EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Cinta dan Benci hanya terpisah oleh sebuah lapisan tipis


__ADS_3

Kehidupan dan Kematian sangat dekat satu sama lain, jika tadi mereka terlambat sedetik saja membawa Elisa ke rumah sakit tepat waktu, cerita bahagia ini mungkin berubah menjadi sesuatu yang menyedihkan.


Eleasha menatap bayi mungil yang sedang terlelap di box bayi dari luar ruangan, hatinya berdebar keras dan tanpa sadar dia sudah mengelus perutnya sendiri.


Sebuah tangan melingkar dengan hangat di bahunya, Kayden tersenyum cerah dan hal itu bisa dirasakan Eleasha meski hanya lewat ekor mata.


"Baby boy. Little Santoso" bisiknya masih dengan senyuman lebar yang sama. Membayangkan dia sudah menjadi seorang uncle dan sebentar lagi akan menjadi seorang papa membuatnya tidak bisa untuk tidak tersenyum selebar yang dia bisa.


Tapi senyuman lebar itu mendadak luntur saat mendapati ekspresi sedih dari wanita disampingnya, Kayden bisa mendapati ketakutan dan kecemasan membingkai wajah cantik itu dan hal itu seketika membuatnya khawatir.


"Ly kamu kenapa?"


"Aku takut..."


Kayden meraih tangan Eleasha kemudian menggenggamnya erat, "hei...nggak perlu takut. Kan ada aku"


Eleasha menatap Kayden, bayangan saat dia menemukan Elisa tadi kembali muncul dikepalanya membuat tubuhnya merinding karena ngeri, bagaimana kalau dia juga mengalami hal yang sama? Dan saat itu dia benar-benar sedang sendiri.


"Aku akan selalu ada untuk jaga kamu, karena itu tolong jangan khawatir" Kayden menambah erat dekapannya, "setiap detik, aku janji"


...****************...


Eleasha menatap pria yang sedang terlelap disampingnya, wanita itu memutar sedikit tubuhnya untuk benar-benar menghadap ke arah Kayden.


Ini adalah malam kesekian mereka tidur bersama, dan dia mulai terbiasa.


Tanpa bisa dicegah, tangannya terulur untuk menyingkirkan rambut pria itu yang menutupi dahi karena mulai panjang. Dahi yang selalu saja memanggil dengan penuh rayu untuk mendaratkan kecupan disana. Dahi Kayden Abraham yang begitu magis dan juga seksi.


El tersenyum saat mengingat kembali kejadian saat mereka tersesat di hutan, itu merupakan awal mulanya dia terhipnotis dengan pesona dahi pria ini, kalau boleh jujur saat itu sangat sulit untuknya menahan diri untuk tidak mendaratkan sebuah kecupan di dahi pria itu.


Tapi untunglah hal itu bisa dia tahan, dan tidak sampai membuatnya semakin malu.


Pasa saat itu apa yang kira-kira yang pria ini pikirkan atau rasakan? Apa benih-benih cinta sudah mulai tumbuh saat itu? Apa Cupid sudah menembakkan panah cinta pada hati Kayden? Ataukah hanya ada benci untuknya? Eleasha sungguh amat penasaran.


"Aku bisa meleleh kalau ditatapin lama-lama begitu"


Mata El membelalak, mulutnya menganga diiringi mata Kayden yang terbuka lebar dan suara tawanya yang memenuhi kamar tidur mereka.


"Kamu nggak tidur?"


"Mana bisa tidur kalau kamu tatapin melulu?"

__ADS_1


"Aku ganggu yah? Kamu risih pasti yah?"


Kayden menggeleng sambil menggeser badannya mendekat pada Eleasha"nggak tuh selama yang natapin istri sendiri"


Eleasha mencebik, kembali ke posisi terlentang. Dia sama sekali tidak menyangka mereka akan bisa sedekat ini, jujur saja kedekatan ini masih terlalu canggung untuknya meski dia mulai terbiasa dengan tidur bersama.


"Ly?"


"Hmmm...."


Lihat saja bagaimana Eleasha mulai terbiasa dengan nama itu, nama ciptaan Kayden sendiri.


"Apa yang bikin kamu yakin nikah sama aku?"


Ada hening yang lumayan lama tercipta diantara keduanya, sampai Kayden menyesal karena sudah bertanya sesuatu yang mungkin saja tidak ingin dijawab Eleasha. Pria itu hampir mengucapkan sesuatu tapi suara El terdengar lebih dulu.


"Dalam hidup, aku nggak pernah dapetin apapun tanpa kehilangan sesuatu. Selalu seperti itu sejak awal di sepanjang aku hidup"


Tangan Kayden refleks terulur untuk menyentuh wajah Eleasha yang semakin tembam karena kehamilannya, pria itu tersenyum lembut kemudian menyentuh kening Eleasha dengan keningnya.


"Kamu juga, kamu adalah hal terbaik terakhir yang datang padaku. Dan itu sangat indah, saking indahnya sampai aku takut kamu akan diambil juga dariku"


Air mata tanpa peringatan lolos begitu saja dari mata Eleasha yang dengan sigap langsung di hapus Kayden. Pria itu dengan sangat lembut mengecup sudut mata istrinya berharap bisa meringankan luka yang Eleasha punya.


"Aku sukses sebagai aktris tapi ditinggalkan terus, mulai dari mantan tunangan, Ed yang menikah sama Elisa, mama, opa sama oma dan aku terlalu takut kamu akan diambil juga makanya aku nggak mau kita nikah" wanita itu terisak pelan "tapi kamu maksa terus" lanjutnya lagi dengan suara seperti cicitan.


Kayden tersenyum masih dengan tangan yang menangkup wajah Eleasha "hei.. Ly, aku juga sudah banyak kehilangan baik mama, papa...." pria itu terdiam sebentar bimbang apakah harus melanjutkan atau tidak, tapi mata bulat didepannya terlihat menunggu dan Kayden tidak bisa untuk membuatnya menunggu terlalu lama. "dan Lana"


"Bang Kai...aku min....."


Kayden tersenyum lagi, tangannya yang bebas menggenggam tangan Eleasha dan membawanya di dada "aku ngomong begini bukan karena ingin mengungkit hal itu dan nyalahin kamu, tapi hidup kita terlalu singkat hanya untuk di habiskan buat kebencian, amarah dan jauh dari keinginan hati kita"


"Tapi aku tetap takut..... membayangkan hal itu buat aku merasa sekarat"


"Kalau kamu takut, kenapa kamu nggak pegang tangan aku atau peluk aku dengan erat?"


Kali ini Eleasha yang lebih dulu berinisiatif menggeser tubuhnya untuk masuk kedalam pelukan Kayden tempat teraman dan ternyaman untuknya saat ini dan semoga selamanya.


"ILY..."


"Hmmmm....."

__ADS_1


Kayden menggeleng pelan "bukan lagi manggil kamu kok, tapi itu singkatan I Love You"


Eleasha mengangguk dalam pelukan Kayden "tahu"


"Kamu tahu?"


"Hari gini siapa yang nggak tahu ILY itu singkatan dari i love you, Elluv banyak kirimin surat dan hadiah dengan tulisan ILY"


Kayden menjauhkan sedikit badannya untuk bisa melihat wajah Eleasha yang sejak tadi menempel manja di dadanya "Elluv cewek apa Elluv cowok?"


"Dua-duanya ada" El mendongak juga untuk melakukan hal yang sama yaitu untuk melihat wajah suaminya dan seperti dugaannya Kayden Abraham sedang merengut, membuat Eleasha terkikik karena Bang Kai-nya ini terlihat begitu menggemaskan.


"Sekarang ceritanya sudah berbeda kalau ada penggemar yang bilang ILY sama kamu"


El tidak tahan untuk mencubit hidung bangir Kayden, pria itu sangat menggemasan jika sedang dalam mode cemburu seperti sekarang ini


"Tenang saja, love yang mereka maksud itu artinya kasih. Berbeda dengan love yang kamu maksud. Soooo.....sejak kapan love itu muncul di kamu?"


Kayden menelan ludah saat mendengar pertanyaan Eleasha yang begitu tiba-tiba, jujur saja dia tidak pernah memikirkan hal itu sebelumya. Dia juga sampai detik ini bertanya-tanya kapan cinta itu muncul dan mengusir mundur benci dan amarah untuk wanita ini.


Mata monolidnya tanpa sadar berhenti di leher Eleasha, kejadian dirumah Lana dulu terlintas di pikirannya. En refleks maju untuk mendaratkan sebuah kecupan demi kecupan di leher yang pernah dia sakiti itu.


Berharap bisa menghapus kejadian menyakitkan itu dalam memory Eleasha.


El yang tadinya kaget perlahan mulai terbawa suasana dengan kecupan basah yang En tinggalkan disana, tapi sedetik kemudian wanita ini tersadar dan langsung menahan kepala En untuk berhenti dan kemudian menatapnya.


Mata monolid itu terlihat jelas berkabut, ada gairah meski terlapis dengan perasaan bersalah yang juga sama besarnya.


"Sejak kapan?" El menatap mata itu, mencari jawaban dari sana. "apa sejak malam kecelakaan itu di rumah ini?"


Kayden menggeleng "jauh sebelum itu"


Mata Eleasha membulat "kapan?" tuntutnya dengan sangat penasaran.


Kali ini Kayden melanjutkan kembali mengecup leher istrinya, melahirkan desah*n tertahan dari mulut Eleasha "kurasa setelah aku menyakitimu disini" ucapnya lalu memberi kecupan lagi, kali ini sedikit lama.


"Awalnya mungkin sebuah rasa bersalah, tapi lama Kelamaan itu menjadi seperti sebuah obsesi sama kamu yang tetap berusaha aku tepis sebagai obsesi karena kematian Lana" Kayden merebahkan tubuhnya lagi disamping El, pandangannya tertuju pada langit-langit kamar. Membayangkan kembali awal perjalanan hubungan mereka sampai detik ini.


Awalnya yang berupa rasa benci sekarang malah menjelma menjadi cinta yang terlalu membara, sampai Kayden merasa begitu sesak jika membayangkan Eleasha tidak bisa berakhir dengannya.


Fakta kalau cinta dan benci hanya terpisah dengan sebuah lapisan tipis ternyata adalah sebuah kebenaran.

__ADS_1


Dan itu terjadi pada kisah mereka berdua.


Kisah El dan En. Eleasha dan Kayden.


__ADS_2