
Gadis itu terkejut saat keluar dari kamar setelah berkali-kali membersihkan diri, dan berakhir dengan menangis terseduh-seduh di kamar mandi dia sekalipun tidak pernah bermimpi apalagi menyangkah akan melihat sang mama sibuk di dapur seperti yang dia lihat saat ini.
Apa mungkin dia sedang bermimpi? atau mungkin ini hanya halusinasi?
"Kamu kapan terakhir masak? Tapi setidaknya disini ada bumbu-bumbu pokok, ini mama masakin kamu ayam rica-rica"
Apa saat bermimpi atau kalau memang ini hanya sebuah imajinasi , apakah aroma masakan itu juga terasa begitu nyata?
"El? Ngapain? sini duduk terus makan."
Gadis itu perlahan berjalan mendekat kearah meja makan, dia duduk dengan begitu banyak tanya di kepala dan juga rasa tidak percaya sekaligus penasaran.
"Tadinya mama mau buatin klapertart juga tapi prosesnya kan lumayan lama, trus bahan masakannya harus di prepare dulu kayak kepala muda itu bagusnya cari di pasar kan? Jadi mama beli yang ready aja" Wanita cantik itu mengeluarkan wadah alumunium foil berisi klapertart dengan taburan kismis, bubuk kayu manis dan keju yang berwarna kecoklatan karena sehabis dipanggang. Terlihat sangat menggiurkan.
"Makan dong, jangan diliatin aja"
El meraih sendok dan mulai menyendok dessert favoritnya itu, dia hampir menangis meskipun bukan buatan sendiri tapi terasa sangat nikmat di lidah karena sang mama yang tidak mau tahu segala sesuatu tentangnya menyiapkan makanan ini yang adalah makanan kesukaannya sejak kecil.
Sepertinya dia memang sedang bermimpi, tapi anehnya Eleasha sama sekali tidak ingin terjaga dari mimpi ini.
"Ayam rica-ricanya juga dimakan, kamu tahan pedes kan? ini takaran cabenya orang Manado lho"
El berdiri kemudian menuju wastafel untuk mencuci tangan, karena Ayam rica-rica akan terasa lebih nikmat jika makan menggunakan tangan.
Gadis itu mulai mencampur nasi hangat dengan lauk yang tersedia, dia hampir meneteskan liur hanya dengan mencium aroma ayam favoritnya ini.
El menyuap satu suapan dan langsung meneteskan air mata, saat perpaduan masakan itu bercampur dalam mulut.
"Duh, kamu kepedesan yah? Apa kebanyakan cabenya yah? Tapi itu resepnya oma kamu lho"
Gadis itu tersenyum lalu menggeleng "nggak pedes kok, aku.... cuma kangen oma. Ini mirip banget sama masakan oma"
El membelalak saat tangan mamanya terulur untuk menyeka air mata, wanita itu juga berdiri mendekati El dan memeluk dengan hangat.
Air mata El semakin banyak, dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Hal ini jelas terlalu tidak mungkin, tapi meski begitu siapapun tolong jangan pernah bangunkan dia dari mimpi ini.
...****************...
Untuk pertama kalinya Elizabeth memeluk Eleasha selama 27 tahun sejak gadis itu dilahirkan.
Dia benar-benar seorang ibu yang terburuk yang pernah ada. Melahirkan diusia yang masih sangat muda yaitu 15 tahun memang bukanlah perkara gampang.
Tapi karena dosa yang dia perbuat membuat Elizabeth cukup tahu diri untuk tidak menggungurkan anak ini. Dia mempertahankan janinnya, dan mau melahirkan bayi itu meski tidak ada tanggung jawab dari laki-laki yang menghamilinya.
Elizabeth muda mengalami pasang surut emosi, terlebih karena dia juga mendapat banyak kesulitan mulai dari sanksi sosial maupun secara internal yang dalam hal ini adalah tubuhnya sendiri.
Elizabeth remaja yang harus menjadi seorang ibu disaat teman sebayanya sedang asyik nongkrong, mengidolakan penyanyi pria maupun aktor muda. Belum lagi dengan fakta dia harus ketinggalan kelas karena memilih untuk berhenti sekolah selama mengandung,
Harus mati-matian mengembalikan proposi badannya dengan diet dan olahraga ketat, dia bersyukur karena memiliki keluarga yang hangat, meski awalnya sangat kecewa tapi ayah dan ibunya tetap mau merangkulnya lagi.
Meski terkadang dia merasa mereka lebih mementingkan Eleasha dibandingkan dirinya yang adalah anak kandung mereka sendiri.
Dan Elizabeth sama sekali tidak pernah memberi Eleasha ASI, bahkan saat dia jengkel pada anaknya itu , dia akan meneriaki El sebagai anak sapi karena hanya menyusu susu formula.
El terdaftar sebagai adiknya di kartu keluarga mereka, disematkan marga yang sama dengannya dan juga kecantikan yang berasal dari gennya meski ayah biologis El juga bukan laki-laki yang berparas biasa.
El punya mata yang mirip ayahnya, mungkin itu salah satu faktor kenapa dia membenci anak itu, tapi jauh dalam lubuk hatinya dia tahu kalau sebenarnya dia tidak benar-benar membenci Eleasha.
Dan meski tujuannya kali ini ada niat terselubung, yaitu mengambil diam-diam amplop coklat yang dibawah El. Dalam hatinya yang terdalam dia tidak menyesal membuang waktu untuk memasak makanan kesukaan Eleasha
...****************...
Kayden duduk di sofa di ruang tempat parfume gadis itu tumpah, sudah hampir seminggu dan aroma parfume ini masih tercium meski tidak sekuat hari itu.
Pria itu bahkan beberapa kali tertidur disini, hanya karena merasa aroma parfume ini seperti aroma terapi untuknya.
Gila memang, rasa rindunya semakin menjadi-jadi dan dia sama sekali tidak punya alasan untuk bertemu gadis itu.
"Mulai hari ini, detik ini kita sudah tidak berhutang apapun"
Ucapan gadis itu terngiang lagi, membuat dia kembali merasa menyesal akan apa yang sudah dia lakukan.
__ADS_1
Pria itu memutar otak, mati-matian berpikir bagaimana supaya dia bisa bertemu Eleasha.
...****************...
"Gimana rasanya jadi duda?"
Ed melirik gadis yang sedang duduk disampingnya sambil menyeruput susu kotak. "Duren. Gue duda keren" Ralatnya sebelum melontarkan pertanyaan balasan untuk El, "Kalo lo gimana rasanya jadi pengangguran?"
El mencibir menatap pria itu senewen "Gini-gini gue owner rumah makan, tempat kos, tempat karaoke, punya pendapatan lewat youtube sama endrose juga bisa...."
"Iya deh... yang nggak bakalan jatuh miskin biarpun nggak kerja"
"Bukan gitu yah, siapa suruh lo mancing duluan"
Ed mendongak menatap langit malam, mendadak teringat pada Elisa. Mereka terakhir bertemu saat keputusan cerai di pengadilan beberapa waktu yang lalu, mungkin sudah hampir sebulan atau mungkin sudah lewat sebulan, entahlah. Setelah berpisah dengan Elisa, ia tidak lagi begitu antusias dengan waktu.
"Nggak nyangka bakalan jadi duda di umur segini" Ucap Ed, terselip penyesalan dalam nada bicaranya. Tentu bukan status yang dia sesali, tapi lebih kepada perpisahan mereka.
El menepuk pundak Ed pelan "Bisa yuk balikan lagi yuk"
Ed tersenyum miris. Andai Eleasha tahu penyebab utama dia akhirnya menyerah atas pernikahannya dan Elisa, apakah El akan tetap menyuruhnya kembali rujuk?
"Lo hanya perlu turunin sedikit ego lo, Ed" Saran gadis itu kali ini sambil menepuk pipi Eduard sedikit kencang karena dia gemas dengan tingkah Ed yang kekanakan menurutnya.
Ed hampir mengeluarkan protesnya saat suara bass yang familiar ditelinga lebih dulu terdengar.
"Ternyata ini keahlian kamu? Suka sekali bermain dengan suami orang"
Ed lebih dulu menegok ke asal suara, dia langsung berdiri untuk menghalangi El dari pria yang sedang menunjukan seringai setan kearah mereka.
Sementara Eleasha, dia sudah tidak lagi heran dengan ucapan menyakitkan yang keluar dari mulut itu.
"En tolong berhenti" pinta Ed, dia sama sekali tidak ingin memulai perkelahian disini.
Kayden maju mensejajarkan tubuhnya dengan Eduard " Elisa menunggu lo dirumah sakit, dan lo malah asik berduaan mesra disini"
"Lisa punya Lo, Jerome dan papa yang akan ngelakuin apapun yang dia minta" Ed mulai terpancing emosi, mengingat kembali rentetan kejadian yang sudah terjadi termasuk kecelakaan yang dialami opa tidak menutup kemungkinan mereka semua terlibat dan tetap mendukung dosa Elisa kan?
Bug
"Tapi orang yang dia mau ada di sisinya itu lo!!" Teriaknya menggelegar, membuat beberapa orang mulai menotice keberadaan mereka di taman ini.
Ed berbalik menghadap kearah El yang bersembunyi tepat di belakang punggungnya, pria itu menaikan tudung sweater dan memperbaiki letak masker El, kemudian berkata, "nggak usah takut" sambil menepuk puncak kepala Eleasha lembut.
Melihat hal itu membuat amarah Kayden seketika naik, pria itu maju mencengkram baju Ed "Elisa hamil dan bisa-bisanya lo lebih perhatian sama perempuan lain dibadingkan istri lo sendiri"
Ed sempat membeku saat mendengar hal itu, tapi dia segera menepis cengkraman Kayden di bajunya kemudian tersenyum tipis "Bukan baru sekali trik ini dimainkan Lisa, dia sering prank gue tiap bulan untuk ngeliat reaksi gue yang katanya lucu"
Eduard menggeleng lemah "Lisa bukan istri gue lagi, kita sudah resmi bercerai beberapa waktu yang lalu" ralatnya kemudian segera berjalan mendekati El, mengajaknya untuk pergi dari tempat ini.
Kayden mengepalkan tangan saat melihat dua orang itu berlalu dari hadapannya, akhirnya setelah beberapa lama menahan keinginan untuk melihat gadis itu, malam ini dia bisa melihat El meski hanya sebentar dan terbakar habis-habisan karena cemburu dan sakit hati untuk Elisa yang tidak lagi dipedulikan Eduard.
"Kamu pasti bangga sekali sekarang, kamu berhasil mencuri suami orang lain." Ucap Kayden saat kedua orang itu tepat berada didepannya.
Ed mendorong tubuh Kayden menjauh "Gue bilang cukup yah, En!"
"Semua ini salah kamu!!" Kayden masih berucap, ucapan yang dia tujukan pada gadis yang masih bergeming di samping Eduard. Tujuan Kayden supaya bisa mendengar suara gadis itu meski hanya beberapa kata.
Tapi rencana itu gagal total karena Eduard sudah menarik Eleasha untuk pergi dari situ.
"Kalau kamu pake hal ini buat balas dendam sama saya, kamu salah besar!!!" Teriaknya pada punggung Eleasha yang perlahan menjauh.
"Brengsek!!!!"
...****************...
El melepas tangannya dari genggaman tangan Eduard, saat mereka sudah berada di tempat yang sepi dalam perjalanan menuju mobil Eduard yang terparkir.
Eduard berbalik menatap gadis yang sedang menunduk itu, "jangan suruh gue pergi kerumah sakit untuk bertemu Lisa" ujarnya pelan, ia tahu apa yang sedang dan ingin gadis itu ucapkan.
"Tapi dia lagi hamil anak lo, Ed"
__ADS_1
"Lo nggak tahu Lisa, El. Lisa akan lakuin apapun supaya keinginannya tercapai"
"Kalo beneran hamil gimana? Kalo lo nggak mau ketemu Elisa, it's ok. Tapi temui bayinya, itu bayi lo juga."
Eduard membuang muka, sebenarnya hatinya juga bimbang. Dia tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang dia coba percaya kalau Elisa sedang mencoba membuat prank seperti kebiasaan gadis itu selama ini.
"Jangan sampai lo nyesel karena semua sudah terlambat"
"Lo mau kemana? Mobilnya nggak di parkir disitu"
"Gue mau pulang sendiri, lo sebaiknya merenung tentang semuanya, Ed" ucap El tanpa berbalik.
Eduard menatap punggung mungil yang berjalan menjauh darinya, dalam hati dia bertanya apakah saat El tahu kenyataan yang sebenarnya dia juga masih akan tetap bersikeras membuat pernikahannya dan Elisa kembali utuh?
Eduard sama sekali tidak yakin.
...****************...
Kayden menatap pantulan dirinya lewat spion tengah mobil, dia menertawai dirinya sendiri karena pagi-pagi buta sudah stand by di parkiran gedung apartemen Eleasha.
Pria itu memperbaiki posisi Rayband hitamnya yang melorot, benda yang berfungsi menutupi mata lelahnya karena hampir setiap malam tidak bisa tertidur nyenyak.
Kayden tiba-tiba beranjak dari duduk nyaman saat melihat El keluar dari lobby apartemen, meski tertutup dengan kacamata, topi dan masker ia langsung bisa mengenalinya hanya dengan sekali lihat.
Pria itu sudah bersiap membuka pintu mobil dan menghampiri Eleasha, tapi sosok Eduard yang keluar beberapa saat kemudian dari pintu lobby membuat dia menggurungkan niatnya.
Kayden membuka kacamata yang dia pakai kemudian melemparnya asal, tiba-tiba merasa sangat kesal. Pertanyaan yang muncul dikepalanya tentang kenapa mereka bisa keluar bersama dari gedung apartemen itu membuat hatinya panas. Apakah mereka semalam menghabiskan waktu berdua?
Luar biasa seorang Eduard bahkan tidak perlu menunggu lama untuk menjalin hubungan yang baru.
"Gue nggak akan biarin. Bayi Elisa harus bisa dapetin ayahnya lagi" gumamnya sambil terus memperhatikan dua orang itu yang sedang asyik bercengkrama dalam jarak beberapa meter didepannya.
Eduard terlihat berjalan menjauh setelah mobil hitam datang dan berhenti didepan mereka. Sosok Alena keluar dari mobil, langsung membuka bagasi seperti sedang mencari sesuatu lalu kembali menutup sambil berbicara dengan Eleasha.
Kayden bisa menangkap dari gestur tubuh, kalau Alena menyuruh gadis itu masuk kedalam mobil yang masih menyala sedangkan dia terlihat kembali masuk kedalam gedung.
Entah setan apa yang merasukinya sampai ide untuk membawa Eleasha pergi dengan mobil itu muncul dikepalanya. Kayden tidak butuh waktu lama untuk menyebrang lalu masuk kedalam mobil, menginjak gas dan segera memacu mobil keluar dari parkiran dan segera bergabung dengan lalulintas Jakarta.
...****************...
Semua terjadi begitu cepat, El bahkan belum sampai memasang seatbelt saat pria itu tiba-tiba masuk di kursi kemudi, menancap gas dan membawa mobil serta dirinya keluar dari kawasan apartemen.
"Ngapain anda disini? Anda mau bawa saya kemana?" Tanya El mulai terserang panik.
"Diam aja, ada urusan yang harus kita selesain"
El menatap pria itu tidak percaya "Urusan apa? Kita sudah tidak punya urusan apapun sejak hari itu"
Kayden tidak peduli, dia terus fokus menyetir. Sesekali melirik ke arah spion untuk memastikan apakah sedang diikuti atau tidak.
Pria itu juga sesekali melirik gadis itu, yang tampak cantik dengan blouse putih dengan model tangan berkerut plus bergelembung dan dengan potongan bagian leher berbentuk kotak.
Rambut panjang yang sedikit basah menguarkan aroma harum bunga Lily yang sangat khas di indera penciumannya, membuat jantungnya berdebar menggila tanpa peringatan.
Kayden sedang asyik menyetir saat gadis itu tiba-tiba mencoba membelokan kemudi, membuat mobil itu bergerak zig zag tak terkendali. Untunglah pria itu tadi membelokan mobil ke jalan yang sepi sehingga hal ini tidak membahayakan pengguna jalan yang lain kecuali mereka sendiri.
"Kamu gila yah?! Kamu mau mati?" teriak Kayden saat dia sudah kembali bisa mengendalikan kemudi, meski hanya dengan tangan kanan karena tangan kirinya sibuk menahan tubuh gadis itu supaya tidak lagi melakukan hal membahayakan seperti tadi.
"Saya lebih baik mati dari pada harus terjebak bersama anda" Balas El, lalu kembali mencoba menghentikan mobil.
Kayden bertahan sekuat tenaga, mencoba menghalangi El dan tetap fokus menyetir. Dia sama sekali tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada mereka berdua karena memang bukan itu yang dia inginkan.
El masih mencoba merebut setir, membuat mobil berjalan semakin tidak karuan. Seekor kucing liar tiba-tiba menyebrang membuat Kayden membanting setir dan menginjak rem sekuat mungkin.
Ban mobil berdecit kuat memekakan telinga, mobil itu terhenti setelah menabrak tempat sampah di pinggir jalan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semoga suka yah? 🤗
Kenalin nih Elizabeth Halim
__ADS_1
(Mama dari El) dan Marco Dariel Salamo mantan kekasih yang sudah ganti status jadi ayah tiri