
El berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang akan membawa mereka ke jalan raya.
Para wartawan itu ternyata tidak menyerah dengan mudah, mereka memang pergi dari rumah abu tapi gantinya mereka menunggu di parkiran, tempat mobil El dan En terpakir.
En menatap punggung gadis yang berjalan beberapa langkah didepannya. Gadis yang hari ini juga memakai turtleneck tanpa lengan berwarna hitam, di pair dengan celana kulot berwarna senada, kacamata hitam dan sendal jepit merk swallow. Fashion style gadis ini mengingatkannya pada salah satu karakter film bollywood yang sangat di sukai Lana, film yang tayang pada tahun 2002 itu selalu di rewacht berkali-kali oleh Lana sampai- sampai pria ini ikut bisa menghafal beberapa dialognya diluar kepala. Pooja Sahani karakter yang disukai Lana di film itu dalam beberapa scenenya suka memakai turtleneck sama seperti gadis didepannya ini.
Sebenarnya sama seperti para wartawan itu yang penasaran dengan fashion style gadis ini yang tiba-tiba berubah, En juga penasaran dengan tampilan leher itu jika tidak tertutup. Well dia sudah pernah melihatnya sekali secara dekat.
Dan syukurlah El tidak memakai high heels dan sebangsanya karena medan yang mereka lewati sekarang sama sekali tidak cocok dengan sepatu yang berhak tinggi.
Setelah cukup lama berjalan, mereka akhirnya tiba di jalan raya yang lumayan sepi, hanya ada sedikit kendaraan yang lewat. Daerah tempat pemakaman ini memang berada di daerah yang terpencil, wajar kalau hanya sedikit kendaraan yang berlalu lalang.
"kita bisa berpisah disini" ucap El, kemudian bersiap menyebrang jalan. Gadis itu berencana akan menelpon Alena saat berada di sebarang jalan, kebetulan diseberang sana ada sebuah pondok kecil yang bisa dia gunakan selain untuk berteduh, bisa juga bersembunyi dari para awak media.
Saat akan mencapai seberang jalan, El memutuskan untuk memutar tubuh melihat pria itu sekali lagi. Dia menghembuskan nafas saat melihat punggung itu, berjalan menjauh entah kemana. Hubungan mereka memang bukan hubungan yang bisa saling menanyakan tujuan ataupun kabar.
Saat hendak melanjutkan tujuannya, El bisa melihat dari kejauhan sebuah mobil datang dengan kecepatan yang tidak biasa dari arah belakang pria itu, perasaan El tiba-tiba berubah menjadi buruk dan dengan sangat cepat dia berlari kearah pria yang masih tidak bisa menyadari karena mobil itu datang dari arah belakang.
El melompat tepat kearah tubuh itu, mendorongnya menjauh dari tepi jalan keluar pagar pembatas. Tapi ternyata dibalik pagar pembatas jalan, ada jurang dan bukannya tanah rata seperti yang El perkirakan. Mereka berdua pun jatuh menggelinding dan baru berhenti saat tubuh mereka menabrak batang pohon hampir didasar jurang.
El mengerang kesakitan saat dia bisa merasakan perih dan juga sakit diseluruh tubuhnya. Tangannya penuh luka akibat tanah, rumput liar bahkan ranting kering yang ada saat tadi mereka menggelinding.
Gadis itu meski menahan sakit perlahan menghampiri En "Anda baik-baik aja?"
Tidak ada jawaban, El mulai panik dia mencari sling bag mininya tapi tidak berhasil dia temukan. Sepertinya tas itu tersangkut pada sesuatu sampai terlepas dari tubuhnya "Apa anda terluka?" Gadis itu mencoba bertanya lagi. "Apa ada yang sakit?" El menyentuh lengan pria itu yang langsung di tepis.
Pria itu mendongkak menatap El tajam "kenapa? kenapa kamu menolong saya?"En tahu dia hampir saja ditabrak mobil kalau gadis itu tidak mendorongnya menjauh, walau akhirnya mereka harus masuk kedalam Jurang, tapi setidaknya mereka berdua masih dalam keadaan bisa bernafas.
__ADS_1
El hanya bisa menatap pria itu tanpa bisa menjawab, karena dia tidak tahu harus menjawab apa, gadis ini tidak punya jawaban. Apa yang dia lakukan tadi murni sebuah refleks.
"Kamu mau buat saya merasa berhutang sama kamu?" Tanya pria itu emosi. En mulai kebingungan dengan apa yang dia rasa. Emosi yang muncul saat ini, tidak murni 100% seperti yang dia ucapkan untuk gadis itu. ada emosi-emosi lainnya yang turut andil, seperti saat melihat gadis itu penuh luka karena sudah menyelamatkannya. Dan dia menjadi semakin emosi saat gadis itu lebih mengkhawatirkan keadaannya yang tidak separah gadis itu.
El mengerjab. Bibirnya kelu tidak bisa bergerak untuk sekedar memberikan pembelaan untuk dirinya sendiri.
"Kalau kamu pikir dengan menyelamatkan saya, dosa kamu terbayar. Kamu salah besar! Kamu harus merasa kehilangan sebesar yang keluarga Lana rasakan, kamu harus merasa hidup ini tidak adil seperti hukum yang kamu permainkan dengan uang"
El menggigit bibirnya. Semua hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini pastilah sebuah karma untuknya. Perkataan pria itu menamparnya, mereka memang tidak bisa menjadi lebih dekat. ada jurang besar yang menganga diantara mereka. Jurang bernama Vio Lana Wijaya.
"maaf" ucap El tulus.
Pria itu mendengus, "Saya menunggu momen dimana kamu akan meminta maaf di depan publik, atas perbuatan yang kamu perbuat. Akui semuanya dan terima hukuman atas perbuatan itu"
Keheningan mendomimasi, suara burung hutan, jangkrik dan hewan-hewan lain lebih terdengar jelas. Hari sudah mulai sore, sebentar lagi langit akan berubah gelap. El sama sekali tidak punya waktu untuk merasa terluka dengan perkataan pria itu. Keluar hidup-hidup dari jurang ini adalah hal yang utama sekarang.
"Apa saya bisa meminjam handphone anda?" tanya gadis itu memecah keheningan. tangannya terulur dengan wajah memohon yang bukan sebuah akting.
En menronggoh saku dalam jasnya, mengambil Iphone keluaran terbaru dari sana lalu menyerahkannya pada gadis itu dengan tatapan yang masih menghadap kearah lain.
"saya ijin mau menelpon manajer saya, Alena"
Pria itu menatap El walau tidak pada matanya "Kenapa telpon Alena? Telpon si Jerome. Dia 1000% bisa bantu kita." ketusnya.
"Tapi saya tidak akrab dengan Jerome, kalau saya telpon Ed?" El mengigit lidah saat dia menyadari kesalahan yang dia lakukan.
En terlihat memutar bola mata "Eduard itu suami Elisa, bagian mana yang kamu nggak ngerti dari hal itu?"
__ADS_1
El menghembuskan nafas. Bukannya dia tidak mengerti fakta itu, dia hanya belum terbiasa.
"Telpon Alena, daripada kamu telpon Eduard lebih baik kamu telpon Alena" Pria itu berucap lagi, memberi Solusi yang tidak bisa di ganggu gugat.
...****************...
"Bagaimana bisa anda bahkan lupa memasang kartu di handphone?" El menggerutu, sambil terus berjalan mencari jalan keluar. Mereka menggelinding tidak terlalu lama, itu artinya jarak mereka dengan jalan raya tempat mereka jatuh tidak terlalu jauh.
Tapi sampai berjam-jam berlalu, langit bahkan sudah mulai gelap jalan raya itu tidak juga terlihat. Ditambah lagi dengan handphone pria itu yang tidak bisa dipakai menelpon karena belum di pasang kartu perdana.
"Saya lupa," Pria itu menjawab kalem.
El melirik jam tangannya waktu menunjukkan hampir pukul setengah enam. Keringatnya yang berproduksi lebih banyak karena mereka terus bergerak sejak tadi, semakin membuat luka-luka yang dia dapatkan karena terguling tadi semakin terasa perih.
Gadis itu tidak dapat menahan untuk tidak meringis saat angin menerpa kulitnya yang terbuka karena hanya memakai Turtleneck tanpa lengan. El ingin melingkarkan tangan untuk memeluk tubuhnya yang juga mulai kedinginan tapi luka di kedua tangannya membuatnya mengurungkan niat.
Dia hanya bisa berharap setidaknya mereka bisa menemukan jalan keluar atau paling tidak menemukan sling bagnya yang tersangkut atau jatuh entah dimana supaya bisa menelpon seseorang dan membantu mereka keluar dari sini.
Jas itu tiba-tiba tersampir dibahunya, El membalikkan tubuh menatap pria yang malah melewatinya dan berjalan lebih dulu. Gadis itu baru saja ingin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi suara berat milik pria itu membatalkan niatnya.
"Pake aja, lagian nggak lucu kalau kamu mati disini sebelum mengakui dosamu di depan publik" katanya sambil terus melangkah, meninggalkan El yang mematung setelah mendengar kalimat itu.
...****************...
Jadi gimana para readers? lanjut nggak nih?
Mohon kiranya meninggalkan jejak, kagak apa-apa biar cuma titik (.) doang.
__ADS_1
itu jadi penyemangat buat saya😊
Terima kasih Readers terlove