ELEGI CINTA YUKI

ELEGI CINTA YUKI
Rencana yang gagal


__ADS_3

Pengasuh Ma yang ikut masuk ke dalam kamar, menyuruh Ame mengambil salep pereda nyeri.


"Mana yang sakit Nona"


tanya Pengasuh Ma terlihat khawatir memerika seluruh tubuhku. Dan ketika bagian pinggang disentuh aku mengerang sakit, segera diolesnya salep tersebut.


"Istirahat-lah Nona, agar tubuhmu lekas pulih"


ucap Pengasuh Ma langsung menyelimuti tubuhku. Dan pergi.


Aku terus menangis di balik selimut. Badan sakit semua, kakiku terkilir. Tangisanku bukan hanya karena badan yang sakit tapi rencanaku yang gagal. Rencana kaburku.


Aku kangen pada anak-anak panti dan Ibu Kepala. Mereka sudah seperti keluarga bagiku, yang selalu menyayangi dan memberikan perlindungan.


Sudah hampir larut, mataku baru bisa terpejam. Mata bengkak, dan sisa buih airmata yang mengering yang tersisa dipipi.


Hingga seseorang masuk kedalam kamarku.


Duduk di tepi ranjang, mengamati dalam-dalam, tangannya membelai pipiku seolah menghapus air mataku.


Tangannya mulai membelai rambutku, menyentuh jari-jariku, mengangkat tanganku dan menciumnya.


Sorot matanya seolah mengatakan penyesalan, ia nggak mau hal yang buruk terjadi padaku, kemudian beranjak pergi begitu saja.


Ya.. orang itu adalah Tuan Besar Haga Inggi.


Pria bertubuh besar dan berkulit putih. Sosok pendiam, angkuh dan arogan itu sedang mengkhawatirkanku.


Dan entah apa yang ada didalam fikirannya. Hanya dia dan Tuhan yang tau.


. . . .


"Selamat pagi Nona"


lagi lagi kudengar suara yang hampir ku hafal. Ame sudah ada ditepi ranjang.


"Ame"


mataku terbuka, dan coba menggerakkan tubuhku yang masih terasa ngilu.


"Aw.. "


"Pelan-pelan Nona, mari saya bantu"


Ame yang sigap membantuku duduk dan meletakkan bantal di belakang punggungku.


"Sarapan Anda Nona"


sambil menunjukkan nampan yang sudah ada di pinggir meja tempat tidurku.

__ADS_1


Aku cuma mengganguk.


Ia meletakkan nampan tadi di pangkuanku.


Aku mulai sarapan dengan pelan. Mataku terus berkeliling, menyadari tas yang kubawa semalam tidak ada, aku langsung mengangkat nampan dan mencoba bangkit dari tempat tidur. Memeriksa lemari pakaian.


"Dimana tas pakaianku Me? "


"Maaf Nona, Nyonya Besar memerintahkan Pengasuh Ma membawa tas Nona ke taman belakang"


"Taman Belakang? Untuk apa? "


"Saya tidak tau Nona"


Dengan langkah sedikit pincang dan memegangi pinggangku, aku berjalan keluar kamar.


Ame mencegah, tapi aku menolaknya, terpaksa dia ikut sambil memapah tubuhku.


Ada yang nggak beres nih. Kenapa tas pakaianku dibawa kesana. Aku harus segera mengambilnya.


Kulihat Nyonya Besar sedang duduk, Pengasuh Ma berdiri disampingnya.


Kulihat lagi ada kobaran api dan seorang pengawal tengah membuka tas.


Yaa.. Itu tasku. Tasku. Mataku membulat tajam, kuhempaskan tangan Ame, aku setengah berlari saat kulihat pengawal tadi mengeluarkan isi tasku, dia mulai melempar tasku kedalam kobaran api, lalu satu persatu bajuku di buang kedalamnya.


berusaha menarik pakaianku dari pengawal tadi.


Nyonya Besar dan Pengasuh Ma hanya diam. Seolah tidak perduli.


"Nyonya saya mohon jangan bakar, saya mohon Nyonya"


tangisku memohon, berlutut memegangi kaki Nyonya Besar.


"Maafkan saya Nyonya saya janji tidak akan mengulanginya, saya janji Nyonya"


aku yang menangis terus merengek mengosok-gosokkan kedua tanganku di hadapannya.


Tapi baik Nyonya Besar ataupun Pengasuh Ma sama sekali tidak bergeming, tidak perduli dengan rengekanku.


Airmataku mengalir deras, sesegukan. Pasrah.


Ketika semua pakaianku dilempar ke dalam api. Aku masih diam saja. Mataku membulat tajam, marah dan berteriak kencang ketika benda kesayanganku dilempar ke api juga.


"JAAANGANNN BUANGGG!! "


Teriakku makin kencang, tubuhku sudah dipegang pengawal agar menjauh dari api.


Aku menyikut keras perut pengawal tadi sehingga terlepas pegangannya.

__ADS_1


Aku berlari panik menghampiri api, mencoba mencari sesuatu menyelamatkan barang itu.


Nyonya Besar dan Pengasuh Ma terkejut melihat sikapku.


Ada kekhawatiran dari sorot mata mereka, takut aku melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.


"Harmonika-ku"


aku mengambil sebuah kayu, mencoba mengeluarkan harmoni yang sudah terbakar api.


Setelah berhasil keluar, aku coba mematikan api pada bagian yang terbakar. Setelah berhasil memadamkan api, kulihat sebagian kulit luar harmonika sudah terbakar, tanpa pikir panjang aku langsung mengambil dan memasukkan harmonika tadi ke dalam air yang sudah di sediakan disamping api pembakaran.


Asap kebul keluar saat harmonika tadi masuk ke dalam air.


"Kalian boleh membakar apapun, tapi tidak dengan harmonika ini. Ini segalanya untukku"


tangisku pecah, berurai air mata, perih, pedih bukan karena luka bakar di tanganku saat mengambil harmonika tadi. Tapi hatiku yang sakit.


Nyonya Besar panik melihat tanganku terbakar, terbersit ada sesal di wajahnya.


"Pengasuh Ma, panggil dokter keluarga"


sambil berjalan menghampiriku, melihat tanganku yang sudah memerah dan menangis tanpa henti.


"Ame, bawa Nona ke kamar"


dengan sigap Ame langsung memapahku, menuruti perintah Nyonya Besar.


Nyonya Besar menatap tangis kepergianku, tangannya mengambil harmonika tadi, menatapnya dalam-dalam, seolah ada penyesalan terdalam dan pertanyaan yang muncul di kepalanya...


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Billionaire Master Love Prison


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terimakasih dan selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2