EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Eduard akhirnya memilih


__ADS_3

...----------------...


Eduard berjalan pelan memasuki pelataran rumah megah sang ayah mertua, rumah yang menjadi saksi istrinya tumbuh besar, menjadi wanita dewasa.


Rumah tempat dia rapel tiap kali mereka akan kencan, dan tempat dia membawa Elisa keluar dan bersatu dengannya sebagai mana seharusnya.


Rumah yang tidak dia sangka akan kembali membuatnya melakukan hal yang sama seperti setahun yang lalu, saat dia membawa gadis itu keluar dari sini.


Ed akan membuka pintu utama rumah besar ini, saat ekor matanya bisa menangkap siluet bayangan yang sangat dia hafal diluar kepalanya sedang berdiri di pinggir kolam renang, dengan posisi membelakanginya.


Pria ini memutuskan untuk berjalan mendekati sosok itu yang terlihat sedang menelpon. Ed menghembuskan nafas, entah kenapa dia merasa sebuah perasaan lega yang berbeda. Melihat sosok itu setiap organ tubuhnya bereaksi. Jantungnya tetap berdebar keras, perasaan ingin memeluk tubuh itu, mengindu aroma rambut yang berasal dari shampo beroma vanila favorit gadis itu. Bagaimana bisa dia tidak mengenali perasaan ini? Bagaimana bisa orang-orang mencurigai hatinya yang sudah jelas terpatri hanya untuk satu hati?


Dia mencintai Elisa, dengan segenap hati.


Jika ada yang bertanya siapa yang dia cintai, tentu saja dengan tegas akan dia jawab tanpa perlu berpikir. Elisa Santoso.


Tapi, Eleasha adalah sebuah pengecualian. Karena Eleasha bisa dengan tegas dia sebut sebagai belahan jiwanya walau bukan pasangan hidupnya. Lahir di hari yang sama, walau selisi jam dan dari rahim yang berbeda, mereka tumbuh dewasa bersama karena Ed harus kehilangan ibu yang melahirkannya saat dia dilahirkan. Eduard akhirnya dibesarkan oleh kakek dan nenek Eleasha karena pekerjaan sang ayah yang harus menetap diluar negeri.


Mereka memang tidak ada hubungan darah sama sekali, keluarga mereka hanya tinggal bersebelahan. Orang tua Ed harus menunggu sepuluh tahun untuk bisa mendapatkan anak, usia sang ibu memang sudah terlalu riskan untuk melahirkan. Berkebalikkan dengan mama dari El yang masih terlalu muda untuk mempunyai anak. Tapi kesamaannya adalah kedua ibu itu tidak mau menyerah, tidak melangkah mundur atau bersikap egois dengan menghilangkan kesempatan bayi mereka menyapa dunia untuk bisa menyelamatkan hidup mereka sendiri. Keduanya tetap bertaruh nyawa di ruang persalinan untuk memberi kehidupan pada makhluk lain, dalam hal ini darah daging mereka.


Eleasha yang tidak dibesarkan oleh sang mama karena sebuah kecelakaan remaja, dan Eduard yang juga tidak bisa mendapatkan kehangatan pelukkan dari sang ibu yang harus mengorbankan nyawanya untuk melahirkannya.


Mereka berdua dibesarkan selayaknya sepasang anak kembar. Dilimpahi dengan kasih sayang yang sama banyak tanpa pernah di bedakan. Jadi bagaimana bisa, Ed tidak peduli dengan Eleasha? Bagaimana bisa dia tidak bertanggung jawab pada hidup gadis itu? Apalagi setelah opa dan oma meninggal.


Langkah pria itu terhenti saat telinganya bisa mendengar percakapan Elisa dengan orang di seberang telepon, tadinya dia tidak berniat menguping. Tapi justru hal ini malah terlihat seperti sebuah takdir.


"Saya nggak mau tahu, pokoknya selanjutnya kamu harus buat dia paham dengan situasinya. Kamu mau ngapain terserah, aku nggak peduli. Yang jelas buat dia sadar kalau....."


Elisa tidak bisa melanjutkan perkataannya saat, handphone di tangannya telah berpindah pada pria yang saat ini sedang menatapnya tajam. Tatapan tajam itu, jelas bukanlah sebuah tatapan yang dia kenali.


"Apa maksudnya?"

__ADS_1


Elisa masih diam dengan tatapan yang terkunci pada pria yang baru saja melontarkan sebuah pertanyaan padanya. Bukan pertanyaan menanyakan keadaannya, atau mungkin perasaannya.


"Kamu... menyuruh orang untuk nyelakain El?"


Elisa menggigit bagian dalam mulutnya, sebuah usaha untuk tidak menyemburkan amarah yang bergejolak di dadanya selama ini. Berusaha untuk tidak menangis di hadapan pria ini, pria yang sampai saat terakhir sama sekali tidak mau berada di pihaknya.


"Jawab Lisa!"


"Kalau iya memangnya kenapa? Kamu mau apa?" Elisa mengepalkan tangannya erat, ini pertama kalinya Eduard menaikkan tone suara saat bicara dengannya. Kemana sosok pria lemah lembut yang dia cintai itu pergi? Dan semuanya ini terjadi karena El, El dan selalu El.


"Aku cinta kamu, cinta banget sama kamu. Kamu harus tahu itu!"


Elisa tersentak, sama sekali tidak menyangka akan mendapat sebuah pernyataan cinta.


"Aku nggak pernah mengkhianati pernikahan kita, cinta aku tetap utuh untuk kamu, nggak pernah terbagi pada siapapun. Termasuk pada El kalau itu yang kamu takutkan"


Elisa mendengus, berbicara tentang utuh, Bukankah hal itu juga termasuk dengan waktu dan kehadiran? Gadis ini ingin mempertanyakan waktu dan kehadiran Ed disaat dia butuh.


"Pria ini, pria yang berdiri dihadapan kamu ini, nggak akan pernah jadi seperti sekarang kalau bukan karena opa sama oma. Kamu tau kan? Kedua orang itu siapanya El?"


Air mata Elisa jatuh, tanpa peringatan membasahi pipi putihnya. Fakta itu kenapa dia bisa lupa?


"Apa aku terlalu egois selama ini? Apa aku terlalu jahat selama ini? Aku minta maaf kalau kamu merasa seperti itu Lis, aku minta maaf"


Elisa melangkah maju, mempersempit jarak antara mereka berdua. Gadis itu mengulurkan tangan menyeka kristal-kristal bening yang keluar dari mata pria itu yang membuat pipi Ed basah seperti pipinya.


"Aku sudah berulang kali minta kamu mengerti, aku berulang kali minta kamu supaya bersabar untuk rasa tanggung jawab aku pada El" Ed membawa tangannya yang bebas untuk menggenggam tangan Elisa yang masih berada di pipinya.


"Cuma kamu Lisa, bagi aku cukup cuma kamu"


Elisa terisak, merasakan perih yang amat sangat dalam hatinya. Pernyataan cinta ini seharusnya membuat dia bahagia, tapi kenapa hal ini justru terasa sangat menyakitkan?

__ADS_1


"Kata siapa aku memilih nikah sama kamu karena kemiripan nama kamu sama El? Kata siapa aku pilih kamu karena sekilas kamu terlihat seperti El? Kata siapa kamu hanya bayangan dari El?"


Ed menarik tubuh Elisa, menempel pada tubuhnya. Pria itu menunduk mensejajarkan wajah mereka "justru banyak yang bilang kalau wajah kita berdua sangat mirip, orang-orang bilang itu jodoh"


Jemari pria itu menyusuri mulai dari rambut coklat gadis itu, kening lebar tempat dia mendaratkan kecupan, kedua mata favoritnya yang sejak jemarinya mulai bergerak sudah tertutup, hidung mancung yang sangat pas untuk wajah cantik itu, pipi mulus Elisa dan terakhir bibir berbentuk hati yang selalu menjadi candu untuknya.


Ed menutup mata, menarik nafas kemudian menghembuskannya. "Sejak awal kita bertemu, sejak awal aku tahu nama panggilan kamu, aku tetap panggil kamu Lisa. Bukan karena nama El hanya untuk Eleasha, tapi karena hanya aku yang panggil kamu dengan nama Lisa. Kamu bisa jadi El untuk papa, untuk Kayden atau Jerome, tapi Lisa hanya buat aku satu-satunya."


Elisa membuka mata, dan tatapannya langsung terkunci dengan mata cenderung sipit dengan iris coklat pria yang saat ini sedang mengggam tangannya, dan juga pinggangnya.


"Sekalipun aku nggak pernah anggap kamu bayangan siapapun. El tetap El dan kamu tetap Lisa. Satu-satunya Gadis yang aku ikat dengan janji pernikahan, yang dengan bangga aku sematkan marga Santoso, itu cuma kamu dan bukan Eleasha yang kamu cemburui itu"


Elisa mengepalkan tangannya yang berada dalam genggaman Ed, dia merasa di tertampar secara kasat mata dengan perkataan dari pria yang berstatus sebagai suaminya ini.


"Belum lama ini El kecelakaan, dia masuk jurang dan nggak sendiri tapi juga dengan Kayden." Pria itu berhenti bicara saat melihat mata istrinya yang membesar, Elisa sangat jelas terlihat kaget dengan apa yang dia ucapkan. Dan Ed benci dengan hal itu. Melihat reaksi sang istri membuat pria ini lebih yakin dengan rasa curiga yang muncul dalam hatinya.


"El hampir mati kalau Kayden tidak memberikan pertolongan, dan aku berharap hal itu bukan disebabkan oleh kamu"


Elisa mengerjab "maksudnya? Kamu nuduh aku yang nyelakain Eleasha?"


"Kalau begitu tolong jelaskan siapa yang kamu telpon barusan? Apa maksud ucapan kamu saat bicara dengan orang di telpon itu?"


Elisa mundur beberapa langkah, menatap pria itu yang juga sedang menatapnya intens. Menunggu jawaban darinya. Gadis itu meruntuki dirinya sendiri kenapa Eduard harus mendengar hal itu?


"A..aku tadinya.. nggak...ada maksud buat nyelakain dia... aku cuma..."


Ed tersenyum, tapi mata pria itu penuh luka. Dia mengangguk pelan kemudian membalikkan badan, berjalan menjauhi Elisa. Baginya itu cukup, tidak ada yang perlu di jelaskan lagi.


Elisa menatap nanar punggung lebar tempat ternyaman untuk bersadar yang perlahan menjauhinya. Gadis itu menggingit bibirnya yang bergetar. Isak tangisnya lepas saat punggung itu hilang dari pandangannya. Pada akhirnya Pria itu memberinya jawaban yang selama ini dia inginkan. Eduard akhirnya memilih, dan itu bukanlah dirinya.


...----------------...

__ADS_1


Terima kasih sudah sabar menunggu🙏


__ADS_2