
...****************...
Tubuh El merosot perlahan ke lantai, kakinya tidak sanggup untuk berdiri lebih lama. Sekarang gadis ini benar-benar merasa lelah.
Gadis itu hampir saja jatuh tertidur disana saat mendengar bel rumahnya kembali berbunyi. Ia memijit kening entah kenapa menjadi benci dengan suara bel rumahnya sekarang.
EL berjalan pelan menuju pintu berharap yang datang itu Alena atau makanan pesanannya. Siapa lagi yang tahu alamatnya ini? Ah... tentu saja dua pria tadi adalah pengecualian .
"Lo kenapa bisa kesini? Tau darimana alamat ini?" Pekik El ketika sadar dengan siapa yang sekarang berdiri tepat didepannya. Kenapa hari ini dipenuhi dengan hal yang tidak terduga?
"Kamu nggak suruh aku masuk dulu?" Ucap sosok itu sambil tersenyum dengan kepala yang melonggo kedalam.
Eleasha menarik nafas kemudian menggeleng, perkataan Kayden beberapa saat yang lalu memenuhi kepalanya lagi "nggak gue nggak terima tamu. Gue nggak mau ada salah paham lagi"
"Kamu udah merasa baikkan?" Pengen makan yang manis -manis nggak?" Senyuman di wajah tampan itu tidak juga menghilang. Dia merasa senang karena ternyata hadirnya masih berpengaruh untuk gadis itu.
Video viral El yang menangis setelah pergi meninggalkannya menjadi bukti kalau perasaan mereka masih saja sama. Dan itu memang yang dia harapkan, Karena apa yang dia lakukan selama ini juga demi gadis itu.
"Lo nggak jawab pertanyaan gue, lo tau dari mana alamat ini?!" El hampir menjerit.
"Apasih yang nggak bisa dicari tahu didunia yang semakin canggih ini, Sha?"
"Lo nyelidikin gue? Lo cari tahu privasi yang keluarga gue aja nggak tahu? Lo keterlaluan yah?"
Sosok itu tersenyum semakin lebar, tangannya refleks terulur untuk menyentuh kepala El, membuat gadis itu refleks mundur. Senyum itu akhirnya memudar, sosok itu menatap tangannya yang masih terulur diudara, kemudian tangan itu mengepal dan kembali ke samping tubuhnya.
"Kita keluarga sekarang, wajar kalau aku tahu alamat kamu. Kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana?"
El tertawa "keluarga? Karena lo nikah sama mama, bukan berarti lo juga jadi keluarga gue yah? Sampai kapanpun...." ucapan El terhenti, saat dia dari ekor matanya bisa melihat sosok yang lain datang lagi setelah tadi sudah berhasil dia usir. Kening gadis itu mengernyit bingung karena sosok itu nyatanya semakin dekat berjalan kearahnya.
"Sayang kamu ada tamu?"
El tidak dapat menahan mulutnya untuk menganga lebar saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut seseorang yang tidak seharusnya berkata seperti itu.
Sosok itu mengangkat tangannya menunjukkan sebuah tas dengan logo makanan yang El ingat adalah orderannya di aplikasi online.
"Aku bawain makanan kesukaan kamu nih, supaya kita bisa makan bareng" tatapan pria itu menatap sosok yang berdiri didepan El yang juga sedang menatapnya.
"Papanya Ily?" Sebuah senyuman menghiasi wajah itu "Illa itu nama kesayangan saya buat putri anda"lanjutnya saat melihat wajah kebingunggan pria didepannya.
"Perkenalkan nama saya Kayden Abraham. Saya kekasih putri anda sekarang" En menekan kata sekarang, tanpa perlu repot-repot mengulurkan tangan, usia mereka sepertinya tidak terlalu jauh, mungkin hanya terpaut 1 atau 2 tahun. Pria itu kemudian berbalik menatap gadis disampingnya yang sudah berubah pucat seputih kapas.
__ADS_1
En menghembuskan nafas berjalan mendekat kearah El mengulurkan tanggannya yang bebas untuk menyentuh wajah pucat itu, berharap sentuhannya bisa memberikan rona merah disana. "I'ts okay, kamu nggak perlu khawatir dengan apapun. Sudah saatnya hubungan ini diungkap. Karena nggak selamanya hubungan kita disembunyikan, itu juga kan yang buat kamu nangis sendirian kemarin?"
El dengan cepat mendongkak, tatapannya bertemu dengan sepasang iris coklat pria didepannya. Sepasang mata itu agak berbeda saat ini tidak terlihat amarah dan benci dari sana seperti waktu-waktu sebelumnya atau seperti beberapa saat yang lalu saat bersama Ed.
"Mulai sekarang kamu nggak akan melewati masa berat sendirian, sekarang ada aku. Ada aku disamping kamu" tangan En yang sejak tadi berada di pipi El turun meraih tangan kurus yang terasa dingin, menggegamnya hangat dengan tatapan yang tidak kalah hangatnya.
"Ehemmm!"
Moment saling tatap dua anak manusia itu terinterupsi dengan suara deheman dari sosok yang hampir saja mereka berdua lupakan. Yang berdiri tidak jauh dari posisi mereka dan sedang menatap keduanya tajam.
"Okey baiklah, aku senang kamu baik-baik aja Sha. Kalau ada apa-apa, telpon aku nomor aku masih sama kayak dulu. Nomor yang kamu pilihkan waktu itu"
En tersenyum mendengar ucapan Marco "papa tenang aja, kalau ada apa-apa, Ily
punya saya" katanya dengan senyum yang berubah seringaian saat tubuhnya sudah sepenuhnya berbalik menghadap pria yang dia sebut papa.
"Saya bukan papa anda!"
"Ya, untuk sekarang. Tapi tentu saja yang akan duduk dipelaminan saat saya dan Ily saat kami menikah nanti itu pasti anda bukan? Karena anda berstatus sebagai suami dari mama calon istri saya"
Marco meremas tangan, mati-matian menahan tinjunya untuk tidak melayang dan meremukkan wajah pria didepannya ini. Dia kemudian menatap El, mencari kebohongan disana. Seharusnya dia sudah memprediksi hal ini, mengingat El pernah mengambil resiko demi pria itu. Tadinya dia sudah sedikit lega dengan pernikahan Ed saingan terberatnya selama ini setahun yang lalu. Tapi siapa sangkah El bisa Move on dengan secepat ini. Padahal hari ini dia ingin mengatakan yang sebenarnya pada Eleasha. Semuanya, segalanya. Tanpa terkecuali.
"Kalau urusan papa sudah selesai, kami mau kedalam dulu. Saya ingin memastikan calon istri saya makan dan istirahat dengan baik" tangan En merangkul El dengan begitu alami, sama sekali tidak terlihat seperti sentuhan pertama padahal itulah kenyataan yang sebenarnya.
...****************...
"Mau kemana kamu?"
Langkah El terhenti saat suara itu terdengar "Bapak silahkan pulang"
"Saya tanya mau kemana kamu?" Ulang En dengan nada ketus yang sama.
El menghembuskan nafas sebelum berbalik menatap pria itu, pria yang menatapnya tidak lagi sehangat tadi
"tolong diingat kalau ini rumah saya, saya berhak melakukan apapun disini tanpa perlu melapor pada siapapun" ucapnya tegas kemudian berjalan menuju kamar dan menutup pintunya sekeras yang dia bisa.
En membuka mata saat keheningan sudah mendominasi, pria itu mengedarkan pandangan, apartemen yang masih seperti bentuk aslinya yang sama sekali tidak tersentuh perubahan. Banyak sudut kosong, beberapa barang yang ditumpuk begitu saja di sudut lainnya. Seperti rumah singgah yang baru ditempati. Membuat En semakin penasaran, ada berapa tempat persinggahan gadis itu sebenarnya?
Mengingat profile yang beredar sangat jauh berbeda dengan kenyataan. Alamat rumah yang tertera di biodata gadis itu nyatanya sebuah rumah besar yang hanya ditinggali asisten rumah tangga dan seorang satpam saja.
Gadis itu hampir tidak pernah pulang kesana, mungkin ada beberapa kali tapi itu juga tidak sampai berjam-jam.
__ADS_1
Observasi En berakhir pada pintu masuk apartemen ini, kening pria itu terangkat mendadak dia punya sebuah ide yang sangat brilian.
...****************...
Next day
@KayGroup Building.
"Jadi gimana? Lo udah dapat caranya?" Kayden lagi-lagi langsung menodong Jerome yang baru saja masuk ke ruangannya.
Jerome tersenyum kecut, sebenarnya dia sama sekali tidak ingin menggunakann cara ini, karena terkesan licik seperti otak Kayden. Tapi mau bagaimana lagi? pria ini juga tidak punya pilihan, karena bisa dipastikan Alena juga akan segera mengikuti jejak Eleasha secepatnya untuk Leave dari agensi dan Jerome tidak ingin hal itu terjadi.
Hubungan mereka bahkan belum ada kejelasan, bagaimana bisa dia merelakan Alena keluar dari jangkauannya?
"Ancam Eleasha dengan kasus kecelakaan Alena" ucap Jerome, sebenarnya dia tidak tega dengan ide yang dia pikirkan ini. Tapi Jerome juga tidak punya advis lain.
Kayden tersenyum, semua rencana Jerome selalu berhasil. Pria itu punya otak yang selalu menghasilkan ide yang brilliant, tidak heran kalau mereka berdua bersaudara. Bisa dilihat dari semua strategi -strategi mereka selama ini "kasih tau gue lebih detail lagi"
"Lo harus pegang perkataan lo yah?"
"tentang ijin pacaran sama Alena? tenang aja, nikah pun gue restuin. Gue tanggung biaya bulan madu kalian"
Jerome mendengus, pacaran saja belum tentu berhasil, si Kayden malah sudah memikirkan bulan madu.
"Jadi kecelakaan Alena dan Eleasha beberapa waktu yang lalu itu memakan korban, yaitu mobil dan motor yang berada tepat dibelakang mobil yang di kendarai Alena. Saat berhenti mendadak otomatis yang salah itu Alena sehingga menyebabkan tabrakan. Memang nggak ada yang fatal, pihak kita juga sudah bayar semua ganti ruginya pihak korban juga nggak menuntut apa-apa, tapi lo bisa pakai hal itu untuk mengancam Eleasha"
Pria tinggi dengan kacamata itu menghembuskan nafas "Eleasha pasti nggak akan biarin Alena kesusahan apalagi masuk penjara, lo bisa kasih dia tawaran dengan tetap stay di agensi dan sebagai gantinya lo yang bereskan masalah yang sebenarnya sudah clear ini"
Senyuman Kayden merekah terlalu lebar sekarang.
...*.......*...
Happy Monday, ini buat yang penasaran seberapa lebarnya senyuman si Kayden😁
Merekah mewangi bukan?
hahahha...
__ADS_1
stay safe, stay Healty Gaesss..🙏