
Mohon para Reader bijak membacanya, ini hanya fiksi belaka, apabila tidak menyukainya jangan dibaca Yaa, terima kasih!!!
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" Sebastian yang sudah menatap Cakra dengan gusar.
Sebastian tahu ini akan segera terjadi, dia pasti akan membahas kisah cinta segitiganya. Sebagai sesama laki-laki dia harus memikirkan semuanya dengan kepala dingin.
Kedua Lelaki ini sama-sama mencintai satu wanita, dan diantara kedua nya pun tidak ada yang ingin melepaskan.
"Apa kau ingin kita terus bertengkar seperti ini?" Cakra menatap tajam rival dihadapannya.
"Jadi apa keputusanmu?" Saut Sebastian tidak kalah tegas menatap Ara.
"Aku menginginkannya, tidak akan melepaskannya dan tidak ingin dia terluka, bagaimana dengan kau?" ucap Ara.
"Aku pun sama, walaupun mungkin kau menganggap konyol dan kekanakan, Aku memang mencintainya, dan itu kenyataannya" saut Sebastian.
"Baiklah kalau begitu, kita suit" ucap Ara.
Sebastian mengerutkan dahinya.
"Kita tentukan siapa yang jadi pertama, agar adil ke depannya" seloroh Ara.
"Oh, siapa takut" balas Sebastian.
Mereka berdua suit, tiga kali suit dengan posisi Seri,dan ke empat kalinya, Cakra-lah yang memenangkannya.
"Deal, Aku yang pertama, kau yang kedua" Cakra mengulurkan tangannya.
"Ok" Sebastian menjabat tangannya Ara.
"Kita buat jadwalnya, Senin sampai Rabu dia bersamaku, Kamis sampai sabtu bersama denganmu, hari minggu biarkan dia istirahat, kau setuju" usul Ara.
"Apa dia akan setuju?" saut Sebastian.
"Benar juga, kalau dia marah habislah jatah kita" Ara yang terkekeh, Sebastian ikut terkekeh.
"Kalian sedang Apa?" Aida yang sudah muncul dihadapan mereka.
"Kita sedang membahas pembagian jatah" jawab Ara dan Sebastian bersamaan.
"Apaaa??? Kalian berdua sudah Gila, Hah!!! " Aida yang mulai bertanduk dua, geram melihat tingkah nekad mereka berdua.
"Apa kalian pikir Aku Mau" Aida yang marah.
"Aida, Aku mohon terima Aku" kedua Lelaki tadi berlutut dan memegang kedua tangannya Aida memohon berbarengan.
"Kalian!!! " Aida menahan amarahnya.
"Kami janji tidak akan bertengkar lagi" ucap Ara.
"Iya, kami juga akan bersikap adil dalam hal pembagian kasih sayang" tambah Sebastian
"Kita akan tinggal satu atap" ucap Ara.
"Kami akan membantu memasak dan bersih-bersih" ucap Sebastian
"Kau adalah Ratu kami, apapun kemauan dan perintahmu, kami pasti akan turuti" Ara mengobral janji manis.
"Kau juga bebas melakukan apapun, bergaul dengan siapa pun, tapi kau tidak boleh jatuh cinta lagi pada Lelaki manapun selain kami" Sebastian mengedipkan matanya kepada Ara.
"Kami tidak akan selingkuh" ucap Ara.
"Kalau kami selingkuh kamu boleh memotong terong kami, dan membuangnya jadi makanan kucing" ucap Sebastian,
Ara melirik, "Hei, kau gila kenapa ungkit masalah terong, itu barang paling berharga kita tahu" sewot Ara.
"Sudah, tidak apa-apa yang penting dia Mau dan setuju dulu" balas Sebastian tidak kalah sewot.
"Aarrggghhh" Aida menghempaskan tangan keduanya.
Mereka berdua segera bangkit dan menghalanggi langkah Aida.
Ara didepan Sebastian dibelakang, mereka berdua kompak berkomplot agar Aida menyetujui kemauan mereka.
"Aida Aku mohon" Aida yang gerah dan pusing melihat tingkah keduanya,
"Awas minggir" Aida mendorong tubuh Ara, saat Aida berbalik Sebastian sudah dibelakangnya.
"Kami tidak akan melepaskanmu, sebelum kamu menyetujuinya" kedua tangan Sebastian sudah terbuka juga dengan Ara yang melakukan hal yang sama dengan Sebastian, seperti seekor kelinci yang terperangkap oleh dua serigala.
"Ah, kalian" Aida jongkok menutup kedua telinganya, menangis kesal karena tingkah mereka.
Ara menarik tubuh Aida kedalam pelukannya, memeluk tubuh Aida berusaha menenagkan Aida.
__ADS_1
"Sayang...jangan takut,
percayakan semua kepada kami, kami yang akan atur semua, kami janji tidak akan kasar ataupun menyakitimu, kami sangat menyayangi dan mencintaimu" Ara yang mengusap rambut Aida, mengeluarkan semua jurus rayuan mautnya.
Aida mengangkat wajahnya yang berurai airmata, Ara menghapus Airmata Aida,
"Terima kami ya" Ara yang menganggukan kepalanya menatap lembut Aida,
Aida hanya mengangguk pelan, menyerah, menyetujui kemauan mereka.
Ara pun langsung memeluk erat tubuh Aida dan dari belakang Sebastian memeluk tubuh Aida.
hah, akhirnya Aku masuk jebakan dan perangkap mereka, terbujuk rayuan maut mereka.
Setelah pernyataan mereka berdua, mereka berdua pun mengurus semua persiapan pernikahan, dari mulai fiting baju, tempat diselenggarakan acara di negara XX, undangan, surat persuratan, benar-benar mereka berdua kompak melakukannya.
Aida hanya boleh melakukan perawatan tubuh, mempersiapkan tubuhnya agar tetap cantik dan bugar.
Setelah pernikahan usai, mereka menempati sebuah rumah besar dengan dua kamar, kamar utama untuk mereka bertiga dan satu kamar khusus untuk melakukan produksi secara bergantian sesuai hari yang telah mereka setujui.
"Bisakah besok malam Aku libur, Aku sangat lelah menemani kalian bermain yang tak pernah ada puasnya, sejak pulang kalian tidak pernah berhenti" ucap Aida dikamar utama mereka, yang posisi tidurnya Aida ditengah.
"Baiklah, kita libur satu minggu ya, gimana bro kau keberatan, kasihan istri kita" Ara yang meminta persetujuan Sebastian, yang sedang asik memainkan rambut dan menciuminya.
"dua hari aja bro,biar adil, jangan lama-lama, Aku mana bisa tahan kalau malam tidak dijatah setelah seharian bekerja" saut Sebastian.
Aida hanya bisa pasrah ketika mendengar pembicaraan absut mereka yang setiap hari kini Aida mulai terbiasa.
Mereka memang memanjakan dan menjadikan Aida Ratu bukan hanya sekedar omongan belaka, saat mereka tidak di rumah, para pelayan siap melayani kebutuhan Aida.
Dua bulan setelah pernikahan Aida merasakan tidak enak pada tubuhnya, sering pusing dan mual-mual dipagi hari.
Watak lembut Aida pun berubah, lebih sensitive dan uring-urungan, terkadang marah-marah tidak jelas,
setelah di periksa dokter keluarga Aida positive hamil empat minggu.
Dua suami itu pun gembira, mereka pun memanjakan Aida lebih dari sebelumnya, perhatian extra mereka buat, bahkan seorang pelayan khusus di sediakan untuk menjaga ketat menempel ke mana pun Aida melangkah disaat mereka sedang bekerja.
Aida senang dengan semua perhatian mereka, tapi dimasa kehamilannya, rasanya adalah hal yang pantas untuknya membalas perhatian mereka.
"Aku ingin tidur sendirian dikamar sebelah, kalian jangan ganggu" Aida yang tiba-tiba menolak kehadiran kedua suaminya.
"sayang kamu kenapa?" panik Ara
"sayang... ini kemauan anak kita loh, kalau tidak kalian turuti nanti pas lahir dia ileran terus, memang kalian Mau anak kalian ileran gitu.. " Aida yang mengelus-ngelus perutnya.
Sebastian dan Ara saling menatap, dan menggeleng secara berbarengan.
ah, lucunya, Aku senang, rasakan pembalasanku.
Aida yang tersenyum puas melenggang pergi meninggalkan mereka masuk ke kamar sebelah.
akhirnya Aku bisa bernapas, tidak menuruti kemauan kalian yang tidak bisa berhenti dan puas.
Aida yang sudah diatas ranjang, membuka kedua tangannya lebar-lebar.
Yaa.. paling tidak trimester pertama ini Aku masih bisa beralasan menghindari mereka.
Empat bulan pertama dilalui Sebastian dan Ara penuh dramatis, karena bagi mereka sedetikpun mereka tidak bisa jauh dari Aida saat mereka ada di rumah ataupun pulang bekerja.
Aida hanya memberi mereka jatah satu bulan sekali secara bergantian, karena mass di awal pun Aida sangat menjaga tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada bayinya.
Ara dan Sebastian kini yang pusing dan uring-uringan sendiri, tapi tidak menyalahkan Aida, karena dokter pun memang menyarankan seperti itu.
Memasuki penghujung bulan di saat sedang besar-besarnya, Ara dan Sebastian penuh semangat memberi jalan untuk bayinya, bahkan dalam semalam mereka rutin bergantian menengok sang buah hati.
"ah" teriak Aida.
"kenapa sayang" menjawab dengan bersamaan,
"Sepertinya Aku ditendang" Aida mengelus perutnya, dan gerakan dan liukan terlihat jelas di perut Aida yang sudah makin membesar.
Ara dan Sebastian langsung mendekati, ketika anak mereka sedang aktif kedua ayah ini selalu mengelus perut Aida dengan lembut.
"sayang jangan keras-keras nendangnya, kasihan mama-mu" ucap Ara mengelus dan berbicara di perut Aida.
"Iya, sayang, kami menunggumu, sehat terus dan jaga mama-mu selalu ya" Sebastian yang berbicara sambil mengecup perut Aida.
Aida hanya tersenyum bahagia menyaksikan semua. Airmata bahagia dan haru mengalir di pipi Aida.
ternyata, memang ini rencana Tuhan, dan memang mereka adalah para Lelaki terbaikku yang Tuhan berikan padaku.
Saat kelahiran tiba,
__ADS_1
Kami memang sengaja tidak mengecek jenis kelamin anak kami, bagi kami apapun pemberian-Nya kami tetap syukuri.
"Suami dari Nyonya Aida, silahkan masuk" ucap seorang perawat, Ara dan Sebastian yang menunggu dengan cemas diluar ruangan, segera berdiri ketika mereka dipanggil.
Perawat tadi terkejut, "suami Nyonya Aida" tanyanya sekali lagi, "iya sus" jawab Ara dan Sebastian berbarengan, perawat menatapnya sesaat, "Ah, Mari silahkan masuk Tuan" perawat tadi mempersilahkan keduanya masuk.
Ara dan Sebastian masuk kedalam kamar, menatap wajah lemah Aida yang bersandar kelelahan diranjang habis melahirkan, peluh masih terlihat jelas di wajah Aida.
"sayang, bagaimana keadaanmu" ucap Ara.
"apa sakit sekali" tambah Sebastian,
kedua Lelaki itu memegang tangan Aida memberikan dukungan.
Perawat tadi kembali masuk dengan membawa kereta dorong yang berisi bayi.
"Ini bayi kalian, selamat Nyonya Aida, bayi anda kembar, laki-laki dan perempuan"
Aida tersenyum, "terima kasih sus" saut Aida.
"langsung diberi Asi ya Nyonya, biar dede bayinya tahu dan dekat dengan Ibunya" tambah suster tadi.
" Baik sus, terima kasih banyak" suster pun meninggalkan ruangan mereka.
"lihatlah, kalian kan papa mereka" ucap Aida.
Ara dan Sebastian saling menatap sesaat, lalu wajah mereka teralihkan oleh dua sosok bayi dihadapannya. Wajah yang terpancar penuh kebahagiaan.
Mereka berdua menatap kedua wajah bayi mungil, imut dan lucu itu,
"ternyata bayi kita kembar bro" ucap Ara.
"iya, tidak sia-sialah jerih payah kita selama ini" Sebastian menimpali.
"Kita kasih nama siapa ya?" Ara tampak berpikir.
"Biar mama saja yang memberikan" senggol Sebastian ke lengan Ara, yang menyadari Aida sudah manyun.
"iya, iya, ini jerih payah kita bersama" Ara menggendong salah satu bayi, Sebastian mengambil dan menggendong bayi satunya lagi.
"kamu pasti hauskan" Ara memberikan bayi tadi pada Aida, Aida pun mulai memberi Asi kepada Anak yang diberikan Ara, dan bergantian setelah selesai bayi yang digendong Sebastian.
"Kamu Mau kasih nama siapa sayang?" tanya Sebastian, saat kedua bayi selesai diberi Asi.
"Kita beri nama Adelio dan Adelia,
Adelio berarti Pangeran Mulia, Adelia berarti Mulia, bagaimana kalian setuju?"
Ara dan Sebastian mengangguk berbarengan.
"Nanti setelah kita tahu hasil DNA masing-masing kalian boleh memberikan nama belakangnya" Ara dan Sebastian pun mengangguk setuju berbarengan lagi.
Tidak berapa lama dokter masuk dan memberikan hasil test DNA,
dokter memberitahu untuk yang anak laki-laki mengalir gen Ara dan yang perempuan Sebastian.
"Jadi Aku berikan nama Adelio Rahardja untuk anakku" ucap Ara, dan
"Aku Adelia Wijaya untuk anak perempuanku" ucap Sebastian.
Aida pun tersenyum bahagia menatap dua Lelaki dihadapannya yang begitu bahagia atas kelahiran buah hati mereka.
Tuhan, terima kasih, semoga selamanya kami dapat berbahagia sampai maut memisahkan kami. Aida.
(My Baby Twin Couple, Adelia Wijaya dan Adelio Rahardja)
...Tamat...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca