
Eleasha menatap sosok yang mengetuk kaca mobil sambil memintanya untuk membukakan pintu, gadis itu menyeka air mata berkali-kali untuk memastikan lagi sosok yang berdiri tepat disampingnya meski terpisah dengan material pintu mobil.
"El? Ini aku, tolong buka pintunya"
Eleasha menyeka air matanya, dan membuka pintu saat dia bisa mengenali siapa sosok yang sekarang sedang berjongkok disampingnya untuk mensejajarkan tubuh mereka.
"Kamu kok disini?"tanya El pelan sambil menyeka sisa-sisa air mata dengan punggung tangan.
"Aku ikutin kamu sejak dari pemakaman, kamu pasti nggak sadar yah? Tapi tadi sempat kehilangan jejak kamu, tapi untunglah masih bisa ke susul"
El menghembuskan nafas berat, kemudian menatap pria itu yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum lembut.
"Kok bisa?"
Sosok itu mengedikkan bahu "feeling aja, kamu mau kemana sih?"
"Kemana aja asal nggak ketemu Kayden"
"Ikut aku aja kalau begitu, kita ke Thailand aja gimana?"
"Tapi paspor aku ada sama Kayden, aku nggak bisa keluar negeri"
Sosok itu menyentuh tangan Eleasha yang ada di pangkuan gadis itu, "ada banyak jalan menuju Roma, El."
...****************...
Kayden terus menerus memeriksa handphonenya, setelah memborbardir ponsel El dengan pesan teks maupun pesan suara. Saat ini dia berharap gadis itu membalas pesannya.
Tapi meski hari sudah berganti, Eleasha tidak juga menghubunginya. Apa dia harus menyalahkan Jerome karena sudah lancang mematikan aplikasi pelacak pada handphone gadis itu? Pria ini tahu, maksud sepupunya itu baik dan benar hanya saja disaat seperti ini justru hal itu menjadi sebuah petaka.
Kayden menatap ranjang tempat tidurnya, teringat lagi pada malam itu membuat dia dengan seluruh rasa kesal menarik sprai dan menjatuhkan semuanya ke lantai.
Pria itu kemudian segera keluar dari kamar ini sebelum akan semakin gila karena kenangan malam itu, justru yang harus dia lakukan saat ini adalah mencari keberadaan ibu beserta anaknya.
"Cari semua tempat, lacak handphonenya kalo perlu. Gue nggak mau tahu pokoknya harus ketemu. Lakukan apapun untuk membawa Ily pulang ke gue"
Kayden menyambar kunci mobilnya dan segera berjalan keluar untuk melakukan pencarian sendiri. Dia memang sudah mengerahkan semua tim untuk mencari Eleasha, tapi dia tetap tidak mau hanya berdiam diri dirumah untuk menunggu.
Rasa ingin bertemu dan keselamatan gadis itu adalah prioritasnya.
Karena entah sejak kapan gadis itu telah berubah menjadi pusat dunianya.
__ADS_1
...****************...
2 bulan kemudian.
Uang bukan segalanya
tapi segalanya butuh uang.
Dan kenyataannya bagi Kayden saat ini uang tidak mampu membeli segalanya. Dia sudah mengerahkan segala cara tapi sampai detik ini Eleasha dan anak mereka belum juga ditemukan.
Uang dan kekuasan nyatanya tidak mampu menemukan mereka.
Kalau begitu apa artinya banyak uang dan kekuasaan? Kalau dia bahkan tidak bisa memakai kedua hal itu untuk membawa orang yang dia sayang kembali?
Kayden menatap lurus pada mobil didepannya, mobil yang akan membawanya pada Eleasha karena yang sedang mengendarainya adalah sahabat baik gadis itu.
...****************...
"Kayaknya kita lagi diikutin" Ed megamati spion tengah kemudian menatap Elisa yang sedang duduk disampingnya.
"Itu pasti En, kali ini dia pake mobil siapa lagi?" Elisa memutar tubuh untuk melihat kearah belakang langsung. "apa nggak sebaiknya kita kasih tahu aja keberadaan Eleasha?"
Eduard melirik istrinya kemudian fokus lagi dengan jalanan didepannya, mereka berdua memang berniat mengunjungi El tapi sepertinya rencana itu harus segera dibatalkan karena ada tamu yang tidak diundang.
"Hal itu nggak boleh terjadi sayang, El akan merasa kita mengkhianatinya. Dan akan ada kemungkinan dia nggak akan terbuka lagi ke kita"
Elisa mendesah sambil terus menatap ke arah mobil yang mereka curigai sedang dikendarai oleh Kayden. Mobil hitam itu beberapa saat kemudian terparkir tepat disamping mereka dan sosok yang mereka duga itu akhirnya keluar dari sana.
Kayden tampak jauh lebih kurus dibandingkan sejak mereka terakhir bertemu 2 minggu yang lalu, dan tangan pria itu di perban menunjukkan sesuatu yang baru yang tidak ada padanya dua minggu yang lalu.
"Disini aja sayang, jangan keluar" Ed berucap sambil melepas sabuk pengaman, lalu membuka pintu dan keluar dari mobil meninggalkan Elisa didalam.
Sementara Kayden membuka kacamata hitamnya, menampilan lingkaran hitam yang sangat parah dari pria itu.
"Kenapa menguntit kami En?" tanya Ed saat Kayden sudah berada tepat didepannya, menatapnya tajam.
"Gue pengen lihat istri dan anak gue"
Ed mendengus "kalian bahkan belum menikah"
"Gue nggak tahu dimana mereka, sedang apa dan bagaimana keadaan mereka" Kayden terlihat tidak menggubris sarkas dari Eduard.
__ADS_1
"Tolong kasih tahu gue dimana mereka"mohonnya lagi.
Eduard mengusap wajahnya, jujur saja dia juga merasa frustasi dengan keadaan ini. Meski mungkin tidak sefrustasi pria didepannya.
"Melihat El belum menghubungi lo sampai detik ini, itu artinya dia nggak pengen ketemu lo lagi, En"
"Tapi dia pasti salah paham, Eduard!! Tolong kasih gue kesempatan buat menebus itu semua. Kita harus membesarkan anak kita bersama" lirih Kayden dengan hati nelangsa. Ini merupakan dua bulan paling menyiksa seumur hidup Kayden, lebih menyiksa dari saat harus kehilangan Lana dulu.
"Membesarkan anak nggak harus dengan menikah"
Kayden maju mencengkram kerah kemeja Eduard "lo tega anak gue orang tuanya pisah? Lo tega Ed?"
Elisa langsung keluar dari mobil, saat melihat kondisi mulai tidak kondusif lagi.
Gadis itu segera mencekram lengan Kayden yang sedang berada di kerah baju suaminya.
"En please jangan begini. Bukannya kami nggak pengen kasih tahu, tapi kami juga nggak ada pilihan selain tetap merahasiakan keberadaan Eleasha dari lo"
Tatapan tajam Kayden beralih ke arah Elisa sekarang, kalau saja sepupunya itu bukan perempuan dan sedang tidak mengandung rasanya dia juga ingin sekali mencekram kemeja milik Elisa sekarang.
"Gue khawatir disetiap detiknya, gue nggak mau dia memikul tanggung jawab sendirian" cengkraman itu mengendur seiring dengan ucapannya selesai.
"En kalo lo kenal El, lo akan tahu seberapa kuatnya dia. Dan kalo dia bilang nggak, itu artinya nggak" ucap Eduard pelan. "saat dia keluarin lo dari hidupnya, itu artinya lo nggak akan punya kesempatan lagi selamanya"
Cengkraman itu terlepas, Kayden terhuyung kebelakang tapi langsung dengan sigap di topang oleh Elisa.
"Sorry to say, but it's time too late"
...****************...
El mengelus perutnya yang sudah mulai kelihatan menonjol sekarang, gadis itu tersenyum tipis sambil memandang hasil rajutan syal yang dia buat sendiri.
Disamping syal sudah ada kaos kaki dan topi bayi hasil dari buatan tangannya sendiri, tinggal selama hampir 3 bulan di tempat ini membuat dia belajar banyak hal salah satunya menghasilkan sesuatu dari rajutan.
Gadis itu mendongak, menatap langit jingga kota Bandung. Pasti tidak akan ada yang bisa mengendus keberadaannya disini ---kecuali orang-orang tertentu yang dia percayai--- karena semua administrasi bahkan kepemilikan tempat ini adalah milik dari seseorang yang membantunya untuk bersembunyi.
Arthur Xavier, pria berkebangsaan Thailand tapi ternyata masih memiliki darah Indonesia pria yang sejak awal terlihat begitu tulus padanya.
Arthur yang menyiapkan segalanya termasuk melenyapkan benda-benda yang bisa di lacak oleh Kayden dengan kekuasaan pria itu.
Intinya dua bulan ini dia telah berhasil bersembuyi dengan baik, meski hatinya sangat merindu pada sosok yang seharusnya tidak pantas dia rindukan.
__ADS_1
...****************...