
Sosok itu semakin cantik dengan outfit santai yang dia gunakan. Wanita ini memang tidak bisa terlihat sebagai sosok ibu untuk El, secara visual mereka berdua terlihat seperti kakak beradik.
"Kenapa kamu bersuara keras sama papa? Dimana sopan santun kamu? Dimana rasa hormat kamu untuk orang yang lebih tua? Dia papa kamu lho, kamu nggak boleh lupa fakta itu"
Tatapan beralih pada sang mama, kepada wanita yang sudah pasti menurunkan kecantikan ini padanya juga.
"Mama kenapa nggak tunggu aku? Kenapa pemakaman oma dipercepat, bahkan hanya kurun waktu 4 jam pasca keluar dari rumah sakit?" El mati-matian menahan segala emosi yang berkecamuk dalam dirinya, yang tadi sempat keluar saat bicara dengan mantan tunangannya.
Nada bicara gadis itu menurun saat bicara dengan sang mama.
Elizabeth Halim. Wanita berusia 43 tahun, yang masih terlihat menawan di usianya yang tidak bisa dibilang muda lagi.
Orang yang melihat wanita ini pasti akan mengira usianya masih 20an. Foto masa remajanya bahkan tidak jauh berbeda dengan penampilannya sekarang. Elizabeth begitu awet muda.
"Kamu pikir kami baru satu atau dua kali coba menghubungi kamu? Kalau pun memang kamu bisa pulang saat itu, kamu pikir kamu pantas ada disana?"
El membeku, sebuah sayatan lagi di tempat yang sama oleh orang yang sama. Gadis itu terluka dan sangat terlihat dari matanya. Seketika dia tidak lagi peduli dengan rasa sakit dibagian kaki dan tangannya, rasa sakit di hati menutupi semua.
"Sayang, jangan begitu. Biar bagaimanapun Eleasha juga bagian dari keluarga"
Elizabeth berjalan menghampiri pria yang berdiri di samping meja makan, tangannya terulur memeluk leher pria tinggi itu dan mendaratkan sebuah ciuman mesra di bibir pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
Marco menatap El yang juga sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Sebenarnya dia ingin memeluk gadis itu menghapus air matanya, menenangkan seperti yang selama ini dia lakukan. Tapi sepertinya tidak untuk saat ini, gadis itu banyak kali memprovikasinya dengan kedekatan-kedekatan dengan banyak pria akhir-akhir ini. Belum lagi dengan cara bicara gadis itu kepadanya, Eleasha harus mendapat hukuman atas segala tindakan yang hampir membuat Marco hampir lepas kendali dan melupakan semua rencana yang selama ini sudah dia susun dengan begitu baik dan sangat rapi.
Pria itu menangkup wajah wanita yang sejak tadi mencoba merayu dengan sentuhan bibir di atas bibirnya, dengan mata yang masih tertuju pada El dia membalas ciuman itu dengan ******* yang semakin panas.
El tidak bisa melihat lebih lanjut adegan panas sepasang suami istri itu lagi, saat sebuah tangan dengan cepat memutar tubuhnya menghadap arah yang berlawanan.
"Jangan lihat"
Gadis ini menarik nafas lega, pria ini memang adalah penyelamat dalam hidupnya. El mengangguk membuat air mata yang sejak tadi menumpuk di pelupuk mata langsung jatuh dan membasahi pipi putihnya.
"Bawa gue pergi Ed, gue mohon"
Ed melingkarkan tangannya di bahu gadis itu, "Lo boleh bersandar di gue." Ed mendekap tubuh El lebih erat, "Sandarin ke gue rasa sakit, rasa benci, semuanya El"
__ADS_1
...****************...
Marco melepas ciuman panas itu, dia membalas pelukkan Elizabeth. Walau matanya masih terus menatap kearah punggung gadis yang masih dia cintai dengan kadar yang sama. Punggung itu menjauh, tubuh mungil itu bersadar bukan padanya, tapi pada pria yang sejak dulu selalu membuatnya terbakar cemburu, selalu saja membuatnya menjadi nomor dua untuk gadis itu.
Marco menyeka bibirnya, usahanya untuk menjauhkan mereka berdua harus lebih keras lagi dari yang sudah-sudah.
Dan target selanjutnya adalah Elisa. Santoso.
...****************...
El membiarkan tubuhnya luruh di rerumputan halaman rumah mewah milik mamanya ini. Walau dia tidak bisa benar-benar jatuh karena Ed memegangnya dengan erat.
Gadis itu menangis tanpa suara, air matanya terus mengalir membasahi pipi putihnya tapi sama sekali tidak terdengar isak dari mulut itu.
"Lo boleh teriak kalo memang perlu El, jangan kayak gini" Ed memegang pundak gadis itu, membuat El menatapnya dengan mata yang basah.
"Teriak atau seenggaknya terisak El" Ed berucap dengan nada memohon. Dia menggucang tubuh El yang tidak bertenaga, berusaha membuat gadis itu bisa melepaskan semua yang menghimpit di dadanya. Menangis tanpa suara, jelas adalah hal yang sangat menyakitkan karena tidak ada pelampiasan.
Ed menarik tubuh itu, mendekapnya erat. Memberikan usapan lembut sama seperti yang sering gadis itu lakukan padanya saat berada di titik terendah.
En menahan Elisa yang berniat menghampiri dua orang yang sedang berpelukan itu. Dari jarak itu, En bisa melihat air mata gadis yang sedang di peluk Eduard, tapi yang membuatnya bertanya-tanya kenapa tidak terdengar isak tangis? Kenapa bahu kurus itu sama sekali tidak bereaksi layaknya orang yang sedang menangis.
"Lepasin gue En, gue mau samperin mereka" ucap Elisa kesal karena tangannya sedang di pegangi oleh kakak sepupunya itu.
"Lo liat sendiri kan? Ed bahkan nggak peduli kalau gue nggak pulang. Dia hanya peduli sama cewek yang katanya sahabatnya itu!" Elisa menjerit, sudah dengan air mata.
Dan jeritan itu terdengar oleh Ed, pria itu mendongkak dan matanya langsung terkunci dengan tatapan tajam pria yang saat ini sedang memeluk istrinya dengan posisi yang sama dengan El yaitu membelakangi mereka.
Ed bisa menerima dengan sangat jelas tanda peringatan yang tersirat dari mata itu. Dan Ed sangat tahu, kalau itu bukan hanya sekedar peringatan biasa.
Dia hanya bisa mengikuti pergerakkan Elisa yang dituntun menjauh dengan matanya.
Ed sekali lagi sangat menyesal karena tidak bisa memilih Elisa dan meninggalkan Eleasha yang saat ini dalam dekapannya. El tidak mungkin ditinggalkan sendiri dengan keadaaan seperti ini. Gadis ini sedang sekarat.
Pria ini sama sekali tidak mempunyai pilihan untuk memilih Elisa, karena seperti yang pernah dia katakan pada En waktu itu, bahwa Eleasha sudah tidak lagi memiliki pegangan apa-apa.
__ADS_1
Kalau bukan dia, siapa lagi?
Ed 5 tahun
"Eduard Erasmus Santoso pangeran tertampan didunia, kalau suatu saat opa sudah tidak kuat atau mungkin tidak bisa lagi menjaga putri El, apa kamu bisa mengganti tugas opa untuk menjaga putri El?"
"Tentu saja opa, pangeran tampan Ed ini akan menjaga putri El dengan baik"
Ed 15 tahun
"Ed tolong jaga El yah? Cuma kamu yang opa percaya"
"Tentu saja, opa nggak boleh percaya orang lain selain si tampan ini"
Ed 17 tahun
"Opa kecewa El malah pacaran dengan laki-laki itu. Tapi meski ini keterlaluan dan terkesan egois tapi opa masih ingin kamu jaga dia Ed"
Ed 24 tahun
"Opa tenang aja, satu-satunya motivasi aku lulus lebih cepat, belajar mati-matian biar bisa jadi dokter hebat buat El"
Ed 26 tahun
"Opa nggak bisa nyalahin kamu untuk keputusan kamu ini. Biar bagaimanapun kamu punya kehidupan sendiri. Selamat Ed, semoga langgeng sampe jadi opa-oma"
Ed 27 tahun
"Opa kayaknya nggak akan bertahan lama, tapi opa titip El. Cari pria yang tepat buat dia, jangan biarkan dia bertemu laki-laki seperti Marco"
...****************...
TBC
Ini tebusan eike setelah menghilang hampir seminggu, semoga suka yah gais?
__ADS_1