
El melayangkan tamparan keras untuk Marco, membenturkan kepalanya di kepala pria itu dan segera menghindar saat Marco kesakitan akibat perbuatannya.
Dengan cepat Eleasha meraih pajangan berbahan kaca di dekat ranjang, membenturkan benda itu ke nakas sehingga membentuk ujung tajam yang akan dia jadikan senjata untuk melindungi dirinya.
Marco yang baru saja mengangkat wajah setelah beberapa saat kesakitan karena sama sekali tidak menyangkah akan diserang secara brutal oleh gadis itu, langsung menyeringai.
Saat melihat Eleasha mengacungkan benda tajam padanya, wajah cantik itu jelas terlihat panik dan tentu saja ketakutan "Kamu mau nyakitin aku dengan itu?" tanyanya dengan nada meremehkan.
Eleasha mengangkat tinggi senjata buatannya ke arah Marco "Gue akan coba ini ke lo, gue akan buat lo berdarah dan tinggalin lo disini supaya lo menderita sama kayak yang lo lakuin ke Lana dan keluarganya, ke bang Kai, ke Ed dan istrinya, ke gue...." gadis itu menyempatkan diri untuk mengambil nafas sebanyak-banyaknya sebelum kembali bersuara "Dan ke mama"
Air mata El jatuh membasahi pipinya, dia berdoa dalam hati supaya calon bayinya tidak kenapa-napa setelah kejadian yang menguras habis energi dan emosinya ini.
Marco maju dengan begitu mudah menghindari serangan Eleasha dan dengan gampang memutar balik keadaan. Kini benda berujung tajam itu sudah berada dalam genggamannya, dan di arahkan ke leher putih gadis itu yang tanpa cela.
"Sekarang kita lihat, siapa yang akan mati setelah lehernya tergorok dengan benda ini"
Marco membuang rasa belas kasih yang sejak tadi merayu untuk mengasihani Eleasha, sebenarnya dia ingin sekali memberi El kesempatan untuk masuk kedalam rencana yang dia punya tapi selalu saja gadis itu berulah dan membuatnya semakin benci.
Tatapan pria itu turun pada perut El yang masih terlihat rata, gadis ini bilang kalau disana ada buah kasih dari Kayden Abraham, kenapa bukan darinya? Kenapa bukan dia yang memiliki kesempatan itu?
Setelah berjuang menahan segala godaan selama bertahun-tahun, menjinakkan sisi binatang yang dia miliki untuk Eleasha apakah ini balasan gadis itu untuknya?
Marco merubah posisi benda tajam itu yang awalnya mengarah ke leher Eleasha, kali ini berpindah ke perut gadis itu.
El membelalak saat sadar dengan perubahan yang dilakukan Marco, dengan sekuat tenaga dia menahan tangan pria itu agar menjauhi perutnya. Demi Tuhan calon bayinya tidak harus terlibat atau mendapat kebencian pria ini juga. Janin dalam rahimnya tidak tahu apa-apa.
"Jangan sakitin bayi gue" ucap El ditengah usahanya menjauhkan benda tajam itu dari perutnya.
"Kalo kamu mati, kamu pikir dia akan bertahan?"
El terperanjat, tiba-tiba langsung merasa takut. Bukan kepada kematian tetapi pada kesempatan untuk memberi kehidupan kepada calon bayi yang kini sedang dalam perutnya.
__ADS_1
"Kalo kamu nggak bisa sama aku, Sha. Itu artinya kamu juga nggak bisa dengan siapapun termasuk dengan bayi ini"
Egois.
Hal teregois yang pernah gadis itu dengar.
Marco tersenyum menyentuh wajah pias gadis yang terbaring dibawah kekuasannya "Selamat tinggal Eleasha, lebih baik kamu mati ditangan aku sekarang dari pada nggak berakhir sama aku"
Marco menekan benda tajam di perut El, membuat kulit gadis itu robek dan mengeluarkan darah.
El menahan sekuat yang dia bisa, semampunya mencegah benda itu masuk lebih dalam dan membunuh janinnya. Marco tersenyum meski kedua matanya jelas memancarkan luka, pria itu menarik benda tajam itu menjauh dan bersiap untuk menancapkan lebih dalam.
El mengigit bibir, dia menutup mata pasrah dengan keadaan. Dalam hati mengirimkan ribuan kata maaf untuk calon bayi yang ada dalam perutnya karena tidak bisa memberi kehidupan sesuai dengan janjinya selama ini.
Dor...
Suara tembakan memekakkan telinga
Dor...Dor...Dor
Apa saat ini dia sudah mati?
Eleasha hampir menjerit saat hal pertama yang dia lihat ketika matanya terbuka adalah tubuh Marco yang penuh darah jatuh diatas tubuhnya, Kepala gadis itu bergerak mencari jawaban atas apa yang dia lewatkan saat menutup mata.
Tidak jauh dari ranjang, dengan tangan yang masih gemetar wanita itu menurunkan pistol dan menjatuhkannya ke lantai, dia menatap nanar kearah tubuh penuh darah diatas ranjang.
"Mamah?"
Panggilan itu membuatnya tersadar, dia kemudian segera berjalan pelan menuju ranjang membantu El menyingkirkan jasad pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
"Mamah?" El berucap dengan penuh emosi, membuat Elizabeth segera merengkuhnya masuk dalam pelukan.
__ADS_1
Wanita itu kemudian segera tersadar dan menarik Eleasha yang masih syok dan tidak sepenuhnya sadar dengan situasi yang terjadi untuk bangkit dari ranjang.
Hal itu membuat Eleasha meringis kesakitan sambil memegang perutnya yang terluka dan mengeluarkan darah.
Elizabeth memeriksa luka tersebut dan bisa merasa lega karena itu hanyalah sebuah luka kecil yang tidak dalam.
"El dengerin mama, kamu harus keluar dari sini lewat pintu darurat di lantai bawah tanah. Saat kamu berhasil keluar dari lorong bawah tanah, didepan pintu rahasia itu ada Alena yang sudah menunggu kamu dengan mobil"
Elizabeth memberikan potongan gaun yang baru saja dia robek dari ujung gaun yang dia pakai, kemudian menempelkannya pada perut El yang mengeluarkan darah.
"Minta Ed buat obatin luka ini, dan setelah itu periksakan kondisi bayi kamu" wanita itu mengelus lembut pipi anaknya, mungkin ini sudah sangat terlambat menjadi sosok ibu yang sesungguhnya untul Eleasha.
Tapi bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali?
"Jangan tanya apapun dulu saat ini, akan mamah jelaskan semuanya nanti. Tapi sebelum itu, kamu harus pergi dari sini"
"Ta..pi"
"El tolong percaya sama mama, dan tolong dengerin mama"
Gadis itu mengangguk meski amat sangat kebingungan, dia sama sekali tidak memahami situasi yang sudah terjadi. Ada banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya sekarang, tapi untuk kali ini dia mau percaya, seperti yang sudah-sudah.
"Kamu akan menemukan pintu rahasia itu lewat kamar yang dijadikan gudang di dapur kotor sebelah barat, pintunya ada di dalam lemari disana"
"Kenapa kita nggak pergi bareng aja?"
Elizabeth menggeleng "Harus ada yang jadi tersangka dalam kasus ini, dan kamu sama sekali nggak boleh terlihat disini supaya nggak di sangkut pautkan dengan ini semua"
"terus mamah?"
"Anggaplah ini harga yang harus mama bayar sama kamu," Elizabeth menyentuh perut Eleasha "Tolong selamatkan cucu mama, kasih dia kehidupan dan kasih sayang yang melimpah, jangan seperti omanya yang menelantarkan mamanya saat dia lahir ke bumi"
__ADS_1
Eleasha menangis dan terisak dalam pelukan sang mama, dia butuh awal yang baru bersama sang mama.
Semoga Tuhan memberikan kesempatan.