
...****************...
Eduard menatap El yang sedang meringkuk di ranjang dengan tangan yang menutup wajah, gadis itu menangis lagi-lagi tanpa terisak.
El baru saja siuman karena sempat pingsan saat mamanya di bawah oleh Marco kembali ke kediaman mereka.
Berdasarkan penjelasan Alena, yang juga terlambat datang---tapi tidak seterlambat Eduard--- Si brengsek Marco bahkan sampai membawa pengacara untuk memperkuat tindakannya membawa mama El dari sini.
Eleasha tidak bisa berbuat apa-apa karena selain dia tidak punya persiapan sama sekali, secara hukum Marco masih yang lebih berhak ketimbang Eleasha yang bukan lagi anak di bawah umur.
"El, ingat lo nggak sendiri lagi sekarang" Eduard mengokohkan diri di pinggir ranjang, berbisik pelan karena tidak ingin ada yang mendengar apa yang dia katakan selain El.
"Gimana kalo dia apa-apain mama? Dia itu setan, Ed. Dia bisa aja jahatin mama" El berucap pelan dibalik tangan dan tangisannya.
"Kayaknya untuk sementara kita bisa tenang, lo belum tahu yah? tadi pas proses pemindahan mama Beth, banyak wartawan yang menunggu di luar. Otomatis Marco sekarang lagi jadi sorotan"
Tangan El turun dari tugasnya menutup wajah sejak tadi.
"Lo pingsan, wajar aja kalo nggak tahu. Tapi tenang aja, untuk sementara dia nggak bisa berbuat macam-macam"
Eduard tersenyum, meraih tangan El kemudian menggenggamnya erat "Lo jangan terlalu banyak mikir dulu, lo harus ingat kalo dia ngerasain semua yang lo rasa. Lo senang dia senang, lo sedih dia juga ikutan sedih"
Pria itu kemudian menatap El intens, mempertimbangkan apakah dia harus mengatakan sesuatu yang dia ketahui atau menyimpannya saja.
"Lo kayaknya mau sampein sesuatu, apa? Ngomong aja"
Eleasha membaca pikirannya,
"Lo harus berterima kasih ke En, karena kedatangan awak media di depan rumah ini pasti ada sangkut pautnya sama mereka"
...****************...
Jerome memutuskan sambungan telepon dengan Arya Satya. Untuk sementara ini mungkin mereka bisa sedikit bernafas lega, karena pria itu pasti tidak bisa melakukan apapun pada nyonya Elizabeth, saat perhatian sedang tertuju padanya.
Tapi bukan berarti hal ini akan bersifat selamanya. Karena itu dia harus memutar otak, bagaimana cara menyelamatkan ibunda Eleasha itu dalam waktu dekat.
"Jadi gimana kabarnya?"
Jerome berbalik menatap Kayden yang baru kembali dari sesi terapi berjalannya, Sejak tadi pria itu menghindari untuk bertanya apapun, tapi rupanya Kayden tidak bisa menahan diri lebih lama lagi.
"Eleasha baru aja siuman, dan sekarang lagi ditemani sama Ed" Jerome berkata lambat, sengaja, karena ingin melihat reaksi sepupunya itu.
Dan Kayden memang tidak pandai menyembunyikan perasaannya, pria itu jelas begitu cepat beralih dari mode penasaran menjadi mode cemburu buta yang sementara berusaha membohongi sekitar dengan cara pura-pura terlihat biasa saja meski wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus.
"Lo demam? Perlu dipanggil'in dokter nggak?"
"Hah? Kenapa?"
__ADS_1
Jerome menunjuk wajahnya sendiri "Itu muka lo merah banget"
Kayden langsung mengibaskan tangannya disekitar wajah "Panas banget disini, AC-nya pasti rusak"
Jerome menggeleng "Nggak tuh, AC-nya berfungsi kok, ini 17°celcius. Masa iya lo kepanasan?"
Kayden menelan ludah kemudian membuang muka, "Gue capek, gue mau istirahat"
"Ok, gue akan kabarin lagi kalau ada perkembangan terbaru tentang Eleasha" Ujar Jerome saat membantu Kayden pindah dari kursi roda ke atas ranjang rumah sakitnya.
"Nggak perlu"
"Yakin?"
Kayden menatapnya sewot "Kok Elo makin nyebelin?!"
Jerome mengerutkan kening, terlihat berpikir "Masa sih? Lo kali yang terlalu sensitif akhir-akhir ini, kayak wanita hamil yang moody-an lo. Untung gue sabar banget orangnya"
Kayden mematung mendengar kata 'wanita hamil', ada bagian hatinya yang paling dalam berharap janin itu adalah miliknya, tapi perkataan Elisa dan keakraban tak biasa dari Eleasha dan Eduard membuatnya langsung meragu.
"Jadi? Nggak perlu nih?"
Kayden menghembuskan nafas berat, "Hanya yang penting-penting aja,"
Jerome mangangguk mengiyakan,
Kayden mendongak "Lo jangan mikir yang macam-macam deh.."
"Kalo di pikir-pikir, El itu selalu berusaha nyelamatin lo."
Kayden tersenyum kecut "Semoga bukan karena rasa bersalah"
"Bagaimana kalau karena rasa cinta?"
Waktu seakan membeku, dan ikut membekukan raga Kayden juga.
...****************...
Eleasha memikirkan cara untuk membuat mamanya bisa lepas dari Marco, dia sudah mondar-mandir di kamar sambil menggigit kuku hampir setengah jam. Tapi cara satu pun tidak dia temukan.
Hanya ada satu cara yang dia tidak mau memikirkannya terlalu serius. Satu-satunya jalan keluar dari masalah ini adalah, Marco harus pergi dan tidak perlu kembali.
Gadis itu menggeleng "Nggak. Gue nggak boleh pake cara itu.
El menunduk sambil mengelus perutnya lembut "Mama nggak akan buat kamu mengalami hal itu, sayang. Tapi kita juga nggak boleh biarin grandma sendirian menghadapi pria gila itu."
Eleasha mengangkat wajahnya kembali, "Pria gila itu hampir saja membuat papa kehilangan nyawa, buat mama hal itu nggak bisa di maafkan"
__ADS_1
Ia berputar, menatap cermin. Menatap pantulan dirinya disana. Jika dia bisa mempertaruhkan nyawa untuk Kayden kenapa dia tidak bisa melakukannya untuk mamamya?
Tapi..... bayi ini? Eleasha tidak ingin terjadi sesuatu dengan bayinya, karena dia sudah memutuskan sejak pertama dinyatakan hamil, sama sepertinya yang diberi kesempatan untuk lahir ke dunia, Eleasha juga akan berjuang untuk melahirkan bayi ini apapun yang terjadi.
"Tapi nak, mau nggak kamu ambil resiko sama mama? Kita pergi untuk tolong grandma yuk?"
...****************...
Kayden menatap kedua kakinya yang masih belum bisa digerakkan bebas sama seperti dulu, tapi kata dokter perkembangannya tergolong cepat, karena baru 3 kali mengikuti terapi pria itu sudah bisa berdiri lama dan berjalan satu dua langkah meskipun masih begitu menyakitkan.
"Kalo di pikir-pikir, El itu selalu berusaha nyelamatin lo."
Perkataan Jerome kembali terulang di kepala. Sepupunya itu benar, karena harus dia akui langkah pertama yang dia lakukan pasca kecelakaan adalah berjalan ke arah gadis itu.
Eleasha adalah keajaibannya, memang keajaiban yang menyakitkan pada awalnya.
...****************...
Marco tertawa saat melihat keadaan Elizabeth sekarang, wanita yang masih saja cantik meski sudah menjadi seorang pesakitan yang tidak bisa lepas dari kursi roda.
Wanita yang adalah jembatan untuknya menjadi kaya raya seperti sekarang, jika masih bersama Eleasha mungkin dia tidak akan bisa sekaya ini.
Tapi coba bayangkan lagi jika dia kembali bersama Eleasha, kekayaannya pasti akan sampai kepada anak cucu dan cicitnya nanti.
Hanya membayangkannya saja, pria ini sudah begitu bahagia, dengan uang yang sebanyak ini tentu dia bisa melakukan apa saja, dan membeli banyak hal termasuk hukum juga keadilan.
"Kamu kenapa masih hidup sih, sayang? Kamu seharusnya nggak bertahan. Dengan begitu aku bisa lebih gampang balik sama ,Sha."
Marco mengamati wajah cantik itu, tidak ada reaksi apapun. Dia sudah mendatangkan dokter kesini untuk melihat perkembangan 'istri'nya ini --- dia sedang menjadi sorotan public --- Dan dari pihak dokter juga tidak bisa memberi penjelasan lebih, karena masih harus melakukan medical check up secara menyeluruh.
Dokter hanya mengatakan ini merupakan sebuah keajaiban, tapi bagi Marco ini jelas sebuah kesalahan dan kemalangan.
Pria itu berjalan menuju lemari tempat penyimpanan, mengeluarkan sebuah senjata api berjenis revolver dari sana, sedikit bermain-main dengan benda itu kemudian mengeluarkan sebuah map berwarna cokelat dari lemari yang sama.
"Kamu tahu nggak ini berkas-berkas balik nama sebagian aset kamu, atas nama aku" Tawanya menggelengar dalam ruangan, dia bahagia karena tidak harus berpura-pura menjadi laki-laki penurut yang tergila-gila lagi. Dia bebas berkata maupun berekspresi sekarang di depan istri lumpuh yang tidak bisa merespon ucapannya.
"Akh... dan disini juga ada berkas rumah keluarga korban yang meninggal karena Eleasha, terima kasih uang kamu benar-benar berguna"
Marco berkata dengan bangga, apalagi dengan ketidakberdayaan Kayden karena sedang berjuang untuk sembuh membuat dia merasa diatas langit sekarang, karena tidak ada yang bisa menghambat semua rencananya lagi.
"Lo benar-benar brengsek!!!!!!"
Marco tersenyum lebar, tanpa berbalik dia sudah tahu siapa yang sedang berteriak padanya itu. Lihatlah takdir seakan berpihak padanya, gadis itu datang sesuai dengan skenario yang sudah dia susun dengan rapih.
Welcome home, Sha. Welcome back to me.
...****************...
__ADS_1