EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Tidak bisa lupa


__ADS_3

Kayden menggeleng samar, "akhiri?" pria itu maju selangkah "maksud kamu apa? mengakhiri apa?"


"Kita sudah kehilangan terlalu banyak, sekarang kita berdua harus memulai hidup yang baru" isakkan gadis itu lolos, sesuatu yang coba dia tahan sedari tadi.


El menutup rapat bibirnya mencoba meredam isaknya, setidaknya sampai perbincangan ini selesai.


Sementara Kayden bibirnya mendadak menjadi kelu saat mendengar gadis itu menginginkan kehidupan yang baru, apakah di kehidupan baru yang Eleasha maksud adalah tanpa ada dia disana?


"Saya benar-benar ingin anda memiliki kehidupan yang baik, hidup yang sempurna seperti dulu, sebelum anda bertemu saya"


Kayden menelan ludah dengan susah payah, ingin membantah perkataan gadis itu tapi dia tidak bisa bibirnya bahkan tidak bisa digerakan.


"Saya minta maaf" gadis itu tersenyum tipis "maaf karena permintaan maaf ini tidak seperti yang anda inginkan,"


Dan Kayden sangat mengerti maksud dari perkataan Eleasha.


El memaksa untuk tersenyum lebih lebar, lalu menatap pria itu mungkin untuk yang terakhir kali "mulai sekarang tolong hidup bahagia, saya nggak akan menganggu kehidupan anda lagi."


"Tanpa aku, hidup kamu akan jauh lebih baik kan?" Kayden akhirnya bisa berucap saat melihat Eleasha akan beranjak pergi, tapi sayangnya sebuah sarkas yang dia keluarkan dari mulutnya.


Gadis itu mengangguk, dia memaksa untuk menatap wajah pria itu dan dengan mata yang berkaca-kaca, Eleasha mengulurkan tangan dengan hati yang hancur lebur.


Kayden terluka hanya dengan anggukan dari gadis itu, dia melirik tangan yang terulur didepannya. Apakah gadis ini tidak merasa keterlaluan padanya? Apa Eleasha ingin dia menyambut tangan gadis itu kemudian melepaskannya?


Pria itu membuang muka sama sekali tidak ingin membalas apalagi menatap gadis itu.


Eleasha menarik tangannya yang tidak disambut, akhirnya dia melangkah melewati Kayden, terus berjalan dengar air mata yang sudah membasahi pipi.


En memutar tubuh menatap punggung yang berjalan menjauh, dan menghilang dibalik pintu.


Pria itu menatap kakinya yang gemetar, menyesal karena kenapa dia tidak menahan gadis itu sedikit lebih lama disini.


...****************...


Karena sesuatu dan lain hal Eduard harus datang ke Harapan kasih, sebenarnya dia tidak punya masalah apapun dengan rumah sakit ini. Yang punya masalah dengannya adalah pemilik rumah sakit ini beserta keluarga besarnya. Ok, dia juga adalah mantan anggota dari keluarga ini.


Setelah selesai dengan urusannya disini---bertemu dengan dokter kandungan yang menangani El dulu--- pria ini berniat untuk pulang, tapi takdir memang sangat tidak bisa di duga.


Siapa yang akan menyangka dia akan bertemu dengan mantan ayah mertuanya disini, di depan ruang obgyn.


"Selamat siang, .....pa" Ed hampir kehilangan suara saat dia menyebutkan kata terakhir dalam kalimat sapanya, jujur saja dia masih binggung sekaligus canggung dengan status terbarunya sebagai mantan menantu dari pria tua didepannya ini.


Morgan mengangguk ke arah Eduard, menatap berkas yang pria itu bawah kemudian memilih untuk melanjutkan tujuannya ke dalam ruangan yang ingin dia tujuh. Tapi pegangannya pada beberapa benda mendadak melemah dan membuat berkas-berkas ditangannya jatuh ke lantai.


Melihat itu Eduard segera berinsiatif untuk membantu mengumpulkan berkas yang berserakan di lantai, dengan salah satu kaki yang di tekuk Eduard mulai mengumpulkan satu demi satu berkas- berkas itu dan fokusnya langsung terhenti pada buku kecil yang dia tahu fungsinya.


Pria itu membuka buku itu dan seperti dugaannya, buku passport itu memang milik Elisa, sang mantan istri.

__ADS_1


"Apa Elisa berniat pergi dari sini?" tanya Eduard, mendadak melupakan statusnya yang hanyalah seorang mantan.


"Kamu sebaiknya fokus saja pada diri sendiri, tidak usah lagi memikirkan Elisa"


Eduard yang sekarang sudah berdiri, dengan semua berkas milik Morgan menatap pria tua itu dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa terbaca.


"Saya hanya penasaran dengan siapa dia akan pergi, dan kenapa dia ingin pergi"


Morgan tersenyum setengah mendengar perkataan mantan menantunya ini, "kenapa? Apa itu penting buat kamu? Jangan bertingkah seakan-akan kamu peduli, karena kalau memang kamu peduli kamu tidak akan mungkin meninggalkan Elisa"


Morgan kembali melirik buku tentang kehamilan milik Eduard yang tergeletak di lantai, mengambil berkas-berkas miliknya dari tangan Eduard kemudian tanpa basa-basi langsung pergi tanpa menoleh lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Next Day...


"Tante lagi masak apa?" Eleasha berjalan mendekat ke arah Sonia yang sedang sibuk memasak di dapur "ada yang bisa dibantu nggak?"


Sonia tersenyum ke arah El "tidur kamu nyenyak sayang?"


Gadis itu mengangguk, membuat surai cokelat gelapnya juga ikut bergerak.


"Mau cobain nggak? Ini brownis resep turun temurun di keluarga ini"


El semakin mendekat, kemudian membuka mulut saat Sonia mengulurkan tangannya untuk menyuapi dengan sepotong brownis.


Sonia tersenyum, melanjutkan membungkus kue itu ke dalam box "ini mau dianter ke rumah nenek Puji, beliau hari ini ulang tahun dan setiap tahun tante pasti buat brownis ini untuk diberikan buat nenek Puji"


"Nenek Puji yang didepan rumah ini?"


Sonia mengangguk, mengikatkan pita sebelum mengangkat dus berisi brownis itu dari meja.


"Aku aja yang bawa'in tan"


"Nggak apa-apa nih? Kebetulan tante juga ada perlu di taman belakang, nanti tante nyusul yah"


Eleasha mengangguk sambil tersenyum, mengambil alih brownis itu dan melenggang keluar rumah.


...****************...


Kayden turun dari mobil, setelah berterima kasih kepada pak Suryo yang sudah mengantarnya ke rumah Lana baik kemarin maupun hari ini.


Memang seharusnya dia tidak datang, karena pria ini tahu kalau gadis itu tinggal disini, sejak musibah yang menimpah sang mama.


Tapi kenyataannya dia tetap saja berakhir disini, membuat alasan pada mama Sonia kalau dia akan memulai latihan berjalannya di taman belakang rumah ini, yang memang selain luas juga ada jalan setapak kecil yang khusus di buat untuk berjalan diatas batu-batu kecil yang konon katanya bisa merangsang saraf kaki.


Kayden sudah searching mengenai berjalan diatas batu, dan hal itu tidak disarankan oleh pihak dokter. Tapi siapa peduli? Karena tujuan utamanya memang bukan untuk itu, tapi untuk melihat gadis yang baru keluar dari gerbang dengan senyuman lebar sambil menatap ke arah box ditangannya.

__ADS_1


Kayden mencekram tongkat, jantungnya berdetak cepat bahkan hanya sekedar melihat dari jarak yang lumayan jauh.


Pria itu memutuskan berjalan menuju kearah Eleasha yang sekarang tidak fokus ke depan.


Gadis itu memang suka tidak pedulian dengan sekitarnya, lihat saja dalam waktu beberapa detik lagi mereka akan bertabrakan tapi fokus Eleasha masih pada box ditangannya, dan Kayden memang sengaja tidak menghindar.


Bruk


Eleasha refleks menahan tubuh yang limbung didepannya dengan tangan kanannya yang bebas, untunglah brownis itu bisa dia dekap diantara tubuhnya dan seseorang yang dia tabrak sehingga tidak jatuh.


Gadis itu tersadar lalu segera melepaskan diri saat mengetahui siapa yang sempat dia dekap itu.


Tatapan keduanya sempat bertemu kemudian berakhir saling canggung.


Dan seperti sedang dipermainkan sang takdir, di langkah selanjutnya mereka bergerak dengan arah yang sama, hal itu terjadi berkali-kali sampai Kayden berhenti melakukan gerakan apapun dan berucap,


"Kamu duluan"


El mengangguk samar, kemudian berjalan perlahan mengambil sisi yang berbeda dari Kayden. Saat dia melewati pria itu, El bisa merasakannya sentuhan Kayden pada tangan kanannya yang berada di samping tubuh.


Langkah Eleasha menjadi pelan, dengan jantung yang berdebar tidak normal dia terus bertanya dalam hati apa maksud sentuhan itu.


"Jangan kesini lagi, kamu sendiri yang bilang ingin aku hidup bahagia seperti sebelum kamu masuk kedalam hidupku. Kalau begitu kamu harus pergi, karena kamu tidak seharusnya tidak berada disalah satu kehidupan kami kan? "


Pria itu sedikit memutar tubuh, agar bisa melihat meski hanya sedikit tubuh gadis itu. Kayden sendiri binggung dengan dirinya sendiri, kenapa disaat jauh dia rindu dan disaat sedekat ini dia malah mendorong gadis itu menjauh dengan kesadarannya.


"Selama kamu disini saya tidak bisa lupa dengan apa yang sudah terjadi, atau perasaan yang saya rasakan"


Eleasha membasahi bibirnya, mengangguk meski tidak berbalik sama sekali. Gadis itu mencoba tidak menangis dengan perkataan pria yang beberapa detik yang lalu sempat memberinya harapan dengan sentuhan tidak terduga yang ternyata palsu.


"Baik, saya mengerti" Ujar El pelan kemudian berlalu pergi dari situ.


Dia memang brengsek, dan Kayden mengakui itu.


Pria itu melanjutkan langkah untuk masuk kedalam rumah Lana, tapi sekali lagi dia berhenti karena sosok mama dari kekasihnya yang sudah pergi sedang berdiri dengan tatapan yang sulit diartikan di depan gerbang menunggu dia mendekat.


"Kita perlu bicara, En" ucap wanita tua itu dengan nada yang bergetar.


...----------------...


Hai, jujur saya jadi maju mundur untuk kelangsungan kisah ini.


Tapi saya sudah putuskan dan kembali mengingat janji saya yang dulu kalau tetap akan ada akhir untuk kisah ini.


Jadi mohon bersabar untuk beberapa chapter lagi, karena sepertinya (masih sepertinya🤣) Kisah ini sudah memasuki part-part terakhir.


Sampai ketemu di garis finish (lagi)

__ADS_1


Tetap jaga kesehatan🤗


__ADS_2