap cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya. Cincin tunangan yang disematkan Lana dan cincin di tangan kanan yang adalah cincin pernikahan mereka yang dia sematkan sendiri karena Lana tidak punya kesempatan melakukannya.


Lana-nya yang cantik, satu-satunya wanita yang dia cintai, yang posisinya tidak pernah akan bisa terganti oleh siapapun dan mungkin sampai kapanpun. Posisi Lana di hatinya itu sudah mutlak, tapi gadis itu jelas berbeda. Rasa benci, rasa curiga, rasa ingin tahunya, untuk gadis itu malah menjadi kunci untuk masuk kedalam hati dan pikiran En.


Tanpa sepengetahuan, El sudah menyelinap masuk mengambil tempat tapi entah kenapa sama sekali tidak menggeser posisi Lana. Dia mencuri tempat diam-diam tapi tetap menjaga jarak aman sehingga terasa sulit didekati oleh En.


"Bad girl"


Kayden mengusap wajahnya, lihatlah bagaimana Eleasha selalu membuat dia kepikiran. Insiden Bra merah bahkan belum selesai dan kali ini sudah ditambah dengan kontrak eklusif gadis itu yang akan segera berakhir. Jadi apa yang harus dia lakukan?


...****************...


1 minggu kemudian


"Masih pucat kok dipaksain El? Kalo pingsan gimana? Memangnya leher kamu udah sembuh?" Alda berkomentar sambil menambahkan perona pipi di wajah pucat Eleasha.


"Kan masih ada Lo, Buat ngangkat gue kalo pingsan" Ucap El sambil mengedipkan mata. Ini tepatnya dua minggu El keluar dari rumah sakit pasca kecelakaan kecil bersama Alena.


"Sialan lo" sungut Alda sambil mengerucutkan bibir "tapi makasih yah El, sudah bertahan. Gue tetap punya kerjaan tambahan deh"


El hanya bisa tersenyum kecut mendengar perkataan Alda.


"Permisi, ini ada kiriman bunga buat nona Eleasha" seorang Kru tiba-tiba mengetuk pintu ruangan ganti.


Alda mempersilahkan masuk dan menyuruh buket bunga yang ternyata bukan hanya 1 itu diletakkan di atas meja panjang dalam ruangan.


"Bunga dari siapa sih, banyak amat. Jangan-jangan dari si direktur nih" Alda menarik sebuah kartu ucapan yang terselip di salah satu buket kemudian membukanya dan langsung menjerit "oh my God" sambil menyerahkan kartu itu pada El.


El yang tidak begitu penasaran, mengambil kartu ucapan dari tangan Alda, dia sudah bisa menduga pasti Arthur Xavier yang kembali memberinya bunga. Bukankah dulu juga seperti itu? Lagipula Arthur memang tipe laki-laki yang penuh kejutan, jadi siapa lagi kalau bukan pria Thailand itu.


Tubuh El langsung membeku, saat matanya berhasil mengirim signal pada otak, kartu dalam genggaman tangannya langsung jatuh perlahan kelantai.


"Sebenarnya dia maunya apa sih?" Ucap El geram.


...****************...


Jadi gimana nih gaiss lanjut nggak nih?

__ADS_1


__ADS_2