EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Masih belum terlambat


__ADS_3

...****************...


"Capek...." El berhenti berjalan, dia memutuskan berhenti dan menyeka keringat yang memenuhi wajahnya dengan punggung tangan. Gadis itu menatap sekeliling berharap bisa menemukan akses ke jalan raya, atau paling tidak 1 manusia untuk bertanya. Tapi meski sudah berjalan jauh, tidak ada tanda-tanda El akan keluar dari kompleks sunyi ini.


Disekelilingnya hanya ada bangunan-bangunan rumah dengan pagar yang menjulang nyata, untunglah sepanjang jalan banyak pohon rindang yang bisa menghalangi sinar matahari yang lumayan terik. Padahal hari sudah sore.


El melirik jam tangan Gucci yang melingkar manis di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan setengah 4 sore dan tidak ada tanda-tanda dia akan keluar dari kompleks ini dalam waktu cepat. Semoga saja dia tidak terjebak sampai hari berganti malam, semoga akan ada yang menolong siapa saja.


"El?"


Gadis itu mendongkak, dengan nafas terengah dan produksi keringat yang sangat banyak. Mulutnya terbuka ingin bersuara tapi suaranya tidak kunjung keluar hanya tertahan di tenggorokkan.


"Ngapain? Sendirian aja?" Sosok itu melongo ke arah punggung El, mencari Manajer atau mungkin staff gadis itu tapi tidak ada siapapun disana selain El sendiri.


El membasahi bibirnya yang terasa kering, berjalan lebih dari sejam membuatnya kehilangan banyak cairan, dia kehausan tapi masih bisa ditahan dengan banyak-banyak menelan ludah.


"Kamu?....."


"Lagi syuting, aku lagi cari udara segar aja" bukannya minta pertolongan gadis ini malah membuat drama.


Dalam hati gadis ini bertanya, bagaimana bisa sosok ini ada disini, di negara ini?


Sosok itu mengangguk sambil tersenyum, menatap gadis itu memperhatikan wajah itu yang sekarang penuh peluh "kamu keberatan nggak main kerumah aku?" Sosok itu menunjuk rumah besar didekat mereka dengan dagu, "sekalian istirahat sebelum balik ke lokasi" tawarnya lagi.


El menelan ludah, tawaran itu terdengar sangat menggiurkan untuk kondisinya saat ini, masa bodoh dengan nanti. Setidaknya dia harus tetap melangsungkan hidup. Meneguk beberapa gelas air dan merebahkan tubuhnya diatas sofa empuk adalah prioritasnya saat ini.


Masa bodoh dengan banyaknya kata tanya dikepala tentang sosok yang ternyata kalau dilihat secara langsung lebih jangkung dan lebih bersinar, pantas saja banyak yang suka.


"Boleh deh," jawab El akhirnya.


Sosok itu mempersilahkan El masuk melalui gerbang mewah dan menghilang dibalik itu meninggalkan mobil hitam yang sejak tadi mengikuti El dan diam-diam membidik kegiatan gadis itu dengan lensa kamera.


...****************...


"Jangan menyesal untuk sesuatu yang nggak akan kembali, jangan bersikap banci dengan menyalahkan keadaan. Kamu masih bisa merubah apa yang perlu dirubah saat ini, tapi tidak dengan masa lalu" Alena menghembuskan nafas, dia tidak mau munafik dia sangat amat mendukung pasangan ini. Tidak ada yang sesempurna Eduard untuk Eleasha. Tapi gadis ini sadar diri, Ed sudah mengikat janji setia dengan orang lain itu artinya pria itu tidak lagi pantas untuk dipasangkan dengan siapapun kecuali dengan istrinya sendiri.


"Aku pikir ini hanya karena kurangnya komunikasi antara kalian, Ed. Kamu yang percaya ikatan kalian begitu kuat sehingga membiarkan Elisa berjuang sendiri mencoba memahami kamu yang begitu sayang El"


"Seharusnya dia mengerti kan? Aku bisa sampai di titik ini juga karena El dan keluarganya" Ed mencoba membela apa yang dia yakini.

__ADS_1


"Apa kamu sudah benar-benar buat dia mengerti? Atau hanya membiarkan dia mencari dan mengerti sendiri?" Eduard tersentak. Merasa perkataan Alena 1000% benar.


"Tapi Lisa dalang utama El masuk jurang"


Alena menatap pria itu "kamu yakin dengan hal itu? Sudah dengar penjelasan dari Elisa? Atau kamu sama sekali nggak kasih dia kesempatan untuk menjelaskan?"


Eduard membeku, dikepalanya kembali dipenuhi dengan kilasan- kilasan kejadian pertengkaran terakhir mereka. Dia mencoba mencari momen dimana dia mendengar penjelasan gadis itu, tapi nihil dia tidak menemukannya. Itu artinya dia memang tidak memberi Elisa kesempatan untuk menjelaskan.


"Argggggg.... brengsek!!!!" Teriak pria itu sambil meninju sofa dudukkan sofa di sampingnya "brengsek banget gue, Na!!"


"Masih belum terlambat Ed, kamu masih bisa perbaiki semua sekarang. Jadi jangan buang waktu lagi, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan"


...****************...


"Kamu ada darah Indonesianya juga?" El menatap takjub kearah foto keluarga yang digantung di tengah ruangan keluarga rumah besar ini, dia kemudian menatap sosok itu yang tersenyum sambil mengangguk.


El tersenyum, dalam hati sangat bersyukur karena bisa bertemu sosok ini, dia tidak jadi meninggal karena dehidrasi untuk kedua kalinya.


"Aku pikir kamu bisa bahasa Indonesia karena pernah tinggal disini waktu kecil, ternyata....." El kembali memperhatikan foto didepannya, dimana keluarga besar pemilik rumah ini mengabadikan momen kebersamaan mereka.


"Kamu yang mana sih?"


"Coba tebak yang mana?"


Sosok itu tertawa, tapi sedetik kemudian dia mengangguk "kok bisa tau? Banyak yang nggak bisa nebak, lho. Katanya beda banget sama yang sekarang"


Perhatian El tertuju pada sosok itu, mengamatinya sesaat kemudian balik lagi memperhatikan foto yang digantung "beda gimana? Nggak kok, masih sama. Mungkin sekarang jadi lebih putihan dikit. Tapi masih sama,"


"memangnya kamu oplas? dibagian mana? Diklinik mana?" Tanya gadis itu dengan mimik serius, tapi dengan nada ringan dan mata berbinar penuh godaan. Tanpa ada maksud menyinggung


Sosok itu menipiskan bibirnya, dia benar-benar menyukai gadis itu. Cara gadis itu bicara, tatapannya, wajah cantiknya, semuanya. "Memang kelihatan banget di oplas?" Sosok itu balik bertanya, mengikuti permainan yang El mulai.


El tertawa "bercanda kali, kamu mah baperan yah ternyata"


"Nggak apa-apa, kamu mau bilang apapun aku nggak akan menyangkal, akan ikutin semuanya, nggak akan marah asal itu kamu"


Hening


Dua manusia itu terdiam dengan pemikiran masing-masing. El berusaha untuk tidak berasumsi apapun, sementara sosok itu berusaha mengirimkan signal lebih jelas lagi pada gadis itu.

__ADS_1


"Ar, katanya mau buah.....okh ada tamu yah? Temannya Arthur? Tapi kok kayak pernah liat, mbak artis yah?" Wanita tua dipertengahan 70 tiba-tiba muncul dari arah dapur dengan sepiring buah-buahan yang sudah di potong-potong.


Sosok bernama Arthur itu berjalan mendekat kearah sang nenek, mengambil alih piring dari tangan neneknya "nenek lupa yah... itu si Nadine, di cinta anugerah"


"Akh....Nadine Almira? Sinetron tahun 2010 kan? Oh my God. Nenek nggak bisa ngenalin lagi Lho, udah berubah soalnya"


"Berubah banyak yah nek? Jadi lebih jelek yah? Nenek nggak bisa ngenalin" El seketika memegang wajahnya, terlihat sangat syok.


"Berubah auranya jadi lebih dewasa aja sih, tapi cantiknya masih sama kok. Nadine pipinya chubby, maklum kamu waktu itu umur berapa sayang?"


El terlihat berpikir, dia baru menemukan jawabannya tapi Arthur lebih dulu menjawab "15 tahun, aku hafal karena waktu itu langsung jatuh cinta pas liat kamu di sinetron itu"



...****************...


"Manajer Eleasha telpon gue, dia nanyain keberadaan Eleasha. Katanya tadi tuh cewe sama Lo"


Kayden mengusap matanya, yang tadi sudah sudah tertutup rapat. Dia sudah hampir menyebrang ke alam mimpi, sebelum Jerome datang dengan gangguannya.


Pria itu melirik jam diatas nakas kecil disamping ranjang. Pria itu mengucek matanya lagi, berharap penglihatannya salah kali ini.


"Jam 9 malam? Dia belum pulang juga?"


Jerome merotasikan matanya "kayaknya kalo dia udah pulang, si Alena nggak akan neror gue nanyain dia. Dan gue nggak akan capek-capek kesini cuma buat nanya langsung ke elo. Secara lo kayak hilang dari peradaban, telpon rumah nggak diangkat handphone di matiin. Lo lagi latihan hidup dijaman batu? Kenapa nggak sekalian aja tidur di hutan" mulut pedas Jerome kembali, siapa yang nggak sewot nih laki satu ini sok-sok'an main kucing-kucingan.


"Lo sembunyiin dimana anak orang?" Tanya Jerome lagi, tadi pas kesini dia sudah muter-muter di seluruh rumah besar ini, berharap bisa menemukan Eleasha dengan keadaan sehat walafiat. Tapi target tidak ditemukan dimanapum, jadi Jerome memutuskan untuk bertanya langsung pada orangnya.


Kayden terlihat sedang berusaha mengumpulkan kesadaran, terbangun kaget membuat kepala menjadi pusing. Pria itu menopang kepalanya dengan tangan yang di letakkan di lutut yang di tekuk.


Jerome langsung bersikap kooperatif, dia sadar sudah menjadi penyebab Kayden mendadak pusing karena dibangunkan secara tiba-tiba.


"Dia kemana sih jam segini belum pulang" Kayden bergumam sambil bergerak turun dari ranjang king sizenya, mengecek handphone yang ada diatas nakas yang memang dia atur ke mode silent kemudian menuju walk in closet, dia keluar dari sana tidak sampai dua menit sudah berganti piyama tidur dengan kaos berwarna putih bertuliskan Celine di bagian dada.


Kayden berjalan melewati Jerome yang hanya bisa melongo melihat tingkah pola pria satu ini.


"Jangan ikutin gue, lo boleh ikutan cari tapi kita misah. Kabarin gue kalo ada apa-apa. Bye."


"Yang mau ikutin lo siapa? dasar........nggak jadi deh, biar gimana pun kesuksesan lo itu adalah kesuksesan gue juga" ucap Jerome membatalkan sumpah serapah yang ingin dia keluarkan. Kemudian berjalan keluar dari kamar besar ini.

__ADS_1


●●●


Segini dulu buat chapter ini, tapi tenang lanjutannya akan menyusul dalam waktu dekat (bukan minggu depan)😁


__ADS_2