
...****************...
Alena melirik jam besar di dinding apartemen El. Dia memutuskan menunggu disana karena tidak ingin tempat persembunyian baru El-- apartemen debut-- terbongkar, bukan apa-apa berdasarkan cerita dari Eduard tadi, El dibawa pergi oleh direktur mereka. Tidak menutup kemungkinan El mungkin akan diantar pulang kerumah, gadis ini sudah mengenal Eleasha bertahun-tahun dan dia paham El tipe orang yang tidak mau privasinya diketahui orang banyak.
Sudah pasti kalau terpaksa El akan menunjukkan alamat ini, selain alamat yang di Kemang.
Handphone di genggamannya berbunyi, Alena sedikit mengernyit melihat nomor yang tertera disana.
"Hallo..."
"Gue pulang di Kemang Na,"
"Ini nomor siapa El, terus sekarang kamu lagi sama siapa? Pak direktur...."
Alena langsung memberondong si penelpon saat dia bisa mengenali suara itu.
"Gue nggak mau dengar apapun tentang orang itu" El memotong ucapan sang Manajer.
Alena mengangguk,paham "ya udah, aku on the way kesana. Kamu udah sampe dirumah?"
"Iya ini udah didepan gerbang, kayaknya pak Udin sama mpo Ratih nggak ada deh Na, nggak ada yg bukain gerbang"
Alena mengangguk, dua orang yang bertugas menjaga rumah El memang ijin pulang selama 1 hari, mungkin nanti besok subuh atau siang baru balik kerumah itu. Dan selain kedua orang itu, Alena-lah yang punya kuncinya.
"Ya udah tunggu disitu, aku on the way kesana secepatnya"
...****************...
El menyodorkan handphone yang tadi dipakai untuk menelpon sang manajer kembali pada tuannya.
"Makasih banget udah dianterin dan juga udah memaklumi kebohongan tentang syuting tadi" El berucap pelan, sambil menunduk menghindari tatapan pria yang sedang duduk dibalik kemudi. Dia terlalu malu untuk menatap langsung mata itu.
"My pleasure El, kehormatan bagi aku bisa ada disaat kamu butuh. Dan nggak usah sungkan, tiap manusia pasti punya alasan untuk sesuatu hal kan? Santai aja"
El mengangkat wajah, menatap pria disampingnya, jujur saja El menyukai cara pria itu menanggapi sesuatu. Banyak hal darinya yang membuat El merasa surprise, pria ini penuh kejutan dan membuat El sampai terkagum-kagum.
"Sayang banget padahal aku sempat excited pas tau lawan mainnya kamu" Arthur meletakkan kepalanya di sandaran kursi, raut wajahnya terlihat kecewa sama dengan nada bicaranya.
"Iya sayang banget, maaf yah. Tapi pasti nanti akan ada projek lagi. Semangat syutingnya, nanti pas gala priemer nya aku pasti datang kok"
Arthur meletakkan kepalanya di atas tangan yang menyilang di setir, pria itu menatap El, suasana mobil yang remang-remang hanya ada pancaran cahaya dari lampu jalan didepan pagar rumah gadis itu, untuk normalnya tidak ada yang terlihat jelas pada kondisi ini, tapi Eleasha berbeda, gadis itu tetap saja mempesona dalam keadaan gelap sekalipun.
Entahlah apakah ini karena dimatanya El memang sudah mempesona sejak lama, atau karena gadis ini memang mempesona dimata siapapun dan dalam keadaan apapun.
__ADS_1
Keheningan mendominasi, dua anak manusia itu tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, mereka bahkan tidak sadar dengan mobil sedan hitam yang terpakir beberapa meter dididepan mereka, yang sejak tadi terdengar bunyi klik yang familiar dari sana.
...****************...
El menurunkan tangannya yang sejak tadi melambai kearah mobil Arthur yang perlahan menjauh, dia kemudian melirik kearah Alena yang celingak-celinguk memeriksa keadaan sekitar. El tersenyum apa jadinya dia tanpa Alena dan Ed?
"Aman kok, nggak ada yang aneh-aneh dari tadi"
Sang Manajer menatap El "kamu hutang banyak hal sama aku yah? Bisa-bisanya ngilang dan berakhir diantar si Arthur"
"Panjang ceritanya Na, tapi bisa nggak antar aku pulang ke apartemen debut?" El menyebut apartemen kecil yang dibelinya pertama kali saat sukses dengan film pertamanya sebagai apartemen debut, demi membedakan dengan apartemen yang dia tinggali beberapa tahun terakhir, yang baru saja dimasuki orang asing.
Alena menghembuskan nafas, dia paham betul kalau El tidak pernah sekalipun menginap di rumah Kemang ini, rumahnya terlalu luas untuk El yang hanya seorang diri. Dan lagi disana banyak kenangan bersama Marco.
"Ya udah istirahat dulu, ceritanya nanti kapan-kapan" ucap Alena kemudian lebih dulu berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka berdiri.
"Tapi gue penasaran deh, itu mobil sedan siapa? Udah lama disitu?" Tanya Alena sebelum masuk kedalam mobil.
El mengikuti arah pandang sang manajer, dia memperhatikan sebentar tapi tidak menaruh kecurigaan apapun. Gadis itu sudah terlalu lelah, ingin secepatnya bertemu ranjang.
"Nggak tau, milik tetangga kali. Udah akh Na, balik yuk gue capek banget"
Alena mengangguk memutuskan untuk mempercayai perkataan El, dan tidak mengindahkan firasat anehnya sejak sampai kesini. Mungkin dia juga kecapekan dan butuh segera tidur.
...****************...
"Kamu sudah lihat foto-fotonya? Saya bisa sebar sekarang tinggal tunggu kata iya dari kamu"
Elisa mengigit bibir, dalam hati mempertimbangkan apa yang baru ditawarkan oleh orang diseberang telpon itu.
"Kamu hanya perlu mempertahankan pernikahan kamu, selebihnya biar saya yang urus"
"Apa yang saya dapat dari ini semua?"
Terdengar tawa dari seberang, suasana kemudian kembali hening sebelum suara itu kembali terdengar.
"Kamu dapat suami kamu pastinya, kamu bisa lihat juga kehancuran mereka, bukannya kamu ingin lihat Eduard menderita?"
Elisa mengepalkan tangan kirinya kuat, sekarang dia memang ingin sekali melihat kedua orang itu menderita setelah apa yang mereka berdua lakukan padanya. Tapi apakah ini adalah solusi? Bagaimana kalau dia salah mengambil langkah? Dan lagi apa dia siap melihat pria itu menderita?
"Eduard adalah seseorang yang tidak pernah dimiliki Eleasha dalam arti yang sebenarnya, tapi Eduard juga tidak bisa El lepaskan begitu saja, kalau kamu ingin balas semua kesakitan itu, buat mereka tidak bisa bersama selamanya"
...****************...
__ADS_1
"MVnya rilis siang ini jam 12 teng."
El menatap Alena dengan wajah binggung plus kening berkerut
"MVnya Agam, kamu lupa karena udah terlalu lama yah?" Alena tersenyum, kemudian kembali fokus pada tablet di tangannya. "Si Agam katanya udah nelpon kamu dari kemarin tapi kamu nggak angkat telponnya"
El mengangguk, handphonenya tertinggal bersama BMW kesayangannya di pekarangan rumah Elisa, wajar saja dia tidak bisa mengangkat telpon dan update tentang perkembangan terbaru.
Gadis itu melirik jam dinding diatas kepala Alena "beberapa menit lagi dong"
"Iya, kan udah trending di twitter karena teaser nya udah rilis jam 6 pagi tadi. Dan mobil kamu udah ada di basement kantor Agensi" Alena memberi satu informasi lagi.
"Mau di ambil sekarang aja? Aku nunggu persetujuan dari kamu dulu. Nanti aku nyuruh Dinan yang ambil, terus bawa ke apart yang satunya" lanjut sang Manajer, menyebut anak buah Vero. Staff multimedia Eleasha yang hanya ada dua orang didalamnya.
"Aku perlu handphonenya aja sih, tapi nggak apa-apa deh. Hitung-hitung terbebas dari meds...." El tidak dapat melanjutkan ucapannya, karena hanphone Alena tiba-tiba berbunyi.
"Gue angkat dulu" Alena berdiri kemudian berjalan menuju arah balkon.
El mengangguk lalu memutuskan untuk kembali ke kamar, mengambil tablet untuk bermain game. Saat keluar dari kamar El menatap manajernya binggung "kenapa?" Tanya El kemudian mengokohkan tubuhnya diatas kursi makan.
Alena balas menatap El dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak "kamu tau direktur kita sudah gila?"
El mengangguk "iya tau, kenapa lagi dia? Nerima job aneh lagi? Atau cancel kerjaan lagi?" Tanya El, dengan nada santai. Seperti sudah terbiasa dengan hal itu.
"Dia baru aja nge-take down MV Agam yang baru tayang 5 menit yang lalu di youtube"
El tidak dapat menahan mulutnya untuk menganga "Apa? Udah gila apa dia? Gimana bisa?"
"Nggak tau lagi, aku benar-benar nggak habis pikir"
"Terus Agam gimana?" El mulai panik. Memikirkan betapa kecewanya Agam dan tim yang sudah terlibat.
"Si Jerome lagi tangani hal itu, ambil jalur tengahnya sama pihak Agam. kayaknya si direktur tuntut langsung labelnya Agam deh, ato nggak dia langsung lapor ke pihak youtubenya. Tapi cepat banget nggak sih? cuma dalam waktu 5 menit doang"
Seketika El merasa lemas, pantas saja Agensi tempatnya bernaung bisa dengan cepat di akusisi, pria itu jelas punya power yang bukan hanya level yang biasa.
"Jangan-jangan dia punya saham besar di youtube? Sampe-sampe videonya di take down langsung sama pihak youtube? Ngeri banget"
El menutup mata, rasanya ingin menangis sekarang. Apakah dia sudah berurusan dengan orang yang salah?
...****************...
Ini masih belum terlambat kan? masih belum minggu depan๐๐๐
__ADS_1