
Kayden masih tertegun di tempat yang sama, otaknya berpikir keras dengan apa yang dia lihat dan dengar tadi secara langsung.
Dia kembali teringat kata-kata Eduard beberapa hari yang lalu. Tentang gadis itu yang tidak punya siapapun lagi.
Sejak Ed pergi dari rumahnya, pria ini langsung menghubungi Jerome, meminta sepupunya yang serba bisa itu mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.
Kakek gadis itu ternyata meninggal dunia karena kecelakaan, koma selama beberapa hari disusul dengan neneknya yang jatuh sakit karena syok dengan kejadian-kejadian yang terjadi secara berturut-turut.
hanya selang beberapa hari dari neneknya yang masuk rumah sakit, sang kakek dinyatakan meninggal. Mungkin karena sudah memiliki ikatan batin yang kuat, kondisi kesehatan sang nenek langsung drop dan harus di pindahkan ke ruang ICU karena terus mengalami penurunan yang signifikan.
Saat sang kakek di makamkan, berita duka kembali datang dari sang Nenek. Semuanya terjadi begitu cepat hanya dalam waktu dua minggu.
Gadis itu tidak bisa dihubungi, dan pria ini yang paling tau fakta itu karena dia yang menandatangani kontrak untuk syuting program tersebut.
Salah satu persyaratannya adalah terputus kontak dengan dunia luar sampai proses syuting selesai. Dia memang sengaja mengirim El ke pedalaman supaya Elisa dan Eduard punya waktu untuk pernikahan mereka. Dia sengaja menjauhkan El dari sahabat masa kecilnya yang selalu mendadak lupa ingatan saat berurusan dengan segala hal yang menyangkut dengan Eleasha Halim.
Tapi takdir ternyata punya cara tersendiri mempermainkan kehidupan seseorang. En yang tadinya hanya berniat menjauhkan gadis itu untuk sementara waktu, justru niat itulah yang menjadi bom waktu meledak di saat yang tidak dapat diduga oleh yang bukan penciptanya.
Menghancurkan, melukai dan membuat kenangan buruk yang akan terus di kenang bagi yang terdampak.
...----------------...
El menutup mata rapat-rapat mencoba untuk tidur, waktu sudah menunjukkan pulul 03:05 subuh dan dia sama sekali tidak bisa tertidur.
Kenangan masa kecilnya menari-nari diotak, bayangan kedua sosok itu terus terputar di kepalanya. Dia merindukan kehangatan pelukkan, senyum yang menenangkan dan kata-kata pujian yang selalu diucapkan oleh dua sosok itu.
"Eleasha, kamu harus tahu Opa sama Oma begitu beruntung punya kamu. Jangan dengarkan perkataan orang lain."
"*K*ata siapa kamu tidak diinginkan? anak secantik dan semanis ini siapa yang tidak mau hah? mereka hanya cemburu padamu"
"El, Opa dan Oma juga bisa jadi ayah dan ibu kamu. Kami akan berusaha supaya kamu tetap tumbuh menjadi anak yang tidak kekurangan apapun"
"kok jahat, perginya nggak pamit? Kan udah El bilang jangan percaya apapun yang ada di media, percaya sama El aja" Gadis itu memeluk bantal gulingnya erat. menengelamkan wajahnya disana.
membayangkan sang kakek kecelakaan karena banyak memikirkan tentang skandalnya membuat hati gadis itu lebih sakit lagi. Kenapa? kenapa dia tidak meluangkan waktu untuk pergi kerumah kakek dan neneknya, atau sekedar menelpon memberitahu tentang keadaannya? Kenapa dia bahkan tidak terpikir untuk hal itu?
__ADS_1
Penyesalan itu melobangi hatinya, ribuan kata andai memenuhi kepala, permohonan untuk bisa memutar waktu terapal berkali-kali dari mulut itu.
Kalau sudah begini apakah dia masih pantas untuk tetap membuka mata dihari selanjutnya? Apakah dia masih pantas hidup setelah beberapa kali merebut kehidupan orang lain? Dia hidup untuk apa? Sekarang dia bahkan tidak punya alasan lagi untuk tetap bertahan.
...----------------...
"Apa ada kabar terbaru?"
Jerome menatap En dengan kening berkerut "kabar apa? okh... bodyguard yang lo minta? masih dalam tahap pencarian, lagian lo nyari pengawal kok banyak banget syaratnya? kayak mau nyari pasangan hidup aja"
En mendengus mendengar jawaban Jerome, apa harus dia mengatakan secara detail apa yang sebenarnya dia maksudkan? Kenapa makin hari Jerome ini semakin lalod?
"Bukan soal bodyguard"
Jerome mengangguk paham " Okh... Saham yah? sejauh ini baik-baik aja. Mungkin saham Agensi sedikit bermasalah tapi itu nggak begitu menjadi ancaman"
Kayden mengangguk, lampu di otaknya menyalah terang "tentang agensi, apa ada kabar dari talent yang...yahh... you Know.... " Pria itu berdehem, mendadak jadi kesal kenapa dia harus berputar-putar. Hanya buang-buang waktu. "Eleasha, apa ada kabar terbaru dari dia?" tanya pria itu akhirnya.
Jerome menyembunyikan senyumannya. Pancingannya berhasil. Dia tidak menyesal karena sudah berpura-pura tidak tahu dengan maksud En dan terus menerus memberi jawaban yang tidak sesuai.
En hanya mendesah kemudian berdiri dari duduknya " tolong pesankan hadiah sama buket bunga" pria itu berdiri sambil membenarkan kembali posisi jasnya.
"buat El?" Kejar Jerome.
En memutar bola mata "buat mama Sonia, gue mau kesana" kata pria itu tegas.
Jerome manggut-manggut, kemudian segera mengeluarkan handphone dari saku jasnya kemudian menelpon sesuai yang bosnya itu minta. Dia sedikit kecewa karena ternyata bukan seperti yang dia harapkan.
"dikirim aja langsung kerumah, sebelum kesana gue mau nemuin Lana dulu"
...----------------...
El meletakkan buket bunga lily putih diatas makam, dia menatap pusara bertuliskan nama Vio Lana Wijaya dengan tinta emas. Tidak terasa sudah setahun lebih sejak kejadian itu.
dalam jangka waktu yang tergolong singkat itu, dia sudah merebut tiga kehidupan.
__ADS_1
Gadis itu berjongkok, menenggelamkan wajahnya diantara lutut yang tertekuk. Air matanya tumpah lagi dia mulai membenci kehidupannya. Lihatlah dia bahkan tidak bisa berziarah ke makam kakek dan neneknya, setelah tadi melihat kondisi makam yang masih di penuhi oleh beberapa wartawan dari mobil gadis itu memutuskan pergi dari sana.
Berputar-putar tanpa tujuan dan pada akhirnya berakhir di jalan menuju makam Lana. Dan disinilah dia sekarang, berjongkok dengan wajah mengerikan karena terus menangis sejak kembali menginjakkan kaki ke ibu kota ini.
"Maaf.....maaf.... maafin gue" ucap gadis itu dengan isakan yang menyanyat hati.
"Apa mungkin kalo seandainya kecelakaan itu nggak terjadi, semua bisa baik-baik aja sekarang? Kamu pasti udah nikah sama pak Direktur, hidup bahagia dengan keluarga kalian. dan gue?..... opa sama oma pasti masih hidup kan?"
...----------------...
Tangan gadis itu mengambang di udara, berkali-kali tidak jadi menekan bel. Dia mengatur kembali masker yang dia pakai dan memutuskan untuk kembali ke mobil, tidak jadi berkunjung.
Mata gadis itu membelalak, kakinya seakan menempel di tanah. Tubuhnya membeku saat melihat sosok itu berdiri beberapa langkah didepannya, menatapnya lurus dengan mulut penuh dengan gorengan yang ada di tangan kanannya, sedangkan tangan kiri pria itu menjinjing beberapa makanan ringan dari mini market.
"Ngapain?"
El mengerjab beberapa kali, tidak menyangka akan mendengar suara pria itu dengan kata yang normal bukannya makian atau teriakan seperti sebelum-sebelumnya.
"Lo ngapain berdiri disitu?" pria itu mengulang pertanyaannya. Dia berjalan melewati El, mendorong pintu pagar yang tidak terkunci "nggak mau masuk?" tanyanya lagi , kemudian segera berjalan masuk.
El mematung di tempat, dia mencubit lengannya dan menjerit di detik berikutnya karena merasa sakit.
"Lo ngapain? ini bukan mimpi. Mana ada mimpi yang sedetail ini? Memangnya lo sering mimpiin gue?" tubuh pria itu muncul lagi dibalik tembok pagar. Bertanya dengan satu kening yang terangkat naik, sebuah pertanyaan iseng, karena dia juga tidak yakin kalau gadis ini punya jawaban atas pertanyaan itu.
El tersentak. Setelah kembali mendapatkan kesadarannya dia bergegas masuk, mengikuti pria itu "lumayan sering kok" ucap El jujur setelah berdiri didekat pria itu, dia memang beberapa kali bermimpi tentang tante Sonia dan laki-laki ini.
Wajah pria itu tiba-tiba memerah,
"Damn" makinya pelan untuk dirinya sendiri. Dia kemudian segera berjalan cepat masuk kedalam rumah
"Maaa.... snacknya datang nihh ma..." teriaknya dengan langkah yang semakin cepat.
meninggalkan El di pekarangan rumah yang masih binggung dengan reaksi pria itu.
...----------------...
__ADS_1
Next chapter>>>>>