EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Dia hadir karena cinta


__ADS_3

Gadis yang sedang berjalan sambil menunduk itu berhenti melangkah saat sepasang sepatu yang dia kenali berhenti tepat didepan heelsnya.


Elisa tersenyum miris, bahkan saking rindunya pada sosok itu dia bahkan berhalusinasi sekarang. Atau jangan-jangan bayinya juga rindu dengan papanya? Elisa mengelus perutnya yang sudah membesar, tidak bisa lagi disembunyikan karena sudah memasuki bulan ke 4.


"Kamu mau kemana sama anak aku?"


Gadis itu berucap "wah" sambil menyeka air matanya yang sudah jatuh membasahi pipi.


Apakah dia sudah gila sekarang? Sejak kapan sebuah halusinasi memiliki suara yang mirip dengan yang aslinya?


"Jangan pergi Lis, seenggaknya ajak aku untuk pergi juga kemanapun yang kamu tuju"


Elisa mengangkat wajah dengan mata basah menatap sosok halu yang berada didepannya, bahkan meski dengan pandangan kabur sekalipun---karena air mata--- sosok itu masih saja yang paling tampan di matanya.


"Kamu itu kayak nyata tahu nggak sih?" Elisa bergumam pelan, sambil kembali menunduk.


"Memang aku nyata"


Elisa menggeleng "nggak mungkin" sanggahnya, meski dalam hati dia memang ingin melihat wajah tampan itu meski untuk yang terakhir kali, sebelum dia pergi.


Eduard maju, meraih tubuh itu untuk masuk kedalam pelukanya, pria itu mengeratkan pelukannya sampai dia bisa merasakan permukaan perut Elisa yang mulai mengeras, demi Tuhan kenapa dia bisa tidak mempercayai tentang kebenaran yang coba diteriakkan semua orang padanya?


"Jangan pergi, jangan pergi kemanapun tanpa aku"


"Tapi kenapa?"


"Karena aku nggak bisa kehilangan kamu"


Elisa mencekram kemeja Eduard "apa karena bayi ini?"


"Si bayi bukan satu-satunya alasan. Ada ratusan, ribuan bahkan triliunan alasan untuk nahan kamu supaya tetap di samping aku"


"Tapi kamu udah lepasin aku Eduard, kita sudah bercerai"


"Tapi takdir tetap nggak memutuskan hubungan kita dengan kehadiran bagian dari diri aku yang hidup dalam tubuh kamu, Lis."


Elisa mendongak menatap Eduard yang sedang menunduk untuk menatapnya "tapi kesalahan aku besar sekali sama kamu dan Eleasha"


Eduard tersenyum mengulurkan tangan untuk menghapus jejak air mata di wajah cantik itu "El bilang kalo oma sama opa masih hidup, mereka tetap akan suruh aku untuk pertahanin kamu, Lis"


Tangis Elisa pecah, isaknya lepas gadis itu luruh di pelukan Eduard.


"Terima kasih karena sudah kembali, terima kasih karena nggak meninggalkan aku dan bayi ini" bisik Elisa di tengah tangisannya.


...****************...

__ADS_1


"Na...Na...lo mau kemana? Lo nggak boleh pergi" El berjalan cepat berusaha menghalangi Alena yang terlihat bisa menelan orang hidup-hidup sekarang.


"Lepasin aku El, biarin aku pergi" Alena menepis tangan Eleasha dan terus berjalan.


"Alena please...."


Gadis mungil itu berhenti, menatap Eleasha yang terlihat panik dan juga takut dan Alena tahu itu bukan karena dirinya tapi karena seseorang dil luar sana yang ingin sekali dia goreng atau tanam hidup-hidup.


"Aku mau lihat wajah si brengsek itu, aku pengen nanya ke dia apakah dengan buat hidup seorang wanita seperti di neraka benar-benar bisa menggantikan kehidupan wanita lain? Apakah dengan buat kamu hancur begini bisa buat Lana bangkit dari kubur?"


Eleasha menipiskan bibir, ini pertama kali sejak mereka bersama sebagai aktris dan manager Alena benar-benar terlihat sangat marah sampai mengeluarkan kalimat panjang tidak seperti biasanya.


Alena kembali melanjutkan langkah tapi Eleasha segera menahan tangan gadis mungil itu kuat "Na, tolong jangan pergi ke dia. Dia nggak tahu kalo gue hamil, dan gue juga nggak mau dia tahu"


"El...."


"Semua terjadi karena gue, Na. Dan gue hanya membayar kembali untuk semuanya itu"


Eleasha sudah berkaca-kaca sekarang, hal ini selalu berhasil menguras emosinya.


"Tapi bayi ini, dia sama sekali nggak bersalah. Dia nggak ada hubungannya sama benci apalagi dendam, dan gue pengen dia tahu kalo dia hadir karena cinta, kalo gue sangat mengharapkan dan mencintainya" air mata Eleasha jatuh setelah mengucapkan kalimat panjang yang merupakan harapnya untuk janin yang sedang tumbuh dalam rahimnya.


Karena El meski tidak mendapatkan cinta sang mama saat lahir, dan ditinggalkan oleh sosok papa yang tidak pernah dia lihat wujudnya sampai saat ini. Tapi dia dibesarkan dengan limpahan kasih sayang dari oma dan opanya.


Dan dia mau anak ini juga merasa sepertinya, meski kebahagiaan itu tidak sempurna tapi setidaknya anaknya nanti akan merasa dirinya itu diharapkan dan bukan karena suatu kecelakaan.


Hening...


Alena menghembuskan nafas, menghampiri gadis itu dan memeluknya untuk sebuah kekuatan "it's ok El , bayinya mungkin nggak punya papa tapi dia akan memiliki kita yang sayang kamu dan itu akan lebih dari sosok papa"


El menyungingkan senyuman dalam pelukan Alena "makasih banyak, Na. makasih banyak..."


Alena mengusap lembut punggung Eleasha "orang brengsek kayak dia memang nggak pantas dengar kabar baik ini" bisik gadis itu pelan.


...****************...


Next day


Studio foto Rico motret.


"Biar aku ngomong sama ko Rico buat ganti temanya" bisik Alena.


Eleasha menggeleng "nggak usah, Na. Semua akan baik-baik aja, lagian ini udah deal dari lama masa iya gue tiba-tiba ganti?"


"Tapi naik tangga?" Alena melirik perut Eleasha kemudian pandangannya langsung naik ke wajah sang aktris "kamu yakin bisa bertahan diatas tangga itu? oleng dikit kamu bisa jatuh lho"

__ADS_1


"Doain gue makanya, untuk job terakhir ini gue pengen tetap kasih yang terbaik pokoknya"


"Hati-hati"


El mengangguk kemudian segera berjalan menuju lokasi pemotretan yang property yang akan di gunakan adalah tangga kayu yang lumayan tinggi. Eleasha menghembuskan nafas sebelum membaur dengan para model lainnya.


...****************...


Jerome menyerahkan berkas pada Kayden yang sedang duduk diatas kursi yang terbuat dari batu di taman belakang rumah Lana.


"Midozolam, obat bius yang kandungannya paling besar terdapat dalam tubuh Eleasha saat kecelakaan itu. Berkas ditangan lo itu hasil pemeriksaan Eleasha yang sebenarnya"


"Ini nggak beda jauh dengan hasil yang gue punya dulu"


Jerome mengangguk" itu poinnya En, dengan hasil ini seharusnya lo bisa menarik kesimpulan kalo saat itu Eleasha bukan karena mabuk sehabis berpesta di club. Tapi Eleasha memang di recoki obat ini supaya dia tidak sadarkan diri"


Jerome menarik nafas dan langsung menghembuskannya "gue nggak ada maksud apapun, tapi secara nggak langsung Lana sudah menolong Eleasha karena dengan terjadinya kecelakaan itu, Eleasha bisa terhindar dari dua laki-laki maniak yang juga terobsesi sama dia"


Kayden diam tidak mampu bicara, membuat Jerome menepuk pundaknya pelan "lo sayang Eleasha kan?"


Mulut Kayden semakin tertutup rapat, hanya hati dan seluruh organ tubuhnya yang bereaksi membuat pria ini bahkan kesulitan bernafas hanya dengan mendengar nama gadis itu. Entah kenapa ada rasa nyeri dan bahagia saat mendengar nama itu.


"Lo sayang dia tapi lo selalu sangkal hal itu karena dalam pikiran lo Eleasha adalah pembunuh Lana, padahal kenyataannya tuh cewek juga korban"


Kayden mengusap wajahnya mulai frustasi dengan ini semua, dengan hatinya, dengan juga perbuatannya pada Eleasha selama ini.


"El hanya kambing hitam, seharusnya dia nggak berada dalam situasi itu. Jujur gue kasihan sama dia karena dia harus menebus sesuatu yang nggak ingin dia lakukan"


Jerome menatap Kayden yang hanya diam saja sejak tadi, tapi pria ini tahu kalau sepupunya itu pasti sedang berperang dengan egonya sendiri.


"Seharusnya ini masih belum terlambat, tolong kasih Eleasha kesempatan lagi dan juga diri lo sendiri, En"


...****************...


Eleasha memasang senyum terbaiknya, berusaha tenang meski sedikit khawatir dengan posisinya diatas tangga ini.


Di bawahnya ada selebgram Siola Putri yang dulu sempat bermasalah dengannya karena sebuah projek mini series, dan sempat menyita perhatian media.


Tapi untuk Eleasha sendiri permasalahan itu sudah selesai secara baik-baik. Dan dia juga tergolong seleb yang jarang punya masalah dengan sesama seleb lainnya.


Hanya saja entah kenapa perasaannya hari ini sangat tidak baik, El tidak tahu apakah itu karena bawaan bayi atau instingnya untuk sesuatu hal yang buruk.


Tadinya semua berjalan baik-baik saja, blitz kamera, arahan fotografer dan perhatian orang-orang di studio pada mereka masih seperti biasa.


Sampai sesuatu yang tidak terduga terjadi, Siola dengan sengaja berpura-pura oleng sehingga membuat tubuhnya menyambar tangga yang dinaiki Eleasha, semua terjadi begitu cepat tangga itu jatuh bersama dengan Eleasha yang berada diatasnya.

__ADS_1


Tubuh El menghantam lantai marmer studio, seketika dunianya langsung menjadi hening tanpa ada suara satu pun yang bisa di tangkap indera pendengarannya dan sebelum ia kehilangan kesadaran, gadis itu berdoa supaya Tuhan menjaga bayinya.


...****************...


__ADS_2